
"Yuna !?? Yuna ?? Kamu dimana, Yuna ?"
Demy mencari istrinya di seluruh ruangan. Waktu menunjukkan pukul 19.08 malam. Biasanya istri kecilnya masih duduk menonton tv disini. Tapi Demy melihat sofa itu kosong. Bahkan rumahnya nampak tak terurus. Dia meletakkan makanan yang dia beli sewaktu pulang bekerja hari ini, lalu beralih menuju dapur. Dia melihat sekeliling. Tapi Yuna juga tidak ada disana. Lalu kemana wanita itu pergi ?
Demy melihat di meja makan tidak ada makanan apapun. Malah sepertinya Yuna tidak memasak apapun seharian ini. Apa dia belum makan seharian ini ? Dia semakin khawatir. Lalu teringat kamar yang belum ia buka sama sekali. Bergegas saja dia menuju kamar. Lampunya mati. Untung saja cahaya rembulan membantunya menemukan keberadaan istrinya. Rupanya wanita itu tengah bersembunyi di balik selimut.
"Yuna ?"
Buru-buru saja Demy menggapainya. Dia begitu cemas. Apalagi setelah merasa suhu tubuh istrinya begitu panas.
"Kamu demam tinggi, Yuna."
Wanita itu memang selalu menggigil. Dia terlihat begitu pucat dan lemah. Mungkin saja dia tidak menjaga dirinya dengan baik.
"Kita pergi ke Rumah Sakit sekarang."
Demy mengangkat tubuh istrinya yang semakin hari semakin kurus. Jadi rasanya begitu ringan. Dia tidak peduli lelahnya dia menghadapi kesibukannya hari ini. Yang dia pikirkan hanya Yuna saja. Apa kurangnya untuk Yuna ? Sebenarnya Demy juga terlihat begitu baik. Hanya saja hati Yuna sudah buta, karena telah menumpahkan seluruh cintanya untuk Jian. Jadi bagaimanapun Demy berbuat baik padanya, hal itu tidak akan terasa lebih dari sekedar perhatian antar teman.
Skip..
Rumah Sakit..
"Dokter. Istri saya demam tinggi. Tolong segera tangani dia !"
"Baik, Tuan. Anda harus keluar dulu. Kami akan menangani istri anda."
Dokter tampan itu menutup pintu. Demy percaya saja jika istrinya akan baik-baik saja. Iya. Semoga saja.
Dia duduk sambil menunggu Dokter itu keluar dari ruangan Yuna. Dia membuka ponselnya dan begitu terkejut saat mendengar kabar hilangnya asisten ibunya, Aldi.
"Apa ? Aldi hilang ? Kemungkinan diculik ?"
Dia tidak berpikir panjang lebar. Langsung saja menghubungi Ibunya. Dia sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi disana. Karena itulah dia tidak menyangka apa yang baru saja dia lihat.
Percakapan lewat telepon..
"Hallo, Bu. Apa berita tentang Aldi itu benar ?"
'Iya, Demy.. Dia menghilang sudah sekitar sepuluh hari yang lalu..'
"Kapan kalian terakhir bersama ?"
'Dia meninggalkan aku di Mall saat aku akan berbelanja. Aku bilang padanya untuk berjalan-jalan diluar. Tapi sampai sekarang ternyata dia belum juga kembali.'
"Apa ibu sudah melapor polisi ?"
__ADS_1
'Sudah, Demy. Tapi mereka juga belum menemukan jejak apapun. Karena mereka juga tidak menemukan mobil ibu sama sekali..'
"Jadi begitu rupanya.. Apa keadaan ibu baik-baik saja ?"
'Sayang.. Kau tak perlu khawatir pada ibu dan Aldi.. Ibu yakin dia akan selamat. Dia pasti akan kembali setelah mengurus urusannya dengan temannya.'
"Jadi Aldi terakhir kali pamit itu untuk menyelesaikan permasalahan dengan temannya ?"
'Iya..'
Demy berpikir akan suatu hal. Ibunya mengatakan Aldi pergi untuk menyelesaikan urusan dengan temannya. Jika begitu berarti Aldi sedang dihadapkan oleh sebuah masalah dengan temannya. Apa mungkin dia tidak berhasil menyelesaikannya atau dia bahkan belum mendapatkan titik terang ? Dan karena itulah dia belum kembali ? Itu pasti. Dia pasti belum kembali karena urusannya belum selesai.
"Kalau begitu.. Ibu tenang saja ! Ibu hanya perlu mengirimkan beberapa orang untuk mencari keberadaan Aldi."
'Baiklah, sayang.. Ibu tidak akan cemas. Bagaimana keadaanmu dengan istrimu ?'
"Yuna.. Masuk Rumah Sakit, Bu !"
'Apa? Bagaimana bisa ?'
"Aku tidak tahu.. Aku pulang dari bekerja dan melihatnya sedang tidur. Saat aku menyentuhnya, ternyata badannya sangat panas. Akhirnya aku pun harus membawanya ke Rumah Sakit."
'Kalau begitu ibu akan kesana besok pagi.'
"Tidak perlu, Ibu. Jika kau datang kemari, itu akan sangat merepotkanmu.. Dan lagi kau juga harus mengurus masalah Aldi bukan ? Tinggallah saja disana dan jangan khawatirkan kami."
"Tidak, Ibu.." ( Menyangkal ).
'Awas saja kalau sampai menantu cantik ibu terjadi apa-apa.. Kau yang akan ibu hukum.' ( Menutup sambungan ).
Tut.. Tut.. Tut..
"Hh. Ibu ini.."
Sebenarnya Daniah adalah sosok mertua yang begitu baik. Terlebih lagi dia sudah sangat mengenal Yuna sedari dulu. Dia biasa meluapkan segala keluh kesahnya pada Yuna. Karena itulah dia juga menyetujui keputusan Yuna untuk menikahi Demy. Dan tentu saja dia sangat bahagia.
Tiba-tiba Dokter tampan tadi keluar. Dia terlihat biasa saja. Sejujurnya raut wajah itu sedikit mengurangi kekhawatiran Demy.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter ?"
"Tenang saja, Tuan. Istri anda baik-baik saja. Dia hanya butuh waktu untuk istirahat."
"Apa itu semua karena dia terlalu lelah, Dokter ?"
"Tidak ! Dia akan segera pulih beberapa hari lagi. Dia hanya harus meminum obat yang aku berikan dan tolong jangan terlalu banyak pikiran. Dia terlihat depresi. Tekanan darah ke otaknya menurun jadi dia tidak boleh terlalu banyak pikiran."
__ADS_1
"Jadi begitu, ya! Kalau begitu, terima kasih, Dokter." ( Tersenyum ).
( Membalas senyum Demy ).
"Sama-sama."
Dokter itu berlalu pergi meninggalkan Demy di depan pintu sendirian. Terakhir dia melihat perawat wanita yang sedang memasang peralatan infus di tangan Yuna.
'Terlalu banyak pikiran rupanya..'
Demy mencoba masuk dan melihat keadaan istrinya. Dia melihat perawat itu sudah selesai dengan tugasnya dan sedang berlalu pergi. Demy memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan. Tak terlalu lama. Dia memdadak langsung menangis. Sudah pasti dia merasa bersalah. Dia baru tahu jika istrinya mengalami depresi belakangan ini. Apa ini semua karena tekanan hidupnya ? Kasihan sekali, Yuna. Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Dan itulah akibatnya jika kau menanggung rasa sakitmu sendirian.
Demy duduk di samping ranjang. Menatap iba wajah cantik bak bidadari yang kini hanya terlihat suram dan tiada gairah sama sekali. Wajah itu seakan layu semenjak hari pernikahan itu. Apa Demy menyesal ? Rasanya memang iya. Tapi apa jadinya jika baru sekarang ia sesali ? Bahkan walau bagaimanapun dia berusaha untuk membuat hati itu terpaut padanya, tetap saja Jian lah yang akan memenangkan kompetisi ini. Percuma saja menyesal. Sekarang tidak ada gunanya. Pernikahan ini hanyalah tameng untuk misi penyelamatan Jian. Dan ia bahkan tidak bisa menyangka dia akan bersama wanita ini hingga sekarang. Apa itu sebuah keajaiban ? Tapi apakah keajaiban itu akan menuntun Yuna untuk mencintai dirinya dan melupakan Jian ? Rasanya tidak mungkin. Sekalipun keajaiban itu benar adanya, tapi tidak untuk hal satu ini.
Dia memang sudah memiliki tubuh itu seutuhnya. Itu takdir. Tapi dia bahkan belum bisa sekedar melihat hatinya. Itu sungguh tidak normal. Dia sungguh tidak menyangka bahkan kehidupan enam bulan rumah tangga mereka sama sekali tidak berpengaruh apapun pada perasaan Yuna.
"Maaf karena selalu menyakitimu, Yuna.."
Tangan wanita itu tak pernah luput dari genggamannya. Dia begitu merasa bersalah. Apalagi setelah mengetahui bahwa Yuna mengalami depresi karena terlalu banyak memikirkan masalah. Dan masalah itu sudah pasti tentang Jian.
"Jika bukan karena ulahku yang kekanak-kanakan, kau tidak akan tersiksa seperti ini.." ( Meneteskan air mata ).
Yuna terbangun. Badannya masih panas, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya. Perlahan dia mulai membuka matanya. Dia menyadari Demy yang sedang menangis di sampingnya.
"Demy ?"
Demy mendongak. Wanita itu tengah menatapnya sendu.
"Yuna ? Kau sudah bangun ? Maaf aku sudah mengejutkanmu !"
"Kau menangis ?"
Demy mengusap air matanya.
"Apa yang kau maksud ? Aku tidak menangis.."
"Aku mendengarnya.. Kau juga berkata padaku kau sudah menyesal karena membuatku tersiksa.."
"Kau sudah dengar ? Jadi apa kau mau memaafkan aku ?"
"Apa katamu ? Kau tidak bersalah dalam hal ini.. Semua ini sudah takdir.. Kita hanya harus melaluinya saja."
"Maafkan aku, Yuna ! Kau menjadi seperti ini karena kesalahanku.. Aku yang seharusnya menanggung semua beban ini.. Bukan kamu."
"Aku tidak apa-apa. Kau tak perlu khawatir.."
__ADS_1
Demy menangis terisak. Sakit sekali ternyata melihat orang yang kita cintai sama sekali tidak merasa bahagia saat hidup bersama kita. Dan yang lebih sakit lagi, Demy tidak bisa melakukan apapun untuk membebaskan cintanya.. Itu terlalu sakit bukan ? Dia bahkan tidak ada sebandingnya dengan Jian. Meski apapun yang sudah berusaha dia berikan untuk bisa membuat Yuna lupa.. Tapi nyatanya dia tidak lebih berharga dibanding lelaki itu. Apakah suatu hari nanti cintamu akan terbayar, Demy ?