Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Apa yang Terjadi


__ADS_3

Malam itu Yuna memilih untuk mengunjungi Demy ke rumahnya. Ia tahu ucapannya waktu itu terlalu menyakitkan. Ia berpikir mungkin permintaan maaf akan membuat pria itu tidak berpikiran buruk lagi tentang dirinya. Dia bahkan meninggalkan Jian di Rumah Sakit saat sudah berpamitan padanya sore tadi.


'Tok!! Tok!! Tok!!'


Pintu diketuk. Suara seseorang membuka pintu terdengar dari dalam beberapa detik kemudian. Rupanya Bibi Daniah. Ibu kandung Demy. Wajahnya terlihat gusar. Sepertinya dia tengah mencemaskan sesuatu. Dan benar saja. Melihat kehadiran Yuna yang tepat pada waktunya membuat wanita itu menariknya dan menangis dalam pelukan Yuna. Sebenarnya Yuna bingung mengapa ibunya Demy sebegitu risau. Apa mungkin telah terjadi sesuatu pada keluarga mereka yang Yuna tidak sampai mengetahuinya?


Daniah mengajak Yuna duduk di sofa, dan memberikan Yuna segelas air putih. Yuna meminumnya.


"Syukurlah kau sudah datang."


"Memangnya ada apa, Bibi?"


"Demy sudah dua hari tidak mau keluar dari kamarnya. Bibi tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu. Terakhir kali dia datang dengan wajah yang menyedihkan. Kupikir mungkin dia sedang terkena masalah. Tapi dia tidak mau mengatakan apapun pada, Bibi. Bibi sangat cemas, Yuna. Bisakah kau membujuknya untuk keluar? Dia bahkan tidak makan apapun sejak kemarin."


"Apa?"


Yuna berpikir. Mungkinkah ini karena perkataannya kemarin? Oh tidak! Bagaimana Demy bisa berpikir sedangkal itu? Yuna mengusap jidatnya berkali-kali. Tapi ia sadar pikiran cemasnya tidak akan berarti apapun. Ia belajar dari Jian. Dia selalu menghadapi situasi yang sulit dengan tenang. Aku rasa hal itu bisa dia coba.


"Bibi, bisakah kau menunjukkan kamarnya padaku?"


Daniah pun mengangguk. Segera dia gandeng tangan sahabat anaknya itu menuju kamar yang dia maksud usai mereka meminum teh bersama di ruang tengah. Maklum saja. Tidak ada satu orang pun yang bisa meluluhkan hati pria itu. Sifatnya yang ramah nyatanya bukan satu-satunya watak yang dia miliki. Hanya Yuna harapan satu-satunya untuk melunakkan hati Demy.


Ayah Demy pergi meninggalkannya beberapa bulan yang lalu untuk bisnisnya di luar negeri. Sebenarnya mereka keluarga yang harmonis. Demy adalah anak tunggal dan sudah pasti dialah yang akan menjadi pewaris harta kekayaan keluarganya. Tapi sekali lagi Daniah menegaskan. Pria itu masih belum bisa meneruskan bisnis keluarganya. Bukan tanpa alasan. Dia masih bersikap seperti anak-anak. Dia bahkan tidak enggan untuk bersikap manja pada ibunya saat menginginkan sesuatu.


Mereka pun berhenti di depan pintu. Dari dalam tidak terdengar apapun. Yuna mencoba mendekati gagang pintu.


'Cklek.'


Lirih saja dia menekannya.


Tapi rupanya perkataan Daniah benar adanya. Pintu itu terkunci. Bahkan jendela kamar yang biasanya terbuka pun ditutup begitu rapat dengan selembar tirai. Aneh sekali.


Yuna pun memutuskan untuk mengetuk pintu.


'Tok!! Tok!! Tok!!'


"Demy? Kau di dalam?"


Tidak ada sahutan sedikit pun. Sejujurnya Yuna pun mulai cemas. Tapi ia memilih untuk diam dan menyembunyikannya dari Daniah. Ia takut hal itu akan membuat wanita paruh baya itu bertambah cemas.

__ADS_1


"Demy? Aku Yuna! Aku ingin bertemu denganmu! Apa aku boleh masuk?"


Tak lama setelah itu, pintu terdengar terbuka dari kancingnya. Yuna menatap Daniah yakin. Kali ini ia akan masuk ke dalam ruangan itu.


Pintu dia buka. Yuna hanya masuk sendiri ke dalam sana. Daniah pun tahu jika dia masuk hanya akan mengganggunya saja. Ia berpikir jernih. Mungkin saja kehadiran Yuna dapat menyentuh hati putranya.


Dia masuk ke dalam sana. Melihat sekeliling ruangan. Hampir dia menginjak pecahan gelas yang berserakan di sana. Dia terkejut bukan main. Barang-barang mewah milik Demy sudah pecah berhamburan di atas lantai. Apa dia sudah segila itu?


"Demy?"


Dia melihat seorang lelaki yang tengah duduk di atas kasurnya. Siapa lagi kalau bukan Demy. Laki-laki itu terlihat kacau. Bajunya yang terlihat kusut dan rambut yang acak-acakan. Bergegas saja Yuna menghampiri laki-laki itu. Dia mencoba duduk di sampingnya dengan tenang.


"Apa keadaanmu baik-baik saja?"


"Tidak!"


Yuna beralih pada sebuah foto di lantai yang mungkin baru saja Demy pecahkan. Ia mengambil foto itu dan melihatnya. Rupanya itu foto mereka saat masih dalam masa SMA. Ia meletakkan foto itu dalam pangkuannya. Dia sudah tahu masalah pria ini. Itu pasti tentangnya.


"Demy, keluarlah! Jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini?"


"Kenapa tidak? Apa aku harus hidup? Jika tak ada satu orangpun yang bisa mengerti tentang aku, apa gunanya aku hidup."


"Aku hanya ingin tahu apa kau masih peduli denganku?"


"Kenapa kau berpikir begitu? Kau memang keras kepala. Tapi apa itu akan mengurangi rasa peduliku? Demy, berpikirlah! Kau tidak boleh seperti ini seumur hidupmu. Kau tidak akan merugikan orang lain. Tapi kau sendiri yang akan merasa rugi."


"Aku tidak peduli. Biarpun aku harus mati sekalipun."


"Terserah! Jika kau masih berpikir seperti itu. Aku tidak akan pernah melarangmu lagi. Kau tidak akan bisa memaksaku meski kau sudah mati. Dasar pria gila!"


Yuna yang merasa kesal itupun hendak pergi. Ia beranjak dari duduknya. Namun tangannya ditarik saja oleh Demy, Yuna pun jatuh dalam pangkuannya. Lelaki itu memandangnya penuh kasih sayang.


"Kau yang sudah membuat aku gila. Kau yang harus bertanggung jawab."


Yuna melongo. Ia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran laki-laki tampan itu.


"Lepaskan aku!!"


"Tidak!"

__ADS_1


Yuna memberontak. Tapi tak ada hasil apapun. Pria itu malah mendekapnya begitu erat.


"Menikahlah denganku!"


Yuna memaksa keluar dari jeratan Demy.


"Apa kau tidak pernah berpikir tentang cincin di jari manisku ini?"


Nadanya naik begitu tinggi.


"Kau pikir aku akan serendah itu menerima cincin dari dua pria yang berbeda? Aku masih punya hati, Demy! Aku hanya punya satu cinta dalam hidupku. Yaitu Jian!!"


"Jian! Jian!! Jian!!! Terus saja kau sebut nama itu!!! Kau tidak pernah memikirkan aku, Yuna! Apa kau tahu aku juga punya perasaan cinta yang begitu dalam untuk kamu. Pernahkah kamu memikirkan hal itu?"


Yuna terdiam. Air mata mulai menetes di pipinya. Sakit rasanya terjebak cinta antara dua pria.


"Aku sudah bosan, Yuna! Aku lelah menanti perpisahanmu dengan Jian! Aku muak setiap kali mendengar nama itu keluar dari mulut kamu!! Aku sakit saat kau meluapkan semua isi hatimu tentang Jian kepadaku!! Apa kau pernah mengerti itu?"


"Kamu yang tidak pernah berubah!! Kau selalu memaksakan kehendakmu sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain!! Aku selalu mengalah terhadap dirimu. Tapi kau yang seenaknya memperlakukan aku."


Daniah yang mendengarnya dari luar sana pun hanya terlihat menangis. Dia menyadari kesalahannya yang telah membuat Demy bersikap keras seperti ini.


"Kau memang tidak pernah berubah!! Masih dengan tingkah yang lama. Egoiss."


Demy tertunduk layu. Matanya merah karena tangisannya yang tak kunjung berhenti dari hari lalu. Tangannya meraih tubuh Yuna yang berdiri di depannya, lalu memeluknya. Yuna hanya diam tak berkutik.


"Maafkan aku, Yuna!! Maafkan aku!!"


Yuna menepuk dua kali di pundak Demy. Dia melepas pelukan laki-laki itu dan beralih duduk di sampingnya. Dua tangannya dia genggam dan ia berusaha menenangkan pria itu dengan caranya.


"Jujur saja. Aku juga merasa muak dengan tingkah lakumu yang seperti ini. Aku sudah lelah memberimu peringatan untuk berhenti bersikap aneh. Tapi aku sudah tidak mungkin lagi bisa mengatakannya. Kau terlalu dangkal untuk mengerti itu."


"Maafkan aku! Aku yang sudah salah.."


"Aku sudah memaafkanmu!"


Demy menatap matanya. Tubuh Yuna yang mungil itu direngkuhnya.


'Andai saja hatimu itu sudah menjadi milikku, Yuna. Aku pasti akan berusaha sekuat tenagaku untuk menjagamu seumur hidup. Tapi apa dayaku sungguh tak sanggup. Nyatanya Jian lebih dulu mendapatkan apa yang sudah aku perjuangkan selama dua belas tahun ini.'

__ADS_1


Dua sahabat itu larut dalam kesedihan. Rasa penat Yuna yang menjalani hari-hari yang begitu melelahkan membuat matanya terasa berat. Mereka begitu terluka karena alasan masing-masing. Demy telah tertidur dalam pelukan Yuna. Sementara Yuna yang berusaha terdiam itupun merasakan tubuhnya yang menjadi lebih berat. Dia tidak menyangka matanya akan terlelap seperti itu dengan mudahnya. Dan dari situlah awal mula bencana besar terjadi.


__ADS_2