CEO Arogan Itu Jodohku

CEO Arogan Itu Jodohku
Episode 113


__ADS_3

Satu minggu setelah kejadian malam itu, Sanas belum juga bertemu atau berpapasan dengan Tama meskipun di kantor. Sering kali Sanas menghampiri Tama keruangnnya namun Aklis sebagai sekertaris Tama selalu bilang jika Tama sibuk dan tidak mau di temui. Begitu juga di luar jam kerja, biasanya Tama selalu ngotot mengajak Sanas berbelanja, namun beberapa hari terakhir kebiasaan itu tak terjadi lagi.


Dengan mengumpulkan niat dan keberanian Sanas mendatangi rumah Tama, ia terpaksa melakuhkan itu karena ia sudah tak tau lagi harus menemui Tama dengan cara seperti apa.


Sesampinya di rumah Tama, Sanas di sambut oleh Larasati. Seperti biasa calon mertuanya itu sangat antusias saat mengetahui bahwa dirinya datang.


"Sayang, kenapa tidak kasih kabar ke mama dulu kalau mau datang ke sini Nak?" tanya Larasati.


"Hehe.. iya Ma.. Aku mau ketemu kak Tama." ujar Sanas to the point.


"Kamu ini lucu sekali, Tama kan sudah seminggu ini tinggal di apartemen Nak.." ujar Larasati, Sanas tampak termenung mendengar perkataan dari calon mertuanya.


"Masa kamu ngga tau kalau Tama tinggal di apartemen?" selidik Larasati.


"Astaga Ma.. aku lupa.." jawab Sanas bohong.


"Hahaha.. Calon menantu mama ini selain cantik lucu juga, masa sama calon suami sendiri lupa. Hmm pake acara bela - bela in datang kemari, segitu rindunya ya padahal tiap hari ketemu di kantor." ledek Larasati.


"Mama.. bisa aja, ya udah kalau gitu aku susul kak Tama ke apartemen dulu ya ma, udah di ubun - ubun nih kangennya." ujar Sanas.


"Ya sudah, hati - hati di jalan ya nak, nanti kalau Tama macam - macam bilang sama Mama.." kata Larasati.

__ADS_1


"Iya Ma.." ujar Sanas sambil mencium tangan Larasati.


Jam menunjukan pukul 8 malam, namun Sanas tetap kekeuh untuk menemui Tama di apartemennya. Ia turun dari ojek online, Terlihat Mobil Tama terparkir rapi di parkiran Apartemen, Sanas tersenyum bahagia kala mengetahui hal itu, itu tandanya Tama tidak sedang keluar.


"Hmm.. aku mau kasih surprize ah.." ujar Sanas, ia memencet tombol sandi untuk memasuki Apartemen Tama. Ia sengaja tak menekan bell, guna memberi kejutan Tama atas kedatangan dirinya yang tiba - tiba.


Pintu terbuka, namun Sanas tak menemukan Tama di ruang tamu.


"Ahh..." terdengar suara desahan perempuan dari dalam kamar Tama yang tak tertutup rapat. Seketika jantung Sanas berpacu 2 kali lebih cepat dari biasanya, ia mendekat ke arah sumber suara, ia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk membuka pintu lebih lebar untuk memastikan.


Ceklek....


"Tama!!!!" teriak Sanas dengan deraian air mata. Tama terkejut setengah mati saat ada seseorang yang masuk ke apartemennya tanpa permisi. Dengan spontan Tama berbalik dan menutupi tubuh bugilnya menggunakan selimut.


"Sanas, kau.." kata Tama terhenti.


"Apa - apaan ini hah, Aklis kau.." teriak Sanas. Aklis yang merasa namanya di sebut pun tersenyum licik.


"Apa maksut dari semua ini Tama.. katakan?" tanya Sanas dengan emosi yang menggebu - gebu. dengan tidak tahu malunya Tama beranjak dsri ranjang dengan keadaan yang telanjang bulat, Sanas hanya memalingkan mukanya.


"Kenapa kau belaga sok suci? bukannya kau juga pernah melihat milik orang lain? ohh.. bukan, bukan orang lain.. tapi milik Zidan, benarkan?" kata Tama.

__ADS_1


"jaga bicaramu." bentak Sanas.


"Ini Fakta bukan? fakta bahwa calon ISTRIKU di tiduri oleh SAHABAT KECILKU." ujar Tama dengan menekan kata - katanya.


"Kau.." kata Sanas terhenti, ia tak habis pikir jika Tama bersikap demikian.


"Kenapa? kau terkejut kalau aku mengetahui semuanya?" tanya Tama dengan senyum liciknya.


"kau lihat wanita yang ada di atas ranjangku itu? ia sanggup memberikan kesuciannya untukku, dan kau apa? kau sudah tidak suci namun masih kekeuh tak mau sekedar menjadi penghangat ranjangku." ujar Tama. Sanas hanya bisa terdiam mendengar ungkapan Tama, jujur saja ia sudah tak mampu lagi mengeluarkan kata - kata, hatinya remuk tak karuhan.


"Kita impas bukan, kau tidur dengan sahabatku, dan aku tidur dengan teman kantormu." ujar Tama.


"Dari mana kau tau jika aku tidur dengan Zen?" tanya Sanas.


"Aku mendengarnya sendiri sewaktu di caffe." jawab Tama enteng.


"Jika begitu, sayang sekali.. kau tak mendengarnya dari awal hingga akhir. Selamat menikmati malam indah kalian berdua, aku permisi. Maaf mengganggu." ujar Sanas dengan senyum kecut.


Sanas melangkah gontai dengan air mata yang terus mengalir, dinginnya malam ditambah dengan bumbuan rintikan gerimis tak di rasaknnya saat ini. Yang ada hanya sakit, hancur, dan kecewa menjadi satu.


Tiiinnn..... Sreeettt...... hampir saja tubuh Sanas tertabrak pengendara mobil, untung saja sang pengendara dengan sigap menginjak rem mobilnya, jika tidak. Entah peristiwa naas apa lagi yang akan menimpa Sanas saat itu.

__ADS_1


__ADS_2