Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Menemukan Yuna


__ADS_3

"Tuan!! Gawat!! David tidak bisa di hubungi, mungkin dia sudah ditahan oleh mereka.."


Ucap Pak Kim sembari terus mencoba menghubungi David.


"David tidak bisa di hubungi?? Kalau begitu, kita tidak boleh bergerak malam ini, penangkapan David membuat Demy tahu kalau kita sudah mulai bergerak."


"Tapi bagaimana dengan nyonya tuan??"


"Aku punya ide bagus.."


...****************...


"Minum dulu.."


Tak.


Visha meletakkan secangkir teh di hadapan Hani.


"Kenapa kamu tidak mau menemui Azof?? Apa kamu sudah yakin kalau perceraian adalah yang terbaik untuk kalian??"


"Aku memberinya kesempatan untuk berubah, bukannya dia tidak setia padaku, Vish, tapi memang karena dia selalu saja bertindak bodoh, dan setelah itu, aku lah yang jadi pelampiasannya.."


"Tapi tidak ada salahnya mencoba lagi kan.."


"Aku sudah terlalu sering dia kecewakan begini, dulu dia mengangkat rahim aku tanpa sepengetahuan dariku, dan sekarang, sekarang dia malah menuduh aku yang menuangkan racun ke dalam makanan mendiang ibu mertuaku, kamu pikir apa aku bisa menerima semua yang dia tuduhkan padaku, Vish??"


Visha hanya terdiam saja. Dia juga kasihan melihat sahabatnya bersedih seperti ini. Tapi sayangnya, dia tidak bisa melakukan apapun. Mungkin hanya uluran tangan Visha yang bisa membuat Hani senang..


"Apapun keputusan kamu, aku harap kamu tidak akan menyesal."


Sekarang mereka hanya saling diam di pelataran rumah Visha. Diam meskipun otak selalu berputar dan berputar. Masalah yang terjadi dalam hidup Hani teramat rumit, tapi yang sangat di sayangkan, pria itu tidak pernah tahu bagaimana rasanya mencoba memberikan yang terbaik untuk keluarga, lalu balasannya adalah, di tuduh maling oleh suami sendiri. Apa hidup harus seperti ini dulu??


...****************...


"Amankan wanita itu, aku tidak mau ada yang berani mengusik Yunaku termasuk Jian.."


"Kita harus bawa dia kemana tuan??"


"Kemanapun, asal di tempat yang Jian tidak tahu, awalnya aku pikir bisa mengandalkan kekuatan tim khusus Fu Xuelan, tapi ternyata, tanpa berpikir cerdas, Jian bisa saja menculik Yunaku tanpa kita sadari.."


"Baik, tuan.. aku akan bawa Nyonya Yuna sekarang, mungkin gedung B adalah pilihan yang paling tepat."


"Iya, kamu benar. Bawa dia pergi sekarang juga, aku yakin Jian sudah menyiapkan sesuatu yang besar.."


Demy bangkit bersamaan dengan perginya seorang pengawal setia Demy, yang mau mengikuti Demy kemanapun dia pergi.


Pria berpostur hampir sama dengan Jian itu mencoba mendekati arah pintu kamar Yuna, dan kemudian membukanya.

__ADS_1


Cklek.


Senyum mengembang dengan lebar tatkala menatapi seorang wanita yang tengah berdiri anggun di sisi ranjang, seolah tahu bahwa dirinya akan datang.


"Demy?? Kamu sudah datang??" ( senyum polos yang tulus ).


"Iya, sayangku.." ( mengelus lengan Yuna ).


Si wanita hanya terdiam sambil sesekali bergidik ngeri akibat sentuhan yang Demy berikan padanya saat itu. Meskipun dia memang tidak bisa memastikan apakah Demy benar kekasih yang dia cintai atau bukan, tapi tetaplah sentuhan itu rasanya malah sangat mengganggu.


Demy yang nakal mulai mendekat, lalu bergerak ke arah telinga Yuna, dan..


"Arkh!!"


Menggigit kecil, memberi sedikit sentuhan manja pada wanita idamannya itu.


Andai saja dia sudah menyelesaikan urusannya dengan Jian, mungkin dia akan langsung mel*mat bibir ranum dan mempesona itu, lalu melucuti seluruh kain yang ada di tubuh Yuna. Huhh!! Jian, aku akan segera menyelesaikan urusan denganmu..


"Demy.. kenapa datang ke tempatku?? Apa ada hal penting yang ingin kamu bicarakan??"


Demy menghentikan aksi nakalnya kepada Yuna, yang kemudian setelah itu akhirnya mencoba bicara serius dengan wanita itu..


"Yunaku, ada yang ingin aku bicarakan padamu sayang.."


"Apa yang ingin kamu bicarakan??"


"Aku tidak bisa membiarkan kamu berada di sini bersamaku, aku harus segera mengirim kamu ke tempat yang lebih aman."


"Aku sangat cemas, ada seseorang yang tidak terima atas kembalinya kamu padaku, jadi mungkin, dengan cara mengirim kamu ke tempat yang lebih aman, akan membuat kita berdua lebih tenang."


Yuna hanya mengangguk saja, tanpa senyuman ataupun penolakan yang jelas. Dia hanya menuruti apapun yang di katakan oleh Demy padanya. Walaupun dia sendiri juga tahu kalau Demy bukanlah pria baik-baik.


"Kau mengerti sayangku??" ( mengelus wajah Yuna yang mungil ).


"Aku mengerti." ( kali ini dia mencoba memaksakan senyumannya ).


"Oke, karena kamu sudah mengerti, maka aku minta kamu sekarang untuk mengemas seluruh barang-barang kamu di lemari, dan bergegaslah pergi ke tempat yang sudah aku tentukan."


"Lalu bagaimana dengan kamu??"


"Aku tidak apa-apa, aku akan mengurus permasalahan di sini, selama kamu aman, maka aku juga akan tenang.."


"Baiklah, aku tahu."


Demy tersenyum sekilas, lalu melepas pegangan tangannya dengan Yuna, dan meninggalkan wanita itu sendirian di dalam kamar.


Krebb !!

__ADS_1


Pintu di tutup dengan lembut.


"Yuna sudah siap, cepat persiapkan semuanya, sebelum Jian bertindak, kita harus melakukan semuanya dengan cepat."


Di kamar Yuna.


Yuna yang mulanya berwajah penurut saat di hadapan Demy, tapi kali ini dia hanya mondar-mandir tidak jelas di sana. Dia berpikir apa lagi yang akan di rencanakan Demy untuknya. Sementara dia sudah bisa meyakini kalau Demy bukanlah orang yang dia cintai, bukan juga orang yang akan dia nikahi seperti yang di katakan sendiri oleh Demy.


Huhh!?


Dia akan membawa Yuna ke mana?? Lalu perkataan berbahaya itu, apa mungkin ada seseorang yang juga menginginkan Yuna?? Tapi siapa orang itu?? Apa orang itu lebih baik dari Demy, atau bagaimana?? Huhh!!!


Hidup yang terasa sangat rumit..


Ayolah, otak.. tolong jangan menyusahkan kami semua, kami bingung bagaimana harus menghadapi masalah ini..


Di tengah pergulatan panas yang terjadi antara dirinya dengan otaknya, mendadak dia di kejutkan oleh sesuatu.


Kratak!!!


Yuna yang saat itu masih tidak mengenal siapapun, hanya ketakutan saja saat melihat seseorang yang berusaha masuk ke dalam kamarnya melalui jendela.


Brakk!!


Yuna mundur beberapa langkah ke belakang mencoba untuk menjauh dari orang tersebut.


Pria berbaju anti peluru tersebut membuka maskernya, dan senyumnya begitu mengembang.


"Yuna??"


Tapi yang di panggil masih terpaku tidak berdaya. Bukan karena apa, tapi karena memang dia tidak mengenal siapa orang yang ada di depannya itu.


"Kamu.. kamu siapa??"


"Yuna, apa kamu tidak mengenal aku??" ( berjalan mendekat ).


Yuna kembali mundur..


"Jangan mendekat!!"


Jian mengepalkan kedua tangannya dengan geram.


'Sesuai dugaanku, ternyata dia amnesia, apa mungkin ini ulah Demy??'


"Yuna, ini aku Jian.. suami kamu.."


"Tidak!! Aku tidak mengenal siapa kamu, jadi tolong jangan mendekat.." ( wajah yang sangat takut ).

__ADS_1


"Aku akan jelaskan nanti, tapi tolong ikutlah denganku.."


"Tidak mau!!"


__ADS_2