
Hari ini adalah hari pertama Sanas bekerja, ia bangun pagi - pagi sekali karena sekalian mau pindah kost yang jaraknya lebih dekat dengan kantornya.
"Zi.. gue pindah kostan ya, thanks udah kasih gue tumpangan. Sorry ya gue ngrepotin." kata Sanas.
"Udah lah Nas ga usah kaya gitu gue seneng kok loe nginep di kost gue, kan gue jadi ada temannya. udah santay aja kali. lain kali kalo loe mau nginep di sini lagi juga boleh kok." ujar Zia.
"Ya udah gue pergi dulu ya, kapan - kapan loe main ke kost gue ya." tawar Sanas.
"Siap bos, oh ya.. Semangat buat hari pertama loe kerja Nas, jangan lupa kalo udah gajian traktir gue." ujar Zia terkekeh.
"Udah gampang, ya udah gue pamit ya, Byee.. Zi.. Zi.." ujar Sanas sambil melajukan Mobilnya.
Sesampainya di kostan yang baru, Sanas meletakan barang - barangnya di atas ranjang, ia berniat merapikannya nanti sepulang kerja. Ia bergegas untuk berangkat bekerja.
Sesampainya di kantor, Sanas langsung menuju Lobby kantor
"Anak baru ya?" tanya Delon.
"Ahm.. iya." jawab Sanas lalu tersenyum.
"Kenalin gue Delon." ujarnya sambil mengulurkan tangannya.
"Hai.. kenalin Aku Sanas." sambung Sanas membalas uluran tangan dari Delon.
"Gantian dong, hey gue Cika Kalia. kamu harus panggil aku Caca." ujarnya.
"Ehh... Sstttt.." kata Delon memberi isyarat bahwa Pak Presdir telah tiba di kantor, Semua karyawan kompak berdiri dan membungkuk hormat saat pak Presdir melewatinya. Semuanya pun duduk di meja kerja masing - masing.
"Krey.." panggil seseorang mengagetkan Sanas.
"Ehh... Saya pak?" tanya Sanas bingung.
"Iya siapa lagi disini yang namanya Kreyasa selain kamu." ujar Pak Wira.
"Eh.. Panggil Sanas aja Pak biar saya ngga bingung ujar Sanas." ujar Sanas salah tingkah.
"Oh iya Sanas, Presdir minta kamu rekap ulang laporan keuangan buat meeting hari ini. Habis itu kamu antar ke ruangan Presdir di lantai 15 ya." perintah Pak Wira.
"Oh.. baik pak." ujar Sanas lalu kembali berkutik dengan layar komputernya.
Tak butuh waktu lama ia sudah menyelesaikan tugasnya dengan mulus, ia segera menuju lift untuk naik ke lantai 15.
__ADS_1
Ting!! pintu lift terbuka, tepat berhadapan dengan seorang wanita cantik yang sibuk dengan berkas - berkasnya.
"Permisi bu.. saya mau mengantarkan laporan yang di minta pak Presdir." ujar Sanas sopan.
"Yang anak baru itu ya?" tanyanya.
"Betul bu.." jawab Sanas.
"Oh ya, namaku Melita Sekertaris pak Presdir, btw.. jangan panggil saya Bu, panggil mbak aja." kata Melita.
"Oh iya Bu.. Ehh, Mbak Melita, perkenalkan nama saya Sanas." ujar Sanas memperkenalkan diri.
"Hmm.. sepertinya ini memang khusus untuk presdir, buktinya disini hanya ada 2 ruangan." batin Sanas.
"Oh ya Sanas, kamu di tunggu Presdir di dalam." ujar Melita.
"Terima Kasih mbak, saya masuk dulu." kata Sanas.
Sanas tarik nafas dalam - dalam lalu di hembuskannya perlahan, ia membuka Knop pintu dengan hati - hati. Bagaimana pun ini hari pertama Sanas bekerja, Was - was ohh. . sudah pasti tentunya.
"Permisi pak, Ini laporan yang bapak minta." ujar Sanas, ia meraih Map yang di sodorkan Sanas tanpa ekspresi. Glekkk.. Sanas menelan salivanya sendiri.
"Duduk!!" titah Tama. Sanas pun Duduk.
"Huft.. Selamat." batin Sanas.
"Siapa namamu kemarin?" tanya Tama.
"Sanas pak." jawab Sanas singkat.
"Bukannya Kreyasa Anastasya ya?" tanya Tama mengernyitkan dahi.
"Ehmm.. iya barusan itu nama panggilan pak." kata Sanas sambil tersenyum kikuk, Tampak Tama berfikir sejenak.
"Oh.. ya.. ya.. aku mengerti sekarang." ujar Tama sambil menyunggingkan senyuman.
"Ohh.. Astaga, kenapa aku baru nyadar kalo Presdir ku ini sangat tampan. Bisa - bisa awet muda aku kalo di kelilingi orang - orang ganteng xixixi." batin Sanas terkekeh.
"Hei.. kenapa kau senyum - senyum sendiri?" bentak Tama mengagetkan Sanas.
"Ehh.. Tidak.. Tidak apa - apa pak." ujar Sanas gugup.
__ADS_1
"Gadis Aneh, dia tampak menggemaskan kalau lagi salah tingkah begini." batin Tama.
"Ya sudah kamu boleh keluar, tingkatkan kinerjamu." ujar Tama.
"Baik pak, saya permisi." ujar Sanas lalu bangkit dari tempat duduknya.
Saat hendak keluar tiba - tiba pintu terbuka, Dukk!!
"Aww..." ringis Sanas yang kejedot pintu.
"Maaf.. Maaf.. Anda tidak apa - apa?" tanya Leo.
"Ngga papa gimana? kejedot ini." batin Sanas gusar.
"Nona, Hallo.. anda baik - baik saja?" tanya Leo lagi.
"Emhh... ya, aku baik - baik saja." ujar Sanas dengan senyum terpaksa.
"Sekali lagi maafkan saya, saya tidak sengaja." ujarnya, lalu pergi menemui Tama.
"Huufft.. untung ganteng kalo engga udah gue gibeng." batin Sanas, ia keluar dari ruang Presdir dengan dongkol.
"Hai.. Nas, ada apa? kenapa kau tampak kesal?" tanya Melita.
"Gimana ngga kesel, hari pertama kerja udah di cium pintu." ketus Sanas.
"Haha.. kok bisa." ujar Melita tertawa.
"Tadi pas mau keluar berpapasan sama seseorang ehh orangnya buka nih pintu di depannya ada aku jadi kejedot deh." jelas Sanas Kesal.
"Hahaha.. seseorang siapa? cewek apa cowok?" tanya Melita masih tertawa.
"Ga tau mbak, cowok." jawab Sanas.
"Oh.. Leo! dia asistennya Presdir, ganteng loh." kata Melita setengah berbisik.
"Iya kali, untung ganteng kalo engga udah gue gibeng." ketus Sanas.
"Emang berani?" tantang Melita.
"Engga sih.." jawab Sanas sambil terkekeh.
__ADS_1
"Udah ah mbak aku kebawah dulu." ujar Sanas.
"Ya.. Ya.. bentar lagi juga jam makan siang." jawab Melita.