Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Terbangun dari Koma


__ADS_3

Dia melihat sesosok bayangan putih memakai sutra yang begitu halus. Wajah itu selalu tersenyum manis. Berlarian di taman sakura.Indah sekali. Terbersit sebuah nama dalam pikirnya. Wanita itu terlihat begitu cantik. Dengan riasan tipis diwajahnya yang membuatnya semakin cantik. Menari dan bernyanyi riang. Nyanyian rindu yang bersenandung di telinga rasanya begitu menusuk dalam jiwa. Aku rindu kamu, Yuna.


Dia mencoba meraih tangan wanitanya, tapi mendadak wanita cantik bak bidadari itu menangis. Dia menutupi wajah cantiknya dengan kedua tangannya, lalu berlari pergi. Hilang dalam kabut dan tidak kembali.


"Yuna !!! Yuna !!!"


"Dia sudah menunjukkan beberapa tanda bahwa dia akan segera bangun, Dokter."


"Apa kau sudah memeriksa denyut jantungnya ?"


"Saya sudah memeriksa seluruh kondisinya. Dan hasilnya semuanya normal."


Samar-samar telinganya mendengar kegaduhan. Dia mencoba menggerakkan badannya, tapi semuanya terasa begitu berat. Jangankan bergerak, membuka matapun rasanya dia belum mampu.


"Yuna ?"


Sebuah kalimat mulai terucap. Satu kalimat yang begitu lirih namun terasa begitu dalam. Dia mulai bisa menggerakkan jarinya, dan kemudian matanya.


"Jian ?? Apa kau sudah bangun ??"


Ucap Azof yang masih dalam keadaan tidak percaya. Senyumnya mendadak sumringah melihat Jian yang sedang berusaha memperjelas pandangannya.


"Tunggu dulu ! Jangan bergerak terlalu keras. Kau baru saja bangun."


"Aku ?? Yuna ?? Dimana Yuna ??"


Dan kata-kata itu berhasil membuat Azof diam seribu bahasa.


"Yuna ?? Dimana Yuna ??"


"Jian !! Kau jangan cemas !! Kau baru saja bangun dan kau harus istirahat dulu. Kau belum boleh berpikir terlalu keras."


"Katakan padaku dimana, Yuna ?" ( Insting laki-laki ini cukup kuat, dia sepertinya tahu ada masalah di belakangnya selama ini ).


"..... Dia ada.. Kau tidak perlu cemas mengenai Yuna. Pikirkan saja dirimu untuk saat ini."


Azof beralih memeriksa kepala dan seluruh tubuhnya. Takut saja ada organ dalam yang rusak. Dia mencoba diam untuk sementara waktu. Dia hanya ingin Jian lebih dulu sembuh. Setelah itu mereka bisa menyusun rencana untuk menyelamatkan Yuna dari pernikahan itu. Itulah pikirnya.


"Kau sudah baik-baik saja. Kau hanya butuh istirahat untuk sementara waktu."


"Sudah berapa lama aku koma ?"


"Hampir tiga tahun."


"Apa ?"


Jian sungguh tidak mempercayai ucapan Jian. Dia begitu terkejut mendengar kenyataan bahwa dia sudah begitu lama terbaring koma.


"Kenapa kau begitu terkejut ? Bersyukur saja. Karena penyakit Leukimia di tubuhmu sudah sembuh."


Hhh. Jian hanya kebingungan. Rasanya tidak percaya saja jika dia sudah melewati koma selama hampir tiga tahun.


"Untung saja kau bisa selamat. Mengingat kondisimu saat datang untuk operasi waktu itu, aku sungguh hanya menyerahkan semua pada Tuhan."


Azof duduk di bangku sebelah ranjang. Dia mencoba membuat hatinya sekuat yang dia bisa. Sesak rasanya. Dia memang bahagia melihat Jian sudah terbangun, tapi bagaimana dengan kisah cintanya ? Apa dia akan berkata jujur pada Jian sekarang, atau ia akan berusaha menyelesaikan semuanya sendiri ? Huhh. Dia sungguh tidak tega.


Drrrttt Drrrttt


Ponsel Azof bergetar disaku jas putihnya. Dia mengambilnya dan mencoba melihat siapa yang tengah menghubunginya. Rupanya salah satu dari bawahan Jian. Ini pasti hal penting. Dia langsung mengangkatnya.


"Hallo."


Raut wajahnya terlihat begitu terkejut.

__ADS_1


"Apa ?? Apa kamu bilang ??"


Dia mengusap wajahnya dengan satu tangan. Masalah lain muncul lagi.


"Oh tidak !! Bagaimana bisa seperti itu ??"


Azof menoleh. Rupanya panggilan penting itu membuat dia lupa adanya Jian disana. Ia bahkan mengabaikan laki-laki itu yang tengah mendengar pembicaraannya. Akh !! Kenapa kau tidak melihat situasi, Azof ??


"Apa yang terjadi ?"


Azof berusaha tersenyum meski hatinya begitu marah dan penuh kegelisahan. Dia menutup pembicaraan dan berusaha menenangkan Jian.


"Kenapa kau cemas ? Kau tahu urusan laki-laki bukan ?"


Tersenyum dan pergi.


"Kau mau kemana ?"


"Aku ada urusan mendadak. Perawat akan mengurus kamu selama tidak ada aku."


Setelah itu dia buru-buru pergi.


"Sial !!"


Dia memukul kemudi mobilnya. Mobilnya melaju begitu kencang. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Dia masih di jalan dan hampir sampai.


Ciittttt


Mobil berhenti. Dia langsung keluar dan membanting pintu mobilnya. Bahkan jas putihnya masih ia kenakan ketika dia memasuki gedung terbengkalai tempat dia menyandera Aldi.


Dia memeriksa keadaan Aldi dengan metodenya. Dia tidak menyangka rencananya akan menjadi sekacau ini.


"Bagaimana dia bisa mati ??"


Azof hanya berjalan mondar-mandir sambil berpikir keras.


'Aset berhargaku sudah tidak ada lagi.'


Dia berpikir lebih dalam lagi.


'Dan jika mayatnya sampai ditemukan oleh orang lain, aku bisa dipenjara. Bagaimana ini ?'


Begitu keras dia berpikir. Tapi semuanya nihil. Dia tidak mendapat jawaban sedikitpun.


"Tuan, kita harus mengubur mayatnya."


"Dimana kita bisa menguburnya ?"


"Kita bisa mengubur mayatnya di samping gedung ini. Aku lihat semak-semak di luar bisa menutupi mayatnya."


"Hhh. Kalau begitu gali lubang yang dalam dan kubur dia. Setelah itu tutupi dengan semak-semak."


"Baik, Tuan."


Semuanya terlihat bergegas melakukan tugasnya. Azof hanya terdiam bingung. Dia mengamati wajah Aldi yang sudah membengkak akibat pukulan yang sering dia daratkan di pipinya. Oh tidak !! Harus bagaimana lagi sekarang ?? Kunci dari segala masalah yang sedang dia hadapi malah mendadak tewas. Dia mencoba mencari tahu apa mungkin dia mati dengan tidak masuk akal seperti diracun atau apapun itu. Tapi semuanya terlihat baik-baik saja. Sepertinya Aldi memang mati karena tidak kuat menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


........


Sementara Jian yang masih terbaring di atas ranjang, tengah berusaha untuk bangun. Pegal juga rasanya terus berbaring di kasur Rumah Sakit. Dia membenarkan duduknya. Disaat itu pula sekretaris Jian masuk. Rupanya wanita itu Sanni. Dia seorang pembawa acara yang saat itu sempat mewawancarai Yuna.


"Mr ?"


Sanni membantu Jian untuk duduk. Dia menyandarkan Jian pada sebuah bantal. Dia terlihat senang melihat Big Boss nya terbangun. Jujur saja dia juga terkejut.

__ADS_1


"Terima kasih, Sanni."


"Sama-sama Mr. Jadi Mr. sudah bangun ?"


"Iya, Sanni."


"Apa Dokter sudah mengetahui keadaanmu ?"


"Dia sudah datang untuk memeriksaku beberapa jam yang lalu."


"Baguslah. Aku sangat senang kau akhirnya bisa bangun."


Wajah Sanni mendadak sedih dan bingung. Jian yang menyadari hal itupun sontak saja bertanya.


"Kenapa kau terlihat seperti itu ?"


"Tidak Mr. Aku tidak apa-apa."


"Apa kau sedang menutupi sesuatu dariku, Sanni ?"


Sanni menggeleng cepat. Dia juga belum bisa mengatakan semuanya pada Jian. Tentu saja hal itu akan menghancurkan hatinya.


"Aku sama sekali tidak melihat Yuna. Kupikir dia akan ada disini saat aku bangun."


Sanni menunduk. Harus dengan cara apalagi dia harus menyembunyikan perasaannya ? Andai saja kau tahu, Jian.. Bagaimana kerasnya hidup yang Yuna alami sepeninggal dirimu selama tiga tahun ini.


"Sanni ?"


"Iya ?"


"Kau ini kenapa ? Apa ada masalah selama aku koma ?"


"Tidak Mr. Aku hanya merasa senang kau sudah bangun. Kami menantimu begitu lama untuk hal ini."


"Aku tahu itu."


Dia menoleh dan memandang Sanni.


"Apa kau masih menyimpan ponselku, Sanni?"


"Tentu saja !! Apa kau mau ponselmu sekarang, Mr.?"


"Berikan padaku !!"


Sanni mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya. Untung saja dia selalu membawanya kemanapun dia pergi.


Jian mengambilnya dan berusaha menghubungi seseorang di kontaknya.


Tapi raut wajahnya terlihat kecewa.


"Kenapa nomornya tidak bisa dihubungi ?"


Dia mencoba lagi satu kali. Dan hasilnya masih sama. Mengecewakan.


"Yuna ? Kenapa nomornya tidak bisa dihubungi ? Apa dia sudah mengganti kartu di ponselnya ?"


Sanni hanya terdiam. Rasanya hati kecilnya ikut tercabik-cabik melihat kegelisahan yang Jian rasakan. Dia tak mampu membendung air matanya. Dia mendadak meneteskan air mata yang begitu tulus itu. Jian yang melihat keadaan Sanni pun merasa agak cemas.


"Kau kenapa ? Kenapa kau menangis ?"


Sanni masih diam. Tangisannya dia coba tahan sebisa mungkin. Dia mengusap air matanya dan berusaha untuk tersenyum.


"Katakan padaku apa yang sudah terjadi ! Dimana Yuna saat ini ?? Kenapa dia tidak datang untuk melihatku yang sudah bangun ?"

__ADS_1


Berbagai macam pertanyaan yang Jian lontarkan pada sekretarisnya, Sanni. Tapi wanita itu masih saja diam seribu bahasa. Apa mungkin kau bisa menahan sakit di hatimu saat kau tahu kenyataanya ? Kenyataan betapa pahitnya kehidupan yang kau alami dalam cerita cintamu bersama Yuna, Jian. Apa yang akan kau lakukan setelah kau tahu kenyataan ini ?? Wanita itupun juga berpikir dalam. Dia tak semudah itu membeberkan semuanya saat Jian masih dalam keadaan yang lemah. Kita tunggu waktu yang tepat saja, Jian. Lalu setelah itu semuanya terserah padamu.


__ADS_2