Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Hani, Aku Minta Maaf


__ADS_3

Sore harinya..


Semua sudah disiapkan. Mereka merayakan ulang tahun Almira yang ke lima puluh sembilan tahun dengan sederhana di rumah Azof.


" Jangan lupakan lilinnya sayang.."


" Iya, aku tahu.. kamu cepatlah ambil makanan yang tadi kita beli.. sebentar lagi mereka semua pasti akan segera datang.."


" Baiklah, bagaimana kalau kamu membantuku juga ?? Makanan sangat banyak, aku tidak mungkin bisa membawanya sendirian, bantu aku ya.."


" Iya, baiklah, tunggu aku selesai menyalakan lilinnya ya.."


Sementara Almira terlihat diam di kursi roda sambil terus memperhatikan sepasang suami istri ini. Dia sangat sedih..


" Andai aku bisa memberi kamu balasan yang sepadan untuk kebaikan kamu.. maafkan aku Hani, semoga tuhan mendengar rintihan hatimu yang begitu tulus itu.."


Beberapa bulan yang lalu...


" Azof, apa sebaiknya kita pergi saja ke rumah sakit, aku harus memeriksa kondisi rahimku bukan.. aku rasa.. ada yang aneh denganku, kenapa setelah bertahun-tahun saat keguguran waktu itu, sampai sekarang, aku bahkan masih belum hamil juga.." ( ucap Hani yang terlihat sudah bersiap di sisi ranjang ).


" Baiklah, aku akan membawa kamu ke dokter kandungan, kita akan mencari tahu bersama ya.."


Ciiittt..


Dua orang itu akhirnya sampai ke rumah sakit. Tanpa menunggu lama, akhirnya mereka memasuki poli kandungan dan segera berkonsultasi pada dokter wanita yang usianya sekitar empat puluh sembilan tahun lebih itu.


" Bagaimana dokter ?? Apa hasilnya ??" ( tidak sabar ).


Dokter wanita itu terlihat gusar dan bingung dengan apa yang harus dia jelaskan nantinya.. Tapi dengan sangat terpaksa, dia harus memberitahu kabar buruk ini..


Wanita itu membuka kacamatanya..


" Setelah saya lihat, rupanya di dalam rahim nyonya terdapat miomi yang memang letaknya berada di dinding rahim, dengan ukuran yang lumayan besar.."


" Apa ?? Tapi istri saya tidak pernah merasakan apapun, dia juga selalu lancar datang bulan, kalau benar ada miomi dalam kendungan, seharusnya perutnya juga membuncit, tapi istri saya terlihat normal saja.."


" Anda bisa melihat sendiri hasil USG ini.."


Sementara Hani hanya terdiam membisu. Dia kemudian tidak sanggup menitihkan air matanya dan merasa begitu sakit.


Azof melihat hasil yang baru saja keluar itu. Dan memang benar, ada miomi yang terdapat di dinding rahim Hani. Setahu dia, jika miomi dalam dinding rahim sudah agak besar, maka tidak ada cara lain selain operasi.. dan itu jika hanya operasi pengangkatan miomi, bagaimana kalau harus melangkah lebih jauh selanjutnya..


Dia sungguh takut..


" Lalu apakah penyakit ini yang menyebabkan kami sulit punya anak ??" ( Wajah cemas ).


" Benar sekali, penyakit ini memang bisa menyebabkan seseorang sulit untuk punya anak, kecuali jika sudah diangkat.."


Hani terlihat sedang berpikir..


" Kalau begitu, lakukan operasinya.."

__ADS_1


Azof menoleh, menatap Hani penuh kecemasan.


" Apa ??"


" Tentu saja kita harus segera mengangkat penyakit ini dari rahimku, jika tidak, bagaimana aku bisa punya anak ??"


" Penyakit ini memang berbahaya.. jika tidak segera diangkat, maka nyawa nyonya Hani yang menjadi taruhannya.. anda sendiri sebenarnya juga tahu itu kan dokter Azof.."


" Hhh... apa kamu yakin ??"


" Meskipun tidak berada dalam kandungan, penyakit ini tetap harus diangkat bukan.." ( yakin ).


Beberapa jam Azof menunggu. Dokter pun pasti akan merasa cemas kalau yang sedang ditangani di dalam ruang operasi adalah istrinya. Merasa tidak tahan menunggu, akhirnya dia memilih untuk mengganti bajunya menjadi serba hijau, lalu setelah itu dia ikut menimbrung acara di dalam sana.


" Bagaimana ??"


" Maaf sekali dokter Azof, saya terpaksa harus mengangkat rahim istri anda, karena rahim istri anda benar-benar tidak sehat.."


" Apa ??" ( tidak percaya ).


Inilah yang Azof takutkan selama ini. Bukan hanya mengambil rahim yang sangat berharga bagi istrinya, tapi dengan terpaksa juga harus meredupkan mimpi Hani di masa depan..


" Lihat saja sendiri, kondisinya sudah sangat parah, penyakit miomi yang nyonya derita.. sungguh membuat dinding rahim ini rusak fatal, bagaimana anda bisa tidak menyadari hal ini dokter Azof .."


Azof melihat sebuah daging yang tergeletak di atas nampan besi andalan para dokter, dan melihat kondisi rahim Hani yang memang sudah sangat parah. Yang dia heran adalah, kenapa selama ini Hani tidak pernah mengeluh rasa sakit atau hal yang lainnya..


Dia tidak bisa berkata apapun lagi, harapan Hani agar bisa segera punya anak darinya, sekarang harus pupus.. hancur..


Brakk !!!


" Bibi..... aku datang !!!!" ( berlari ).


Hani menoleh..


" Wahhh.. Shi Yuan milikku, sudah datang.."


Dua orang itu berpelukan, saling melepas rindu.


" Bibi, Shi Yuan membawa banyak hadiah untuk nenek, juga bibi.."


" Benarkah ?? Apa hadiahnya ??"


" Hallo, kakak !! Kakak ipar..." ( tersenyum lebar ).


" Kalian sudah datang ya..." ( Azof menyambut adik iparnya ).


" Bagaimana kabar kamu ??" ( pertanyaan pertama Jian pada Azof ).


" Aku baik, bagaimana dengan kalian berdua ?? Apa kalian baik-baik saja ??"


" Kami sangat baik, kakak.. aku membawakan kursi roda baru untuk ibu, maaf jarang menjenguk ibu, semenjak punya Shi Yuan, aku banyak menghabiskan waktuku di rumah saja, pria ini selalu membuat aku tidak bisa keluar rumah.."

__ADS_1


" Ibu ini.. itu termasuk bullyan.."


" Shi Yuan ku sungguh sangat lucu.." ( mengusap rambut ).


" Oh iya, jangan lupakan es krimnya ya.. aku membelikannya juga untuk kakek Sam dan nenek Syiana, aku kira mereka akan datang juga.."


Tiba-tiba..


Brak !!!


" Hallo, semuanya..." ( melepas kacamata ).


" Kakek.. nenek...." ( memeluk ).


" Ahhh... cucu kakek yang tampan.."


Sam mengangkat tubuh Shi Yuan yang masih sangat kecil itu dan kemudian menciuminya sampai puas. Membuat hati Hani begitu teriris.


' Kalau saja.. aku bisa seperti Yuna..'


" Sudahlah kakek.. hahahaaa.. kakek membuat aku sangat geli.."


" Sam, lepaskan cucuku yang tampan ini, jangan sentuh dia dengan tangan kamu yang kotor itu, kamu kan belum cuci tangan.."


Menurunkan Shi Yuan.


" Iya, iya.. aku mengerti.."


" Shi Yuan, peluk nenek Syiana, lalu peluk juga nenek Almira ya.." ( perintah Yuna ).


" Oke, ibu.."


" Kemarilah cucuku sayang.." ( mengangkat ), " berat sekali badan kamu, apa kamu setiap hari selalu makan enak ?? Bagaimana kamu bisa menjadi master kalau badan kamu saja segemuk ini, hahahaa.. bagaimana kalau nenek mengambil sedikit lemak di perut kamu untuk nenek, biar nenek bisa bawa pulang.." ( menggelitik ).


" Ahahahaha... jangan nenek, jangan lakukan lagi, aku sangat geli.."


" Hahaha.. sudahlah.. Syiana, kamu lebih menyiksa dia dibanding aku.."


Semua orang disana tersenyum bahagia, namun tidak dengan Hani.. Wajahnya begitu muram dan tidak bisa menyembunyikan kesedihan dihatinya..


Azof melihat wajah itu dengan perasaan yang kacau balau. Tapi dia bisa apa ?? Yang bisa dia lakukan untuk saat ini hanyalah.. diam ..


Hani mengusap air matanya secara diam-diam dan mencoba untuk kembali masuk dalam keluarga yang sedang angkat bahagia ini..


" Kemarilah, Yuan.. apa kamu lupa dengan nenek Almira ??" ( mencoba menghilangkan kesedihan hatinya ).


" Iya, bibi benar.. aku belum memeluk nenek almira tadi, sini nenek, biar Shi Yuan peluk, nanti nenek pasti akan segera sembuh.." ( memeluk ).


Di tengah-tengah keluarga yang sedang berbahagia itu, nyatanya terdapat hati yang tidak bisa menyembunyikan lukanya. Azof menatap istrinya dengan penuh kesedihan. Dia sangat merasa bersalah..


' Maafkan aku Hani..'

__ADS_1


__ADS_2