
Setelah melihat vano lebih segar, rara menyibak rambut pemuda itu dengan tangannya agar kelihatan lebih rapi.
“hei.. ngapain ra? Tanya vano yang kembali bingung diperlakukan seperti itu.
“hah, rara hanya rapiin rambut mas vano aja, biar ga berantakan, ntar kalau dokter datang biar kelihatan rapi. Dokter ntar datang visite sama suster-suster. Siapa tau ada suster cantik yang naksir mas vano” jawab rara asal, padahal diapun bingung dengan spontanitas tangannya merapikan rambut pemuda itu.
“Duduk tegak mas, biar sarapan pagi, sarapannya udah keburu dingin ini. Rara suaping aja ya.” Rara menegakkan tempat duduk vano, menggeserkan meja makan buat pasien, meletakkan makanan dan minum buat vano diatasnya. Dan kemudian mulai menyuapin pemuda itu.
“aaaaa” vano membuka mulutnya untuk makan dan menghabiskan satu persatu tiap suapan yang diberikan rara. Sampai sarapan pagi nasi goreng dengan telur omelet yang ada dipiringnya habis tak bersisa. Vano menikmati
sarapan itu, tapi lebih menikmati perlakuan rara padanya.
“sudah beres” kata rara sambil merapikan semua meja-meja dan piring-piring kotor. Kemudian rara merapikan posisi duduk vano sehingga tubuh rara kembali berada sangat dekat dengan vano, seakan-akan seperti hendak memeluknya.
“trimakasih ra” kata vano
Rara tersipu malu, wajahnya merona merah, karena perkataan vano begitu dekat ditelinganya dan rara merasa bulu tengkuknya sudah berdiri.
“Sudah jam tujuh mas, rara berangkat kuliah dulu ya” jawab rara mengalihkan rasa malunya.
‘hmmm.” Jawab vano singkat.
“ntar kalau ada yang perlu, pencet bel nya aja ya mas. Rara juga ntar titipin ma suster di depan kalau mas vano lagi ga ada yang nungguin” rara menjelaskan, sambil menyiapkan tas, buku-buku dan laptopnya. Merasa tidak ada yang tertinggal kemudian rara berjalan kearah pintu dan meninggalkan vano.
“rara pergi ya mas” pamit rara.
__ADS_1
“ya. Hati-hati di jalan” jawab vano dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah televise. Karena vano merasa ada yang kosong dihatinya, saat rara sudah pergi.
*****
Setelah rara berangkat kuliah, vano merasa sangat kesepian. Diutak atiknya handphonenya untuk menghilangkan kejenuhannya. Dipanggilnya salah satu kontak yang ada di handphonenya itu dan kemudian menunggu
panggilannya dijawab.
“Mar cepetan ke rumah sakit sekarang ya!” perintahnya setelah panggilannya dijawab dan segera memutuskan panggilannya setelah membuat perintah itu.
Tidak sampai setengah jam Damar sudah sampai dikamar tempat damar dirawat dengan sedikit ngos-ngosan seperti habis olah raga.
Vano tersenyum penuh kemenangan karena merasa berhasil mengerjai damar.
“kenapa kamu hari ini ga datang mar? aku tungguin dari pagi, ga nongol-nongol tuh wajahmu di sini. giliran tadi malam ga disuruh datang, kamu datang seperti tamu tak diundang.” Tanya vano pada damar yang sudah duduk disofa menenangkan nafasnya yang ngos-ngosan tadi.
“Tadi malam aku mau mastiin keadaanmu bro. walaupun katamu ga apa-apa, tapi namanya kecelakaan aku berfikir takutnya ada yang fatal.” Jawab damar
“kalau aku udah bisa sms kamu brarti ga ada dong yang fatal mar” ha.ha.ha.ha
“yah siapa tau yang dibawah udah ga bisa bangun, kan fatal juga namanya van” ledek damar yang membuat vano kesal sampai vano melemparkan bantalnya kearah damar.
"kemana gadis yang disini tadi malam van?" tanya damar
__ADS_1
"kuliah" jawab vano singkat.
"kerja sambil kuliah, lumayan juga" cengir damar sambil melirik vano
“btw ada yang aneh dengan sikapmu tadi malam ke nona muda itu van, hmmmm seperti apa gitu ya?” damar tampak seperti berfikir keras.” Seperti seorang pemuda menjaga kekasihnya gitu van” lanjut damar sambil menatap
vano penuh selidik
“apaan”
“Pertama kamu tidak mau dia terbangun saat aku masuk, kedua kamu memandanginya terus, ketiga kamu perhatian padanya sampai menyuruhku memasangkan selimutnya.” “ada apa coba menurut kamu van, apa kamu
jatuh cinta sama gadis itu van?”
Cklekkk. Pintu kamar vano dibuka dan tampak Rika dan Bisma yang kemudian masuk.
“Untung kak rika dan mas bisma datang, jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan damar tadi.” Batin vano. Walaupun sebenarnya vano sudah semakin menyadari bahwa yang dikatakan damar itu ada benarnya.
Tbc
Buat pembaca, jangan lupa like dank omen ya, jika menyukai story ini.
Sabar ya, tunggu episode berikutnya tentang pernyataan cinta vano. Kira-kira diterima engga ya sama rara?
__ADS_1