
" Maaf, Nona, Tuan Jianan yang terhormat, saya merasa sangat malu terhadap anda, saya juga tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini pada mereka. Sejujurnya mereka adalah lulusan universitas kedokteran terbaik dua tahun lalu. Karena itulah saya berinisiatif untuk memberi mereka pekerjaan, tapi nyatanya ilmu mereka sama sekali tidak ada gunanya dibandingkan dengan perbuatan mereka yang sangat melanggar aturan rumah sakit. Sekali lagi saya minta maaf, Tuan.." ( berjabat tangan ).
( Membalas ).
" Tidak apa-apa, yang penting anak saya sudah selamat.."
" Iya, meski terlambat menolong janinnya, yang pasti kakak ipar kami sudah dalam kondisi normal dan terurus.."
" Terima kasih atas pengertian Nona.. Nona memang sangat bijak. Tidak mau mengambil keputusan dengan gegabah.. Saya sangat berterima kasih atas kerja sama Nona.."
" Hemm... Kalau begitu, kapan dokter pengganti akan datang ?"
" Besok pagi sudah bisa datang.."
" Usahakan untuk lebih cepat. Buat sahabat saya ini segera ditangani, dan jangan lagi terlambat. Jika tidak, saya akan menuntut rumah sakit ini sesuai perintah kekasih saya.."
" Baik, Tuan.. Saya mengerti.." ( menunduk ), " kalau begitu saya pergi dulu.."
" Terima kasih sekali lagi, pak.."
" Iya, Nona, sama-sama.."
Si kepala rumah sakit itu terlihat pergi dengan segudang pemikiran yang ruwet di dalam otaknya. Dia sangat menyayangkan disaat para dokter yang sudah berdedikasi tinggi itu tiba-tiba saja terlena saat harus menghadapi masalah dengan tuan Jian. Andai bukan Jian orangnya, keenam dokter itu tidak akan kehilangan pekerjaan. Hhh... Sungguh sangat disayangkan..
" Bagaimana ? Apa dia sudah bangun ?"
" Belum Yuna.. Apa benar tidak apa-apa ?"
" Tidak apa-apa, kakak ipar hanya sedang kehilangan banyak darahnya, yang paling penting, nanti, kalau dia sudah bangun, lebih baik jangan selalu memasang wajah sedih dan cemas di depan dia.."
" Iya, ibu juga tahu.. Lagipula ibu tidak boleh membuat dia semakin larut dalam kesedihan.."
" Iya, bagus sekali..."
" Yuna, tidurlah dulu sebentar, kamu masih terlalu lelah.." ( datang tiba-tiba ).
' Orang ini seperti hantu saja. Dimana-mana selalu ada dan selalu mengingatkan aku.. Dia terlalu baik..'
Yuna terkejut melihat Jian yang mendadak memanggilnya dari luar. Dia akhirnya berbalik dan menganggukkan kepala.
" Yuna, Jian benar. Kamu tidak boleh kurang tidur, kamu juga harus memperhatikan kondisi kesehatan kamu.. Tidurlah !! Nanti ibu yang akan jaga disini.."
" Tidak ibu.. Ibu juga harus tidur, apa ibu tidak mau tidur denganku ?"
Almira tersenyum. Dia melihat Yuna lama yang konyol itu kembali lagi. Tawaran itu sungguh sukses membuat Almira merasa senang. Sudah terlalu lama juga rasanya tidak tidur dengan anak perempuan sendiri. Kali ini, apa salahnya ??
Cklek.
" Jian.."
" Yuna, ayo tidurlah dulu.. Kamu harus istirahat..."
" Umm.... Aku akan tidur dengan ibuku.." ( minta pendapat ).
" Ah ?"
" Iya, aku akan tidur dengan ibuku di sofa. Bolehkah aku memintamu untuk berjaga sampai pagi ? Ini sudah hampir jam tiga malam, jadi waktunya sangat tanggung. Bagaimana kalau kamu sampai pagi tidak tidur, baru setelah pagi, gantian kamu yang tidur.."
" Wanita menggemaskan ini.." ( mengusap kepala Yuna ), " aku pikir kita akan tidur bersama.." ( berbisik ).
" Ah ??" ( canggung ), " haha, mana mungkin, kita kan belum.."
Srett !!!
Yuna kembali ditarik oleh Jian dengan keras, lalu..
Cup !?!?
" Umh...."
Dia akhirnya berhasil memakan bibir yang manis itu. Rasanya sedih sekali saat harus melepas wanita itu untuk bersama ibunya.
Arkh !!? Kau ini !! Bagaimana kamu bisa seperti ini ?! Apa mungkin kamu sudah tidak waras ?? Bagaimana bisa merasa cemburu terhadap ibu kandung Yuna ?! Lagipula mereka tidak akan meninggalkan kamu selamanya bukan ??
" Arkhh...." ( mulai bisa bernafas ).
Jian melepas kecupan mautnya. Dipandangi dengan penuh kasih sayang kekasih cantiknya itu..
" Yuna..... Aku mencintai kamu..."
__ADS_1
Yuna tersenyum. Bahkan senyum kali ini terlihat begitu berbeda. Dia melihat ketulusan yang Jian berikan untuknya. Yuna membalas ucapan Jian itu dengan beralih menciumnya..
" Aku juga.."
Dua pasang mata itu saling bertatapan lama. Saling terpaut, memeluk dan melampiaskan kerinduan yang entah sampai kapan bisa terobati. Bahkan sepertinya rindu itu sudah terlalu dalam.
Almira terlihat mengintip perlakuan mereka di balik pintu. Arkh !! Yuna !!! Bisa-bisanya tidak menutup pintu tadi. Jadi ada nyamuk, kan ??
' Hihihi... Sepertinya mereka sudah akan punya anak.. Semoga saja mereka segera menikah..'
" Baiklah, Jian.... Aku harus kembali ke dalam untuk menemui ibuku.."
" Uhukk !! Uhukk !!" ( datang dari dalam ).
" Ibu ?! Ibu kenapa ?!"
" Ibu lupa Yuna, kalau ibu ini sudah batuk selama dua Minggu lebih, jadi jangan tidur dengan ibu, ya.. Nanti kamu bisa tertular.."
" Tapi ibu.."
" Menurutlah !! Ini demi kebaikan kamu.."
" Iya, ibu, tapi.."
Krebb !!!???
" Hah ?? Apa maksud ibu ??"
" Tidurlah diluar, di mobil atau dimana saja juga boleh, asal jangan dengan ibu.."
" Hhh. Ibu ini tega sekali.."
" Sebenarnya dia sangat baik.." ( berbisik ).
" Baik bagaimana ? Jelas-jelas anaknya disuruh tidur diluar, sementara dia akan tidur di dalam dengan Hani, apa itu adil bagiku ?? Lagipula sedari tadi, aku melihat kondisi ibu baik-baik saja, bagaimana bisa sekarang mendadak batuk seperti itu ??"
" Ayolah, Yuna... Itu hanya isyarat saja.. Bagaimana bisa kamu tidak tahu ??"
" Isyarat ? Isyarat apa ??"
Mulai mendekat dan mulai menggoda, " isyarat untuk kita....."
" Sssssttttt.. Jangan terlalu keras, kamu bisa membangunkan pasien lain disini.."
Yuna menutup mulutnya dengan kedua tangan..
" Berarti ini pertanda kalau bibi masih merestui aku untuk menjadi menantunya.."
" Sombong !! Siapa tahu dia punya maksud lain ??"
" Sepertinya hanya itu saja yang aku lihat.."
" Menurut aku tidak.. Sepertinya dia tidak mau aku tidur di sofa, dia pikir hal itu bisa membuat aku tidak nyaman.."
" Alasan !!"
Jian mengangkat tubuh Yuna menuju mobilnya..
" Heii !! Mau bawa kemana aku ??"
" Tempat bulan madu kita.."
Jian membawa Yuna ke dalam mobil, dan mengajak wanita itu ke suatu tempat. Dia melajukan mobilnya dan kemudian berhenti di sebuah villa di atas pegunungan.
" Jian, kenapa kamu bawa aku kesini ??"
" Bukankah aku sudah bilang akan membawa kamu ke tempat bulan madu kita.."
" Tapi, Jian.. Tadi itu bukan suatu kesengajaan. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan padaku kalau tidak mau melakukan itu.."
" Melakukan apa ??"
" Itu...."
" Turunlah dulu dari mobil, setelah itu kamu boleh bicara.."
Yuna menurut saja. Dia turun dari mobil dan berhenti di sampingnya.. Waktu sudah hampir subuh, bahkan suara gemericik air khas pedesaan juga sudah mulai terdengar jelas. Aroma ini... Aroma yang sangat menyejukkan.
" Jian, sebenarnya kita ada dimana ??"
__ADS_1
Jian mengajak Yuna untuk duduk di sebuah kursi. Dia mendudukkan kekasihnya bersebelahan dengan dirinya.
" Tunggulah sebentar.."
" Kamu bilang akan tidur, tapi malah mengajak aku ke tempat seperti ini.."
" Iya, tapi tunggu dulu sebentar !! Kamu harus melihatnya atau akan menyesal seumur hidup kamu karena telah melewatkan hal seindah ini.."
" Baiklah, aku akan menunggu saja disini.."
Akhirnya Yunaku menurut saja.
" Hemm... Tahu tidak, semenjak kejadian pernikahan beberapa bulan yang lalu, rasanya aku sudah tidak mengenal diriku lagi. Pada awalnya hanya sebuah pemikiran dangkal, namun aku tidak tahu kalau akhirnya aku juga harus kehilangan diriku sepenuhnya."
" Salah sendiri, kenapa mau menikah untuk menyelamatkan aku ??"
Plak !!!?
" Aduh !! Kenapa memukulku ? Apa salah Dan dosaku ??!" ( kesakitan ).
" Seharusnya kamu berterima kasih karena aku sudah menyelamatkan nyawamu.."
" Kenapa tidak mau menolak ancaman itu ??"
" Apa kamu gila ?? Bagaimana bisa aku membiarkan kamu mati seperti itu ? Lagipula kamu sudah pernah berjanji padaku kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan aku seumur hidup.."
" Jadi kamu beralasan ingin aku selamat karena berharap aku menepati janjiku ??"
" Tidak sepenuhnya begitu.. Aku juga tidak bisa melihat kamu terluka.."
" Bilang saja, kalau Yunaku tidak tega melihat kekasihnya disentuh orang lain.. Bukankah bagiku itu sebuah pertanda ??" mulai mendekat ), " Pertanda kalau kamu masih mencintaiku dengan tulus.."
Yuna menatap mata Jian dengan serius, " apa aku masih harus memberikan bukti lagi ??"
Jian tertawa kecil, " tanpa bukti, aku sudah tahu kalau kamu itu tidak pernah berhenti mencintai aku.."
Mendadak mereka saling bertatapan, saling memandang satu sama lain, dan menikmati jamuan panorama mengesankan di atas bukit. Dari sana mereka bahkan bisa melihat dengan jelas lampu-lampu jalanan yang berkelap-kelip laksana bintang di atas lautan. Indah sekali.
" Yuna..."
Yuna melihat lagi secara seksama wajah tirus dan bermata sipit itu tengah memandangnya.
" Aku sungguh jatuh cinta padamu.."
Mereka semakin dekat, tidak terasa bibir mereka saling beradu, dan saling menerima satu sama lain. Kemesraan di ruang terbuka namun tidak ada satu orang pun yang berada disana membuat Jian semakin kejam menguras tenaga Yuna..
" Arkh ... Jian.. Berhenti.."
Jian memandangi wajah yang semakin terlihat merah itu, " maafkan aku sayang.. Masih sakit ya.. ?"
Yuna berhenti, lalu memandangi Jian dengan tatapan yang sangat aneh. Dalam sekejap, dia berubah menjadi semakin liar. Wanita itu ingin sekali memimpin. Dia bahkan membuat Jian tidak berdaya dalam dekapannya.
Jian memandangi wanita itu tanpa berhenti. Dia melihat tubuh polos yang pada beberapa saat kemudian disinari lampu redup di ujung sana.
Jian menelan salivanya. Benar-benar permainan yang sangat memuaskan. Permainan yang bisa membuat dirinya bahkan menggelinjang beberapa kali hanya untuk melakukan pelepasan saja, dan teruslah seperti itu.
Suara ******* nafas yang tidak terkendali sama sekali, bercampur dengan suara siulan burung-burung yang terdengar syahdu, apalagi ditambah angin sepoi-sepoi yang berpadu dengan gemericik air sungai membuat suasana di pagi itu amatlah indah..
Sekali lagi beberapa bagian tubuh Yuna tersorot sebercik sinar lampu kembali, membuat Jian yang sedang terpesona dengan pergulatan panas itu kembali tersihir. Tidak pernah berhenti kedua tangannya dari lekuk-lekuk tubuh Yuna yang terlihat luwes dengan gerakannya bak penari India. Dan pada akhirnya, kedua orang itu berhasil mengakhiri permainan singkat yang sangat memuaskan..
Yuna ambruk di atas tubuh kekasihnya tanpa sehelai benangpun. Malam yang terasa panjang namun tidak dapat dia lupakan..
" Yuna.."
Jian berusaha membangunkan Yuna saat sebuah keajaiban yang ingin dia perlihatkan untuk Yuna mulai terlihat..
Yuna yang baru saja ingin terlelap dalam mimpi indah itu harus segera terbangun untuk melihat apa yang ingin ditunjukkan Jian untuknya..
" Ugh.. Kenapa memangnya ??" ( mengucek mata ).
" Lihatlah disana ??"
Yuna menyadari tubuh belakangnya yang teramat polos tanpa sehelai benangpun mulai merasa hangat terkena sinar mentari.. Dia memutuskan untuk menoleh..
" Ah ??"
Matanya terbelalak penuh kebahagiaan. Dia melihat di ufuk timur sang penguasa langit sedang asik menunjukkan wajah cantiknya di pagi hari. Langit yang sudah mulai menampakkan wajahnya karena sinar matahari, dan warna jingga yang selalu berhasil membuat mata siapapun terpukau.
Yuna berbalik. Kali ini dia memilih duduk membelakangi Jian tapi masih dalam pangkuannya. Tubuhnya yang terbuka tidak dia hiraukan, dibiarkan begitu saja olehnya dan dilupakan. Matanya sangat terbius melihat panorama pagi hari di atas bukit yang begitu menawan.
__ADS_1
Dua insan itu kembali berhadapan, lalu saling mengecup, melampiaskan rasa bahagia yang tidak ada bandingannya dengan apapun..