
Jam enam sore. Petugas yang mengantar makanan datang untuk mengantarkan makan malam pasien.
“Mas Vano makanannya langsung dimakan ya, mumpung masih hangat.”
“Ntar ajar ra.”
“Sekarang aja mas, kalau ntar keburu dingin makanannya.”
“Ntar lagi ra.”
“Kalau ga sekarang, rara tinggal nich mas vano sendirian, rara pulang aja.”
“Ya ampun, segitu aja sudah ngambek nona satu ini. Ya sudah bawa sini, biar saya makan.”
Rara meletakkan piring berisi makanan diatas meja buat makan pasien.
“Auchh.” Vano meringis kesakitan saat menggerakkan tangannya. Karena bahu kanannya yang diperban itu terasa sakit saat digerakkan.
“Sini saya suapin aja mas.” Rara langsung mengambil sendok dari tangan vano dan menyuapinya.
Akhirnya Vano makan dengan disuapin rara. Ada perasaan senang dalam lubuk hatinya. Sesekali dia curi-curi pandang menatap mata indah gadis itu.
*****
Hari sudah malam, dan Rara masih sibuk dengan laptop dan buku-buku nya. Keningnya kadang – kadang mengkerut. Dari ekspresi wajahnya tampak kalau tugas-tugasnya itu butuh perjuangan untuk diselesaikan. Namun ada sesuatu yang baru pertama kali ini dilihat oleh Vano.
Kaca mata itu. Biasanya, rara tidak menggunakan kaca mata. Apakah sebelumnya hanya digunakan dirumah? Batin vano.
Tiba-tiba Rara melihat ke arah Vano, mungkin dia merasa ada yang memperhatikannya. Dan Vanopun segera mengalihkan pandangannya kea rah Televisi yang pura-pura ditontonya, Vano tak mau ketauan kalau sedang
memperhatikan Rara.
__ADS_1
“Mas Vano butuh sesuatu?” Tanya Rara tiba-tiba.
“Mmmm, tidak.” Jawab Vano singkat
Rara kembali lagi menyibukkan diri dengan kegiatan yang dilakukannya sebelumnya.
Drrrrt..drrrrrt. ada panggilan masuk ke handphone Rara.
“Rara” jawabnya singkat
Hmm, ya kak Mayang.
“Maaf kak, sepertinya Rara besok ga bisa datang pagi-pagi, tapi Rara udah mau kelar nih ngerjain tugasnya, nanti Rara email saja ya kak.”
“ok. See you sist”
Hanya itu pembicaraan yang dapat didengarkan oleh vano. Vano tak dapat mendengarkan perkataan orang diseberang telephone Rara itu.
Vano melihat rara yang sudah mulai mengantuk. Rara sesekali menguap, mengedip-ngedipkan matanya, menggeleng-gelengkan kepalanya dan meregangkan tangannya kedepan dan kesamping, seperti sedang berolah raga.
“Huhh. Dia tampak lucu seperti itu.“Ucap vano di dalam hatinya.
“Rara, kamu pulang saja gih, besok kan kamu masuk kuliah” kataku yang tak tega melihat rara yang sudah mengantuk. Walaupun vano sebenarnya ada rasa ingin selalu bersama dengan rara.
“Trus kalau rara pulang, siapa yang nungguin mas Vano?” jawab rara sambil melirik sebentar kea rah vano.
“Saya bisa sendiri ra”
“Huhhh. Badan saja susah gerak, malah minta ditinggal sendiri. Udah mas Vano ga usah pikirin rara, tidur aja duluan.” Omel rara pada Vano
“Tapi kamu istrahat juga ra, sudah malam ini.” Jawab Vano sambil tersenyum karena omelan Rara tadi. Gadis yang tampak pemalu, bisa ngomel juga, batin vano.
__ADS_1
“Iya, paling juga sepuluh menit lagi udah kelar ini mas.”
Kembali Vano mengarahkan pandangannya ke layar televise, karena sepertinya dia susah tidur. Apakah karena tadi sempat pingsan selama beberapa jam, atau karena alam pikirannya yang sedang memikirkan sesuatu. Badannya terasa gerah, walaupun AC diruangan itu sudah menyala sejak mereka masuk.
Vano pov.
Satu jam berlalu dan aku melihat Rara yang sudah tertidur. Jam di dinding sudah menunjukkan tepat jam Sembilan malam. Rara sudah tertidur di sofa dengan tubuhnya yang meringkuk seperti udang. Mungkin saja dia kedinginan.
Kupandangi lagi wajahnya dan kali ini aku dapat leluasa melihatnya, karena rara yang sudah tertidur pulas.
Ternyata wajah gadis ini cukup sempurna. Batinku.
Matanya yang bulat dan sayu jika sedang tersipu malu ataupun sedih, dan mata itu juga yang melebar jika sedang kegirangan. Hidungnya yang mancung sesuai dengan bentuk wajahnya yang oval. Bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda walaupun tanpa lipstick. Alis matanya yang sudah terbentuk rapi, ditambah rambut panjangnya yang hitam terurai.
Kemudian rambut dekat wajahnya sedikit menutupi sebagian wajahnya, karena kepalanya yang bergerak tadi. Ingin rasanya aku meminggirkan rambut-rambut yang menutupi wajahnya itu, agar aku bisa lebih puas memandang wajahnya. Ingin kusentuh pipinya yang putih dan sedikit chubby. Ingin aku menyelimuti tubuhnya yang meringkuk kedinginan dengan selimutku. Tapi apa daya, aku hanya bisa duduk memandangnya, karena kakiku masih terasa sangat sakit untuk digunakan berjalan.
*****
Cklekk. Tiba-tiba pintu ruanganku ada yang membuka. Aku melihat kesal kearah pintu, apalbi setelah melihat siapa yang datang. Mataku langsung menatap tajam kearah orang itu, sambil menyilangkan jari telunjukku di depan bibirku, mengisyaratkan agar orang itu diam tidak bersuara.
Orang itu adalah Damar. Damar menatapku bingung, kemudian melihat gadis yang sedang tertidur di sofa itu. Setelah melihat Rara, Damar mendelikkan matanya seakan bertanya siapa gadis itu.
Aku tak menanggapi Damar, malah aku menyuruhnya memakaikan selimut yang ada di meja ke tubuh Rara. Masih dengan bahasa isyarat, segera setelah itu aku langsung menyuruhnya pulang. Damar tampak kesal dengan penuh tanda tanya terpancar diwajahnya.
Kenapa juga anak satu itu datang, batinku. Aku tadi memang mengabarinya kalau aku kecelakaan dan dirawat dirumah sakit. Tapi bukan untuk menyuruhnya datang. Aku memintanya untuk menangani pekerjaan penting yang
tak bisa kukerjakan beberapa hari ke depan. Karena paling tidak selama tidak hari aku ga bakalan bisa masuk kantor.
Huhh. Damar yang selalu usil.
Tbc
__ADS_1
Pembaca yang menyukai novel ini, jangan lupa like ya.