
Sudah sebulan aku merawat bu Maria sejak keluar dari rumah sakit. Pertama sekali ke rumah bu Maria aku sangat takjub, rumahnya sangat besar, berbentuk minimalis dua lantai. Terdapat taman yang sangat indah di depan dan belakang rumahnya, dan nada kolam renang dibagian samping. Rumah bu Maria tampak sangat terawat, asri dan indah. Pasti sangat menyenangkan menghabiskan setiap hari-hari disana. Namun yang membuatku merasa takjub karena secara kesehariannya, bu Maria tampak sederhana dan sangat ramah. Tak terlihat kalau beliau bisa mendapatkan apa yang beliau mau.
Ada empat orang yang bekerja di rumah bu Maria. Pak Yanto dan Pak Tino bagian bersih-bersih kebun. Mba Tun yang bertugas untuk urusan dapur dan kebutuhan bu Maria dan Mba Nunung bertugas untuk bersih-bersih rumah dan pakaian.
Seperti yang sudah kami bicarakan sebelumnya, aku tetap bekerja dirumah sakit. Setelah pulang kerja aku kerumah bu Maria untuk mengecek keadaan bu Maria, aku berada disana sekitar dua sampai tiga jam setiap hari. Dan aku bisa tetap kuliah di hari Jumat dan Sabtu.
“Selamat siang bu Maria.” Sapaku saat tiba dirumah bu Maria seperti biasanya.
“oh Rara. Sudah datang nak.” Jawab bu Maria
“Ya bu. Maaf saya sedikit terlambat. Karena tadi mampir dulu ke percetakan untuk jilidin laporan magang saya bu.”
“Tidak apa-apa ra. Apakah kamu tidak capek nak? Istrahatlah dulu. Ibu sudah enakan ini. Ntar lagi saja kamu periksa ibu.”
“Mba tun, tolong buatin minum buat rara ya..” minta bu Maria ke mba tun
“Tidak usah bu, nanti bisa saya ambil sendiri.” Aku sedikit sungkan karena harus dilayani mba tun, yang kalau diliat-liat sudah seumuran ibuku.
“Sudah.. jangan sungkan rara. Seperti baru kemaren saja kamu kesini. Lihat wajahmu sudah kusut begitu, pasti kamu lelah harus mondar mandir kerja, kuliah dan harus saya repotkan lagi untuk datang kesini.”
“Bu Maria. Jangan bilang begitu. Saya sangat senang bisa setiap hari bertemu dengan ibu, ngobrol-ngobrol bahkan bisa curhat.”
__ADS_1
Memang sejak aku merawat bu Maria, kami semakin dekat dan bahkan aku tidak sungkan untuk curhat tentang pekerjaan ataupun kuliahku dengan beliau. Beliau sangat perhatian, memperlakukanku sama dengan putrinya kak Rika. Dan walaupun bu Maria hanya ibu rumah tangga, tapi bu Maria itu orang berpendidikan. Beliau bahkan alumni dari Undip. Keluarga bu Maria adalah keluarga terpelajar. Jadi banyak pengalaman bu Maria yang jadi pelajaran buatku.
Karena itu sejak awal aku tak pernah berharap bayaran dan tak pernah menyebutkan nominal yang kuminta untuk bayar jasaku selama merawat bu Maria.
Tapi bu Maria itu sangat baik hati. Beliau memberikanku diluar hal yang kubayangkan, setiap minggu beliau mengirimkan langsung kerekeningku melalui Mobile Bankingnya. Saat pertama aku menerima transferan dari bu Maria aku sangat kaget, Nominal yang ditransferkan cukup fantastis menurut rara, bahkan cukup untuk membayar biaya kuliahku satu semester.
“Rara. Untuk minggu ini sudah ibu transfer ya nak..”
“Kenapa ditransfer lagi bu. yang minggu kemaren sudah sangat cukup bu. Saya sangat ikhlas bisa merawat ibu.”
“Saya juga sangat ikhlas membantu kamu ra, jangan dianggap sebagai bayaran. Anggap saja seperti seorang ibu memberikan uang saku buat anaknya” jawab bu Maria sambil menyunggingkan senyumnya yang sangat manis.
Wah.. uang sakunya sangat banyak batinku.
Aku mengambil Tensimeter untuk mengukur tekanan darah bu Maria, kemudian mengecek kadar gula darahnya, agar bisa menyuntikkan insulin sesuai dosis yang diberikan dokter dengan menyesuaikan dengan hasil test gula darahnya.
“Rara. Bagaimana kalau kamu tinggal disini saja nak? Saya kasihan lihat rara yang mondar-mandir kerja, kuliah dan harus datang kesini. Kamu pasti sangat lelah nak, walaupun kamu selalu tampak ceria dan bersemangat.”
“Saya sangat senang kalau rara bersedia. Karena saya jadi ada yang dirumah. Saya ga kesepian lagi.” Curhat bu Maria padaku
Memang selama sebulan disini aku melihat bu Maria kesepian karena anaknya setiap hari bekerja dan pulang malam. Aku yang sering kerumah inipun jarang sekali melihatnya. Paling kami hanya berpapasan saat aku akan pulang jika aku datangnya malam sepulang kuliah.
__ADS_1
Aku bingung harus bagaimana menjawab bu Maria. Karena memang secara lahiriah tubuhku kadang-kadang lelah juga. Aku bahkan bisa dibilang hampir tidak pernah istrahat lagi di siang hari, karena kalau pulang jaga pagi aku selalu kerumah bu Maria. Sementara jika sedang berada di rumah bu Maria aku tidak mungkin tidur-tiduran, aku pasti akan menemaninya ngobrol selama dua sampai tiga jam.
Melihatku yang ngelamun, bu Maria pun menambahkan.
“Tidak usah sungkan ra. Vano itu kamarnya diatas, dan rara ntar bisa nempatin kamar dibawah yang disebelah kamar saya.”
Ternyata bu Maria bisa memahami apa yang kupikirkan.
“Baiklah bu. jawabku pelan.” Karena entah kenapa sangat sulit untuk menolak permintaan bu Maria
"Bagaimana kalau rara pindahannya hari minggu, kamu kan hari minggu libur dan Vano juga libur, jadi ntar Vano bisa bantuin kamu bawa barang-barang kamu ke sini."
Deghh.. bagaimana ini? Bagaimana mungkin cowok itu bantuin aku, berbicara saja dengannya tak pernah dan aku selalu merasa rishi kalau dia memperhatikanku saat aku berbicara dengan bu Maria watu dirumah sakit.
"Sudah ra. Tidak usah menolak, Vano juga pastu mau kalau ibu yang suruh."
Lagi-lagi aku tak bisa menolak kemauan bu Maria.
"Baiklah bu." jawabku kemudian.
__ADS_1
TBC