
" Mana ada maling mau ngaku !!"
" Terserah apa kata kamu Azof !! Yang jelas, aku tidak pernah berpikiran buruk mengenai ibu kamu !! Satu kali pun aku tidak pernah berpikir untuk menghabisi dia dan melenyapkan dia seperti itu !!!"
" Kamu pikir aku percaya ?? Hahh ?? Apa kamu kira aku orang bodoh yang bisa kamu tipu ??? Aku tidak bodoh Hani !!! Bagaimanapun kamu memasang wajah tidak berdosa itu, tetap saja, kamu tetaplah seorang pendusta !!! Seorang pembunuh !!!"
" Silahkan menyebut aku pendusta !! Menyebut aku pembohong, dan katakan lagi apa yang bisa kamu katakan padaku sekarang !!! Selagi kamu masih mencintai aku, seharusnya kamu tidak berpikir seperti itu padaku.."
" Kamu memang orang yang paling aku cintai, tapi sejak aku mengetahui semua ini, aku pikir kamu sama sekali tidak layak.."
" Mengetahui apa ?? Dari mana kamu tahu aku yang meletakkan racun itu atau bukan ?? Bisakah kamu memberikan penjelasan atau saja untuk membuktikan kalau aku memang bersalah ???"
Azof terdiam. Sejauh ini, dia memang tidak bisa membuktikan apapun. Iya.. tapi kekerasan dalam hatinya yang membuat dia berpikir sampai sejauh itu.
" Sudah bisa berpendapat ?? Apa buktinya ??"
Azof masih diam. Dia mengaku kalah.
" Mau bagaimanapun kamu menuduh aku, tetap saja kamu tidak akan menemukan bukti, meskipun kamu memanggil polisi sekalipun, mereka tidak akan bisa memenjarakan aku, karena ku tidak pernah melakukannya sama sekali.."
Hani mencoba menenangkan Zio dengan mengayunnya secara perlahan.
" Tapi sekarang aku tahu, kamu itu terlalu buta !! Kamu tidak pernah tahu siapa yang salah dan siapa yang benar, dan kamu tidak pernah mau mendengar penjelasan !! Dan akhirnya, sekarang kamu sendiri yang mengatakan padaku, kalau kamu tidak lagi mencintai aku, aku sadar, mungkin ini yang menjadi akhirnya, mungkin ini yang takdir mau dari hubungan kita, aku tidak bisa menentang kalau aku memang ingin sehidup semati denganmu, tapi mendengar kata tidak layak yang keluar dari mulut kamu itu, membuat aku sadar, kalau aku tidak bisa lagi bertahan di sisimu.."
Hani berjalan dengan kesedihan menuju ke dalam rumahnya, dan mengemas barang-barangnya di almari. Dengan tangisan yang terus berurai, dia terus memasukkan semua bajunya ke dalam koper besar miliknya. Sementara anak dalam asuhannya itu begitu pengertian. Tidak rewel dan tidak membuatnya repot sama sekali.
" Hani..." ( wajah menyesal ).
Hani tidak peduli. Dia terus saja mengemas semua barang-barangnya dan memilih untuk mengacuhkan pria itu.
Pria itu tidak tahan di acuhkan. Dia bergerak dengan cepat dan memeluk wanita itu dari belakang. Tangisnya pun pecah di sana.
" Maafkan aku.. ini salahku.. aku minta maaf, tidak seharusnya aku menyalahkan kamu, sayang.. aku minta maaf, kamu benar, aku terlalu buta, hingga tidak bisa melihat mana yang salah dan mana yang benar.."
Sementara Hani terpaku. Dia terdiam sambil sesekali terisak. Dengan keadaan hati yang hancur berkeping-keping, dia akhirnya memutuskan untuk melepas pelukan suaminya itu dan berbalik memandangnya.
__ADS_1
" Maaf, mungkin memang jalan kita berdua untuk berpisah.."
" Tidak !! Jangan !! Aku tidak mau !! Jangan pergi dariku Hani.. aku tidak bisa.."
Tersujud di kaki Hani. Hani tidak bisa menahan kesedihan dan pedihnya hati. Dia mengencangkan suara tangisnya dan membuat keadaan semakin terasa pilu.
" Aku minta maaf, beri aku kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk memperbaiki hubungan kita, maafkan aku Hani..."
Hani menitah suaminya untuk bangun dari tempatnya, dan menatapnya dengan intens.
" Kamu sendiri yang mengatakan padaku kalau aku sama sekali tidak layak.."
Azof kembali menitihkan air mata tatkala mendengar perkataan yang Hani lontarkan padanya barusan. Iya.. benar. Emosi sesaat bisa berujung fatal. Mungkin itulah gambaran kehidupan mereka sekarang..
" Aku akan berusaha memperbaiki diri, dan kamu juga harus berusaha, biarkan kami berdua pergi untuk menenangkan diri, jika kamu sudah bisa berpikir jernih, maka jadikan ini sebuah pelajaran, agar hidup kamu ke depannya lebih baik lagi, maaf Azof, jika selama ini telah membuat hidup kamu kelam.."
Hani dengan mantap melarak kopernya dan pergi dari sana dengan anak asuhnya itu. Dia meninggalkan suami dan segalanya dengan kesedihan yang tidak ada habisnya. Dia memutuskan untuk menjadi wanita mandiri yang tidak akan membutuhkan seorang laki-laki lagi. Iya.. itu keputusannya..
Maaf Azof, wanita memang lemah. Bisa kamu tindas sesuka hatimu, tapi ingatlah, dia tidak bisa kamu kecewakan, apa lagi kamu sakiti dengan perkataan. Karena setiap kali kamu menyakitinya, maka dia akan ingat dalam seumur hidup.
Vrooommmmm..
Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah, terdiam dan meratapi kebodohannya.
Kamu memang bodoh !!!
...****************...
Alat pacu jantung !!!
" Tambah lagi !!"
" Satu dua tiga !!"
Tubuh Jian terangkat. Alat pacu jantung bahkan mungkin tidak akan berhasil menyelamatkan nyawanya. Tapi sang pengawal setia dan supir pribadi yang muda itu terus mendesak sang dokter untuk membuat nyawa Jian selamat.
__ADS_1
" Jika tuan kami mati, maka kamu juga akan mati !!!"
Ancam Pak Kim sesaat sebelum terjadinya tindakan yang menegangkan itu. Sementara Alishia juga sedang di rawat dengan intensif karena cairan dan suhu tubuhnya menurun. Dia juga sedang dalam keadaan kritis.
Beberapa saat kemudian.
Cklek.
Dokter itu membuka pintu ruangan Jian dan keluar dari sana dengan keringat yang cukup membuat dirinya merasa gerah.
" Bagaimana ?? Apa dia baik-baik saja ??"
" Hhh.. bersyukurlah karena aku bisa menyelamatkan tuan kalian, setelah operasi semalam, aku tidak yakin tuan kalian akan baik-baik saja, karena kondisi yang terus menurun dan tekanan darah yang tidak stabil, tapi sekarang, dia sudah berhasil selamat. Kita tinggal menunggu waktu pemulihan saja."
" Berapa hari dia akan tetap seperti itu ??"
" Mungkin sekitar dua atau tiga hari, dia baru akan sadar.."
" Tidak masalah.. terima kasih sudah melakukan yang terbaik.."
" Aku melakukannya bukan hanya ingin menyelamatkan tuan Jian saja, tapi lebih kepada sayang pada nyawaku sendiri. Saya permisi.."
Dokter itu dengan nafas lega akhirnya berhasil menjauh dari kerumunan orang-orang yang sangat berbahaya itu. Iya.. akhirnya dia selamat juga dari maut.
" Pak Kim, apa kita bisa menghubungi nyonya sekarang ??"
" Boleh, tapi tolong katakan dengan pelan-pelan, jika tidak, maka nyonya akan cemas dan takutnya dia akan mengalami depresi.."
" Baik.."
Shizin pergi menjauh dari semua orang yang ada di sana dan mencoba untuk menghubungi ponsel Yuna. Tapi usahanya sia-sia, dia bahkan tidak bisa menyambungkan panggilan sama sekali.
" Ada apa dengan nyonya ??"
Akhirnya Shizin memutuskan untuk menghubungi lewat ponsel Jian. Dia mengambil ponsel Jian yang di letakkan di mobil, dan kemudian membukanya.
__ADS_1
" Ah ?? Tuan Azof menghubungi tuan Jian sampai beberapa kali semalam, aku tidak membukanya, jadi tidak tahu, apa ada hal yang sangat penting.. Kalau begitu, ada baiknya aku hubungi saja dia, siapa tahu ada masalah yang serius di sana.."
Mencoba menghubungi Azof.