Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Penawar Masalah


__ADS_3

Si sopir sepertinya tahu apa yang sedang dilakukan sepasang kekasih itu di dalam mobil. Pria itu bahkan sengaja menyulut rokoknya dengan korek api, lalu memilih untuk duduk di pangkalan ojek.


' Biarkan dulu sampai habis. Aku tidak akan mengganggu kegiatan mereka. Bagaimanapun, mereka pasti sangat merindukan satu sama lain karena sudah berpisah terlalu lama..'


" Mau rokok pak ??" ( Menyodorkan sebatang rokok pada para ojek ).


" Boleh, lah.." ( Semuanya terlihat mengambil satu per satu ).


.......


" Uhh. Jian... Kamu memang keterlaluan.."


Jian memandang wajah itu dengan penuh kehausan. Jika saja mereka sudah resmi.. Arkh !! Perlu banyak waktu untuk memikirkan pernikahan bukan ??


" Maafkan aku, Yuna.."


" Jian, jika aku bisa melanggar Prinsipku, kenapa kamu tidak bisa ??"


Jian menatap Yuna dengan senyum yang mengembang dibibir itu.


" Hehh.. Prinsip kamu jika terus dilanjutkan, maka taruhannya juga nyawa. Bagaimana kalau Demy sampai hati berbuat yang lebih kejam ?? Yang rugi bukan cuma kamu dan Demy, tapi juga aku.."


" Terus ??" ( Menahan hasratnya ).


" Tapi kalau aku keluar dari Prinsipku, harga diri kamu bisa hilang.."


" A ??"


Ya ampun.. Ternyata sampai sejauh itu Jian memikirkan Yuna. Kurang apa laki-laki seperti itu ??!!!!


" Jadi, kamu hanya ingin menjaga aku selama ini.."


" Memangnya apa yang kamu pikirkan ??"


" Bukan begitu, aku hanya curiga kalau kamu.. trauma dengan wanita.."


Jian tertawa di dalam mobilnya, membuat Yuna semakin bingung..


" Apanya yang lucu ?? Berhentilah menertawaiku, sedari awal kamu memang terlihat acuh dengan wanita manapun, dan alasan kamu memang tidak ingin mengecewakan mereka. Tapi kalau sudah jadi kekasih, kamu bukannya bebas melakukan apapun ??"


" Dari wajahmu, aku bisa melihat kalau kamu sangat berharap.."


" Ish.. Bukan begitu, aku hanya sedang berbicara tentang pria lain yang pasti akan melakukannya dengan kekasihnya.."


" Apa kamu lupa ?? Aku sudah pernah mengatakan padamu, kalau aku tidak seperti mereka.."


" Apa kamu pernah mengatakannya ??"


" Ternyata aku memang memilih wanita yang pikun.."


" Aku bukan nenek-nenek yang pikun, aku hanya lupa sebagian dari memoriku saja.."


" Apa kamu amnesia ?? Aku sudah pernah bilang, kalau laki-laki sejati, hanya akan menyentuh wanitanya setelah menikah. Apa kamu lupa ??"


" Tapi kamu memang sepertinya tidak pernah mengatakan itu padaku. Apa aku salah ??"


" Tidak juga, terserah Yunaku saja.." ( Melipat wajah ).


' Wanita memang tidak pernah salah.'


" Memang seperti itu, kan ??"


" Iya.. Iya.. Mau makan tidak ?? Aku lihat wajahmu seperti harimau yang kelaparan.. Kita cari aman dulu di sekitar sini.."


" Memangnya ada ??"


" Kita cari saja dulu.."

__ADS_1


Jian keluar dari sisi kiri, sementara Yuna keluar dari sisi kanan. Mereka menutup mobil, dan berlalu pergi dari sana.


" Apa itu Pak Harry ?? Kenapa bisa disana ??" ( Melihat dari jauh ).


" Kenapa bertanya padaku ??"


" Ooo,, aku tahu, dia pasti sengaja membiarkan kita berdua di dalam mobil, hemm.. Aku akan memberinya pelajaran nanti.."


" Jangan,, bersyukur saja. Kalau dia segera kembali, aku pasti akan berhenti menggoda kamu.."


" Memang satu paket lengkap. Ya sudah, urusan itu akan aku selesaikan nanti. Sekarang, sepertinya aku harus mengurus perut kecilku ini.." ( Mengusap perutnya ).


" Perut kecil seperti itu, tapi sekali makan, satu restoran habis !!" ( Nada sindir yang terdengar halus ).


Tapi itu menyakitkan !!!!


" Apa katamu ?? Kamu lupa, ya ?? Aku tidak pernah makan banyak sejak tinggal dengan Demy, jadi kali ini, sebagai gantinya, kamu harus membelikan aku berbagai makanan sedap untukku.."


" Aku selalu tahu apa mau kamu.."


Jian menggandeng tangan Yuna dan bergegas pergi dari sana. Mereka menyusuri jalanan yang ramai, dan berhentilah di sebuah rumah makan. Mereka masuk dan langsung memesan pada pelayan.


Satu jam kemudian...


Slurpp !!!!


" Ahhhhhh.... Kenyangnya perutku..."


" Katanya perut kecil, setelah melihat makanan, dia menjadi gudang penyimpanan yang sangat luas.. Selamat Yuna, kamu sudah menghabiskan seisi meja ini tanpa sisa.."


" Oh, iya.. aku lupa, sepertinya aku harus memesannya untuk dibawa pulang.." ( Wajah senang tanpa beban ).


' Dari dulu memang sangat mudah membujuk kamu dari masalah, selalu saja tentang makanan..'


" Kalau begitu, pesan semua menu favorit disini.." ( Berteriak pada para pelayan ).


" Lihatlah, Yunaku sayang.. Aku sudah menuruti keinginan kamu.." ( Memeluk dari samping ).


" Terima kasih, kekasihku.."


" Bagaimana tentang tujuan kita ??"


Sedang minum.


Brak !! Meletakkan gelas di meja.


Tapi memang agak terdengar keras.


" Maksud kamu Demy ??"


" Iya, apa kita akan tetap kesana hari ini ?? Ini sudah agak malam, sepertinya tidak bisa untuk hari ini.. Bagaimana kalau besok saja ??"


Yuna mengangguk, " aku rasa itu lebih baik.. Daripada harus menemuinya sekarang. Rasanya aku masih belum siap saja.."


" Kenapa ??"


" Bukan apa-apa, orang yang belum pernah menikah memang tidak akan tahu.."


" Kau sedang mengejek aku ??"


" Iya, memang.. Aku memang sedang mengejek kamu.."


" Andai saja lukamu bukan dipipi, aku pasti akan mencubitnya sampai habis.."


" Kamu memang belum menikah bukan ?? Rasanya itu, seperti.. saat harus berhadapan dengan seseorang yang biasa satu rumah dengan kamu, lalu tiba-tiba ada sekat yang memisahkan kalian.. Membingungkan.."


" Tapi, kamu bukan menyesal karena berpisah dari Demy, kan ??"

__ADS_1


Yuna tertawa, " hahaha.. apa kamu sedang mencurigai aku ?? Aku pikir kamu memang sangat percaya denganku, ternyata dugaanku memang benar, kamu sebenarnya ingin tahu juga kan mengenai...."


" Kalau begitu katakan padaku, kapan kalian melakukan itu.."


" Kamu yakin ingin mendengar penjelasan dariku ??" ( Wajah meledek ).


" Tentu saja. Aku sudah yakin.."


" Hemm.. kalau begitu, aku harus mulai darimana ??"


" Dari... buka.... itu.."


Yuna tertawa sekali lagi. Rupanya laki-laki ini memang menyangka kalau dirinya pernah berhubungan dengan Demy..


" Kenapa tertawa lagi ?? Apa ada yang lucu ??"


" Kamu pikir aku pernah melakukan itu dengan dia ?? Jika untuk menikahi aku, dia memang bisa, tapi jika untuk menggodaku, bahkan obat perangsang juga tidak ada gunanya.."


" Tapi, saat aku Menggodamu tadi..."


" Lalu, apa kamu pikir aku juga seperti itu saat Demy menggodaku ?? Tidak akan Jian, jika bukan kamu, maka lebih baik tidak sama sekali..."


" Lalu, yang kamu maksud obat perangsang ??"


" Iya, Daniah pernah memberikan obat itu pada kami, supaya kami bisa... emmm.. ya... itulah.."


" Aku tahu, lanjutkan saja.." ( Wajah cemas ).


" Dia memaksa aku untuk minum anggur yang ternyata sudah dia campur dengan obat itu.."


" Keterlaluan !!! Lalu setelah itu, apalagi yang terjadi ??"


" Iya, aku merasa badanku mendadak sangat panas dan ingin sekali dipuaskan.."


" Terus, terus ??" ( semakin penasaran ).


" Tapi aku melihat bayangan kamu saat itu," ( menatap Jian disampingnya ).


Jian berbalik menatapnya, tapi masih dengan seribu pertanyaan.


" Lalu ??"


" Akhirnya aku sadar juga. Aku mendorong Demy saat dia baru saja akan memulainya.."


" Hhhh. Untung saja kamu sadar, kalau tidak.."


" Kalau tidak memangnya kenapa ??"


" Tentu saja aku bukan lagi yang pertama, tapi jadi yang kedua.."


" Cihh.. Aku tidak semudah itu terbujuk. Yang pasti hanya kamu saja yang bisa membuat aku ingin dipuaskan.."


Mata itu kembali menatap Jian dengan sorot mata bahagia. Akhirnya setelah sekian lama, Yuna menemukan kembali cinta yang sempat hilang. Cinta yang memaksanya untuk mempermainkan suami, dan keluar dari prinsip. Cinta itu terlalu suci dan tidak bisa dia duakan. Bahkan jika harus menikahi seratus lelaki yang berbeda dalam hidupnya, cinta itu memang hanya Jian. Dan untuk Jian..


" Aku percaya Yunaku memang akan selalu setia.."


" Aku juga percaya Jianan yang satu ini, akan selalu memperjuangkan aku dalam kondisi apapun.."


Keduanya tersenyum. Tidak terasa dua pasang tangan itu saling menggenggam satu sama lain, dan membiarkan dunia menjadi semakin hitam dan sunyi.


" Permisi, pesanan sudah siap !!"


Mereka berdua terkejut, dan beralihlah kepada pelayan lelaki tampan itu.


Ternyata mereka salah. Dunia ini belum sepenuhnya sepi. Buktinya sedari tadi tempat itu malah semakin ramai dikunjungi. Orang yang sedang jatuh cinta memang selalu menganggap dunia hanya milik mereka berdua saja..


" Baik, terima kasih.."

__ADS_1


Jian dan Yuna keluar dari sana usai Jian menyelesaikan pembayaran di kasir. Mereka melangkahkan kaki, dan tenggelam dimakan gelapnya malam. Dan sejak saat itulah Jian merasa paling bahagia, karena dia akhirnya yakin, kekasihnya memang tidak pernah mengkhianatinya dari sisi manapun.


__ADS_2