
' Bagaimana rasanya menjadi seorang ibu ?? Apa sangat menyenangkan ?? Apa mungkin akan terus kelelahan namun rasanya sangat istimewa.. bisa menjadi seorang ibu, adalah mimpi setiap wanita, termasuk aku..'
Azof menutup buku itu, dan menitihkan air matanya.. Dia tidak sanggup membuka lembaran-lembaran yang baru, kalau di awal saja sudah berhasil menyayat hatinya sampai sedalam ini. Malam itu...
.....
' Dokter Azof, maaf sekali.. kami terpaksa harus mengangkat rahim nyonya Hani karena rahimnya benar-benar tidak sehat..'
' Hani merasakan sakit yang luar biasa, dan pada saat yang bersamaan, darahnya keluar begitu banyak, ibu kira dia memang akan keguguran, tapi tidak tahu juga kalau rahim Hani juga ikut bermasalah..'
' Azof, kenapa setelah sekian lama, aku juga tidak kunjung hamil ?? Apa mungkin aku perlu lebih berusaha lagi supaya segera punya anak ?? Do'akan aku ya, supaya cepat hamil, jadi bisa menyusul adik ipar..'
Semua perkataan itu, momentum itu.. sungguh menyakitkan. Seharusnya, dari awal, dia jujur saja pada Hani, kalau sebenarnya.. dia tidak bisa hamil lagi..
Tapi..
Apa kamu akan kuat membicarakannya sekarang ?? Tidak !! Jika dulu tidak bisa berkata sejujurnya pada Hani, maka sekarang juga tidak boleh.
" Azof.." ( baru datang ).
Azof buru-buru menyeka air matanya yang jatuh berlinangan, kala menyadari istrinya datang.
" Azof, kamu kenapa ??" ( mendekat ).
Menyembunyikan buku..
" Apa kamu menangis ??"
" Ah ?? Tidak !! Aku hanya.. sedang terkesan memiliki istri seperti kamu.." ( mengelus rambut ), " terima kasih Hani.. kamu sudah sangat sabar mengurus ibuku.. meski dia hanya mertua kamu.."
" Azof, terkadang kita harus jernih memilih, bukan berarti kita harus mementingkan orang tua kandung daripada mertua. Lihat saja, masa iya aku tega melihat ibu kamu tidak bisa apa-apa seperti itu.."
" Kamu benar, terima kasih sudah mau direpotkan olehku.."
" Jangan bicara begitu, aku tidak suka.. dia tetap tanggung jawab kita, aku lebih suka mengurus ibumu yang sakit, daripada terus mengingat-ingat kedua orang tuaku.."
" Katanya hari ini mereka akan datang.."
" Benarkah ??"
" Iya, ayah sendiri yang bicara padaku.."
" Tapi aku tidak berharap mereka datang karena ingin menemui aku, semenjak Yuna punya Shi Yuan, mereka berdua memang lebih sering datang bukan ?? Aku tahu kedatangan mereka hanya untuk cucu mereka.." ( sedih ).
Azof terlihat menyesal sudah memberitahu Hani tentang kedua orang tuanya. Dia melihat istrinya bahkan begitu benci.
" Maaf, bukan maksud aku untuk menyinggung perasaan kamu.."
" Jangan merasa bersalah seperti itu, aku hanya sedang merasa kesal saja.. Bagaimana kalau, kita ajak ibu keluar hari ini ?? Kamu kan tidak punya jadwal.. iya kan ??"
" Benar juga, kamu mau belanja baju baru ?! Tas, atau barang lainnya, biar aku yang belikan.."
" Terima kasih.." ( tersenyum senang ).
...****************...
" Lezatnya.. ini sarapan paling istimewa yang dibuatkan khusus oleh istriku.." ( tersenyum senang ).
" Jangan banyak bicara, hari ini aku akan pergi ke rumah ibu, aku ingin memberinya kejutan.."
" Kejutan apa ??"
" Kamu lupa ?? Hari ini kan ibu ulang tahun, aku sudah menyiapkan hadiah yang istimewa untuk ibu.."
" Kalau begitu, jangan lupa bawa aku juga bersamamu.."
" Iya, aku tahu kalau kamu pasti akan ikut, kamu kan tidak bisa jauh dari aku.."
__ADS_1
" Tapi sejak Shi Yuan lahir, kita bahkan jarang tidur dengan aman berdua. Aku ingin..."
" Hish !! Jangan bicara seperti itu, bagaimana kalau Yuan bisa mendengar kita ??"
" Aku memang sedang mendengar kalian bicara ibu.." ( wajah kesal ).
" Ah ?? Jadi kamu ada disini ??"
Apa dia sudah duduk disitu dari tadi ?? Kenapa tiba-tiba ada orang ya ??
" Apa aku bagi kalian hanya seekor nyamuk saja ??" ( cemberut ).
" Hahaah.. tidak, tidak.. kamu bagi kita adalah pria kecil yang menggemaskan.." ( mencubit pipi ).
" Iya, ibu kamu benar.. kamu bukan nyamuk kecil yang mengganggu, lebih tepatnya, kecoa !!!" ( nada mengejek ).
Plak !!!
" Aduh !!"
Pipinya merah..
Jian melihat ke depan, wajah istrinya berubah menjadi monster dengan mata tajam yang siap membunuh..
" Yu-Yuna.." ( takut ).
" Bilang apa tadi !???" 😤
" Hehehe.. tidak, tidak.. aku tidak mengatakan apapun barusan.."
Plak !!
Tamparan kedua yang lebih ganas !!
Pipi Jian lebam.
" I-iya.. maaf, aku salah.." ( mohon ampun ).
Di sisi lain, sedang tertawa dalam hati.
' Hihihi.. pertengkaran sengit..'
" Berani mengatakan hal seperti itu lagi pada anakku, aku pecat kamu dari kartu keluarga !!!!" ( ganas seperti monster ).
" I-iya.. maaf..." ( sesal ), " tidak akan aku ulangi lagi.."
" Ayah ibu, sudah.. aku hanya ingin bicara sesuatu.." ( memecahkan ketegangan ).
" Ah ??" ( Yuna duduk ).
" Ehemm..." ( membenarkan jas ), " mau bicara apa ??" ( berwibawa sebagai seorang ayah ).
" Aku mau adik baru.."
Puffftttt..
Mengeluarkan seluruh air dalam mulutnya..
" Apa ??"
" Hehe.. ada pendukung baru ayah.."
" Kemarilah !!" ( memberi aba-aba pada Jian ).
" Mau apa ??"
" Berdiskusi."
__ADS_1
Jian menurut. Dia mendekat ke arah istrinya, dan mendengarkan diskusi yang sebenarnya sudah pasti akan dimenangkan Yuna akhirnya..
" Menurut kamu, apa kita perlu menuruti kemauan Shi Yuan ??"
" Kalau menurut aku, iya.."
" Tidak !!"
Plak !!
Tamparan ketiga..
Mati sudah !!
" Aku tidak bisa !! Kalau kamu setuju dengan anak kamu, maka jangan minta aku untuk setuju juga.."
" Tapi tidak perlu menampar pipiku berkali-kali juga.." ( sakit ).
" Jian, luka operasi aku masih agak terasa nyeri, bagaimana kalau lahiran kedua nanti juga harus di gunting ?? Aku tidak mau !! Tunggu setelah Shi Yuan dewasa, baru memikirkan anak lagi.."
" Kalau sudah punya keputusan sendiri, kenapa masih mengajak aku berdiskusi ??"
" Hehehe... benar juga.."
" Apa kalian menolak keinginan Yuan ??"
" Ah ?? Aaa. iya, iya.. ibu paham sekali, kalau kamu sangat ingin memiliki adik, tapi kenapa tidak menunggu bibi Hani hamil dulu.."
" Tapi dia bukan ibuku.."
" Benar juga.. Tapi Shi Yuan.. luka ibu saat melahirkan kamu belum sepenuhnya sembuh, ibu masih takut melahirkan lagi.."
" Apa melahirkan Shi Yuan begitu sakit ??"
" Sebenarnya tidak juga, karena setelah itu, ibu akhirnya punya pria semanis kamu.."
" Benarkah ?? Apa ibu bahagia memiliki Yuan ??" ( memeluk dengan manis ).
" Tentu saja.. kamu adalah segalanya untuk ibu..."
" Lalu bagaimana dengan ayah ??"
" Dia harus menerima hukuman karena mengatakan kamu kecoa !!" ( mata sinis ).
Mengandung pisau tajam mengkilat.
" Tapi kan aku hanya bercanda.." ( menangis ).
" Salah sendiri !! Cari masalah dengan putra tampanku, maka harus menanggung akibatnya juga.."
" Aku sudah minta maaf, jangan acuhkan aku lagi.."
" Yuan, apa kamu mau pergi ke rumah nenek hari ini ?? Ibu rasa kedatangan Yuan bisa menghibur nenek..."
" Baiklah, aku akan ikut.. apa kakek Sam dan Nenek Syiana juga datang ??"
" Ah ?? Kalau soal itu ibu tidak tahu, yang pasti, hari ini adalah hari ulang tahun nenek Almira, jadi kita sama-sama buat kejutan untuknya ya.."
" Baiklah, aku akan memberinya kejutan mobil-mobilan supaya tidak terus menerus duduk di kursi roda, dia bisa duduk di mobil mainan sama seperti aku.."
" Ah ?? Aku bingung, apa nantinya akan muat ?? Kamu kan kecil, dan ibu.. Dia kan sudah besar.." ( bingung sendiri ), " ah sudahlah, mari kita pergi membeli hadiah.."
" Ayo !!"
Beranjak meninggalkan meja makan, dan juga Jian..
" Akulah nyamuknya, bahkan aku juga yang jadi kecoanya.."
__ADS_1