
Yuna sedang tertidur. Rasa cemas dan khawatir beradu satu melihat istrinya terbaring lemah di Rumah Sakit. Demy selalu berada di samping Yuna sejak dua hari lalu. Dia terlihat sangat menyayangi istrinya.
Itulah cinta. Meski kau diacuhkan bahkan sama sekali tidak dianggap, tapi kau tak pernah bisa melepas cintamu. Kau selalu mencintai wanita yang tak pernah mencintaimu. Itu sakit. Mengapa harus dipertahankan ? Apa kau ini egois atau kau hanya sedang berharap dia akan mencintaimu suatu hari nanti ? Sedangkan laki-laki yang dia cintai sudah pasti akan memenangkan pertarungan ini. Kau tahu bahayanya jika sampai Jian bangun dan mengetahui faktanya maka kau akan habis. Dan apakah kau mempertimbangkannya ?
'Aku akan berusaha mempertahankan kamu meski aku harus menghadapi Jian sekalipun..'
Dia memang sudah menang. Seharusnya dia tidak usah khawatir. Pernikahan ini bukanlah pura-pura saja. Mereka sudah sah dalam hukum dan agama. Apalagi yang perlu dikhawatirkan ? Walaupun selama ini dia belum mendapat hak apapun sebagai seorang suami, hal itu sama sekali tidak masalah. Demy akan selalu setia menunggu wanitanya sadar dan melupakan masa lalunya. Itu pasti akan mudah.
Jian.. Bagi Demy lelaki itu sudah mati semenjak dia berhasil memiliki Yuna. Sekarang dia sudah bebas untuk hal apapun. Tidak perlu merisaukan seorang penghalang yang belum pasti suatu hari nanti akan bangun atau hanya akan pergi meninggalkan namanya saja. Seharusnya begitu.
"Demy ?"
Demy yang sedang melamun terkejut mendengar panggilan dari istrinya. Apa dia sudah bangun sedari tadi ?
"Iya, sayang !!" (Tidak sadar dengan ucapannya).
Yuna terkejut. Dia menatap mata Demy membulat membuat Demy saat itu juga merasa sadar dia sudah salah berucap.
"Ow.. Maaf, Yuna !! Itu hanya reflect saja.. Aku tidak punya maksud lain.."
"Syukurlah jika begitu.."
Kenapa memangnya jika memanggilmu dengan sebutan sayang ? Bukankah Demy sudah sah menjadi suamimu ? Iya. Suami yang tidak pernah Yuna cintai.
"Aku hanya tidak terlalu memperhatikan ucapanku saja.."
"Aku mengerti.. Asal kau tahu saja.. Aku hanya memperlakukan dirimu tidak lebih dari sekedar teman.."
"Aku tahu itu.. Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu jatuh cinta padaku ?"
"Kau tak perlu melakukan apapun.. Kita menikah hanya karena situasi yang rumit.. Aku hanya takut akan mengecewakan orang yang paling aku cintai.."
Demy menunduk. Sekuat apapun usahanya merebut cinta Yuna, hal itu sama sekali tidak berarti apapun. Dia bukan hanya tidak terlihat. Dia bagaikan sampah yang posisinya hanya menjadi pengganggu antara hubungan Yuna dengan Jian. Akhirnya dia sadar akan itu.
"Apa aku tidak artinya lagi bagimu,Yuna ?"
__ADS_1
"Aku sudah katakan itu sedari dulu. Aku hanya melihatmu sebagai seorang sahabat, tidak akan lebih dari itu.."
Hancur sudah harapan Demy saat itu. Ia merasa perjuangan menggapai cinta Yuna selama ini hanya sia-sia saja. Dia tak pernah punya tempat yang istimewa di hati Yuna selain sahabat.
Diam-diam ia menangis. Tertunduk dan menitihkan air matanya. Selama ini dia hanya menangis karena alasan Yuna. Wanita itu sudah membuat hidupnya menjadi kacau.
"Aku tak pernah berharap lebih untuk hubungan kita.." ( Menyadari tangisan Demy ).
Yuna menoleh. Ditatapnya Demy yang sedang tertunduk sedih di sampingnya. Dia bangun dan melepas pegangan Demy dari tangannya.
"Kau adalah sahabat terbaikku.. Bagaimana bisa aku akan mencintaimu ? Sedangkan aku selalu merasa takut akan kehilangan sosok yang selalu mendukungku setiap saat.." ( Berhenti ), "kau tak akan pernah menjadi orang yang aku cintai meski kita hidup bersama dalam seribu tahun.. Tapi andai kau tahu.. Kaulah orang yang paling berharga dalam hidupku.. Mencintaimu itu artinya aku harus siap kehilangan sahabat terbaikku.. Dan aku takut hal itu akan terjadi.."
Yuna mendongakkan wajah Demy yang sedari tadi tertunduk saja.
"Aku sudah pernah mengatakan padamu untuk berubah bukan ? Mengapa kau masih saja menangis layaknya anak-anak ? Dasar anak kecil !!"
Mengelus kepala sang sahabat.. Manis sekali..
"Aku akan sangat berterima kasih jika kamu bisa menerimaku menjadi suamimu.. Tapi jika memang hatimu bukan untukku, aku akan berusaha menerimanya. Aku akan selalu menunggumu sampai bila nanti kau berubah pikiran, aku akan selalu ada disini untuk menantimu." ( Menggenggam tangan Yuna ). "Sejujurnya bukan pernikahan seperti ini yang aku mau.. Aku ingin menikah denganmu saat kau juga mencintaiku kelak. Tapi aku tahu hal itu akan sulit aku gapai. Aku harap kau bisa selalu bersamaku meski mungkin saat itu kau sudah bukan lagi milikku.."
Semoga saja Demy mengerti. Ada rasa yang tidak bisa dipaksakan dalam dirinya. Yaitu cinta dan kesetiaan. Walau mungkin saja Jian takkan pernah ada lagi dalam hidupnya, ia berjanji tidak akan ada lagi cinta selain Jian. Selamanya tidak pernah.
Demy.. Kau tak pernah salah mengharapkan cinta dari istrimu. Dia memang berhak untukmu, untuk kau miliki seutuhnya. Tapi sekali lagi. Kau tak bisa merubah hati setiap manusia. Kau mungkin ditakdirkan untuk memiliki Yuna seumur hidupmu.. Tapi kau tidak akan bisa memiliki hati Yuna meski kau mengejarnya selama yang kau bisa.. Kau harus mengerti.
Cinta bukanlah pemaksaan. Ini bukan tentang hadir di awal atau datang terlambat. Kau bisa saja lebih dulu mencintai Yuna. Tapi nyatanya cintamu tak berbalas apapun.. Dia masih saja memandang Jian.. Lelaki yang hadir dan berhasil mencuri hati Yuna meski hanya beberapa bulan saja.. Asal kau tahu saja.. Jian sudah menang soal perasaan, bahkan beberapa langkah didepanmu.
........
"Jian.. Media di luar sana belum mengetahui tentang keadaanmu yang semakin membaik.. Apa kau tidak pernah berpikir untuk membuka kebenaran tentang kesadaran mu ?"
Azof memulai pembicaraan setelah mereka terduduk di ruang kerjanya. Jian yang masih mengenakan baju pasien itu terlihat sedang asik menggoyangkan kursi. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya terlihat begitu serius.
"Apa pentingnya mengungkap kesehatanku pada media ? Aku sudah memikirkannya. Aku akan keluar dari Rumah Sakit ini secara diam-diam."
"Apa yang sedang kau rencanakan ?"
__ADS_1
"Coba saja kau pikir !! Jika mereka tahu aku sudah sadar, tentu saja pelaku utamanya akan merasa terancam dan dia bisa membuat Yuna dalam bahaya."
Azof mengangguk saja.
"Aku hanya akan membuat skenario seakan-akan aku masih koma dan itu akan sangat lama dengan perkiraan mu. Maka aku bisa menyelamatkan Yuna dari belakang."
"Kau benar ! Kita masih belum tahu seperti apa musuh utama kita ini.. Aku hanya berharap kau bisa menang dan mengambil Yuna dari sana."
"Apa kau tidak merasa curiga dengan Demy itu sendiri ?"
"Untuk hal itu aku sama sekali tidak tahu apapun. Aku hanya melihat Demy yang sangat mendukung Yuna saat itu. Dia bahkan berkata pada media kalau mereka menikah karena saling mencintai.."
"Apa ?"
"Tentu saja hal itu tidak benar ! Kau tidak pernah tahu harus bagaimana mereka menyembunyikan kebenaran untuk menyelamatkanmu saat itu."
Jian berpaling muka. Ditatapnya tiga wajah dalam dua foto itu. Dia menemukan hal ganjil disana.
"Apa kau kenal wanita yang satunya lagi ? Rasanya kau belum pernah mengatakan apapun tentang wanita ini.."
"Jujur saja ! Aku belum bisa menemukan identitas yang cocok dengan wanita ini."
Jian langsung mengambil ponselnya. Dia terlihat mencoba menghubungi bawahannya.
"Cari tahu siapa wanita satunya lagi dalam rekaman cctv itu !"
Setelah itu dia mematikan sambungannya.
"Apa penyakit Leukimia ditubuhku benar-benar sudah sembuh ?"
"Kau benar. Kau sudah sembuh dan berhasil melaluinya."
Jian mengangguk. Rasanya agak lega juga mendengar pernyataan dari Azof. Dia sudah bisa hidup bebas sekarang. Dan kali ini dia akan menggunakan kebebasannya untuk menyelamatkan Yuna.
'Yuna.. Tunggu kedatanganku ! Aku akan membebaskan kamu dari masalah ini. Semoga saja kau masih bertahan untukku..'
__ADS_1