
Vano pov
Hari ini aku menggantikan kak Rika yg biasa menjaga ibu yang sedang dirawat, karena kak Rika harus menjemput suaminya yg baru pulang dari luar kota.
“Mama sudah enakan?”
“Sudah, kenapa kamu yg kemari? Kan bisa minta mba tun van.”
“Yg anak mama kan kakak dan Vano ma, jadi sudah kewajiban kami jagain mama.”
“Tapi kan kamu harus kerja nak.”
“Sudah Vano titip Damar ma. Kalau ada yg urgen ntar diemail”
“Oo untung ada sahabat kamu itu ya. Istrinya sudah melahirkan kah?”
“Belum ma. Masih 6 bulan katanya.”
“Damar sudah mau punya anak, tapi anak mama pacar saja tak punya,” sungut mama pelan.
Sejak mama dirawat baru hari ini aku bisa menjaganya. Karena bayk pekerjaan yg harus diselesaikan. Pekerjaan menumpuk sejak meninggalnya papa 2 bulan yg lalu.
Yang biasanya aku mengelola satu perusahaaan, sekarang harus mengelola semua perusahaaan yang sebelumnya dikelola papa.
Kondisi mama menurun sejak papa meninggal, mungkin karena kesepian yang dirasakan mama.
Hari ini aku melihat kembali senyuman mama, sejak dirawat drumah sakit ini mama merasa senang.
Kuamati seorang perawat yg berbincang-bincang dengan mama. Dia masih muda, paling sekitar dua
puluhan.
Kalau karena orang ini mama bisa ceria kembali, aku akan menawarkan suster ini untuk bekerja dirumahku
sebagai perawat pribadi mama, terserah dia minta gaji berapapun yg penting mama senang.
__ADS_1
“Ma. Sepertinya senang banget kalau suster itu datang.”
“Rara nak, nama nya Larasati Fransiska”, tegas mama padaku.
“Ya ma, tadi Vano juga lihat kok nametag nya
“Bagaimana kalau setelah nanti mama boleh pulang kerumah, kita minta suster itu yang jadi perawat pribadi mama dirumah.”
“Rara. Vano. Kamu ini dari tadi dibilangin.”
“Ya.ya. suster rara maksud Vano ma.” Kekehku pelan.
“Jangan nak, sepertinya rara sangat senang bekerja disini, rara terlihat ceria, mama takut ntar rara tersinggung.”
“Kita tawarkan saja gaji yang lebih tinggi ma, terserah dia mau minta berapa.”
“Vano, kamu itu ya.”
“Ha..ha.. ha..” aku tertawa melihat ekspresi mama memandangku.
“Terserah mama aja dech..” kataku sambil mendekati mama, lalu memeluknya.
Ya sudah, kalau ada waktu yang tepat ntar mama coba bicara pelan-pelan dengan rara, tapi jangan kamu yang ngomong nak. Kalau kamu yang ngomong suka buat orang lain salah persepsi.
Mama sangat senang kalau sudah dipeluk sama anak kesayangannya.
“Kamu kapan nikahnya sih nak? Biar mama ada menantu yang nemanin” tanya mama sambil melepas pelukanku.
“Sabar mama… ntar mama tinggal milih.”
“Memangnya barang tinggal milih”, kata mama sambil mencubit pinggangku.
Diumurku yang sudah hampir 30 tahun ini aku belum berencana menikah, bahkan tak mempunyai pacar. Bukan karena tampangku yang jelek. Banyak teman-teman perempuan yang mengagumiku karena wajahku yang macho, dengan postur tubuh atletis dan tinggi 185cm. Bisa dibilang penampilankupun cukup menawan hati banyak perempuan, bahkan banyak yang berusaha agresif mendekatiku. Tapi aku tidak tertarik dengan mereka.
Aku pria tulen lho, aku memang tidak pernah main-main dengan wanita atau sekedar pelampiasan sex dengan wanita manapun. Hasratku masih bisa kutahan, walaupun Damar sahabatku sering meledekku. Hanya belum ada saja yang kurasa cocok dengan kriteriaku
__ADS_1
Keluargaku selalu menanamkan kalau pernikahan itu hal yang suci dan harus dijaga dengan baik dan aku sependapat dengan mereka.
“Vano, sudah hampir malam nak, kamu cari makanan buat kamu gih nak, ntar kamu sakit kalau telat makan.”
“Yah.. mama kan bisa tinggal pesan, hari gini. Vano juga lagi males keluar.”
“Mama tau van, tapi kamu keluar saja sekalian mama titip martabak disebelah rumah sakit ini ada yang jual, katanya enak. Ntar kamu pilih yang coklat manis.”
“Mama.. gula darah mama masih tinggi lho, dan mama ga boleh makan makanan dari luar menu rumah
sakit.”
“Bukan buat mama Vano, ntar kamu kasi buat perawat yang sedang jaga di depan.”
“O.ooo. baiklah ma,” aku memang paling tidak bisa menolak wanita cantik ini. Godaku ke mama.
Aku keluar rumah sakit, beli makan malam buatku dan juga beli pesanan mama. Sekitar setengah jam aku kembali ke ruangan mama dan sebelumnya aku mampir ditempat perawat ruangan VIP ini.
“Suster ini ada titipan dari bu Maria, sekedar buat cemilan.” Kataku sambil menyerahkan sekotak martabak kepada suster yang ada disitu. Hanya ada satu orang suster yang ada, mungkin yang lain sedang ke kamar-kamar pasien pikirku.
*****
“Eh.. permisi”
“Yah.. maaf” jawabku pada suster yang buka pintu saat aku akan masuk kedalam kamar mama. Ternyata suster rara, dan hampir saja kami bertabrakan.
Terlihat dia sangat buru-buru, ada apa dengan mama fikirku kalut. Tapi sampai di dalam kulihat mama sedang menonton TV.
“Ada apa ma, kenapa suster itu terburu-buru tadi?”
“Rara.. oh dia mau ambil cairan infus, karena ini sudah hampir habis”. tunjuk mama kearah infus yang tergantung disebelah mama.
Tbc
__ADS_1