
Jian dengan seribu pertanyaan yang terus menari-nari diotaknya sedang mengemas semua barang miliknya dan bersiap untuk pulang. Waktu menunjukkan pukul 18.00. menandakan kalau dia memang sudah seharusnya pulang.
Tapi mendadak, kedatangan seseorang membuat dia terhambat.
" Tuan, malam ini ada rapat dengan presiden PT Honggu, sekitar pukul sembilan malam."
Sebenarnya pria muda itu hanya sedang mengingatkan jadwal acara untuk malam ini. Tapi lihat saja apa yang akan terjadi..
" Apa ?? Apa biasanya ada rapat di jam malam seperti itu ??"
" E.. tuan.."
Jian mengangkat satu tangannya pertanda kalau dia sedang menyuruh laki-laki itu berhenti bicara.
" Tidak !! Batalkan semua rencana rapat untuk malam ini, aku harus segera pulang..." ( pergi ).
" Hhhh... pria ini, padahal setiap hari biasanya selalu minta rapat dilakukan malam hari, tapi beberapa bulan terakhir dia bahkan tidak mau pulang lebih dari jam delapan malam. Aneh sekali..."
.......
" Bawa mobilnya secepat yang kamu bisa, aku mau sampai di rumah sebelum jam tujuh.."
" Apa ??" ( terkejut ).
" Memangnya kenapa ?? Tidak sanggup ?? Kalau begitu keluar saja dari pekerjaan ini.."
Menggertak dengan satu kalimat mematikan. Tentu saja sopir yang baru diangkat satu Minggu yang lalu itu hanya terdiam pasrah. Tidak bisa lagi mengelak. Ini semua adalah ujian untuk kamu, pak sopir !! Menghadapi laki-laki yang sedang dimabuk cinta ini memang susah. Terkadang bisa membuat kamu berada di dalam suasana seakan sedang bertaruh antara antara hidup dan mati..
" Katakan sekarang kamu sanggup atau tidak.."
" Baik, tuan.. akan saya usahakan.." ( wajah sedih ).
" Aku naikkan gaji kamu dua kali lipat kalau berhasil membawaku pulang dalam waktu empat puluh lima menit..."
" Baiklah tuan, sesuai perintah anda.."
Dia tersenyum kecut. Laki-laki yang berusia lima tahun lebih muda dari Jian itu terlihat berwajah kecut dan masam. Dia tidak bisa melakukan apapun selain menuruti perintah atasannya.
Kalau begitu, lebih baik melaju dengan kencang saja..
........
Yuna terlihat sedang meletakkan sebuah mangkuk besar berisi makanan. Ini makanan yang terakhir, dan makanan ini dirasanya cukup menyenangkan hati Jian..
" Wahh.. siap !!" ( senang ).
" Sudah, ya.. aku mau pulang dulu.." ( melepas celemek ), " Kakak dan ibu pasti sudah mencemaskan aku, jadi aku tinggal sekarang saja ya.."
" Iya, tidak apa-apa, pulanglah, lagipula masakan sudah selesai, tinggal bersiap dandan yang cantik saja.." ( tersenyum ).
" Wajah kamu sungguh berseri sedari sore, kamu sangat senang, semoga Jian juga senang ya.."
" Iya kakak ipar, meskipun kita belum resmi menikah, tapi anak ini adalah kado pernikahan kita yang paling istimewa nantinya.."
" Iya, kalau begitu, kakak pamit, ya.. ingat !! Buat dia semakin senang dan beruntung memiliki kalian berdua.."
" Iya, kakak.. aku tahu.."
" Sampai jumpa.."
" Tunggu dulu, " ( mencegat ).
" Kenapa ??"
" Tolong jangan beritahu keluarga dulu ya kakak kalau aku sudah hamil, nanti kalau sampai ibu tahu, maka seluruh dunia juga pasti akan tahu..."
" Hahaha iya juga.." ( tertawa ).
" Dan satu lagi, tolong aku ya untuk kabari ayah Sam dan ibu Syiana soal pernikahanku.. aku sangat mengharapkan kehadiran mereka berdua nanti.."
" Kalau soal itu.. Yuna.." ( berpikir ), " nanti aku coba hubungi mereka.."
" Waahhh.. senangnya, terima kasih kakak ipar .." ( overdosis rasa senang ).
Wanita itu sampai memeluk dengan erat kakak iparnya.
" Sudah, sudah.. aku tidak tahan dengan kelakuan kamu itu, lepaskan aku.."
" Hehehe.. iya maaf.."
" Aku pergi ya.."
" Oke, sampai jumpa.."
__ADS_1
" Bye.."
Hani pergi dan menutup pintu rumah besar milik Jianan dengan hati-hati. Akhirnya, sekarang tinggal menunggu Jian kembali.
" Apa dia sudah hampir tiba ?? Apa aku harus menghubungi dia lebih dulu ??"
Tampak berpikir..
" Baiklah, akan aku coba.."
Dia menekan beberapa kali ponselnya, lalu mencoba menghubungi kekasihnya..
" Hallo, Jian.. dimana kamu ??"
' Lima menit lagi aku sampai, tunggu sebentar ya Yunaku sayang..'
" Kalau begitu tidak perlu merasa risau, tetaplah berkendara dengan hati-hati, aku akan terus menunggu kamu..."
' Iya.. aku akan menyuruh dia untuk mengendarai dengan hati-hati, kalau begitu, sudah dulu ya..'
" Baik.."
Menutup pembicaraan.
Baru saja Yuna meletakkan ponselnya di atas meja makan, mendadak ada suara ketukan pintu dari luar. Apa itu Jian ?? Kenapa dia begitu cepat ?? Yuna mulai cemas, bahkan dia sendiri belum merias diri. Kenapa dia begitu ceroboh sampai lupa harus bersiap tampil cantik juga.
' Hah ?? Dia sudah pulang.. aku harus segera mandi...'
Tap tap tap tap tap..
Dia berlari kelantai dua dan segera bergegas untuk membersihkan diri. Dia keluar dari kamar mandi setelah lima belas menit kemudian. Biasanya dia bahkan mandi hampir dua jam lebih, tapi kali ini, entah terkena setan darimana dia bahkan lima belas menit sudah selesai dari sana.
Dia bergegas mengganti baju, dan berdandan secantik mungkin. Meski waktunya cukup singkat, tapi dia harus tampil maksimal bukan ??
Akhirnya selesai. Dia menyita waktu hampir satu jam lamanya.
Dan pada akhirnya..
Cklek..
" Jian..."
" Hemm... menyuruh aku pulang lebih awal, untuk memberiku kejutan, tapi aku malah harus menunggu selama hampir satu jam hanya untuk dibukakan pintu, tahu begini, aku akan minta si muda ini supaya mengendari mobil dengan pelan saja.." ( cerewet ).
" Dengan kamu juga kan ??"
" Iya ... kita makan sama-sama..."
Jian memberikan tasnya pada asisten pria yang berada dibelakangnya..
" Bawakan ke meja kerjaku.."
" Baik tuan.." ( menunduk ).
Pria itu pergi meninggalkan Yuna dan Jian berdua saja di muka pintu.
" Eh, sini, aku lepas jas kamu.." ( menawarkan bantuan ).
' Wanita ini sedikit aneh..'
Jian hanya menurut saja. Dilepaslah jas hitamnya dari badan, dan dibawa saja jas itu oleh seorang pelayan wanita..
" Ayo kita makan..."
Menarik tempat duduk, " silahkan duduk tuan Jian.." ( manis ).
Jian hanya diam dan mengikuti alur cerita yang sedang dimainkan oleh kekasihnya itu.
Satu jam telah berlalu, dan Jian masih melihat wajah Yuna yang selalu berseri-seri sepanjang makan. Dia akhirnya meletakkan sendok dan garpu ditangan setelah selesai makan.
" Yuna, katakan padaku kejutan apa yang sedang kamu rencanakan !! Pasti bukan hanya soal makan malam saja bukan ??"
" Hemm.. memang tidak.." ( tersenyum ).
Jujur saja, Yuna memang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya ini.
" Tunggu ya.. aku ambil sesuatu dulu.."
" Hemm.." ( duduk dengan santai ).
Yuna terlihat mengambil sesuatu dari dalam meja yang berada di ruang tengah, dan menunjukan pada Jian..
" Ini.." ( memberi sebuah amplop ).
__ADS_1
" Apa ini ??" ( menerima dengan penasaran ).
" Sudahlah, buka saja dulu, kamu juga akan tahu nanti.."
Jian mendongak memandangi ekspresi wajah Yuna yang sedang berdiri di sampingnya. Wajah itu terlihat begitu senang..
Mulai membuka..
Melihat.
Dan membaca..
" Apa ??" ( terkejut ).
Mendongak lagi..
Menatap tidak percaya..
Wajah dan ekspresi yang begitu aneh..
Itulah deskripsi Jian saat melihat sebuah hasil USG yang mengatakan ada kehidupan kecil di dalam perut Yuna, dan itu.. adalah buah hatinya..
" Yuna ??"
" Um ??" ( menahan haru ).
" Apa ini serius ?? Jangan bercanda denganku, Yuna..."
" Bagaimana perasaan kamu ??" ( mulai menitihkan air mata ).
" Apa yang kamu katakan ??" ( bangun dan memeluk dengan erat ), " tentu saja aku sangat senang.." ( wajah membingungkan ).
Tentu saja pria itu sedang merasa kaget dan masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat..
Melepas pelukan dan mengelus perut Yuna..
" Tidak kusangka, kamu akan secepat ini bisa hamil, apa dia perempuan atau laki-laki ya ??" ( mencoba menebak ).
" Jian, untuk pertama kalinya aku akan menjadi seorang ibu.." ( tersenyum ).
" Dan aku yang jadi ayahnya.." ( tersenyum senang ), " kira-kira usia buah hatiku ini berapa ya ??"
" Katanya dua Minggu.."
" Dua Minggu ?? Yah.. ini masih terlalu dini.." ( wajah berubah masam ).
" Memangnya kenapa ??"
" Aku jadi takut berkunjung ke dalam, bagaimana kalau dia tidak suka ??"
" Hahaha.. kamu ini.. bukan hanya tidak suka, nanti setelah dia besar, maka dia tidak akan segan untuk menendang kamu keluar.."
" Hahaha.. bisa saja calon ibu yang satu ini, kalau begitu, mulai sekarang, kamu tidak boleh terlalu lelah. Jaga kesehatan kamu, jangan bekerja sampai sore.. aku akan bicara dengan tuan Lu Yuzeff nanti.."
" Apa harus sampai seperti itu ??"
" Tentu saja, ini anakku, jadi aku berhak memutuskan apa yang boleh dilakukan ibunya.."
" Baik, kamu memang terlalu berlebihan.."
" Yuna, aku rasa dia terbentuk saat terakhir kalinya kita melakukan itu.."
" Kenapa bisa bicara begitu ??"
" Hitung saja, waktunya tepat saat kita melakukan di Villa dua Minggu yang lalu kan..."
" Hahahaha.. benar juga, saat itu aku baru selesai datang bulan, dan kamu bahkan mau sampai beberapa kali dalam satu malam.. aku tidak bisa menerka dia terbentuk saat melakukan yang ke berapa pada malam itu.."
" Jangan tertawa terlalu keras, nanti dia tertekan.."
" Iya, iya.." ( manyun ), " aku mengerti.."
Keduanya saling bertatapan..
" Apa kamu senang ??"
" Kamu sudah membuat aku menjadi laki-laki yang sempurna, Yuna.. aku berhutang Budi padamu.." ( mengecup bibir sekilas ).
" Kenapa hanya sebentar ??"
" Nanti aku bisa punya keinginan yang lebih, aku harus menahannya selama sembilan bulan bukan.."
Yuna hanya memasang wajah yang tidak bisa dimengerti. Iya, memang benar, mengandung buah hati dari seorang pria yang dicintainya adalah sebuah kado terindah bagi wanita manapun. Kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang..
__ADS_1