
Yuna tengah menunggu asisten cantiknya mengemas seluruh barang miliknya. Dia akan pergi menuju kota K malam ini. Dia sedang mencoba menghubungi Demy untuk segera pulang, tapi sepertinya usahanya sia-sia. Suaminya itu bahkan selalu mengabaikan panggilan darinya. Ish.. Kau sangat jahat Demy...
" Bagaimana Nona ? Apa Tuan Demy sudah bisa dihubungi ?"
" Belum !! Mungkin dia tidak akan mengantarku ke bandara.. Jadi kita pergi sendiri saja.."
" Ya sudah, terserah pada Nona saja.."
Beberapa menit kemudian, terdengar mobil Demy terparkir di depan rumah.
" Sepertinya dia sudah pulang.."
Yuna mengejar keluar rumah, berharap belas kasihan dari Demy..
" Demy, kau sudah pulang ?" ( Wajahnya nampak senang ).
" Kenapa kau mencariku ?" ( Jutek ).
" Kenapa aku mencari kamu ? Harusnya kamu tahu, aku tidak bisa mengemudi sendiri ke bandara.. Apa kau bersedia mengantarku ?"
Demy acuh saja. Ditekuklah wajahnya sebisa dia.
" Pakai sopirku saja sana ! Aku sedang tidak ingin diganggu.."
Demy melangkah menuju sofa ruang tamu, lalu terduduk disana.
" Demy, apa kau tidak merasa kasihan terhadap aku ?? Aku tidak bisa mengendarai mobil sendiri kesana."
" Kalau tidak mau pakai sopirku, ya, jangan pergi !! Itu saja kok, repot !!!"
Yuna terdiam. Dia kira suaminya ini akan merasa iba saat dia terkena masalah seperti ini. Tapi rupanya Demy sama sekali tidak peduli apapun tentang masalahnya. Apalagi saat mendengar perkataan Demy demikian, rasanya hancur sekali.
" Sudah selesai ?? Kau mau pergi atau tidak ??? Kalau masih mau, panggil sopirku untuk mengantarmu, tapi kalau sudah tidak mau, ya sudah..."
" Aku pikir kau akan peduli denganku disaat-saat seperti ini. Aku kira kamu juga ingin ikut denganku kesana, tapi kamu malah.." ( wajah sedih ).
" Malah apa ?? Apa aku juga harus peduli dengan keluargamu begitu ?? Sudah cukup aku menanggung beban karena harus hidup denganmu.."
" Demy ?!!" Dia tidak sengaja menitihkan air matanya. Rasanya memang sakit sekali mendengar kejujuran yang dilontarkan Demy.
" Apa ??? Kau mau marah ?? Marah saja sesukamu !! Kalau perlu pukul wajahku, aku sudah tidak peduli.."
" Kamu sudah keterlaluan !!"
" Terserah aku !! Memangnya kamu siapa, berani mengatur aku ??"
Yuna hanya diam. Dia juga tidak tahu kenapa suaminya sekarang berubah. Sifatnya yang lembut dan penuh perhatian nyatanya hanya kedok saja. Apa dia harus tetap bertahan dalam pernikahan seperti ini ? Rasanya sia-sia saja mengalah. Nyatanya perjuangannya mempertahankan pernikahan, dan meninggalkan cinta sejatinya malah membuatnya sengsara.
" Oke !! Aku akan pergi !! Aku akan disana, mungkin satu Minggu.."
" Jangan menghubungi aku !! Aku akan sangat sibuk satu Minggu ke depan."
" Baik !!"
Yuna dan seorang asistennya hendak membawa koper Yuna ke luar rumah.
" Oh iya.. Sampaikan salamku untuk Jian, bilang padanya aku merindukannya.."
" Apa ??" ( wajah bingung ).
" Kenapa memangnya ??"
" Apa kau sedang mencoba menyindirku ?"
" Apa kau merasa tersindir ? Maaf saja, aku lupa kalau kau juga pasti merindukan Jian.." ( tersenyum aneh ).
" Apa maksud kamu ??"
" Aku tidak bermaksud apapun, aku hanya titip salam saja bukan ??"
Yuna menatap wajah itu malas. Bisa-bisanya suaminya ini selalu mengajaknya bertengkar setiap hari.
" Kalau sudah selesai bicara, maka aku akan pergi.."
" Pergi saja.."
Yuna berjalan di depan, sementara asistennya menyusul di belakang dengan membawa koper besar milik Yuna.
Vrooommm.
Mobil melaju kencang meninggalkan rumah Demy, menuju bandara nasional.
Tepat pukul 17.45.
__ADS_1
Yuna sampai di bandara, dan sedang berjalan menuju pesawat yang akan dia tumpangi kali ini. Pemberangkatan sebentar lagi, dan dia bahkan masih saja memikirkan Demy. Meskipun pria itu selalu membuatnya kesal, tapi dia juga mengkhawatirkannya.. Dia tidak tega meninggalkan suaminya sendirian. Yuna tahu lelaki itu bisa saja berbuat macam-macam jika sedang sendirian.
Huhh !! Semoga saja Demy tidak apa-apa..
Setengah jam kemudian..
Woshh !!
Pesawat lepas landas menuju kota K. Kota dengan seribu kenangan dengan... Jian. Dan hari ini dia akan datang menjumpainya lagi.. Perasaannya campur aduk. Ada senang, gugup, namun juga penasaran bagaimana keadaan tempat itu sekarang.
Dia memejamkan matanya, dan tertidur. Disampingnya, asistennya juga sedang tertidur pulas. Mereka menggunakan kesempatan ini untuk beristirahat sejenak.
..........
Dua jam kemudian.
Pukul 20.14.
" Dimana lokasi klien kita ?"
" Seharusnya dia akan sampai sebentar lagi.."
" Kita tunggu disini.."
Beberapa menit kemudian, terlihat pesawat yang baru saja mendarat di landasan. Jian menyambut seseorang yang akan menjadi klien barunya kali ini.
" Selamat malam, Tuan.."
" Selamat malam. Apa Nyonya Tiansha tidak datang langsung untuk menemuiku ?"
" Maaf Tuan Jianan, beliau sedang sakit, dan harus istirahat total. Jadi dia sengaja mengirimku untuk membicarakan proyek kita.."
" Begitu, ya.." ( Kenapa dia terlihat cemas ).
Dia sedang asik berbincang dengan pihak dari Tiansha disana. Tapi mendadak dia melihat seseorang yang tidak asing baginya. Yuna.
" A ? Yuna ?"
Jian mempersilahkan kliennya untuk berjalan mengikuti Sanni dan dua orang pihaknya. Dia kemudian mencoba menyusul Yuna untuk bertanya tujuannya datang kesini.
" Yuna ??"
Yuna yang sedang asik berjalan saja, tiba-tiba harus menyempatkan waktunya untuk menoleh, melihat seseorang yang sedang memanggilnya dari belakang.
Jian sampai di depan Yuna.
" Apa yang kamu lakukan di bandara ?"
" Aku sedang menjemput klienku. Kamu sendiri, kenapa bisa sampai disini ?"
" Aku sengaja datang untuk melihat kondisi kakak.."
" Tenanglah, dia baik-baik saja. Aku akan bertanggung jawab untuknya.."
' Rupanya pria ini masih berbuat baik pada keluargaku..'
" Lagipula, ini semua tidak murni kesalahan Azof. Aku tahu beberapa orang dari bawahanku juga terlibat atas pembunuhan itu.."
" Apa ?? Apa ada yang kalian sembunyikan dariku selama ini ?"
Mereka terus berjalan keluar dari bandara berdua saja. Asisten Yuna sedang berjalan agak jauh darinya sambil membawa dua koper. Satu milinya, satu lagi milik Yuna.
" Kita memang perlu bicara untuk permasalahan waktu itu.."
" Kalau begitu, bicara saja sekarang !! Aku masih bisa mendengarkan.."
" Sepertinya kita harus meluangkan waktu untuk membicarakannya. Lagipula masalah ini terlalu rumit.."
" Baiklah.. Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk menemui kamu.. Sekarang aku harus pulang ke rumah ibuku. Aku akan datang menemui kak Azof besok sebelum persidangan."
" Baik. Aku harus pergi !"
" Iya.."
Ada rasa yang berat sekali untuk melepas kepergian Jian waktu itu. Sejujurnya ia berharap Jian akan mengantarnya ke rumah ibunya.. Arkh !! Kau terlalu naif. Bisa-bisanya kau mengharapkan seseorang saat statusmu sendiri sudah jadi istri orang. Kau keterlaluan !!
Yuna memilih untuk memesan taksi, dan kemudian pergi menuju rumah ibunya.
........
Pukul 21.05.
Rumah Almira.
__ADS_1
Ciittt.
Mobil direm, dan berhentilah tepat di depan rumah ibunya. Dia menurunkan dua koper dari dalam taksi, dan kemudian menuju depan pintu.
Ting Tong !!
Bel berbunyi.
" Iya sebentar.."
Terdengar suara Almira menjawab dari dalam. Yuna tidak bisa memastikan bagaimana ekspresi Almira saat melihatnya pulang malam ini. Apa ibunya itu akan terkejut ?
Cklek !!
Pintu dibuka.
Wajah Almira nampak berbinar. Antara terkejut juga merasa sangat bahagia, melihat kehadiran putri kebanggaannya datang ke rumah.
" Yuna ???"
Dipeluklah tubuh Yuna yang mungil dan kurus. Dua mata yang terlihat dalam dan menyorotkan kesedihan, memberi arti pada Almira, kalau Yuna selama ini tidak merasa bahagia.
" Bagaimana kabarmu, sayang.. Ibu sangat merindukan kamu.."
Tidak terasa air mata mulai menetes. Maklum saja. Semenjak menikah, Yuna tidak memberi kabar apapun kepada ibunya. Dan sekarang, secara mendadak dia mengetuk pintu rumah Almira dan memberi sebuah kejutan besar.
" Aku, baik, bu.. Bagaimana kabar ibu ??" ( melepas pelukan Almira ).
" Jujur saja, ibu tidak merasa baik semenjak pernikahan kalian. Apalagi setelah mendapat kabar kalau Daniah yang sudah membuat berita palsu itu.. Aku tidak habis pikir. Bagaimana bisa mertuamu sendiri yang menghancurkan hidupmu !! Hhh. Ibu sangat sedih.."
" Sudahlah, kita bicarakan di dalam saja.."
Yuna hendak masuk ke dalam rumah. Tapi dia dikejutkan oleh kedatangan Hani dari dalam. Wanita itu datang dengan wajah penuh kesedihan..
" Hani ?? Kau ??"
" Yuna ??"
Mereka berpelukan erat. Melepas rindu satu sama lain.
" Apa kau baik-baik saja ??"
Hani melepas pelukan Yuna, " bagaimana menurutmu ? Apa aku terlihat seperti itu ?"
" Sudahlah !! Jangan terlalu dipikirkan !! Kita pasti akan mendapat jalan keluar dari permasalahan ini.."
" Tidak apa-apa. Kenapa harus khawatir ? Kita bisa saling menguatkan meski terpisah jauh.."
" Kita masuk sekarang, disini sangat dingin.." ( Almira mengajak mereka berdua untuk masuk ).
Skip.
Di ruang tengah.
Slurpp !!
Yuna menyeruput teh yang dibuatkan oleh Hani.
" Apa kau sengaja tinggal disini, untuk menemani ibuku ?"
Hani duduk dan tersenyum songar. Dia memeluk Almira dan menitihkan air mata. Jujur saja, Yuna bingung melihat kemesraan dua orang ini. Baru saja ditinggal selama sembilan bulan, Hani sudah berhasil merebut posisinya sebagai anak kesayangan. Kenapa mereka menjadi sangat akur ?
" Hani sudah menikah dengan Azof satu bulan yang lalu.."
" Apa ? Jadi kalian sudah menikah ??"
Hani dan Almira mengangguk saja, membuat Yuna tidak percaya apa yang baru saja dia dengar.
" Jadi ibu sudah memberi mereka restu ?"
" Iya, Yuna. Kami memang tidak mengadakan acara pernikahan yang mewah, tapi setidaknya pernikahan itu sangat berkesan bagi kami.."
Keberadaannya yang jauh dari keluarga membuatnya merasa terasingkan. Bahkan kakaknya sendiri menikah, dia malah tidak tahu apapun.
" Kalian tidak pernah menghubungi aku selama ini.."
" Kau tahu ? Aku sudah pernah meminta nomor ponselmu pada Daniah, sebelum wanita itu kabur dari sini, tapi saat aku mencoba menghubungi nomor tersebut rupanya tidak pernah aktif. Dia sudah membohongi kita semua.."
" Entahlah. Aku juga tidak percaya kalau dia pelaku utamanya, kesehariannya, dia sangat baik kepadaku.. Aku bingung saat mendengar kabar kalau dia terlibat kasus berita palsu atas namaku itu.."
" Sudahlah, tidak perlu merasa sedih. Kita bisa saling curhat selama kau masih disini.."
" Kau benar.."
__ADS_1