Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Kesedihan Yuna


__ADS_3

Dengan tetesan air matanya yang hampir habis, Yuna terus menatap luar jendela. Pemandangan yang begitu indah. Hujan gerimis membuat hati semakin merindu. Rindu akan Jian yang sudah hampir satu bulan tidak dia kunjungi. Rindu akan segala canda tawanya di setiap sudut kota ini. Tapi hal itu sudah tidak akan ada lagi. Semuanya telah sirna. Hanya menyisakan seribu kenangan yang akan ia bawa bersama kepergiannya. Mobil yang tengah ia tumpangi semakin gesit berlari menuju Bandara. Dan di sanalah ia akan melepas masa lalunya nanti. Menyedihkan. Tiada kata yang mampu terucap. Bahkan tak pernah terbersit dalam pikirannya bahwa hal seperti ini akan dia alami dalam hidupnya. Menikah dengan orang yang tak pernah dia cintai. Itu musibah bagi sebagian orang.


'Andai saja hari itu aku tidak terlalu bodoh, mungkin aku masih ada di sampingmu, Jian.'


Apalah dayamu, Yuna. Kau terlalu lemah untuk hal itu. Kau tak bisa mengubah takdirmu. Sekuat apapun kau mencoba melawan, tetap saja kau akan kalah. Inilah kenyataan pahit yang harus kau alami. Begitulah suratan takdir. Kau berusaha menjaga Jian sekuat tenagamu. Kau juga berusaha setia terhadap lelaki itu selama dua tahun lebih dalam komanya. Tapi kau tak mampu melawan takdirmu yang harus menikah dengan cara yang menyedihkan. Kau tidak akan tahu bagaimana perjalanan selanjutnya dalam hidupmu, dan kau sama sekali tidak menyangka siapa yang akan menjadi mempelai pria yang akan bersanding di pelaminan bersamamu. Itulah takdir.


"Apa kau mau minum?"


Yuna menoleh. Air matanya terasa habis. Dia tak lagi bisa mengeluarkan air mata sakitnya itu. Kering sudah. Dia hanya bisa mengangguk saja.


Demy mengulurkan sebotol air minum kepada Yuna. Diminumlah air itu sampai tinggal setengah.


"Apa kau mau makan terlebih dahulu?"


"Tidak!! Jika kau lapar, kau bisa makan sendirian. Aku akan menunggumu disini."


"Aku sama sekali tidak lapar. Aku hanya khawatir kepadamu karena sedari pagi, kau sama sekali belum makan apapun."


Yuna tersenyum menanggapi kecemasan suaminya.


"Kau tak perlu risau. Aku baik-baik saja."


"Aku hanya ingat pesan ibumu saat kita berpamitan. Dia menyuruhku membelikan bakmi kapanpun kau mau. Aku jadi berpikir apa di tempat kita nanti akan ada penjual bakmi yang nikmat seperti di kota kita?"


"Kenapa kau malah mencemaskan hal itu? Kau tak perlu cemas seperti itu. Aku sudah ahli dalam membuatnya."


"Apa kau serius?"


Wajah Demy beralih bingung. Setahunya wanita itu tidak pandai memasak. Apa dia yang salah dengar?


"Aku serius. Kenapa wajahmu aneh? Apa kau sedang mengejek aku lagi?"

__ADS_1


"Bukan begitu. Aku hanya tidak menyangka kau bisa memasak."


"Apa? Apa kau lupa, kalau aku ini seorang wanita? Tentu saja aku bisa memasak. Mana mungkin aku tidak bisa. Lagipula dengan kita memasak sendiri makanan kita, tentunya akan lebih menghemat pengeluaran. Begitu kata Jian."


Mendadak raut mukanya kembali sedih saat menyadari ucapannya yang membawa nama Jian disana. Ada kecanggungan antara mereka. Demy tahu tidak akan mudah membuat Yuna melupakan Jian begitu saja. Mengingat lelaki itu adalah cinta pertamanya. Tapi jujur saja jika hal itu membuatnya merasa cemburu. Ia memalingkan muka dengan perasaan tidak karuan. Yuna hanya menunduk saja. Ia juga merasa sedih karena belum bisa lupa akan sosok Jian. Lagipula untuk apa ia melupakannya jika dia tak mampu? Mungkin saja pria itu akan sadar suatu hari nanti. Tapi apa mungkin saat Jian sadar dan mengetahui pengkhianatan Yuna, dia akan memaafkan? Hhhh. Miris sekali hidupmu, Yuna.


Mobil berhenti. Mereka sudah sampai di Bandara. Mereka melangkah begitu cepat seakan ingin berlalu dari semua permasalahan. Topi dan masker hitam yang mereka berdua pakai sepertinya membuat semua orang tidak sadar akan kehadiran artis yang sedang ramai dibicarakan itu. Mereka hanya berlalu saja tanpa peduli dengan Yuna ataupun Demy.


Semuanya sudah selesai. Para asistennya yang mengurus keberangkatan mereka. Mereka berdua hanya tinggal melenggang saja menuju pesawat yang hendak mereka tumpangi. Sepanjang perjalanan, Yuna terlihat digandeng oleh Demy. Pantang baginya untuk terlepas dari tangan lelaki berpostur tinggi itu. Agak takut saja berhadapan dengan orang-orang yang sudah menganggapnya wanita pengkhianat dan murahan.


Mereka mencari tempat duduk yang di maksud pegawai di pesawat. Lalu setelah itu mereka duduk berdampingan. Sebelum pesawat lepas landas, pramugari cantik di depan terlihat mengajari dan memberi contoh pada para penumpang. Yuna acuh. Ia sama sekali tidak memandang pramugari itu secuil pun. Ia hanya duduk dan mencoba memasang sabuk pengamannya. Setelah beberapa kali usahanya, ia akhirnya berhasil juga.


Tak berapa lama kemudian, pesawat pun lepas landas. Mereka akan memulai keberangkatan saat itu. Tepat pukul 20.00 malam.


Yuna hanya terdiam membisu sepanjang perjalanan. Tak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutnya selama hampir satu jam. Bahkan saat seorang pramugari datang menawarkan makanan kepadanya, ia terlihat acuh. Demy yang tidak enak hati pun menerima makanan mereka berdua dengan tersenyum kikuk.


"Terima kasih."


"Yuna, kau harus makan!"


Yuna menggeleng. Demy tahu wanita itu sedang bergelut dengan perasaannya. Tapi apa itu alasan Yuna tidak mau makan? Kau pikir tidak merepotkan jika nantinya kau sakit dan semua orang akan menyalahkan Demy?


"Makanlah, sayang!! Kau belum makan apapun seharian ini."


Yuna menoleh mendengar panggilan itu. Aneh sekali rasanya. Demy yang sadar akan ucapannya buru-buru memalingkan muka. Aduh!! Kenapa kau sebodoh itu, Demy? Apa kau lupa jika pernikahan ini tidak berdasar pada cinta? Hhh.


"Maaf, Yuna! Aku tidak bermaksud seperti itu padamu."


"Tidak apa-apa. Kau benar! Aku belum makan seharian ini. Aku merasa sangat lapar."


Yuna mencoba tersenyum. Sepertinya makin hari makin besar pula peluang Demy untuk merebut hati gadis cantik itu. Jian boleh jadi cinta pertamanya, tapi hati Yuna bukan tidak mungkin akan berubah seiring berjalannya waktu.

__ADS_1


'Lihat saja nanti! Kau akan jatuh cinta padaku, Yuna.'


"Baiklah. Aku akan menyuapimu."


Yuna mengangguk saja. Disuapilah istri cantiknya itu penuh kehangatan. Apa Yuna memang sudah berubah pikiran kala itu? Semoga kau tidak terlalu cepat mengambil keputusan ini, Yuna. Tetaplah pada Jian, cinta pertamamu. Meski kini Demy lah yang menjadi pendamping hidupmu. Itu hanya saran. Kau mau setia atau berpaling pada Demy, itu semua adalah urusanmu.


Dua jam sudah berlalu. Pesawat pun tiba. Sebuah kota dengan peradaban yang bertolak belakang dengan kota K. Yuna menatap langit yang penuh dengan bintang disana. Indah sekali. Dia pasti akan sangat berbeda jika sudah tinggal disana.


Demy tersenyum kearah Yuna. Dia membenarkan jas putihnya dengan hati yang sumringah. Setidaknya dia akan aman disini bersama istrinya tanpa gangguan dari siapapun. Termasuk Jian.


Mereka bergandengan menuju mobil yang sudah dipersiapkan bodyguardnya disana. Dia memang sudah meminta mereka untuk menjemputnya lebih awal. Dan yang namanya bawahan pasti akan menuruti perkataan atasannya.


Mereka terlebih dulu mampir di sebuah Restoran yang buka 24 jam disana. Demy mengajaknya untuk makan bakmi kesukaannya.


"Makanlah! Mungkin saja kau akan suka rasa bakmi disini. Jika nanti kau menyukainya, aku bisa membelikan bakmi untukmu setiap hari."


Keduanya tersenyum.


'Aku sakit, Jian! Bagaimana aku harus bersandiwara jika wajahmu saja selalu membayang diotakku! Kuharap kau akan menjemputku dan membawaku pulang bersamamu suatu hari nanti.'


Dia tak berkutik. Tetap saja melamun. Membayangkan betapa kejamnya dia dalam melakukan pengkhianatan ini. Menyesal pun tiada gunanya. Kesalahan itu sudah terjadi.


"Yuna!"


Panggilan Demy mengejutkan lamunanya.


"Oh.. Iya.. Aku lupa."


"Makanlah dulu, setelah itu kita bisa beristirahat."


"Iya."

__ADS_1


Yuna mengangguk. Disantapnya bakmi di depan mata. Hambar rasanya. Sama sekali tidak seenak saat ia makan bersama Jian. Pria itu lagi. Memang apa yang dipikirkannya selain Jian? Bahkan penderitaannya ini ia lakukan dengan alasan untuk menyelamatkan Jian. Sungguh. Kau memang sudah dibutakan oleh cinta, Yuna. Semoga saja takdir membalasnya dengan balasan yang terbaik.


__ADS_2