
Pukul 01.36.
Saat itu Yuna terbangun. Ia begitu terkejut mendapati dirinya yang terbaring di atas kasur. Bersama Demy? Apa? Apa mungkin dia sudah tidak waras? Oh Tidak!! Dia sudah menghancurkan kepercayaan Jian. Tidak. Selama mereka tidak melakukan apapun, seharusnya tidak masalah.
Demy terlihat tidur begitu pulas. Sebenarnya ini pertama kalinya dia tidur setelah beberapa malam sebelumnya sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Rasanya nyaman juga tidur dengan seorang wanita.
Yuna bergeming. Dia berniat untuk keluar dari pelukan pria didepannya. Dengan perlahan dia mencoba mengangkat tangan laki-laki itu. Tapi itu sama sekali tidak berhasil. Demy malah memeluknya lebih erat lagi. Tiba-tiba saja matanya terbuka. Sontak saja Yuna merasa tidak nyaman. Apalagi saat tatapan mereka saling berhadapan.
"Demy, lepaskan pelukan ini!"
"Tidak! Tidak lagi!"
Demy pun sudah tak tahan lagi. Diciumlah bibir nan manis itu sekilas. Sungguh hati Yuna tak bisa lagi berkata apapun. Menangis sudah di dalam sana. Beberapa tahun mencoba setia dalam penantian ini, nyatanya kesetiaan itu sudah tidak bisa lagi diatasnamakan.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku tidak akan pernah melepas dirimu lagi untuk siapapun. Aku sudah salah karena meninggalkanmu bersama Jian saat itu. Tapi kali ini, tidak lagi. Kau harus jadi milikku."
"Lepaskan, Demy. Kau sudah tidak waras."
"Kau sudah tahu itu semua karena ulahmu. Jadi untuk apa kau selalu menentang ku untuk melakukannya?"
"Demy, berhentilah! Ini sudah tidak benar."
"Apanya yang tidak benar? Kita memang ditakdirkan untuk bersama. Kau hanya harus menunggu untuk jatuh cinta padaku."
Spontan saja Yuna memukul pipi laki-laki itu. Entahlah. Agak muak saja rasanya melihat tingkah pria itu.
"Kenapa kau menamparku?"
"Supaya kau sadar dan segera berpikir jernih."
"Pikiran kamu saja yang tidak waras."
"Aku tidak peduli. Aku bilang lepas!"
"Tidak."
"Apa kau tidak mendengarkan aku?"
__ADS_1
"Menyerah saja! Kau tidak akan lepas kali ini."
Akhirnya gadis itu menyerah juga. Rupanya tenaganya tidak cukup kuat untuk mengalahkan pria itu. Ia pasrah. Ia tahu. Tidak akan ada lagi yang namanya kesetiaan disini. Maaf Jian. Aku terlalu lemah untuk seorang pria yang berambisi ini.
'Aku telah mengkhianati cintamu, Jian.'
Beberapa hari kemudian...
Dua wanita itu tengah duduk sembari bermain ponsel mereka masing-masing. Didepan mereka berbaris lah toples berisi berbagai macam camilan. Mereka menyantapnya dengan mata yang terus memandang ke arah ponsel.
Hani terbelalak. Entah apa yang dia baca. Ia begitu terkejut dan tidak percaya sama sekali. Buru-buru saja dia menunjukkan penemuannya pada Yuna. Apa yang sebenarnya sedang terjadi disini?
"Yuna! Kau harus melihat ini!"
Hani buru-buru menunjukkan ponselnya pada Yuna saat mereka tengah bersama di ruang tv.
"Ada apa memangnya?"
"Kau lihat saja sendiri."
Yuna melihatnya sendiri. Ada artikel panjang terpampang dengan jelas di layar ponsel Hani. Ada gosip yang terlihat membawa namanya di sana. Dan itu sungguh sangat mengejutkan. Beberapa bukti juga dipajang dengan begitu jelas. Tentu saja sebenarnya itu sebuah fitnah.
Yuna menggelengkan kepalanya. Ia sungguh tidak percaya apa yang tengah dia lihat.
"Apa ini? Ini sudah pasti salah faham. Siapa yang sudah memotretnya? Aku rasa saat itu hanya kami berdua saja."
"Apa? Apa maksud ucapanmu? Apa wanita itu benar dirimu, Yuna?"
"Um.. Itu.. Sebenarnya.."
"Apa kau bercanda? Apa kau sudah tidak waras? Bagaimana bisa kau melakukan semua itu?"
"Ishh... Aku tidak bisa menjelaskannya. Itu terlalu rumit dan panjang."
"Aku benar-benar membutuhkan jawabanmu saat ini. Jawablah dengan jujur. Apa wanita dalam foto itu kau?"
Yuna menggaruk kepalanya. Bingung dan takut bercampur lah menjadi satu. Karirnya yang sedang gemilang akan menjadi taruhannya sekarang.
"Hani.. Itu sama sekali tidak seperti yang kau pikirkan. Aku hanya membujuknya untuk tidak seperti itu lagi."
__ADS_1
"Seperti itu bagaimana maksud kamu?"
"Dia sudah mengurung diri selama dua hari dan tidak makan sedikitpun. Bibi Daniah begitu senang saat aku datang. Dia memintaku untuk membujuknya. Tapi dia malah tertidur dalam pelukanku."
"Dan kau juga ikut tertidur bersama pria itu?"
Yuna mengangguk saja. Hani membuang nafasnya kasar. Ia sangat marah kali ini. Dia begitu kesal pada sahabatnya itu.
"Hani tolong dengar penjelasanku! Aku tertidur karena saat itu aku sudah menjalani hari yang begitu lelah. Ditambah lagi kejadian saat Demy berdebat denganku. Itu sungguh berhasil menguras tenagaku. Dan aku tidak tahu saat Demy tertidur, tiba-tiba saja mataku rasanya sangat berat."
"Kenapa kau jelaskan padaku? Kau tidak seharusnya takut aku tidak mempercayaimu. Kau seharusnya takut akan janji setia yang sudah kau ikat bersama Jian."
"Tapi Hani, bagaimana jika nanti Jian tidak percaya padaku lagi? Aku sungguh tidak melakukan apapun selain tidur di sampingnya."
"Apa dia tidak berusaha menciummu?"
Yuna meraba bibirnya. Dia ingat Demy menciumnya lembut kala itu.
"Hhh. Kau benar-benar keterlaluan! Bagaimana kau bisa bertindak sebodoh ini?"
"Aku tidak tahu! Lagipula mengapa bisa ada foto seperti itu dalam berita? Bagaimana ini? Siapa yang sudah mengambilnya?"
"Kau sungguh kacau sekarang. Bagaimana publik akan memandangmu jika begini? Dan bagaimana kau akan menanggapi penggemar dari Jian? Apa kau sudah berpikir untuk itu?"
"Apa kau tahu? Saat dia menciumku, aku juga memikirkan Jian."
"Aku sungguh bingung sekarang. Bagaimana kau akan mengatasi masalah ini?"
Tiba-tiba saja ponsel Yuna berdering beberapa kali. Banyak pesan masuk yang memenuhi notifikasi di sana. Beberapa orang terlihat menanyakan berita yang tersebar secara mendadak itu. Yuna mengacak-acak rambutnya. Dia mulai stres saat ini. Hh. Aku rasa itu bukan sepenuhnya kesalahan Yuna. Dasar Demy!! Apa mungkin kau sengaja melakukan semua ini untuk mendapatkan Yuna? Semoga saja hal itu tidak benar.
........
Demy pun terlihat menatap layar ponselnya.Ia juga sedang membaca artikel yang sama.Dia tidak begitu terkejut.Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah siapa yang sudah memotret mereka berdua.
Dia meletakkan ponselnya di atas meja ruang tamu.Tangannya mengusap wajahnya.Agak kasar.Tapi nyatanya hal itu tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi.Dia pun akhirnya terduduk.
Apa ini? Rasa apa yang hadir di hati ini? Bagaimana ia bisa merasa senang dengan sebuah pemberitaan miring tentang dirinya sendiri? Tentu saja itu alasan yang mudah.Rasanya takdir sangat berpihak padanya kali ini.Bisa jadi ini akan menjadi jalan baginya dalam mendapatkan hasil yang sempurna.Tanpa ia mengotori kedua tangannya sendiri,rupanya ada seseorang yang berinisiatif untuk membantunya.Siapa orang itu? Siapapun orang itu,Demy sungguh akan sangat berterima kasih padanya.Bagaimana tidak? Dia sudah melancarkan rencana Demy yang sesungguhnya tidak pernah terlintas sama sekali dalam pikirannya.
Pria itu tersenyum miring.Puas juga rasanya bisa mendapat bonus besar hanya dengan pengorbanan mengurung diri dua hari.Tidak mengecewakan.Ini adalah hasil yang sangat memuaskan.Begitulah pikirnya.
__ADS_1
Dia mengambil ponselnya dan menatap potret itu kembali.Rasanya begitu senang melihat foto mereka berdua yang saling berpelukan mesra.Hhh.Pria itu mulai berpikir gila.Andai saja dia bisa mengambil kesempatan di malam itu.Akh!! Itu saja rasanya sudah cukup.Sebagai permulaan.Kali ini dia tidak akan melepaskan Yuna lagi.Apapun yang terjadi,hal itu tidak akan pernah ia lakukan.Sampai kapanpun.
'Kau akan jadi milikku,Yuna.'