Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Kejutan Untuk Azof


__ADS_3

Orang suruhan Jian itu mengantarkan Azof sampai ke rumah sakit. Dokter yang mulanya terlihat tampan itu sekarang malah terlihat berpakaian lusuh dan sama sekali tidak terlihat rapi. Rambutnya sudah mulai agak panjang, dan itu berhasil membuat penampilannya semakin terlihat urak-urakan.. Azof bertanya pada sang supir tentang permasalahan yang dialami istrinya, tapi sopir itu hanya berkata kalau dia harus melihatnya sendiri.


" Tuan, anda bisa turun dari mobil sekarang, kalau merasa repot, maka tinggalkan saja tas milikmu disini.."


" Baiklah, kemana aku harus pergi ?"


" Lantai dua.."


Azof bergegas membuka pintu mobil dan berlari dengan cepat menuju ke dalam rumah sakit. Penampilan barunya yang terlihat tidak meyakinkan itu membuat semua orang selalu memandangnya setiap dia lewat dihadapan mereka.


Tapi sepertinya Azof sama sekali tidak peduli. Dia bahkan hanya terus mencari keberadaan Hani, istrinya, dan malah tidak memperdulikan tatapan mereka yang sangat sinis.


" Bukankah itu dokter Azof ??"


" Iya, kamu benar.."


Dua perawat yang sempat mengenalinya akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Azof yang hendak menaiki lift.


" Dokter..!!!" ( teriak seorang perawat ).


Semua orang melongo saja tidak percaya akan apa yang barusan mereka dengar. Ternyata dia, laki-laki yang barusan mereka tertawaan, dan mereka menganggap seperti halnya orang gila, rupanya laki-laki itu seorang dokter. Spesialis pula.


" Iya.."


" Bagaimana kabar anda dokter ??"


" Saya baik-baik saja.. Saya sedang mencari dimana ruangan istri saya, bisakah kalian menunjukkannya padaku ??"


" Boleh. Silahkan, mari kita antar.."


Seorang perawat terlihat mempersilahkan Azof untuk masuk ke dalam lift terlebih dahulu. Sementara kedua perawat itu terlihat menyusul dibelakang.


" Terima kasih.."


Mereka semua sudah masuk ke dalam lift, dan salam sekejap, usai seorang perawat menekan tombolnya, mereka akhirnya sampai di lantai dua.


" Dokter, bagaimana anda bisa bebas ?? Kami pikir anda akan mengalami hukuman yang begitu berat.."


" Saya juga sangat berterima kasih pada orang yang telah membantu saya. Jika tidak, maka saya akan berada dalam penjara selama lima belas tahun.."


Mereka berbincang sambil terus berjalan menuju arah kamar Hani yang sudah semakin dekat.


" Um.. Jadi begitu, ya.."


" Sejujurnya kami semua tahu anda melakukan hal sekeji itu, pastilah ada alasannya.. Benar, kan, dokter ??"


" Aku memang harus bertanggung jawab meskipun aku melakukan semuanya karena suatu alasan yang baik.."


" Tapi kami sangat senang anda bisa kembali lagi disini, kami begitu mengharapkan anda lagi seperti dulu, tidak ada yang lebih baik selain dokter Azof.."


" Terima kasih.."


" Sudah sampai."


Mereka bertiga kemudian berhenti tepat di sebuah ruangan. Ruangan yang pintunya setengah terbuka, memperlihatkan seorang wanita dengan parasnya yang menawan tengah duduk dan disuapi oleh seseorang..


Azof mendekat ke arah pintu sambil terus menerus berusaha memaafkan diri. Dia bahkan hampir mundur saat melihat pemandangan anggun di depan matanya, yang kini telah berubah menjadi sayup, dan sedalam jurang kepedihan. Dia merasa tidak pantas jika datang, dan kemudian ikut dalam perbincangan mereka.

__ADS_1


Dia mengintip di depan pintu, sambil terus memperhatikan wajah manis yang tanpa senyuman itu dengan lahap memakan bubur suapan dari Yuna..


Apa ??


Yuna ??


Apa itu Yuna ??


Jadi dia sudah pulang ??


Mendadak hatinya amatlah senang. Dia melihat kondisi Hani yang terlihat menyedihkan itu, lalu dia lihat kembali seorang wanita yang tengah duduk berhadapan dengan Hani sedang berusaha menyuapi Hani satu demi satu sendok makanan.


" Makanlah yang banyak, kakak ipar.. Dengan begitu, kamu akan segera sembuh.."


" Aku sudah makan sangat banyak, bukankah kamu tahu sendiri bagaimana rasanya bubur jika dimakan dalam porsi terlalu banyak.." ( wajah terkekang ).


" Menurut saja.. Kamu ini bukan lagi anak kecil, yang tidak mau makan saat dalam kondisi sakit seperti ini.."


Azof melihatnya dari kejauhan, dan tanpa sadar bibirnya mengulur senyuman penuh arti. Dia memang sedih melihat Hani yang seperti ini, tapi disisi lain, ternyata keluarganya sudah sangat lengkap sekarang. Dan hal tersebut benar-benar berhasil membuat hatinya terhibur.


Sementara Jian, yang sedang berdiri di belakang Yuna, tampak melihat wajah Azof di ambang pintu dengan sangat jelas. Dia kemudian membenarkan jas hitamnya, dan memilih untuk keluar. Menyadari Jian hendak mendekatinya, Azof buru-buru bersembunyi. Dia tidak mau Hani melihat kedatangannya dulu kali ini..


" Kamu mau kemana .??" ( menyadari Jian hendak pergi ).


" Tunggulah disini sebentar, aku akan pergi keluar dulu.."


" Baiklah.."


Setelah mendapat persetujuan dari kekasihnya, Yuna, Jian pun mulai perlahan-lahan melangkahkan kakinya untuk keluar. Seharusnya lelaki itu tidak perlu bersembunyi, kan..


" Ehemm.."


" Kenapa terus bersembunyi ?"


" Bukankah kamu juga akan melakukan seperti yang aku lakukan saat ini ??"


" Ehemm, kedua wanitamu benar-benar sedang membutuhkan dukungan, apa kamu akan setega itu mengacuhkan mereka dalam keadaan seperti ini ??"


Sementara di dalam sana, Yuna terlihat nampak penasaran. Dia berusaha acuh dan tidak peduli. Tapi nyatanya rasa penasaran itu malah semakin mendorongnya untuk menyusul Jian.


" Yuna, aku sudah sangat kenyang. Bisakah aku berhenti memakan bubur itu ?"


Yuna memilih menurut kali ini. Dia meletakkan sendok di atas mangkuk, dan menaruh mangkuk itu di atas meja.


" Baiklah, kalau memang begitu, kak, aku harus melihat Jian dulu di depan."


" Pergilah, aku akan menunggu kalian disini.."


" Baik.. Mari aku bantu kakak tidur.."


" Nanti saja, aku masih ingin duduk.. Pergilah sekarang, siapa tahu Jian sedang menghadapi masalah yang penting.."


" Baiklah.."


Yuna akhirnya memilih untuk meninggalkan kakak iparnya sendirian di dalam ruangan. Dia bergegas keluar ruangan untuk mengetahui apa yang sedang Jian lakukan.


" Asal kamu tahu saja, aku sungguh tidak punya keberanian untuk menemui mereka berdua saat ini.."

__ADS_1


" Hani keguguran.."


" Apa ??"


" Masih mau bilang kalau kamu tidak mau menemui dia ?? Menurut kamu, alasanku berusaha mati-matian membebaskan kamu itu untuk apa kalau bukan karena ini.."


" Ja-jadi.."


" Temui Hani, dukung dan lindungi dia.. Kamu harus menebus semua waktu kalian yang pernah hilang.."


" Kakak.."


Panggilan lembut itu berhasil membuat Azof tercengang. Adiknya.. Itu suara adik perempuannya..


" Yuna.. Yuna.." ( tidak terasa. air matanya menetes ).


Azof berdiri mematung. Dia bahkan tidak punya tenaga sedikitpun untuk meraih tubuh mungil kesayangannya dari kecil itu. Tubuh itu sekarang bahkan sudah semakin kurus. Demy telah membuat adik perempuannya merasakan kehidupan dalam neraka.


Melihat kakak laki-lakinya yang tidak bisa bergerak sedikitpun, Yuna memutuskan untuk mendekat, dan memeluknya. Tangisannya berubah menjadi tidak terkendali saat dalam pelukan itu.


Azof memeluk Yuna dengan penuh kasih sayang dan kerinduan. Dia bahkan tidak rela saat melihat adiknya terus menangis sekeras ini dalam pelukannya.


" Sudahlah, jangan menangis.. Kamu ini bukan lagi anak kecil, memilih kembali itu keputusan yang bagus bukan ??"


Yuna mengangguk saja sambil terus menangis dalam pelukan kakak kesayangannya itu. Kakak yang memang selalu dia jadikan sandaran sedari kecil saat dia sedang dihadapkan masalah besar.


" Baguslah pesanku kepada Jian sudah berhasil dia lakukan. Maafkan kakak yang tidak bisa berbuat apapun saat kamu mendapat masalah sebesar itu.."


Yuna hanya diam saja. Dia tidak mampu merespon setiap perkataan kakaknya selain hanya menganggukkan kepala. Dia memang terlihat begitu menyedihkan.


' Kenapa saat bersamaku, dia tidak mau menumpahkan kesedihannya seperti ini ??' ( sepertinya Jian sedang merasa cemburu ).


" Baiklah, selain kamu, kakak juga harus menemui orang lain.." ( melepas pelukan ).


" Temui Hani, tenangkan dia juga.."


" Jian, terima kasih atas semua yang kamu lakukan kepada keluarga kami.."


" Tidak masalah.."


Azof tersenyum sekilas kepada Jian, dan setelah itu meninggalkan mereka untuk menemui Hani.


Tap tap tap..


" Yuna, bukankah aku sudah bilang, temui Jian dulu.." ( mendongak dan kemudian terkejut ), " ka-kamu.."


Azof membersitkan senyuman tipis di bibirnya kala berhadapan langsung dengan wanita yang dia cintai itu. Dia melihat dengan jelas mata itu sedang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dan kesedihannya selama ini. Mata yang dalam, dengan bibir yang pucat membuat Azof merasa sangat bersalah.


" Hani.."


Azof perlahan mendekat, sembari terus saja menatap dua pasang mata di depannya yang sudah tidak bisa lagi menahan deraian tangisannya. Mereka berdua sama-sama menangis, saling merasa hancur dan akhirnya sama-sama bisa meluapkan kerinduan..


Jarak mereka semakin dekat, dan tidak lama kemudian, mereka akhirnya saling berhadapan.


Azof tidak bisa menahannya lagi. Dipeluklah dengan erat wanita yang menjadi ratu dihatinya itu dengan menangis sesenggukan. Mereka berdua sama-sama larut dalam kesedihan yang sangat mendalam.


" Maafkan aku Hani.. Aku sudah salah.. Aku sangat salah.."

__ADS_1


Hani pun sama halnya dengan yang Yuna lakukan tadi. Diam dan tidak bisa berkata-kata lagi. Ini adalah pertemuan yang benar-benar terasa pahit bagi mereka berdua.


__ADS_2