
Yuna dan Jian keluar dari Rumah Sakit sekitar jam 18.14.
Hari sudah mulai agak petang, namun jalanan malah bertambah ramai. Jian sudah menyiapkan mobil mewahnya untuk membawa sang kekasih pergi dari Rumah Sakit.
" Apa kamu baik-baik saja berjalan sendirian seperti itu ?" ( Sambil terus berjalan ).
" Lukanya hanya dipipiku saja, jadi kakiku juga masih bisa berjalan sendiri. Kenapa kamu sangat cemas ?"
" Seharusnya kamu senang kalau aku merasa cemas seperti itu."
Yuna terkekeh melihat tingkah laku Jian.
" Kenapa tertawa ? Apa itu lucu ?"
" Ini hanya luka kecil saja, bagaimana jika melihatku melahirkan anak-anakmu suatu hari nanti.."
" Apa kamu sedang menggodaku?? Anak kita ?? Hemm, sepertinya Yunaku memang sudah tidak sabar.." ( Terus menggandeng tangan Yuna ).
" Tidak, aku tidak seperti itu.."
" Raut wajahmu saat merasa malu sungguh membuat aku ingin sekali mencubitnya sampai habis."
" Jian, apa kita akan tetap pergi menengok Demy ??"
" Mengapa tidak ? Kamu juga harus mengetahui penjelasan darinya, kan.. Memangnya kamu tidak penasaran, apakah Demy benar-benar melakukannya dengan sengaja, atau tidak.."
" Tapi, kamu serius tidak akan cemburu ?"
" Yunaku tidak perlu khawatir, meskipun aku cemburu, aku tipikal pria yang bisa menahannya.." ( Tersenyum ).
" Syukurlah jika memang begitu.."
" Setelah ini, jangan sampai memasang wajah muram lagi, ya.. Aku sangat cemas saat melihat kamu seperti itu.."
" Kamu memang selalu cemas !!"
" Nona !!!!!! "
Seseorang terdengar memanggilnya dari kejauhan beberapa kali. Yuna dan Jian menoleh melihat siapa yang datang.
" Kalina ?"
" Hahh hahh hahh.."
" Kenapa kamu berlari seperti itu ??"
" Aku.. sedang . Berusaha.. mengejar Nona.." ( Ngos-ngosan ).
" Memangnya kenapa sampai berlarian seperti itu ??"
" Nona, aku ingin terus ikut dengan Nona.. Bagaimana aku bisa hidup jika tidak ada Nona.."
" Apa kamu sudah diizinkan pulang ??"
" Oh, iya.. Dokter sudah mengizinkan aku pulang hari ini.."
" Maaf saja, aku tidak bisa membantumu berkemas.."
" Itulah nasib anak perantau.. Tapi lebih baik begitu, daripada harus ditinggalkan nona.."
" Wanita ini sangat berlebihan.." ( Jian mengumpat ).
" Aku bisa dengar ucapanmu, Tuan.." ( Menatap dengan tajam ).
' Kenapa dua orang ini selalu bertengkar ?? Apa mereka musuh bebuyutan ??'
Dua orang di samping Yuna saling bertatapan dingin, dan tidak saling bicara. Sepertinya mereka saling cemburu satu sama lain.
" Hhee. Apa kalian ingin makan dulu, aku dengar ada restoran enak sekitar sini.."
" Aku mau ikut asalkan pria ini pergi dari sini.." ( Wajah arogan ).
" Atas dasar apa seorang bawahan mengusir calon majikannya sendiri ?? Seharusnya kamu yang pergi, setiap saat hanya mengacaukan waktu kami berdua saja."
" Anda bilang apa ?? Apa tidak salah ?? Siapa disini yang paling dibutuhkan Nona kalau bukan aku ?? Memangnya anda bisa apa ??"
" Cihh.. Kamu yang bisanya apa ?? Saya disini jelas bisa membantu Yuna dalam urusan apapun.."
" Aku juga bisa.."
' Dua orang ini semakin membuat kepalaku pusing. Andai aku bisa mengusir mereka..'
" Hemm.. Tenanglah semuanya.. Kita ambil jalan tengahnya saja, ya.."
" Jian, aku dan Kalina akan naik taksi, tapi taksi yang berbeda. Sedangkan kamu, boleh saja jika mau menaiki mobilmu.."
" Apa ?? Tapi kenapa ? Kalau begitu, aku juga ikut naik taksi !!"
" Hehh !! Anda sudah sangat keras kepala disini. Lihatlah !! Nona Yuna sudah mengambil keputusan yang adil, tapi anda malah memutuskannya sendiri.. Orang kaya memang seperti itu."
" Memangnya apa masalah anda ?? Bukankah yang bersangkutan disini adalah saya ?? Anda tidak punya urusan disini..."
Yuna merasa kepalanya diaduk-aduk. Dia mengacak-acak rambutnya, lalu berjalan melewati mereka begitu saja.
Yuna masuk ke dalam mobil milik Jian, dan kemudian menutupnya. Dua orang disana masih ramai bergaduh, mempermasalahkan sesuatu yang kekanakan.
" Jalan pak !!"
" Tapi, bagaimana dengan Mr ??"
" Dia akan naik taksi, dia menyuruhku masuk mobil ini dan pergi duluan, dia dan Kalina akan menyusul nanti.." ( Tersenyum ).
" Baiklah, Nona.."
Yuna duduk di belakang sambil terus mengacuhkan pertengkaran sengit antara dua lawan seimbang itu. Harimau melawan singa. Siapa yang akan menang ???
__ADS_1
Vrooommmmm.
Melesatlah mobil dengan kecepatan rendah, pergi meninggalkan mereka berdua di depan rumah sakit.
" Apa ?? Dia meninggalkan aku ??? Tunggu !!!???" ( Jian mencoba berteriak ).
" Nona !!! Tunggu !!!"
Dua orang itu berteriak sekencang kencangnya, sampai-sampai seluruh orang yang mendengarnya mengalihkan pandangan kepada mereka.
" Kenapa mereka ?? Apa mereka orang gila ??"
" Beraninya berteriak keras di depan Rumah Sakit.."
" Sepertinya mereka sedang tidak waras.."
Sementara Jian dan Kalina masih sibuk berteriak memanggil. Tapi rasanya sia-sia saja. Toh !! Mobil itu malah melesat semakin jauh, dan akhirnya hilang dari pandangan.
" Semua ini gara-gara kamu !!"
" Kenapa saya ?? Ini semua juga salah Tuan !! Jangan seenaknya menyalahkan saya !!"
" Akh !! Sudah !! Aku akan pergi cari taksi !!"
" Ya sudah !! Pergi saja sana !!"
Jian pergi meninggalkan wanita itu sendirian di depan rumah sakit dengan kesal.
" Bisakah Tuan membawakan barang-barangku ?? Kasihanilah aku !!!"
Jian tidak peduli. Diseberanginya jalan raya untuk sampai di sisi jalan yang berbeda. Setelah itu, sebuah taksi berwarna putih lewat persis di depan matanya.
" Jalan !!"
Ucap Jian setelah dia memasuki taksi.
..........
" Nona, apa tidak apa-apa meninggalkan Mr pergi sendirian ??"
" Bapak ini, dia bukan seorang anak kecil, yang harus kita awasi dua puluh empat jam !! Lagipula sesekali aku ingin memberinya pelajaran." ( tersenyum ).
" Apa Nona masih kenal dengan saya ??"
" A ??" ( Bingung ).
Yuna melihat pria itu lalu berpikir, mencoba memutar otaknya untuk menemukan ingatan tentang pria itu.
Pria di depan membuka topi hitam yang dia kenakan, lalu menoleh ke belakang.
Sontak saja Yuna terkejut melihat pria di depannya. Wajah itu terlihat agak menderita.
" Pak Harry ?? Anda ?? Kenapa anda bisa menjadi supir Jian ??" ( Terkejut ).
Lelaki yang dulunya adalah manager dari Yuna itu terlihat berbalik kembali menatap jalanan di depan, lalu terkekeh sedikit.
" Tidak apa-apa.. Aku hanya kehilangan pekerjaan waktu itu, saat kamu terkena tuduhan.."
" Jadi, pak Harry juga kehilangan pekerjaan ?? Ternyata saya sangat merugikan banyak orang disini.."
" Tidak !! Bukan begitu, Nona.. Saya ini juga ingin mengembalikan nama baik Nona, tapi nyatanya saya malah harus kehilangan pekerjaan saya.."
" Kalau begitu, maafkan saya Pak.. Saya sudah membuat anda merasa dirugikan.."
Pria itu kembali terkekeh. Tapi kali ini dia terlihat begitu senang.
" Hahaha... Tidak Nona, justru karena itulah aku bisa bersyukur sekarang.."
" Kenapa pak ??"
" Iya, berkat permasalahan itu, saya akhirnya harus mencari pekerjaan lain, dan tiba-tiba saja Mr Jianan menawarkan pekerjaan sebagai sopir kepadaku.. Aku jadi sangat senang sekarang.."
" Begitu, ya.. Tapi soal gaji, pasti gajimu yang dulu dan yang sekarang, sudah sangat berbeda bukan ??"
" Kalau itu tidak masalah. Asalkan aku bisa terus bersamanya, aku akan menjadi orang yang paling merasa bangga.."
" Memangnya kenapa ??"
" Sepanjang perjalanannya menemukan pelaku-pelaku itu, dan perjuangannya untuk menemukan anda, telah sukses membuat air mata saya jatuh menetes. Anda sangat beruntung bisa dicintai lelaki sebaik Mr Jianan. Dia adalah seorang lelaki yang sangat mencintai wanitanya.."
" Ah ??" ( Yuna melamun mendengar pengakuan Harry ).
" Saya sangat bangga bisa menemani Mr dalam perjalanan itu. Saya yang memberitahu semua yang terjadi antara kalian dulu, dan berharap Mr bisa membebaskan Nona secepatnya.."
" Jadi begitu, ya ??"
Wajah Yuna nampak tidak bisa dimengerti. Dia baru tahu sekarang, rupanya sebelum mereka bertemu, Jian sudah lebih dulu mengalami masa-masa pelik untuk memperjuangkan cinta sejatinya. Maaf Jian,, Yuna sangat bersalah saat harus pergi dan meninggalkanmu disaat terjatuh. Ini semua salah besar !! Yuna, kamu harus berusaha menebusnya !!
" Oh iya, Nona.. Apa kita jadi menemui Tuan Demy ??"
" A ?? Iya .."
Dalam kondisi yang setengah sadar, Yuna masih berinisiatif untuk menjawab pertanyaan Harry. Dia sedang sibuk memikirkan Jian. Apa dia sudah bisa menyusulnya ??
" Maaf, pak !! Sepertinya, kita harus menunggu Jian dulu disini, aku tidak mau masuk kesana sendirian.."
" Baiklah, terserah padamu saja Nona."
" Kita menepi dulu di depan.. Sepertinya tempat itu sangat pas untuk istirahat.."
Yuna menunjuk tempat di pinggir jalan yang terlihat lebih nyaman.
" Iya, baik Nona.."
Si supir memarkirkan kendaraan tepat di bawah pohon rindang, dan membiarkan mereka beristirahat terlebih dulu, sambil menunggu Jian datang.
__ADS_1
" Hh. Apa anda ingin minum atau makan sesuatu dulu, Nona ??"
" Sebenarnya aku memang sedikit lapar, tapi sebaiknya kita tunggu Jian datang dulu, baru kita pikirkan soal perut."
" Baiklah.."
.......
' Hh. Tega sekali dia meninggalkan aku, dan membiarkan aku naik taksi. Iya tidak apa-apa juga memang, tapi aku kan sengaja mengajaknya naik mobil supaya bisa berdua. Bertiga juga si dengan pak sopir...'
Jian sedang asik dengan lamunannya di kursi belakang taksi. Si supir juga terlihat diam dan hanya menjalankan mobilnya menuju tempat tujuan yang Jian katakan.
' Ngomong-ngomong soal sopir, apa mereka sudah saling bicara, ya ?? Aku sengaja menjadikan Pak Harry sebagai sopir waktu itu untuk memberinya pekerjaan setelah dia kehilangan profesinya sebagai manager.'
Jian melihat sebuah mobil di depan. Mobil yang tidak bisa mengelabui matanya meski berada jauh disisi jalan.
" Pak, berhenti !!'
" Kenapa Tuan ?? Apa ada masalah ??"
" Tidak, sampai disini saja.. Saya sudah menemukan mobil saya.."
" Apa mobil Tuan dicuri ??" ( Sambil berusaha memarkirkan mobil ).
" Iya, dicuri pacar dan sopir saya.."
" Jangan-jangan mereka selingkuh dari Tuan ?!!"
Deg !! Jantung Jian berhenti berdetak !!!
" Cihh.. Mana mungkin mereka selingkuh, bicaramu memang ngawur !!"
" Maaf, Tuan.. Itu yang saya pikirkan .. Hehe.."
Jian menyodorkan kartu kepada si sopir. Pria dengan usia yang lebih muda itupun hanya menggelengkan kepalanya bingung.
" Tuan, Tuan.. Taksi saya hanya bisa membayar dengan tunai.. ini saya kembalikan.."
" Saya tidak punya uang tunai.."
" Ya, tapi tetap harus membayar !!"
" Baik, saya akan bayar !! Tapi hutang dulu.."
" Cihh.. Mobil mewah, punya ATM banyak, bayar taksi saja pakai hutang.."
" Saya sudah mau membayar tadi, tapi anda yang menolak.."
" Karena saya tidak bisa menerima pembayaran non tunai.."
" Ya sudah, saya akan pinjam dulu dengan sopir saya. Kamu tunggu dulu disini.."
" Siap !! Laksanakan !!"
Jian membuka pintu mobil, dan keluar dari sana. Dia mendekati posisi Yuna dan sopirnya untuk minta bantuan.
' Tok! Tok! Tok!' ( Mengetuk kaca mobil ).
" Jian ??"
Yuna membuka pintu mobil dan membiarkan Jian masuk.
" Hallo, Nona, tega sekali anda membiarkan pria tampan sepertiku naik taksi sendirian.."
" Hihihi.. Maaf Mr Jianan. Anda sungguh membuat kekasihmu ini merasa terhibur.."
" Ccc... Anda memang kekasih yang tidak tahu diri.. Oh iya, saya hampir lupa.. Kekasihku, tunggulah saya sebentar, saya harus menyelesaikan sebuah urusan.."
Kenapa mendadak pembicaraannya menjadi sebaku ini ??
" Pak Harry, bisakah anda membantuku ??"
" Apa yang anda perlukan Mr ??"
" Saya tidak bisa membayar taksi dengan non tunai, tolong saya untuk lunasi dulu dengan uangmu, saya akan mentransfernya nanti."
" Baik, Mr.."
Pak Harry terlihat mengenakan topinya kembali dan membuka pintu mobil, lalu keluar dari sana, membiarkan Jian membalaskan dendamnya pada sang kekasih.
" Anda sudah sangat keterlaluan pada calon suamimu ini.. Lebih baik anda memilih mau dihukum dengan cara apa dariku.."
" Siapa juga yang mau dihukum ??" ( Cekikikan ).
" Oohh, jadi begitu, ya.. Nona cantik memilih saya sendiri untuk menghukum Nona secara paksa.."
" Apa ??" ( Wajah curiga ).
Jian mulai mendekat. Dia menempelkan tubuh Yuna tepat dengan dada bidangnya, membuat detakan keras yang tidak bisa dikendalikan oleh Yuna sendiri.
" Apa yang akan kamu lakukan ??"
" Diam saja.."
Cup !!!
" Umh.."
Habis sudah sepasang bibir itu dilahap sampai bersih, sembari terus menanti sang sopir datang, Jian masih saja terus menggoda Yuna untuk masuk dalam jeratannya, meski wanita itu memang sudah tidak tahan.
" Hahh Hahh.."
Jian tersenyum memandangi Yuna yang kehabisan nafas.
" Jian, jangan berhenti.."
__ADS_1
Cup !!!
Sesuai permintaan Yuna, Jian kembali melakukan aksinya, memberikan kepuasan dihati Yuna meski hanya sebatas itu saja, tidak bisa lebih..