
Jian mengusap keningnya dengan kasar. Berkali-kali dia mencoba terlelap dalam tidur, tapi dia bahkan tidak bisa mengatur matanya untuk terpejam. Dia hanya bisa mengeluh karena terus saja terbangun sampai akhirnya, pagi pun sudah menjelang..
Drrrttt Drrrttt
Mendadak ponsel Yuna bergetar di atas nakas. Melihat istri tercintanya sedang tertidur pulas, dia akhirnya berinisiatif mengangkat panggilan di ponsel Yuna tersebut.
" Hallo.."
' Jian ?? Dimana Yuna ??'
Rupanya orang itu adalah Azof.
" Dia masih tidur, aku tidak tega membangunkan dia, memangnya ada kabar apa ??"
' Dokter bilang, racun ditubuh ibu menyebar begitu cepat, jadi sepertinya, kelumpuhan ibu tidak bisa di sembuhkan lagi, mungkin kelumpuhan yang akan terjadi akan memakan waktu yang cukup lama, bahkan bisa seumur hidup..'
" Apa ??"
' Tolong katakan pada Yuna secara baik-baik mengenai masalah ini, utamakan kondisi janinnya, ya..'
" Baiklah, aku mengerti.. memangnya ibu sudah boleh pulang dari rumah sakit ??"
' Dokter sudah tidak punya cara lagi, menurut mereka, racun itu sangat sulit diatasi. Meskipun hanya menyerang beberapa organ saja, dan tidak akan menimbulkan masalah serius selain kelumpuhan, tapi tetap saja penyebaran yang begitu cepat membuat mereka kewalahan mengatasinya..'
" Iya, aku paham.."
' Aku tidak bisa membantu apapun karena itu bukanlah termasuk keahlianku, apa aku perlu mengatakan hal itu juga padamu ??'
" Azof, jangan bercanda untuk saat ini, aku sedang mencoba meredakan rasa bersalah dihatiku pada kalian, jangan coba menghibur aku saat kamu sendiri sedang mengalami masalah.."
Bangun dari ranjang..
" Kita juga sama-sama punya masalah, hanya saja, tanggung jawab kamu lebih besar dariku, jadi jangan coba-coba membuat aku merasa terhibur padahal kamu sendiri punya beban yang lebih berat.."
' Beban apa ?? Jangan bergurau, aku bahkan tidak mengemban tugas sebagai calon ayah, sedangkan kamu, sekarang wanitamu sedang hamil, dan bagaimana aku tidak boleh menghibur kamu ?? Sementara saat kamu memasang wajah penuh masalah di depan adikku, sama saja kamu membuat dia punya masalah baru...'
" Iya, aku mengerti.. maaf telah membuat keluargamu sekacau ini.."
' Bukan kamu yang salah, berhentilah menyalahkan diri sendiri, kamu masih punya masalah lain yang harus diurus sebaik mungkin, sudahlah !! Jika terus bicara, aku akan mengganggumu.. ingatlah, beritahu Yuna dengan santai, jangan buat dia merasa terbebani, aku pikir ibu juga tidak mau anaknya merasa tertekan..'
" Apa ibu mertua juga susah tahu kalau Yuna sedang hamil ??"
' Mungkin saja, apalagi saat ini, aku sedang berbicara di depan semua orang, jadi mereka semua sudah pasti tahu..'
" Baiklah, aku akan mencoba bicara dengan santai nanti.."
Jian lebih dulu menutup sambungan. Dia kemudian terduduk disisi ranjang, dan kembali menatapi wanita yang masih tertidur itu..
Yuna mulai membuka mata..
" Ugh.." ( mengucek kedua matanya ), " kamu sudah bangun ??"
Jian tersenyum manis..
__ADS_1
" Sudah.."
" Kenapa tidak membangunkan aku ??"
" Wajah kamu masih terlihat begitu penat, mana bisa aku tega membangunkan kamu ??" ( membelai ).
Yuna terpejam. Dia begitu menikmati sentuhan yang diberikan suaminya itu.
" Maafkan aku Yuna.." ( sesal ).
Yuna menatapi kedua mata yang menyiratkan penyesalan yang sangat dalam..
" Aku sudah melibatkan keluarga kamu terlalu jauh.."
Cup !?
Mengecup tangan Yuna sekilas. Wajahnya bahkan terlihat begitu sedih. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang tidak karuan itu. Lagi-lagi dia tidak sanggup menahan air matanya.
Tes !!
Jatuh sudah..
Yuna buru-buru bangun dari tidurnya. Dia bergegas menghapus air mata yang menetes dipipi sang suami.
" Jangan menangis.. Kamu ini seorang pria, mana bisa menangis di depan wanitamu.. Jika kamu lemah seperti ini, bagaimana kamu bisa menjagaku di masa depan nanti ??"
Jian mendongak. Dia tatapi lagi wajah berseri itu semakin dalam. Dan semakin dalam dia menatap, maka semakin liar pula rasa marah pada diri sendiri itu bergejolak.
" Kamu sudah terlalu banyak menanggung beban atas kesalahan ibumu di masa lalu, jadi anggaplah ini sebagai beban wanita itu sendiri.. jangan terlalu baik menghadapi wanita yang sudah membuat kamu kecewa seumur hidup.. atau kamu akan menyesal nantinya.."
" Kamu benar.. aku tidak seharusnya merasa bersalah untuk wanita seperti itu, aku bahkan tidak pernah menganggap dia seorang ibu lagi seperti dulu.."
Yuna tersenyum, yang beberapa saat kemudian, dibalas pula oleh Jian dengan senyum yang sangat manis. Kali ini.. tinggal satu masalah lagi yang belum diselesaikan dengan tuntas..
" Yuna.." ( mengusap punggung tangan Yuna ).
" Um ??"
" Ada yang mau aku bicarakan padamu.. tapi aku minta kamu jangan terlalu dipikirkan, ingat juga pada kehidupan kecil di dalam perut kamu ini.."
" Soal apa ??"
" Ibu kamu.."
" Ibu ?? Ada apa dengan ibuku ?? Apa dia baik-baik saja ??"
" Aku mohon jangan sedih ataupun cemas, ingat bayi kecil kita.."
" Baiklah, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak cemas.."
" Berjanjilah.."
" Aku janji..."
__ADS_1
" Ibu kamu, akan lumpuh selamanya.."
" Apa ??"
..........
Beberapa bulan kemudian..
" Jian.. belikan aku satu ya.. sepertinya mobil itu cukup bagus, aku sangat senang melihatnya.." ( bergelayut dengan manja ).
" Hhh.. iya-iya.. pilihlah warna yang kamu suka, nanti kita tanyakan berapa harganya.."
" Yeayy !!! Terima kasih sayangku..." ( begitu senang ).
Kehamilannya sudah menginjak usia yang ke sembilan, tapi dia bahkan masih sangat aktif bergerak. Dia bahkan tidak jarang berjalan santai keluar rumah hanya untuk membeli makanan yang dia mau.
Dan kali ini, entah angin apa yang membawanya ingin sekali mendatangi toko mainan yang sangat besar. Terakhir kali dia sudah membeli mobil mewah seharga tiga triliyun hanya karena menyukai warnanya saja. Dan sekarang, bukan hanya ingin mobil asli saja, dia malah ingin membeli semua mainan mobil yang ada di toko tersebut. Jian hanya bisa tersenyum kecut.
Pengeluarannya bulan ini, jika dihitung bahkan setara dengan harga sahamnya yang terkenal begitu tinggi. Tapi dia bahkan hanya bisa menuruti semua keinginan istrinya itu..
" Apa masih ada yang kamu mau lagi ??"
" Tidak, ini saja.. sudah cukup.. oh iya.. belikan camilan ya.. aku rindu makanan yang seperti itu, selama hamil, aku bahkan tidak bisa makan makanan yang terlalu manis, jadi karena ini menginjak bulan terakhir, maka turuti kemauanku ya.." ( lagi-lagi manja ).
" Tidak ! Apapun selain makanan yang tidak boleh di konsumsi berlebihan.."
Yuna manyun. Bibirnya dimajukan kira-kira tiga senti, membuat Jian gemas dan ingin sekali melahap bibir itu sampai habis.
Maklum saja, selama Yuna hamil, mereka bahkan tidak pernah berhubungan meski hanya satu kali. Apa ?? Apa seorang pria yang bergairah besar mampu menahan hasratnya lebih dari sembilan bulan ?? Mustahil !!
Tapi sejujurnya.. itu benar..
" Ayolah, jangan seperti itu, aku ingin sekali memakan bibirmu itu sampai habis.." ( mengelus rambut ).
Mendadak..
Yuna merasakan sakit yang luar biasa dalam perutnya..
" Aww.. " ( memegang perut ).
" Yuna ??" ( mulai cemas ).
" Aduh !! Sakit sekali.. "
" Kenapa ?? Ada apa dengan perut kamu ??" ( mengelus ).
" Jian, perut aku sakit sekali..."
" Apa ini tandanya kamu akan segera melahirkan ??" ( pria polos ).
" Cepat panggil ambulan !! Aku akan segera melahirkan !!"
" Baiklah, kalian berdua !! Siapkan mobil !!! Yunaku akan segera melahirkan !!!!
__ADS_1