
" Dokter ??" ( langsung mendekat ).
" Bagaimana keadaan kakak ipar saya ??"
" Hhh.." ( berkeluh kesah ).
Dokter itu membuka penutup kepalanya yang berwarna hijau, lalu disusul maskernya..
" Bagaimana dokter ??"
"Untunglah dia selamat, dia hampir saja meregang nyawa, tapi kami berhasil membantunya untuk tetap hidup.."
" Hahhhh... syukurlah, kalau begitu, terima kasih dokter.."
" Iya, sama-sama..."
...****************...
' Hani, maafkan aku, telah membuat kamu celaka,..'
Dia terus menggenggam erat tangan Hani yang masih saja terkulai lemas di ranjang rumah sakit. Tangis yang tidak pernah mereda, dan bahkan terus saja terdengar menyayat rasanya benar-benar membuat haru. Hatinya di penuhi rasa bersalah yang tertanam begitu dalam. Namun dia tidak bisa membalas Hani dengan apapun. Hatinya terlalu rapuh.
Mungkinkah jika dia bangun nanti, akan tetap memilih untuk hidup bersama Azof dalam seumur hidup ?? Tiada yang tahu, hati yang begitu kacau dan perih mendengar kenyataan, juga mendapat kebohongan membuat dia seakan mati rasa. Tidak ada lagi yang bisa menyembuhkan luka dihatinya.
Tap tap tap tap..
Jian dan Yuna memaksakan diri untuk melangkah lebih dekat. Mereka juga tidak mau melihat Azof yang terus menerus larut dalam kesedihan mendalam..
" Hiks hiks hiks..."
" Kakak, makan dulu, sejak tadi kamu belum makan apapun, jaga kesehatan kamu juga.."
" Aku tidak lapar.. kalau kalian ingin makan, maka makan saja berdua.."
" Kita makan bertiga, dan jelaskan pada kami masalah apa yang membuat Hani seperti ini.."
" Benar, kakak harus memberitahu kami berdua.."
Sejenak Azof berpikir, mencermati beberapa patah kata yang dilontarkan oleh Jian dan juga Yuna. Iya, memang benar. Selama ini dia selalu menggenggam masalah ini sendiri, hingga tidak terpikirkan kalau semua yang dia lakukan malah menyebabkan tragedi buruk yang menimpa istrinya sekarang. Tentu saja bukan maksud dia untuk egois, hanya saja.. dia perlu waktu yang tepat untuk mengungkap semua ini..
Dan sekarang, mungkin waktu yang tepat untuk membuka semua yang dia tahu pada mereka berdua..
" Baiklah, kita bicara di luar saja.."
...****************...
Azof hanya mengaduk-aduk minuman dingin di depan matanya. Wajahnya terlihat kosong dan matanya menyorotkan beragam perasaan yang sulit ditebak. Dia sedih, namun juga merasa bersalah.. Juga kacau..
Sementara tidak ada yang bisa di lakukan Jian dan Yuna selain hanya diam menatap. Tidak ada pembicaraan apapun selama hampir setengah jam, sampai pada akhirnya Yuna mencoba untuk memulai.
" Kak, memangnya kenapa kalian berdua bisa bertengkar ??"
Azof tersadar. Ternyata dia melamun begitu lama, hingga membuat dua orang di depan dia merasa cemas.
Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu akhirnya mencoba membuka sebuah kenyataan.
__ADS_1
" Aku bingung harus mulai dari mana.."
Jian dan Yuna hanya saling menatap bingung.
" Dia tidak bisa hamil, hanya itu saja kenyataannya.."
" Apa ?? Kakak ipar tidak bisa hamil ??"
" Kenapa tidak bisa ?? Apa yang sebenarnya terjadi pada Hani ??"
" Enam bulan yang lalu, saat operasi itu.."
" Operasi miomi itu ?? Apa masalahnya ??"
" Bukan operasinya yang salah, aku juga tidak menyangka kalau bisa terjadi hal semacam ini.."
Jian dan Yuna saling diam.
" Awalnya operasi itu memang untuk mengangkat miomi di rahim Hani, tapi setelah kami memeriksa kembali, rupanya rahim dia juga harus diangkat, terjadi masalah yang begitu serius pada rahimnya.."
Yuna menutup mulutnya dengan tangan, tidak kuat mendengar pernyataan dari mulut Azof.
" Kenapa Kakak baru bicara sekarang.." ( tidak senang ).
" Itulah letak kesalahanku.. Aku sudah salah membuat keputusan ini, aku tidak tahu kalau semua yang aku putuskan akan membuat tragedi ini terjadi.." ( sedih ).
" Dia mencoba untuk bunuh diri, sepertinya dia sangat merasa putus asa hingga tidak bisa menahan kesedihannya.. apa yang telah kamu lakukan kakak.. kamu sungguh membuat aku bingung, harusnya sejak awal bicarakan masalah ini padanya, setidaknya dia bisa mengambil keputusan dari awal, bisa memikirkannya bersama denganmu.."
" Sudah, jangan terus menyalahkan dia, dia sedang merasa tertekan.." ( menghalau Yuna ).
" Sudah tahu harus bertanggung jawab, kenapa masih bisa menangis.."
" Aku juga tidak bisa menahan rasa bersalah di hatiku, hiks hiks hiks.."
Jian dan Yuna kembali bertatapan. Hhh.. membuat orang lain cemas saja, nyali dokter si memang tidak bisa dilawan, tapi saat harus dihadapkan masalah keluarga, sikapnya bahkan lebih mirip anak kecil. Hhh..
...****************...
Shizin sedang mencoba berdandan asik di mobil milik tuannya. Dia akhirnya bisa pergi menemui gadis pujaan yang baru saja dia temui kemarin saat bersama Jian. Mereka sudah membuat janji untuk bertemu sekitar jam lima sore. Tapi dia bahkan sudah menunggu di tempat itu sekitar dua jam yang lalu dari dalam mobil.
Setelah mendapati gadis itu sudah berdiri di tempat pertemuan, dia tidak berpikir panjang. Langsung saja dia keluar menghampiri gadis bernama Yu Fei itu. Mungkin saja ini jalan takdir mereka.
" Hai.."
Yu Fei menoleh...
" Halo.."
" Baru sampai ya ??"
" Kamu tahu ??"
" Tentu saja aku tahu, aku sudah menunggu kamu sejak tadi, aku kira kamu tidak akan datang.."
" Emm.. sebenarnya, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, karena itulah, saat kamu mengajak aku bertemu, aku sangat senang.."
__ADS_1
" Ah ??"
' Mungkinkah..'
Berharap lebih.
" Kalau begitu kita cari tempat yang nyaman untuk bicara.."
" Baik.."
Dia mengajak Yu Fei untuk duduk di sebuah kursi taman. Sementara hari yang masih cerah rasanya membuat suasana hatinya bertambah berbeda.
" Sekarang katakan apa maksud hatimu.."
Yu Fei memasang wajah sedih..
" Yu Fei ?? Kenapa menangis ??" ( cemas dan bingung ).
" Aku bingung, apa yang harus aku bicarakan.." ( menangis ).
" Katakan saja padaku, aku akan mendengar kamu sebisaku.."
" Ini menyangkut tuan Jianan itu.."
" Tuan Jian ??"
' Ada apa antara mereka ??'
" Iya, pria itu.. pria yang aku temui di toko bunga kemarin.."
" Katakan dengan jelas.."
" Sebenarnya kami berdua sudah sering bertemu, dan malam itu.. secara tidak sengaja... hiks hiks hiks.. aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.." ( menangis dengan keras ).
" Jangan begitu, katakan dengan jelas ."
" Aku.. Aku.. aku hamil anak tuan.."
Deg !?
Perasaan apa ini ?? Pengkhianatan ?? Benarkah ?? Mungkinkah mereka berdua benar-benar pernah sedekat itu ??
" Tidak mungkin.. tuan Jian.. tidak mungkin begitu.." ( tidak percaya ).
" Tapi itu kenyataannya, dia telah meniduri aku dan membuat aku mengandung anaknya.."
" Tapi mungkinkah, setiap malam tuan... tidak !! Itu tidak mungkin.."
" Apa kamu sama sekali tidak percaya padaku ??"
" Bukan begitu.."
" Dengan kekayaan dan ketampanan tuan Jianan, siapa juga yang tidak menolak pesona dia saat merayu, aku juga tidak tahu mengapa dia bisa menyentuhku.. Aku.. aku tidak tahu, yang jelas, hanya pria itu yang sudah berhasil meniduri aku.."
Shizin hanya terdiam.
__ADS_1
' Wanita ini sedang berusaha membohongi aku.. Sebelum nyonya Yuna tahu mengenai hal ini, lebih baik aku selidiki dulu siapa gadis ini..'