
Prolog
Menjadi seorang perawat adalah tugas yang mulia. Kata-kata itulah yang ayahku katakan dan yang menjadi penyemangatku setiap hari, karena sebenarnya bukan cita-citaku untuk melanjutkan pendidikan di dunia kesehatan ini. Lingkungan yang hampir setiap hari aku melihat darah dan bertemu dengan orang-orang yang sedang sakit. Namaku Larasati Fransiska, aku masih berumur 22 Tahun.
Walaupun awalnya tidak terlalu bersemangat, namun aku dapat menyelesaikan pendidikan keperawatan dengan nilai yang cukup baik. Sehingga setelah lulus aku langsung mendapatkan penawaran kerja dirumah sakit yang terbilang cukup besar di Jakarta ini.
RS Citra Permata. Disinalah aku bekerja. Sudah hampir setahun aku bekerja dibagian Rawat Inap VIP.
Aku anak pertama dari dua bersaudara, aku mempunyai seorang adik laki-laki. Keluarga kami merupakan keluarga yang biasa-biasa saja. Ayahku seorang karyawan di perusahaan swasta dan ibuku hanya ibu rumah tangga.
Setelah lulus kuliah dari Medan, aku merantau ke Jakarta, karena ada penawaran kerja dari rumah sakit disini, rumah sakitnya cukup besar, menawarkan gaji yang diatas rata-rata dan kufikir aku dapat sambil melanjutkan pendidikanku.
Orang tua kami selalu menanamkan kesederhanaan dan kemandirian pada kami anak-anaknya. Walau dengan
berat hati, ayahku melepaskan juga kepergianku untuk tinggal jauh dari mereka.
Teringat saat memberangkatkanku setahun yang lalu. Sehari sebelum keberangkatanku kami tidur berempat dikamar orang tuaku. Ranjang itu terasa sempit karena empat orang dewasa tidur bersama. Namun terasa kehangatan keluargaku saat itu. Semalaman kami mengobrol bersama, bersenda gurau sambil kadang-kadang ayah dan ibuku memberi nasehat-nasehat padaku.
Begitu pula keesokan harinya saat dibandara, Ayah yang sangat bijaksana terlihat senyum namun ada setitik air mata kulihat diwajahnya saat kupeluk ayahku ketika berpamitan. Ibu dengan wajahnya yang sudah basah karena
air mata, memelukku dan mencium kedua pipiku. Dan berakhir pada pelukan adikku yang ganteng yang sedang masa pertumbuhannya untuk semakin dewasa. Rajin-rajin video call ya kak, pesannya padaku.
*****
Sudah setahun aku bekerja di rumah sakit ini. Dan aku dapat beradaptasi dengan baik.
__ADS_1
“Selamat Siang”
“Selamat siang dokter”. Jawab kami pada dokter gilbert. Seperti biasa siang ini dr. Gilbert, SpPD (Spesialis penyakit dalam) visite ini untuk melihat keadaan pasien-pasiennya hari ini.
Aku, Riana dan ratih temanku yang masuk shift siang hari ini berkeling ruangan bersama dengan perawat shift pagi dan bu Linda kepala ruangan rawat inap VIP bergegas berjalan mendampingi dokter Gilbert untuk melakukan visite hari ini, sekaligus kami perawat-perawat melakukan aplusan.
Jam 14.00 jadwal aplusan antar perawat yang bertugas jaga pagi dengan siang. Kami berkeliling disemua kamar VIP, sampai kamar terakhir adalahs kamar 301 tempat ibu Maria dirawat.
Bu Maria terbangun tatkala kami memasuki kamarnya. “Selamat siang bu Maria, maaf ya bu sudah membuat anda
terbangun”, sapa kepala perawat ruangan.
“Tidak apa-apa suster, lagian saya juga senang melihat suster semua”.
Sudah tiga hari Bu Maria dirawat diruang VIP rumah sakit tempatku bekerja ini. Beliau masuk dengan diganosa Hypertensi dan Diabetes.
Baru hari ini aku melihatnya, karena sebelumnya anak perempuan bu Maria yang selalu menjaganya.
Setelah selesai memeriksa semua pasien, kami kembali ke Ruang Perawat
“Ra. Jangan lupa insulinnya disuntikkan sebelum bu Maria makan ya”. Sambil berlalu Vina mengingatkanku, karena jadwal shift paginya sudah berakhir.
“Sipp…”
Tinggal kami bertiga berkutat dengan pekerjaan dan laporan-laporan kami. Riana, Ratih dan aku.
__ADS_1
Obat-obatan sore sudah kusiapkan semua, saatnya berkeliling mengantarkan obat minum karena makan sore sudah diantarkan oleh petugas gizi yang menangani khusus makanan pasien.
“Bu Maria, ini obat minumnya untuk hypertensinya, nanti diminum setelah makan sore ya bu”.
“Saya juga memberikan suntikan insulin sekarang, nanti ibu makan sorenya 30 menit setelah saya suntik ya bu.”
Bu Maria tampak mengangguk sambil tersenyum.
“Suster Rara.” Tiba-tiba bu Maria memanggilku saat aku menyiapkan obat suntikan.
“Ya bu.”
“Suster rara ini cantik, kenapa tidak jd pramugari saja?”
“Saya takut naik pesawat bu” Jawabku bercanda sambil tersenyum.
“Kalau saya sudah sembuh ntar naik pesawat dengan saya ya sus.”
“Ibu bisa aja, Baiklah. Tapi ibu disiplin minum obatnya ya. Biar cepat sembuh.”
"Saya tinggal dulu ya bu."
Bu maria tersenyum sambil mengangguk.
Setelah menyelesaikan suntikan insulin, dan mengecek infus bu maria kemudian aku meninggalkan ruangannya.
__ADS_1