
Mereka tiba di depan sebuah gedung bioskop. Mereka berjalan
memasuki gedung tersebut. Vano segera menggenggam jemari tangan rara dan mereka
tampak bergandengan tangan. Karena tadi rara hampir saja tertabrak seorang
lelaki yang sedang berjalan terburu-buru.
Rara melirik sepintas ke arah jemari mereka yang bertautan
dan senyum manis tersungging dibibirnya.
“hati-hati ra. Hampir saja kamu ketabrak lelaki tadi”
“hmm.” Rara tersenyum
“kamu ini dibilangin malah senyam senyum” kata vano sambil
mencubit pipi rara yang sedikit cuby.
“Mau nonton film apa sayang?” Tanya Vano.
“Film Action saja mas, biar seru”
“Bagaimana kalau Film horror?” Tanya Vano lagi
“Ga ah, rara ga suka, rara takut”
“Kalau kamu takut ntar kan bisa peluk aku ra.” Ucap vano
menggoda gadisnya itu
“ hehhhh maunya. Pokoknya rara mau film action saja” jawab
rara manja.
“Hmmm. Baiklah”
Mereka berdua mengantri membeli tiket, lalu membeli makanan dan minuman untuk cemilan mereka selama
menonton dan kemudian langsung masuk ke ruang bioskop, karena filmnya akan
segera dimulai.
*****
Rara menghapus air matanya. Ternyata film action itu berakhir sedih yang membuat
rara sampai menitikkan air mata. Vano yang melihat itu tidak menyia-nyiakan
kesempatan untuk menggodanya.
“Hei, kenapa menangis sayang, ntar dikira orang saya cubit
kamu.” Ujar vano sambil memeprhatikan rara denan lekat.
Rara yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya
kearah vano dan menjawab dengan polosnya. “apaan sih mas, udah tau filmnya
__ADS_1
sedih masih aja ngeledikin rara. Lagian tadi kenapa juga nonton film itu.”
“Lha.. yang tadi minta film action perasaan siapa ya? Tadi
kan aku sayangmu ini minta nya film horror”
“cuppp”. Vano yang melihat pandangan manja gadisnya itu
langsung meraup wajah kekasihnya itu dan mencium bibir rara dengan penuh
kasih. Dan rara pun membalas ciuman
lembut dari vano.
Mereka melepaskan ciuman meraka saat lampu sudah dinyalakan.
Dan kemudian berjalan keluar dari gedung bioskop itu.
“Ra, saya udah laper nich, kita makan disitu dulu ya.
Tempatnya cukup bagus menurut ku”
Vano menunjuk ke arah sebuah restoran disebelah
bioskop. Restoran itu mempunyai outdoor
berupa taman yang sangat bagus. Terdapat beberapa bangku taman yang berada
dibawah pohon dan menghadap ke sbuah kolam ikan kecil. Dikarenakan suasana yang
sudah mulai malam maka lampu-lampu ditaman itu membuat suasana semakin indah
sambil menikmati hidangan dari restoran itu.
Vano memilih sebuah bangku dibawah pohon yang terdapat
sebuah meja kecil disebelah kanan bangku tersebut.
Melihat mereka yang baru datang, seorang pelayanan
menghampiri mereka untuk menanyakan makanan yang akan dimakan. Kemudian pelayan
itu pergi setelah mencatat pesanan mereka.
“Mas, kalau kita makan diluar, ntar kasian ibu jadinya makan
sendiri dirumah” kata rara sambil memilin tali tas kecil yang ada
dipangkuannya. Rara kelihatan cemas seperti memikirkan sesuatu.
Vano merangkulkan tangan kanannya dan menggenggam jemari
gadis itu dengan penuh kehangatan untuk menenangkan gadisnya itu. “ngga apa-apa
ra, tadi aku udah bilang mama kalau kita ngga makan malam dirumah. Dan tadi
kata mama kak rika dan suaminya akan malan malam dirumah dan ntar mau nginap
dirumah mama.”
__ADS_1
“oh… syukurlah” rara menghela nafas lega mendengar jawaban
Vano.
“ra, kapan kamu rencana pulang ke Medan?”
“mungkin akhir tahun saja mas, biar sekalian Natalan dan
Tahun Baru di sana” pandangan rara
menerawang jauh karena sejujurnya hatinya sangat rindu pada kedua orang tuanya.
“minggu depan kan ada long weekend ra, kenapa tidak
manfaatin waktu buat pulang?”
“tanggung mas, tinggal beberapa bulan lagi, sayang
ongkosnya. Mending rara pergunakan untuk biaya-biaya nyusun skripsi.”
Vano terharu mendengar penjelasan rara. Sungguh gadis yang
mandiri batin vano. Dibandingkan dengan vano dulu saat kuliah yang dapat
meminta uang semaunya dari orang tuaya, Rara membiayai sendiri kuliah dan
kehidupannya dijakarta.
“Trimakasih” kata vano pada pelayanan yang mengantarkan
pesanan mereka.
Vano melepaskan genggaman tangannya dari tangan rara dan
merebahkan kepalanya dipangkuan gadis itu. Dia tiduran memandang sejenak kepada
gadisnya dan memejamkan matanya.
“deghh..degh.. jantung rara kembali berdetak tak karuan
melihat kelakuan vano seperti itu. Tak disangkanya pemuda itu bisa bermanja
diatas pangkuannya seperti yang dilakukannya dengan Bu Maria. Rasa sayangnya
pada vano kian hari semakin bertambah.
“Mas, tadi katanya mau makan, kenapa makanan datang malah
dianggurin?”
“hmm.. sebentar saja ra.” Vano merasa sangat nyaman seperti
itu. “Gadis ini mempunyai sifat seperti ibuku dan sangat tulus menyayangi kami.
Semoga dia adalah jodohku yang dipilihkan Tuhan untukku.” Batin Vano.
*****
Trimakasih sudah setia membaca karya saya..
__ADS_1
Jangan lupa, like dan supportnya ya. Trimakasih