
"Untung saja aku tidak memiliki anak denganmu. Karena aku juga tidak sudi jika anakku terlahir dari rahim seorang wanita yang tak tahu diri sepertimu." teriak Eliyas dari luar.
"Setelah kejadian ini, aku tahu apa yang akan kau lakuhkan. Jadi kau tenang saja sebentar lagi aku akan mengurus surat perceraian kita."
Degh!!!! apa baru saja Sanas kejatuhan talak dari Eliyas? ia mengelus perutnya frustasi.
Dengan tanpa dosa Eliyas pergi begitu saja tanpa mempedulikan Sanas yang berteriak di dalam kamar mandi. Bi ijah dan Bi Gina yang sedari tadi nguping pertengkaran Tuannya itu segera menuju kamar sang Tuan, mereka tak peduli jika Tuannya murka yang terpenting mereka menyelamatkan Nona mudanya terlebih dahulu.
"Den Ayu... Den... ini Bibi Den." kata Bi Ijah mengetuk pintu kamar mandi.
"Nona Muda, katakan dimana Tuan biasa menyimpan kuncinya, biar saya bukakan." kata Bi Gina.
"Bi Gina.. mbok ijah... bantu Asa keluar dari sini, kuncinya di laci atas mbok.." teriak Sanas.
"Tidak ada Den Ayu..." teriak Bi Ijah.
"Sepertinya di bawa oleh Tuan Muda, Nona.." kata Bi Gina Panik.
"Ada kunci yang lainnya barang kali Den Ayu.." kata Bi ijah.
"Ya sudah kalau begitu mbok... tidak apa - apa aku di sini saja." kata Sanas putus asa.
"Den Ayu.. Sebentar Si mbok cari bantuan di bawah dulu ta Den Ayu.." kata Bi Ijah.
"Tidak usah Mbok... Asa di sini saja." kata Sanas.
ia
"Den Ayu, sebentar..." kata Bi Ijah.
Sanas sudah tak mempedulikan teriakan dari kedua Bibinya itu, pikirannya benar - benar buntu. Seketika ucapan - ucapan Eliyas terngiang kembali pada ingatannya.
"Papamu sama sekali tidak menginginkan kita nak..." kata Sanas mengelus perutnya yang masih rata.
"Maafkan Mama Nak... Mama salah mencari ayah untukmu." ujarnya menangis tersedu - sedu.
"Maafkan Mama gagal memberikan yang terbaik untukmu Nak.." isaknya.
__ADS_1
"Mama terpaksa melakuhkan ini.." ujarnya. Entahlah apa yang ada di pikirannya saat ini, ia merendamkan dirinya pada Bathup di depannya hingga tubuhnya benar - benar tenggelam seluruhnya.
"Nona.. Apa Nona baik - baik saja di dalam?" tanya Bi Gina namun tak ada sahutan.
"Nona muda.. Nona masih mendengarkan Bibi Kan?" tanya Bi Gina.
"Nona.." teriaknya Lagi. Dengan tergesa - gesa Bi Gina ingin menyusul Bi ijah. Beruntung saat di ruang tengah ia bertemu dengan Kelvin, Gea dan Santi.
"Tuan.. Nona.. Tolong.. Tolong.. Nona Muda!!!" kata Bi Gina panik.
"Bibi.. Pelan - pelan, ada apa Bi?" tanya Kelvin.
"Nona Muda terkunci di kamar mandi, sudah 10 menit lebih nona tak merespon panggilan dari saya Tuan.. Tuan.. Tolong." kata Bi Gina.
"Bagaimana bisa?" tanya Kelvin.
"Baru saja nona bertengkar hebat dengan Tuan Muda, Tuan.. nanti saja saya ceritannya, sekarang yang terpenting bantu Nona Muda keluar Tuan." kata Bi Gina. Dengan segera semuanya menuju kamar Sanas begitu juga Bi Ijah dan beberapa pengawal.
"Nona Ayashaa.. apakah anda baik - baik saja di dalam?" tanya Kelvin.
"Sanas.. kamu nggak papa kan di dalam? jawab kami Sanas." teriak Gea.
"Pasti terjadi sesuatu di dalam, Bi ambil kuncinya.." kata Kelvin.
"Tidak ada kunci cadangan lagi Tuan.." kata Bi Gina.
"Minggir semua.. saya akan mendobrak pintunya." ujar Kelvin.
1.. 2.. 3.... Brakkk!!!!!! Berhasil!!!! dengan cepat kilat Kelvin masuk ke kamar mandi. Betapa terkejutnya Kelvin saat menjumpai Nona Mudanya tenggelam di Bathup. Segera ia mengangkat tubuh Sanas yang penuh luka lebam.
"Minggir!!!" kata Kelvin memapah Sanas.
"Astaga.. Queen, apa yang terjadi? kenapa.. Kenapa seperti ini?" tanya Gea panik.
"sudah tanya - tanyanya nanti saja sekarang a**yo... kita harus segera ke rumah sakit.. Bi Gina, bawakan pakaian bersih untuk Nona Muda dan Susul kami ke rumah sakit Angkasa." kata Kelvin.
Sesampainya di rumah sakit angkasa, Sanas di tangani oleh dokter di ruang IGD. Semuanya yang ada di sana ikut panik, Kelvin berulang kali menghubungi Eliyas namun selalu di reject.
__ADS_1
"Tuan kelvin menghubungi siapa?" tanya Bi Gina.
"Aku menghubungi Eliyas dari tadi, tapi tidak bisa." jawab Kelvin.
"Mungkin Tuan Muda Sibuk.." ujar Bi Gina.
"Mungkin.." ujar Kelvin Lagi.
"Sibuk dengan istri mudanya." lirih Bi ijah namun masih bisa di dengar oleh kelvin.
"Istri muda siapa yang bibi maksud?" tanya Kelvin, Bi Gina menyenggol Bi ijah tanda agar bi ijah tidak mengatakan apa pun.
"Bi Jawab.. sebenarnya ada apa?" tanya Kelvin.
"Bi Gina!!!! jawab saya... apa yang terjadi?" desak Kelvin.
"Anu.. Tuan... Emh... Anu... Tuan Muda Anu.." jawab Bi Gina terbata - bata.
"Kenapa? ada apa dengan Eliyas dan Nona muda?" tanya Kelvin tak sabaran.
"Tadi Tuan Muda mengajak Nona Riyana ke rumah Tuan." jawab Bi ijah geram karena Bi Gina tak juga menjawab.
"Untuk?" tanya Kelvin. Bi ijah pun menceritakan semuanya dari awal hingga akhir tanpa terkecuali.
"Jadi Eliyas dan Riyana Menikah tanpa sepengetahuan Nona Muda sebelumnya?" tanya Kelvin terkejut.
"Benar Tuan, Pernikahan itu berlangsung di Mansion 2 minggu yang lalu tepat saat Nona Muda berangkat ke kota KL." ujar Bi Ijah.
"Brengsek!!!! bagaimana bisa?" tanya Kelvin tak percaya.
"Nona Riyana Hamil anak Tuan Muda.. Tuan." ujar Bi Gina bergetar.
"Apa?" kata Santi dan Gea bersamaan. Sedangkan Kelvin, ia hanya bisa memijat pelipisnya, ia tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya sendiri.
Tak selang beberapa lama, dokter keluar dari IGD semua tampak antusias mendengar keadaan Nona Mudanya.
"Bagaimana keadaan Nona Muda Dok?" tanya Kelvin.
__ADS_1
"Beruntung Nona cepat di bawa kesini, jika terlambat sedikit saja mungkin nyawa Nona Muda tidak akan terselamatkan. Sedangkan untuk Memar pada tubuhnya sudah kami beri obat antiseptik." kata Dokter.
"Saya sudah menyuntikkan obat penenang untuk Nona Muda, Kemungkinan Nona Muda akan sadarkan diri besok pagi." lanjut Dokter.