
Hari itu pun akhirnya terjadi. Mereka berjalan melalui Altar dan mengikat janji suci. Dia berusaha tegar. Dengan membawa seikat bunga didampingi oleh sang kakak yang terlihat tampan dengan Jaz hitam pekatnya. Meski begitu, keduanya tampak sendu. Ada sakit yang tak mampu terucapkan di antara mereka. Hanya dua pasang mata mereka yang tampak berbicara dan mencoba menahan tangis. Mungkinkah ini takdirmu, Yuna?
Takdir yang sangat mengecewakan. Kupikir kau akan bahagia bersama Jian. Tapi nyatanya realita tak seindah ekspetasinya. Menangislah Yuna dibahu sang sahabat usai acara pernikahannya selesai. Pernikahan yang mengundang derita. Tapi tak cukup sampai disitu. Orang misterius yang mengancamnya itu malah bertepuk tangan. Dia tertawa melihat kesuksesannya dalam menjebak aktris cantik itu. Dia melihat dari kejauhan. Memandangi pernikahan sederhana yang Yuna lakukan di suatu gedung ternama.
'Ingat!! Penuhi janjimu untuk mengakui semuanya pada media! Atau nyawa Jian yang menjadi taruhannya.'
Yuna membaca pesan tersebut. Ia mencoba mengusap air matanya. Gaun putih yang indah dengan harga lumayan itu nyatanya tidak membuat hatinya bahagia. Justru sebaliknya. Rasa pedih yang selalu merayapi hati kecilnya. Mengingat cincin berlian yang Jian ikatkan di jari manisnya, kini dia sendiri yang melepasnya dari sana. Pengkhianatan yang menyakitkan. Semoga saja ada takdir baik yang memberi jalan padanya untuk kembali bersama cinta pertamanya. Itulah yang semua orang harapkan.
Berbeda dari Yuna yang terlihat sangat jelas tengah menutupi kesedihan dan air matanya, Demy dan keluarganya terlihat biasa saja. Mengingat hal ini benar-benar menguntungkan bagi mereka. Iya. Lelaki itu akhirnya bisa menikahi wanita idamannya. Walaupun dengan keterpaksaan.
Para media yang sudah menunggu mereka di luar ruangan, langsung saja menyambut kedatangan dua pengantin yang datang menghampiri mereka. Sesuai perintah. Yuna akan mengakui segalanya pada media. Itulah intinya.
"Bagaimana perasaanmu, Yuna? Apa kau merasa senang atas pernikahan ini?"
"Lalu bagaimana dengan Mr Jian? Apa kau sudah resmi meninggalkan dirinya?"
"Katakanlah pada kami, apa pemberitaan kemarin itu benar, Yuna? Apa orang yang ada di foto itu memang dirimu?"
Berbagai macam pertanyaan wartawan itu membuatnya semakin down. Darahnya berdesir cepat. Jantungnya berdegup kencang. Matanya merah. Dia sedang berusaha menahan emosinya sebisa mungkin. Dia mengepalkan tangannya. Ia mulai tak yakin. Cintanya, karirnya, dan semua tentang hidupnya akan segera hancur mulai detik ini. Tidakkah ada yang merasa kasihan pada wanita itu?
Almira menangis. Tak terhitung sudah berapa lembar ia menghabiskan tisunya untuk mengelap air mata yang tak mau berhenti. Juga Hani. Wanita itu pun datang. Mencoba menyaksikan sahabat juga saudaranya menikah. Meski tak kuat rasanya melihat wajah cantik itu selalu berusaha tegar menghadapi masalahnya.
"Iya. Aku akan menjawabnya satu persatu."
Ucapan Yuna yang sontak membuat semua orang terdiam. Dia duduk di kursinya dengan tubuh yang gemetaran. 'Maaf Jian! Aku sudah tidak bisa bersamamu lagi. Semoga masih ada waktu untuk kita bertemu kapanpun itu.'
"Saya mengakui.... bahwa saya bahagia menikah dengan lelaki pilihan saya.."
Ucapannya begitu yakin. Semua orang menatapnya serius. Juga Almira dan Hani. Merekalah yang paham atas semua masalahnya. Dua wanita itu terlihat saling menguatkan.
"Lalu apa gosip beberapa waktu yang lalu memang benar adanya?"
Yuna agak ragu. Dia mengepalkan tangannya begitu erat. Wajahnya selalu menatap dengan kosong. Dia mencoba meyakinkan hatinya. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari orang itu lagi. Sebuah video.
Yuna melihatnya. Tangan itu semakin dekat. Kini dia mencoba meletakkan dan menggesekkan benda tajam yang mengkilat itu tepat di leher Jian. Begitu sakit dan takut rasanya. Tapi ia tak mungkin memperlihatkan wajahnya yang ketakutan itu. Dia memilih untuk mencoba menyembunyikannya dari semua orang.
"Katakanlah, Yuna! Berikanlah penjelasanmu pada kami."
"Saya... Saya.. Saya telah.. Mengkhianati Jian!!"
Air mata yang sedari tadi ia tahan, tumpah begitu saja. Menangis sudah wanita itu didepan kamera. Bukan akting atau sandiwara. Kali ini benar-benar membawa perasaannya. Hancur sudah seluruh hidupnya. Selamat datang neraka!! Kau sudah berhasil hadir dalam hidup Yuna.
__ADS_1
Semua orang terkejut mendengar pengakuan yang keluar langsung dari mulut Yuna.
"Jadi gosip itu benar? Wanita itu adalah dirimu?"
Yuna mengangguk saja. Tak kuat rasanya menahan derita ini. Dia tertunduk. Berusaha menutupi wajahnya yang sudah sembab. Tak disangka hidupnya akan berubah menjadi sehancur ini.
"Apa kau meninggalkan Mr Jian karena dia koma begitu lama?"
"Itu tidak benar."
Tolak Demy cepat. Ia berusaha melindungi Yuna dari serangan wartawan.
"Dia bukan wanita seperti itu. Dia hanya harus bahagia. Dan pernikahan ini adalah pilihannya sendiri."
"Apa alasanmu mau menikahi wanita yang sudah bertunangan Tuan Demy?"
Demy menoleh. Sebelum dia menjawab pertanyaan itu, dia terlebih dulu memandang Yuna yang masih dalam posisi yang sama.
"Karena kami saling mencintai."
Yuna menoleh. Begitu terkejut dengan jawaban Yang Demy lontarkan pada wartawan. Apa dia sedang berusaha bersandiwara, atau dia sedang berusaha menghancurkan hidupnya, ia tak tahu apapun. Wajahnya sama sekali tidak bisa ditebak. Semuanya penuh teka-teki. Bahkan pernikahan inipun rasanya penuh misteri saja.
Demy mendekati wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Dia berdiri di belakangnya. Yuna terlihat murung terduduk di depan kaca rias. Wajahnya membengkak. Matanya merah dan bibirnya masih terasa bergetar. Demy duduk di atas ranjang yang posisinya tidak terlalu jauh dari sana. Iya. Ini adalah kamar pengantin. Berhias bunga melati dan aroma wewangian yang khas untuk malam pertama.
Tapi Demy tidak terlalu berharap. Meski dia begitu mencintai Yuna, tapi ia sadar pernikahan ini hanya sebatas pemaksaan. Dia tidak akan begitu mendalami perannya sebagai seorang suami bagi Yuna. Dia juga tahu diri, wanita itu masih dengan perasaan yang sama seperti tahun-tahun lalu. Dia sama sekali tidak berhak untuk memaksakan kehendaknya.
"Aku akan tidur diluar!"
Demy bangkit dari duduknya setelah menyadari tidak ada respon apapun dari istrinya.
"Demy!"
Namun panggilan lembut itu telah berhasil membuat langkahnya berhenti.
"Jangan tidur di luar. Cuacanya sangat dingin. Kau bisa terkena flu. Lagipula ada sofa yang besar dikamar. Kau bisa tidur disana malam ini." ( Wajah datar ).
Demy membuang nafasnya kasar. Ia hanya bisa mengangguk dengan lembut. Matanya tak luput memandangi wanita di depan cermin itu. Bahkan saat Yuna bangkit dan mengambilkan selimut untuknya, dia sama sekali tidak bisa berkutik.
"Maaf! Aku tidak bisa melewati malam pertama menjadi istrimu. Aku masih belum siap untuk itu."
Demy mengangguk dan tersenyum tipis. Lalu dia berusaha membuat suasana tidak canggung. Dia menepuk pundak Yuna dua kali.
__ADS_1
"Apa kau bercanda? Mana mungkin aku akan tidur denganmu? Kau selalu mendengkur saat tertidur. Aku sangat terganggu dengan itu."
"Apa kau bilang? Apa maksudmu? Kau mengejekku?"
"Saat itu, saat aku tidur dalam pelukanmu, rasanya tidak nyaman. Kau selalu mendengkur sepanjang malam. Kau bahkan mengigau keras. Apa kau pikir aku akan melakukan kesalahan itu lagi?"
"Tapi kau malah tertidur begitu pulas malam itu. Bagaimana kau bisa berkata aku telah mengganggu tidurmu?"
"Apa kau pikir aku sungguh terlelap? Mungkin hanya beberapa menit saja. Telingaku selalu mendengar ocehanmu yang sedang tertidur. Itu membuatku pusing."
Yuna memukul lengan suaminya itu.
"Aduhh!! Tenagamu semakin kuat saja. Apa kau sudah masuk kelas bela diri?"
"Kau selalu mengejekku malam ini. Kau memang orang yang jahat."
"Apa kau pikir aku sejahat itu?"
"Kau memang lelaki jahat."
Yuna kembali memukulnya lagi. Kali ini lebih keras dan berkali-kali. Lelaki itu hanya meringkuk di atas kasur. Mencoba menahan pukulan istrinya. Dan beberapa saat kemudian, dia pun berhasil menangkap dua tangan itu. Dipeluknya dengan erat tubuh Yuna yang berada diatasnya. Kali ini Yuna hanya diam. Dia tak menolak. Bahkan saat Demy mengubah posisinya menjadi di atas, Yuna tidak lagi protes ataupun mengoceh. Mereka bertatapan begitu lama. Demy saat itu tidak merasakan apapun selain rasa iba.
"Kau boleh menciumku. Asal tidak lebih dari itu."
Demy yang tersadar atas ucapan itu hanya mengelus wajah istrinya. Ingin sekali dia mencumbu mesra gadis itu. Gadis yang menjadi idamannya sedari SMA. Tapi sekali lagi. Hal itu tidak akan mungkin terjadi. Dia sadar diri bahwa Yuna hanya istri di atas kertas. Tidak lebih dari itu.
Diapun akhirnya bangun. Disambarnya selimut yang tadi sempat Yuna berikan padanya. Lalu setelah itu dia tersenyum
"Aku tidak akan menyentuhmu. Tidurlah yang nyenyak."
Mengusap wajah Yuna lalu beranjak tidur di sofa.
Itulah malam pertama mereka. Sudah bisa ditebak. Pernikahan ini tidak akan berjalan bahagia. Malam pertama yang selalu menjadi impian pasangan pengantin pada umumnya, nyatanya menjadi berbeda jika dialami dua orang ini. Cinta sepihak. Siapa yang tak tersiksa dengan cerita cinta seperti itu? Rasanya semua orang akan merasa berat jika harus menikahi seseorang yang sama sekali tidak dia cintai. Tapi itulah takdir. Kau bisa berpendapat kau akan mencintai siapa. Tapi kau tak bisa memutuskan dengan siapa kau harus hidup. Itulah kenyataan. Semoga kau kuat menjalaninya, Yuna.
'Tring!'
Sebuah pesan masuk di ponsel Yuna. Dia mengambilnya usai terbaring di ranjang. Rupanya dari orang misterius itu lagi.
'Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik hari ini. Kuharap kau bisa bahagia dengan pernikahanmu. Aku sudah melepaskan Jian dan seluruh masalah ini.. Kau bisa menjalani hidup dengan tenang..'
Yuna membanting ponselnya. Bagaimana dia bisa berpikir tenang, kalau akhirnya dia yang menceburkan dirinya sendiri dalam lubang kesengsaraan.
__ADS_1