Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Memulai Perjalanan


__ADS_3

Rembulan telah berlalu. Menghilang di antara sela-sela ranting pepohonan. Malam yang gelap nan mencekam telah berpamitan. Kini tinggal matahari yang mulai menggantikan peran sang rembulan. Embun menetes bersamaan dengan angin yang menyapu lembut. Terdengar semakin pilu.


Hari kembali berganti. Tapi rasanya masih tetap sama. Menyesal, sedih, namun tak tahu harus berkata apa. Andai saat itu ia tidak terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Akh !! Sudahlah.. Menyesal pun tiada arti. Kini hanya segenggam harapan dalam hatinya yang makin hari rasanya semakin redup. Jian.. Apakah kau akan datang suatu hari nanti ?


Yuna melangkah. Menapaki lantai Rumah Sakit dengan tidak seimbang. Ingin mati saja pikirnya daripada harus menghadapi cobaan berat ini. Sementara setiap hari bayangan masa lalunya semakin merasuki pikirannya. Kau sudah membuat wanita ini semakin gila, Jian..


Sementara disisi lain, Jian pun hendak keluar dari Rumah Sakit. Langkahnya berbeda dari sang pujaan hati. Dia nampak yakin dan ingin segera memulai pertunjukkan. Dia tidak akan membuang waktu. Terlalu berharga baginya jika harus menyia-nyiakan waktu dengan percuma. Kali ini dia sendiri yang akan bertindak. Mengelabui musuh lalu bersiap menyergap. Itulah rencananya.


'Mobil sudah siap, Mr.'


"Apa situasi diluar aman ?"


Tanya lelaki itu melalui sambungan telepon.


'Aman, Mr. Tidak ada wartawan atau petugas keamanan disini. Sepertinya kabar kesembuhan anda belum diketahui media.'


"Bagus ! Lanjutkan sesuai rencana !"


'Baik Mr.'


Langkahnya semakin terlihat pasti. Mobil sudah terlihat di depan Rumah Sakit. Tapi dia memilih keluar lewat pintu belakang ( Supaya tidak menimbulkan kecurigaan ).


Lalu siapa yang akan masuk ke dalam mobil mewah miliknya yang ada di depan sana ? Hal mengejutkan terjadi.. Rupanya dia sudah mengantongi seorang wanita yang diduga kuat ikut campur tangan dalam video itu. Namanya Annie. Asisten ibunya Demy. Mengejutkan. Bagaimana bisa Jian menangkap wanita itu dengan begitu mudahnya ?


Flashback..


Dua jam sebelumnya...


"Nyonya, maaf ! Saya pamit untuk pergi sebentar membeli bahan dapur."


Pamit Annie sesaat sebelum dirinya keluar dengan tas berisi senjata api yang sudah dia persiapkan. Sebenarnya ia hanya berdalih. Mengingat dia sudah diancam oleh seseorang di balik nomor ponsel yang menghubunginya. Bagaimana ia tidak cemas! Sedangkan dia melihat dengan jelas wajah Aldi yang sudah hampir membusuk di layar ponselnya. Sejujurnya ancaman itu belum terlalu ampuh untuk menyeretnya. Tapi karena ancaman kedua itulah yang membuat wanita berusia dua puluh lima tahun itu, akhirnya berani mengambil sebuah resiko.


"Baiklah ! Tapi tolong berhati-hati, Annie ! Kita belum menemukan keberadaan Aldi sampai saat ini. Dan sekarang aku merasa cemas dengan dirimu.."


Annie mendengarkan ocehan wanita paruh baya itu dengan wajah yang tidak bisa dimengerti. Ada cemas dan takut juga sebenarnya. Tapi lagi-lagi dia mencoba untuk tenang dan menyembunyikan semuanya dari Nyonya besar.


Apalagi saat ia ingat ancaman yang terakhir. Bersamaan dengan diputarnya rekaman cctv mereka di Rumah Sakit, orang itu telah menulis peringatan bahwa dia tidak akan diampuni jika sampai mulutnya keluar satu katapun. Orang itu bahkan mengancam akan menghabisi nyawa keluarganya.


Mendadak ia terkejut dan bangun dari lamunannya saat Daniah kedapatan tengah mengusap pundaknya.


"Baik, Nyonya.. Anda tidak perlu khawatir.. Saya bisa menjaga diri saya !"


Lalu setelah ucapan itu, Annie bergegas pergi meninggalkan sang majikan. Jantungnya selalu berdetak tak karuan. Dia sungguh tidak mengerti apa yang akan terjadi nanti. Bisa jadi kepergiaannya ini adalah jalan menuju kematiannya.


Vroooommmm


Taksi yang dia tumpangi melaju dengan kencang. Mengantarkannya pada Rumah Sakit. Ia akhirnya tahu sekarang siapa yang telah mengancamnya. Dua pria kekar sudah terlihat menunggunya di depan pintu masuk Rumah Sakit. Ini bukan pertanda baik. Jika harus ada orang bertubuh seperti mereka, itu tandanya dia harus menurut. Jika tidak maka nyawanya lah yang menjadi taruhan.


Dia diantar oleh dua bodyguard tadi menuju sebuah ruangan. Dia bisa saja berteriak minta tolong disini. Apalagi dalam kondisinya yang membawa senjata dalam tasnya. Tapi rasanya itu tidak akan pernah ia lakukan. Mengingat dua pria ini bisa menghabiskan nyawanya hanya dalam satu gamparan tangan saja.


Hufff


Akhirnya dia memilih untuk berjalan santai mengikuti arahan dua pria itu. Diliriknya sesekali wajah mereka yang terlihat masih dalam ekspresi datar dan menyeramkan. Dan sampailah mereka di dalam ruangan Jian. Melihat Tuan muda yang sudah bangun itu, wajahnya nampak terkejut.


Cklek


Pintu dibuka dan terperanjat lah dua matanya menatap pria didepan yang sudah siap menjadikannya santapan siang.


"Mr. Jian ?"


Tanyanya dengan nada ketakutan.


"Ba.. Ba.. Bagaimana.. Kau.. Bisa.. Bangun ??"


"Memangnya kenapa jika aku sudah bangun ?"


Ucap Jian sambil menunjukkan sebuah obat yang tidak sengaja dia temukan dibawah sofa. Dia sama sekali tidak menduga bahwa wanita ini penyebab dia koma begitu lama.


Sekali lagi wanita itu terperanjat. Matanya membulat sempurna usai melihat sebuah botol kecil berisi sedikit sisa obat yang selalu dia suntikkan dalam infus Jian. Ia tahu benda kecil itu memang masih tertinggal disana. Tapi tidak seharusnya ditemukan oleh Jian bukan ? Bagaimana bisa Jian menemukan benda itu ? Bahkan dia kira dia sudah membuat obat itu tersingkir dalam kebawah sofa itu.

__ADS_1


Huhhh, Masalah baru !!


"Apa kau akan memberiku penjelasan padaku soal obat ini, Nona Annie ?"


Bergetar lah seluruh tubuhnya. Apalagi saat lelaki itu memanggil namanya dengan wajah yang menyeramkan. Keringatnya semakin deras bercucuran membanjiri seluruh tubuhnya. Dasar pria ini !! Bahkan hal sekecil inipun dia tahu. Apa Jian itu seorang detektif ?


"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku ? Apa kau yang sudah membawakan resep ini untukku selama aku koma, Nona ?"


Jian mencoba lebih dekat lagi dengan wanita itu.


"Jika anda tidak mau menjelaskan padaku, maka dokter tampan ini yang akan memberiku penjelasan."


Jian menunjuk kearah Azof yang tengah duduk di atas sofa. Dia meletakkan beberapa lembar kertas hasil pemeriksaan tentang obat yang tidak sengaja Jian temukan di bawah sofa. Jian mengambil lembaran-lembaran kertas dimeja tersebut dan mencoba membacanya.


"Ini adalah hasil penelitian tentang obat dalam botol itu."


Azof bangun dari duduknya dan memulai penjelasan.


"Didalamnya tertulis bahwa ada kandungan obat berbahaya yang seperti kita tahu.. obat itu tidak dijual secara bebas di negara kita."


"Kenapa seperti itu, dokter? Coba kau jelaskan lagi !"


Ucap Jian terlihat dengan ekspresi yang membingungkan.


"Iya. Kita sudah tahu bahwa obat ini tidak murni masuk dalam obat-obatan terlarang. Jadi kami masih bisa memberikan obat ini dengan resep khusus dan tentunya tidak sembarangan. Dan obat jenis ini seharusnya tidak dikonsumsi secara berlebihan.."


"Lalu apa maksud anda ?"


"Jika obat ini dikonsumsi secara berlebihan dalam dosis yang tinggi, maka akan menimbulkan masalah dalam jaringan otak. Salah satunya bisa menimbulkan koma yang berkepanjangan."


Semua mata membulat. Termasuk Jian dan Annie.


'Siall !! Aku ketahuan !!'


"Apa ? Jadi apa hal ini ada hubungannya dengan keadaanku selama ini ?"


"Sejujurnya dalam tubuhmu aku tidak pernah menemukan kejanggalan ini sebelumnya. Aku pikir mungkin seseorang telah memberimu obat ini selama satu tahun terakhir sebelum kau bangun."


Azof mengangguk.


"Kau benar."


"Jadi, Tuan-tuan yang terhormat, lalu apa maksud kalian membawaku kemari ?"


"Kami tidak membawamu. Kau sendiri yang datang menemui kami.."


"Dasar licik !! Aku datang karena ancaman yang kalian kirimkan padaku."


"Oww.. Ngomong-ngomong soal ancaman.. Aku punya rekaman bagus yang mungkin akan bisa mengancam kamu lebih dari ini.."


Jian memberi kode pada bodyguard dimuka pintu. Pria disana langsung mengiyakan. Dia mengambil sebuah laptop dari tas yang sedari tadi dia pegang lalu menyerahkannya pada Jian.


Jian langsung menerimanya. Dibukalah laptop di atas pangkuan tangannya dan dia mencoba memutar sebuah rekaman. Dia membalikkan laptop dan menunjukkan rekaman video itu dihadapan Annie. Dan untuk yang ketiga kalinya dia dibuat terkejut setengah mati.


Dalam video tersebut, terlihat saat dirinya beberapa kali memasuki ruangan Jian dengan menyamar sebagai seorang perawat. Dia datang setiap hari dan menyuntikkan cairan dalam infus Jian. Dan tak terlewat suatu ketika dia dengan ceroboh menjatuhkan obat yang tinggal setengah dibawah sofa. Dia mencoba menggapainya beberapa kali namun usahanya gagal. Dia akhirnya membiarkan obat itu berdiam disana. Dia kemudian pergi dan berlalu meninggalkan sebuah barang bukti.


Bukan hanya sampai disitu. Jian kembali menemukan sebuah rekaman mengejutkan, saat dia memeriksa cctv di sebuah tempat yang Annie tuju, usai wanita itu pergi dari Rumah Sakit. Yaitu sebuah toko yang menjual jam tangan mewah. Awalnya dalam video tersebut tidak terlalu mencurigakan. Melihat dari situasi yang saat itu tengah ramai pembeli. Sepertinya toko itu hanya menjual jam tangan dengan harga fantastis. Tentu saja seorang wanita yang tidak berpangkat seperti Annie tidak akan mampu membelinya. Kecuali...


Jika dia mencurinya..


Benar !!


Benar seperti dugaan. Pengunjung yang terlihat ramai, dengan penjaga toko yang terlalu sibuk melayani pelanggan, membuat mereka semua lengah. Mereka bahkan tidak sadar ada pencuri yang menyusup masuk di tengah kerumunan. Dan yang lebih mencengangkan lagi.. Dia berhasil lolos dari sana. Mangagumkan. Mencuri di tengah-tengah keramaian.. Dan berakhir dengan selamat adalah bonus yang besar.


"Tu.. Tuan..!! Bagaimana kalian bisa.. Mendapatkan semua ini ?"


"Bukan hanya kami.. Tapi juga polisi.. Mereka sudah tahu identitasmu. Mungkin saja sekarang mereka tengah mencari kediamanmu.. Huff.. Untung saja kau datang kesini lebih cepat.. Jika tidak.. Mungkin saja mereka sudah menemukanmu.. Jika mereka tidak mendatangi ibumu, mungkin saja rumah Nyonya besar yang mereka tuju."


"Tidak mungkin. Jika mereka menemukan kediaman Nyonya.. Maka dia akan tahu apa yang selama ini aku lakukan.. Dan ibu.. Jika dia tahu.. Maka penyakit jantungnya bisa kambuh.."

__ADS_1


Wajah pelayan itu terlihat begitu cemas. Raut mukanya merah padam pertanda dia sedang emosi.


"Kami bisa saja menyelamatkan kamu !"


Jian terlihat menawarkan kerja sama membuat Annie yang hampir kehilangan harapan berubah menjadi berbinar.


"Apa maksud Tuan ?"


"Iya.. Mengelabui para polisi itu sangat mudah untuk aku lakukan.. Aku bisa membuat mereka tidak menyalahkan kamu atas insiden ini dan bahkan sebaliknya.. Mereka akan merasa iba padamu.."


"Apa maksud Tuan ?"


"Kau bisa selamat dari mereka hanya dengan sandiwara sebagai seorang aktris terkenal.. Tapi semua itu tidaklah gratis. Tentu saja harus ada imbalan.."


"Katakan saja apa yang harus aku lakukan untukmu Tuan. Aku akan melakukan apapun asalkan kau mau membebaskan aku dari masalah ini."


"Apa kita sudah sepakat ?"


Annie mengangguk. Percuma saja jika mengambil langkah lain. Berhadapan dengan pria ini sangat tidak mudah. Kekuasaan dan aura dinginnya yang membuat semua orang merasa takut untuk menghadapi masalah dengan dia. Terutama dirinya sendiri. Dengan ancaman seperti itu, apa mungkin dia masih bisa berkutik ?


"Bagus kalau kau sudah setuju !"


Jian menatap tajam dua bodyguardnya, dan menyuruh mereka untuk menyiapkan mobil secara khusus.


"Ambil mobil yang paling mewah milikku untuk menjemputnya !"


"Siap Mr."


Seseorang dari mereka terlihat keluar dan menghubungi seseorang di seberang, untuk datang dengan membawa mobil pesanan majikannya.


"Dan kamu. Aku ingin dia keluar dari sini tanpa ada yang mengenali.. Termasuk para penjaga.."


"Siap Mr."


Jian pergi melewati gadis itu yang tak bergerak sedikitpun. Namun matanya mendadak terhenti pada tas yang sedari tadi terlihat menarik dimatanya. Jian dengan sigap merebut tas di tangan Annie. Wanita itu sontak terkejut.


Srakk !!


"Apa ? Tuan ??"


"Apa yang sedari tadi kau sembunyikan, Nona ?" ( Tersenyum licik ).


Annie khwatir. Sebenarnya ia tengah berpikir untuk melumpuhkan salah satu bodyguard Jian nanti, saat hanya tinggal beberapa saja dari mereka yang ada disana. Tapi nyatanya rencananya tidak lebih licik dari Jian.


Jian membuka tas berwarna kuning tersebut, dan melihat senjata tajam disana.


"Oww.. Apa kau ingin melawanku ?"


"Ti.. Ti.. Tidak Tuan !! Aku.. Hanya sedikit.. Takut.."


Jian tertawa kecil.


"Lucu sekali.. Kau takut dan membawa senjata.. Apa kau akan menembak saat merasa takut ?"


Jian menyimpan senjata ditangannya dan menyelipkannya di balik jas hitamnya.


"Nona cantik !! Terlalu berbahaya jika kau bermain benda tajam seperti itu.. Bukan hanya akan melukai orang lain.. Tapi senjata ini bisa juga membunuhmu."


Lalu akhirnya pergi keluar dengan dibuntuti Azof dari belakang. Sementara Annie dia tinggal di dalam ruangan bersama salah satu bodyguard dan asisten cantiknya. Dia harus merubah penampilan supaya tidak dikenali semua orang.


"Bagaimana kau bisa menemukan barang bukti sebanyak itu ?"


Azof yang penasaran mencoba mencari tahu dengan bertanya langsung pada sang motivator.


"Kau tahu ? Semua masalah pasti ada penyebabnya.. Jika kita ingin tahu akar masalahnya, maka kita harus berjalan sesuai cerita yang mereka mainkan.. Dengan begitu, tanpa susah payah.. Dia sendiri yang akan merasa terpojok dan mengakui kesalahannya. Kita hanya perlu menunjukkan satu atau dua bukti.. Dan mangsa sudah tidak akan bisa bergerak lagi."


"Apa kau seorang mafia ?"


"Apa kau lupa ? Sebelum aku beralih menjadi pengusaha dan motivator terkenal, aku lebih dulu merasakan pahitnya hidup di pinggir jalan.. Hingga aku tidak bisa membedakan yang mana orang baik dan yang mana mafia."

__ADS_1


Azof hanya kebingungan. Rupanya tidak sembarangan jika harus berhadapan dengan orang yang satu ini. Dia harus memberitahu adiknya kelak jika mereka sudah bersama untuk lebih berhati-hati. Bukan hanya kekuasaannya saja yang membuat dia sebegitu berani. Tapi karena pengalaman hidupnya yang membuat pria ini semakin sulit untuk dihadapi.


__ADS_2