Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
Kencan


__ADS_3

Mereka tiba di depan sebuah gedung bioskop. Mereka berjalan


memasuki gedung tersebut. Vano segera menggenggam jemari tangan rara dan mereka


tampak bergandengan tangan. Karena tadi rara hampir saja tertabrak seorang


lelaki yang sedang berjalan terburu-buru.


Rara melirik sepintas ke arah jemari mereka yang bertautan


dan senyum manis tersungging dibibirnya.


“hati-hati ra. Hampir saja kamu ketabrak lelaki tadi”


“hmm.” Rara tersenyum


“kamu ini dibilangin malah senyam senyum” kata vano sambil


mencubit pipi rara yang sedikit cuby.


“Mau nonton film apa sayang?” Tanya Vano.


“Film Action saja mas, biar seru”


“Bagaimana kalau Film horror?” Tanya Vano lagi


“Ga ah, rara ga suka, rara takut”


“Kalau kamu takut ntar kan bisa peluk aku ra.” Ucap vano


menggoda gadisnya itu


“ hehhhh maunya. Pokoknya rara mau film action saja” jawab


rara manja.


“Hmmm. Baiklah”


Mereka berdua mengantri membeli tiket, lalu membeli  makanan dan minuman untuk cemilan mereka selama


menonton dan kemudian langsung masuk ke ruang bioskop, karena filmnya akan


segera dimulai.


*****


Rara menghapus air matanya. Ternyata  film action itu berakhir sedih yang membuat


rara sampai menitikkan air mata. Vano yang melihat itu tidak menyia-nyiakan


kesempatan untuk menggodanya.


“Hei, kenapa menangis sayang, ntar dikira orang saya cubit


kamu.” Ujar vano sambil memeprhatikan rara denan lekat.


Rara yang mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya


kearah vano dan menjawab dengan polosnya. “apaan sih mas, udah tau filmnya

__ADS_1


sedih masih aja ngeledikin rara. Lagian tadi kenapa juga nonton film itu.”


“Lha.. yang tadi minta film action perasaan siapa ya? Tadi


kan aku sayangmu ini minta nya film horror”


“cuppp”. Vano yang melihat pandangan manja gadisnya itu


langsung meraup wajah kekasihnya itu dan mencium bibir rara dengan penuh


kasih.  Dan rara pun membalas ciuman


lembut dari vano.


Mereka melepaskan ciuman meraka saat lampu sudah dinyalakan.


Dan kemudian berjalan keluar dari gedung bioskop itu.


“Ra, saya udah laper nich, kita makan disitu dulu ya.


Tempatnya cukup bagus menurut ku”


Vano menunjuk ke arah sebuah restoran disebelah


bioskop.  Restoran itu mempunyai outdoor


berupa taman yang sangat bagus. Terdapat beberapa bangku taman yang berada


dibawah pohon dan menghadap ke sbuah kolam ikan kecil. Dikarenakan suasana yang


sudah mulai malam maka lampu-lampu ditaman itu membuat suasana semakin indah


sambil menikmati hidangan dari restoran itu.


Vano memilih sebuah bangku dibawah pohon yang terdapat


sebuah meja kecil disebelah kanan bangku tersebut.


Melihat mereka yang baru datang, seorang pelayanan


menghampiri mereka untuk menanyakan makanan yang akan dimakan. Kemudian pelayan


itu pergi setelah mencatat pesanan mereka.


“Mas, kalau kita makan diluar, ntar kasian ibu jadinya makan


sendiri dirumah” kata rara sambil memilin tali tas kecil yang ada


dipangkuannya. Rara kelihatan cemas seperti memikirkan sesuatu.


Vano merangkulkan tangan kanannya dan menggenggam jemari


gadis itu dengan penuh kehangatan untuk menenangkan gadisnya itu. “ngga apa-apa


ra, tadi aku udah bilang mama kalau kita ngga makan malam dirumah. Dan tadi


kata mama kak rika dan suaminya akan malan malam dirumah dan ntar mau nginap


dirumah mama.”

__ADS_1


“oh… syukurlah” rara menghela nafas lega mendengar jawaban


Vano.


“ra, kapan kamu rencana pulang ke Medan?”


“mungkin akhir tahun saja mas, biar sekalian Natalan dan


Tahun Baru di sana”  pandangan rara


menerawang jauh karena sejujurnya hatinya sangat rindu pada kedua orang tuanya.


“minggu depan kan ada long weekend ra, kenapa tidak


manfaatin waktu buat pulang?”


“tanggung mas, tinggal beberapa bulan lagi, sayang


ongkosnya. Mending rara pergunakan untuk biaya-biaya nyusun skripsi.”


Vano terharu mendengar penjelasan rara. Sungguh gadis yang


mandiri batin vano. Dibandingkan dengan vano dulu saat kuliah yang dapat


meminta uang semaunya dari orang tuaya, Rara membiayai sendiri kuliah dan


kehidupannya dijakarta.


“Trimakasih” kata vano pada pelayanan yang mengantarkan


pesanan mereka.


Vano melepaskan genggaman tangannya dari tangan rara dan


merebahkan kepalanya dipangkuan gadis itu. Dia tiduran memandang sejenak kepada


gadisnya dan memejamkan matanya.


“deghh..degh.. jantung rara kembali berdetak tak karuan


melihat kelakuan vano seperti itu. Tak disangkanya pemuda itu bisa bermanja


diatas pangkuannya seperti yang dilakukannya dengan Bu Maria. Rasa sayangnya


pada vano kian hari semakin bertambah.


“Mas, tadi katanya mau makan, kenapa makanan datang malah


dianggurin?”


“hmm.. sebentar saja ra.” Vano merasa sangat nyaman seperti


itu. “Gadis ini mempunyai sifat seperti ibuku dan sangat tulus menyayangi kami.


Semoga dia adalah jodohku yang dipilihkan Tuhan untukku.” Batin Vano.


*****


Trimakasih sudah setia membaca karya saya..

__ADS_1


Jangan lupa, like dan supportnya ya.  Trimakasih


__ADS_2