
Tama keluar dari kamar mandi, namun tak di temukannya Sanas disana. Ia sudah mengira jika Sanas pasti marah padanya, karena hal ini sudah sering terjadi. Tama kembali keruang kerjanya, ia menyandarkan badannya pada kursi kejayaannya.
**
Seorang pria berjas baru saja keluar dari pesawat, tak lama jemputan pun datang. Kini ia sedang berada di perjalanan menuju Arthamara Group.
Triing!!!!! bunyi telepone yang membuyarkan lamunan Tama.
"Ada apa?" tanya Tama kepada seseorang di seberang telepone.
"Maaf Pak, ada seorang pria yang memaksa ingin bertemu dengan bapak." kata Aklis.
"Siapa?" tanya Tama.
"Beliau tidak mau di sebutkan namanya." kata Aklis.
"Suruh dia pergi." ujar Tama.
"Tapi beliau tetap memaksa untuk bertemu dengan bapak." kata Aklis lagi.
"Suruh dia masuk ke ruanganku." ujar Tama.
Tak butuh waktu lama pintu ruangan Tama terbuka.
"Bagus sekali mentang - mentang sudah jadi bos besar kau lupa akan teman sendiri." ujar seseorang yang memasuki ruangan Tama.
Tama yang kala itu sedang bersantai di kursi kejayaannya, spontan berbalik saat mengenali suara tersebut.
"Zidan.. kapan kau kembali?" tanya Tama.
"Hari ini, aku baru saja dari bandara langsung menuju kesini.. untuk menagih janji seorang teman yang akan memperkenalkan calon istrinya." sindirnya.
__ADS_1
"Oh.. astaga, kau datang di saat yang tidak tepat." dengus Tama.
"Kenapa?" tanyanya.
"Calon istriku sedang merajuk, sudah pasti dia akan sulit di ajak bertemu." jelas Tama.
"Apa kau selemah itu terhadap wanita?' tanya Zen.
" Bukan masalah aku lemah atau tidak, tapi memang disini aku yang salah." dengus Tama.
"Astaga Tama, sampai kapan kau lemah jika berhadapan dengan wanita." ejek Zen.
"Dia wanita berbeda, seperti yang pernah ku ceritakan dulu. Entah kenapa ia masih kekeuh dengan pendiriannya, padahal kita akan menikah." ujar Tama.
"Jadi kau belum?" tanya Zen menggantung, Tama hanya menggelengkan kepalanya.
"Astaga.. Rugi sekali kau boy punya tuan yang tak memberimu kenikmatan." ejek Zen.
"Sabar Bro, lama - lama dia juga mau sendiri kok." kata Zen.
"Udah sabar banget gue, sampe - sampe mau meledak nih si Boy." ketus Tama. Zen yang mendengar itu pun hanya bisa tertawa terbahak - bahak.
"Jadi kapan kau akan mengenalkanku dengan calon istrimu?" tanya Zen.
"Tenang Sob.. Santuy, ngebet banget deh pengen ketemu calon bini gue." ujar Tama.
"Cuma penasaran aja sih, wanita seperti apa yang katanya sulit di taklukan oleh si cengunguk satu ini." ujar Zen jujur.
"Sialan.. yang jelas dia cantik, pintar, berbakat, paket komplit deh. Awas aja sampe loe tikung, gue gibeng lu.." ujar Tama.
"Gue suka yang agresif bro!!" jawab Zen.
__ADS_1
"Loe dari dulu emang ngga berubah." ujar Tama.
"Hidup harus di nikmati bro biar nggak monoton." ujar Zen dengan bangganya.
"Menikmati dengan cara **** bebas, kalo gue takut kena penyakit brother." ujar Tama sambil menepuk pundak Zen.
"Karena loe belum ngerasain, makanya loe ngomong gitu." kata Zen.
"Argh!!! sudah.. sudah.. kau menbuatku tambah pusing." ujar Tama.
"Jangan - jangan calon istri loe transgender cu.." duga Zen.
"Transgender kepalamu itu.. ya bukan lah, dia cewek tulen." ujar Tama sambil menoyor kepala Zen.
"dia kan ngga mau kau ajak ML.. siapa tau dia nggak mau ketahuan jati dirinya." ujar Zen.
"Loe jangan buat gue merinding ya.." ujar Tama sambil mengepalkan tangannya.
"Santay Weh.. gue cuma bercanda." ujar Zen.
"Bercanda loe bikin bulu kuduk merinding tau ngga." ujar Tama.
"Ya Maaf.. Jadi kapan loe mau kenalin gue ke calon istri loe?" tanya Zen.
"Ntar gue kabarin deh, dia kalo ngambek suka lama soalnya." ujar Tama.
"Sepertinya kau harus belajar menaklukan wanita sama aku Tam.." ujar Zen.
"Sudah sana pergi kau, bikin tambah pusing aja.. Iya.. Iya.. nanti gue kenalin." ujar Tama.
"Oke Brother.. di tunggu kabar selanjutnya." kata Zen lalu beranjak dari duduknya.
__ADS_1