
Yuna memandangi wajah itu dengan mata berbinar. Dua pasang mata yang biru kecoklatan itu membuat hatinya tergerak. Setelah sekian lama dia memendam kerinduan ini, dan akhirnya harapan itu datang dihadapannya.
Senang sekali rasanya. Sungguh bahagia melihat kasih yang dia cintai setengah mati akhirnya mendatanginya dengan membawa segenggam harapan untuknya.
" Jian !!!"
Yuna berlari, mencoba menggapai tubuh Jian disana. Rindu sekali saat-saat seperti ini.
Jian menangkap tubuh wanita itu.. Direngkuhnya tubuh yang kurus itu dengan penuh kasih sayang dan kerinduan. Air mata pun tidak bisa lagi dia tahan. Rindu dihati mereka sudah teramat dalam. Ini adalah pertemuan yang mengesankan.
" Jian... Aku merindukan kamu..."
Jian memeluk erat tubuh Yuna yang terlihat menyedihkan. Sedih sekali merasakan hawa wanita ini..
" Maaf sudah membuatmu menghadapi masalah seperti ini sendirian.."
Yuna menangis sejadinya. Dia tidak peduli adanya Demy disana. Dia sudah tidak peduli kepada siapapun selain lelaki dalam dekapannya itu.
Sementara Demy hanya tersenyum saja. Senyum yang penuh makna dalam dirinya. Ia akhirnya sadar, cintanya tidak ada sebandingnya dengan Jian. Lelaki itu telah mengubah kehidupan Yuna, dan dia rasa, dia tidak ada artinya bagi Yuna selain seorang sahabat.
Jian melepas pelukan sang kekasih. Dia tahu dia tidak punya harga diri. Dia tidak mau keluar dari prinsipnya sedari dulu. Dia tidak ingin merebut wanita yang bukan miliknya. Dan sekarang dia tahu kalau Yuna sudah menjadi milik Demy secara sah. Itu artinya, seberapapun dia mencintai Yuna, dia sama sekali tidak punya hak atas wanita itu.
" Kenapa ?"
Dua mata itu menatapnya penuh tanda tanya. Membuat hati Jian merasa tidak terkendali.
" Kenapa kau melepas pelukanku Jian ?? Apa kau tidak merindukan aku ??"
Jian berbalik menatap Yuna dengan tajam. Rasanya sedih sekali saat mereka dipertemukan dalam kondisi seperti ini. Mengapa takdir begitu kejam pada cerita cinta mereka ?
" Aku tidak punya hak atas dirimu.."
Jian melepas dua tangan Yuna secara paksa. Menangislah Yuna sejadinya mendengar pernyataan dari Jian yang menyakitkan.
" Aku tidak akan memaksamu.. Merebut seseorang yang bukan milikku adalah kesalahan terbesar bagiku..."
" Jian...."
" Aku memberimu waktu untuk bicara dengan suamimu.." Jian menyembunyikan kesedihannya. Di paksalah dua kakinya melangkah meninggalkan Yuna dengan Demy. Maaf Yuna prinsip tetaplah prinsip. Dia tidak mau keluar dari prinsip itu..
" Jian.... !!! Jian... !!!!"
Yuna tersungkur di bawah rindangnya pohon. Dia tak kuasa menahan kesedihan dan kekecawaan dalam hatinya.
' Memang aku yang bersalah.. Aku yang sudah salah...'
" Pulanglah bersamaku.."
Yuna tidak bisa menolak. Setidaknya, dia punya pemikiran untuk menurut pada suaminya.
Mereka melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Demy membawa istrinya untuk pulang.
Vroooommmm..
Mobil melaju kencang dari sana.
Sepanjang perjalanan, sepasang suami istri itu hanya saling diam. Demy yang menahan diri dari rasa sakitnya, dan Yuna yang terus menangis meratapi nasibnya yang buruk.
Mobil sudah terparkir di halaman rumah. Yuna keluar dari mobil dan langsung menuju kamarnya. Dia menutup tirai jendela di kamarnya, dan beralih duduk di sofa. Dia mencoba menahan tangisannya sebisa mungkin.
Demy mendekati istrinya. Dia tahu keluarganya berhutang pada Yuna atas semua kejadian yang menimpanya. Demy merasa dirinya sudah tidak pantas lagi mempertahankan Yuna dalam pernikahan ini. Dia harus mengambil keputusan dengan cepat.
__ADS_1
' Tap ! Tap !'
Suara derap langkah kaki Demy membuat Yuna mendongak. Dia melihat wajah yang dia benci selama berbulan-bulan lamanya. Dan kini wajah itu tersenyum manis di depan matanya.
" Aku menceraikan kamu Yuna !"
Deg! Deg! Deg!
Jantungnya berdegup kencang mendengar keputusan Demy. Lelaki itu dengan mudahnya mengatakan cerai kepadanya.
" Demy...."
Demy menatap dua mata itu dengan perasaan yang sangat kacau.
" Kau berhak untuk bahagia.. Aku tidak akan lagi mengekangmu.. Keluargaku sudah banyak membuat kesalahan. Aku rasa, memutuskan hubungan kita adalah jalan terbaik.."
Yuna terdiam bingung. Dia tak mampu membalas perkataan Demy.
" Tapi Demy.."
" Apa kau masih ingin hidup dalam pernikahan ini ?" ( Tatapannya sangat serius ), " jangan memaksa.. Kau juga harus terbang bebas bukan ?"
Yuna terdiam meresapi setiap perkataan Demy. Apa lelaki ini sedang berusaha mengorbankan dirinya ?
" Tidak ada yang lebih membuatku bahagia selain melihatmu juga bahagia. Kejarlah cintamu !! Hiduplah bahagia dengan lelaki itu.. Aku yang sudah memisahkan kalian berdua begitu lama. Sekarang aku harus bertanggung jawab atas kesalahanku.."
" Demy, aku tidak bisa... Aku tidak ingin mempermainkan pernikahan.."
" Lalu apa kau tidak mempermainkan pernikahan kita selama ini ? Kau hidup bersamaku, tapi hatimu masih untuk Jian.."
Yuna terdiam membisu. Kali ini perkataan Demy ada benarnya juga..
Demy melepas kedua tangannya dari bahu Yuna. Dia melihat dua mata itu terus menyembunyikan kebahagiaan. Dia tahu Yuna hanya akan bertahan dengannya karena rasa iba. Dan dia tidak mau melalui pernikahan semacam itu..
Demy tersenyum songar. Meski begitu, Yuna masih melihat dengan jelas rasa sakit yang Demy sembunyikan darinya.
" Aku akan melayangkan surat cerai.. Kau tunggu saja, nikmati hidupmu yang baru.. Aku harus pergi, ada pekerjaan yang harus aku urus.."
Demy tersenyum lega. Kali ini wajahnya tidak dia buat-buat. Dia memang merasa bahagia saat Yuna menatapnya seperti itu.
" Demy.. Apa kau serius dengan ucapanmu ??"
" Hei.. kenapa kau masih saja bertanya. Aku senang akhirnya Jian bangun juga dari komanya. Aku akan memberinya pukulan suatu hari nanti kalau aku bisa menemuinya lagi.."
Ingin sekali Yuna memeluk lelaki itu untuk berterima kasih. Tapi rasa dihatinya semakin canggung.
" Kalau begitu, kemasi barang-barang kamu dan pergilah ! Aku juga harus mengurus pekerjaanku.. Bye..."
Demy melambaikan tangannya, dan kemudian berlalu pergi dari sana.
Namun dibalik senyum itu, sakitnya luar biasa.
' Cinta memang butuh pengorbanan bukan..'
Demy semakin jauh melangkah. Meninggalkan Yuna yang terdiam disana.
Entah kenapa perpisahan ini terasa menyesakkan dadanya. Tapi Demy sudah mengambil keputusan. Dia sudah memutuskan untuk bercerai. Yuna agak senang juga mendengarnya.
......
" Mr ?"
__ADS_1
" Aku tidak bisa memaksa Yuna.. Dia bukan milikku sekarang.. Aku ingin mereka menyelesaikan masalah mereka tanpa aku.."
" Anda sudah mengambil keputusan yang tepat."
Dua orang itu berbincang di dalam mobil. Mereka memang belum melaju dari sana. Entahlah. Jian merasa sangat berat meninggalkan Yuna.
' Tok! Tok! Tok!'
Seorang pria mengetuk kaca mobilnya. Jian menoleh. Dia melihat bawahannya memberi isyarat untuk keluar dari sana. Jian menurut saja.
Jian keluar dari mobilnya, dan melihat pria berkacamata hitam tengah bersandar di mobilnya.
" Kau ??"
Demy menoleh. Dia menatap Jian dengan tajam.
" Hai !!" ( Bangun dari sandaran dan tersenyum menyapa Jian ).
" Kenapa ?"
" Kita belum sempat menyapa tadi.. Aku juga senang akhirnya kau bangun juga.."
" Jangan pura-pura. Apa yang sedang kau pikirkan ?"
Demy menghembuskan nafasnya kasar. Dia mencoba menegarkan perasaannya.
" Aku sudah bercerai dengan Yuna.."
Jian membenarkan posisi dasinya, " apa ?"
" Kurang jelas ? Aku sudah menceraikan dia.. Sekarang jemputlah dia dirumahku. Dia sedang mengemasi barang-barangnya untuk pergi bersamamu.."
" Kau mengambil keputusan terlalu cepat.."
" Kau pikir aku harus bagaimana.."
Demy menatap sekeliling, " aku tahu dia sama sekali tidak merasa bahagia atas pernikahan kami.."
Jian hanya terdiam.
" Terlalu menyakitkan menikahi seorang wanita yang bahkan tidak pernah mencintaiku.." ( Kembali menatap Jian ), " kau beruntung bisa dicintai Yuna.. Kau sangat beruntung.." ( wajah sedih ).
" Demy.."
" Jangan pernah kecewakan aku.. Aku sudah berani melepas istriku agar dia bisa bahagia bersamamu. Jadi jangan pernah membuatku kecewa."
Jian menatap dua mata yang sangat menyedihkan itu.
" Kau sudah berhutang Budi padaku.. Kau harus membayarnya.."
' Puk! Puk!' ( menepuk pundak Jian ).
Jian masih saja terdiam disana. Lelaki dihadapannya sangatlah aneh.
" Aku titip Yuna untukmu.. Kalau kau sampai membuatnya sedih, kau harus menanggung pukulan dariku kelak.."
Demy meninggalkan Jian disana. Membuat seribu pertanyaan menari-nari dalam otak Jian. Kenapa dengan laki-laki itu ? Apa dia sedang bergurau, atau dia memang sudah secepat itu memutuskan persoalan ?
Dia masih saja diam. Apa dia harus merasa senang atas keputusan mereka berdua, atau sebaliknya ?
Rasanya agak sesak juga mendengar berita yang datang terlalu cepat ini..
__ADS_1