
" Bagaimana penerbangan kita sore ini ?? Apa kamu sudah menyiapkan semuanya ??"
" Tenang saja, Yunaku sayang.. Aku sudah menyiapkan semuanya lebih awal. Kalau untuk membawa pulang calon istriku, aku tidak boleh bermain-main.."
Mereka berbincang setelah mobil berjalan meninggalkan tempat perbelanjaan tadi.
" Apa kamu sudah merasa lebih baik ??"
" Aku bahkan tidak bisa menghitung berapa kali kamu menanyakan hal itu padaku.. Apa aku yang belum baik, atau memang kamu sendiri yang tidak bisa berhenti cemas ??"
" Yunaku sayang, pantas saja jika aku merasa cemas. Kota ini bahkan seribu kali lebih berbahaya dari yang aku kira.."
" Begitu, ya, menurut kamu.. Kalau aku, sepertinya tidak merasa begitu, seberapa besarpun usaha mereka untuk menghancurkan aku, selama aku bisa berdiri dengan tegak, maka badai pun tidak akan bisa menggoyahkan aku.."
" Termasuk cintamu padaku, ya.. Tidak akan bisa berubah walaupun kamu sudah pernah menikah.." ( Besar kepala ).
" Aku juga tidak tahu, bagaimana aku bisa menikahi pria seperti ini nanti ?? Sepertinya aku harus siap menghadapi kegilaan yang lebih dari pada saat ini nantinya.."
" Pria tampan ini memang sudah semakin gila. Apalagi setelah tahu aku kalah langkah dari mantan suami kamu itu, rasanya aku ingin sekali membunuh diriku dengan pisau. Aku tidak bisa membayangkan saat harus hidup tanpa kamu.."
" Kata-kata yang sudah terbilang norak.. Kamu ternyata lebih bucin dari yang aku kira. Sepertinya Jian yang angkuh dan arogan seperti dulu sudah musnah, ya.. Mungkin saja ini efek koma beberapa waktu lalu.."
" Ternyata setelah aku terbangun dari koma, aku juga melihat Yuna yang berbeda dari yang dulu. Sekarang lebih terlihat acuh sama seperti aku saat itu, dan kamu juga terlihat lebih dewasa. Aku sangat senang atas perubahan ini. Seharusnya kamu juga senang saat aku tidak lagi sombong dan arogan.."
" ...... "
" Atau jangan-jangan, kamu sudah terlalu mencintai Jian yang arogan itu, ya.. Sepertinya, aku harus mengingatkan kembali sepotong kenangan pada masa-masa itu.."
" Kenangan apa ??"
" Apa Yunaku lupa, kalau kamu sendiri yang selalu menyebut aku dengan panggilan si angkuh, karena memang sifatku yang dingin dan arogan.. Tapi, setelah Jian datang dengan sifat ramahnya, sepertinya Yunaku menjadi lebih acuh dan tidak seramah dulu.. Apa Yunaku tidak suka dengan perubahan Jian ini ??"
" Ah ?? Sebenarnya, kau memang selalu membuat aku senang bagaimanapun keadaannya.. Tapi, melihat sikap kamu yang berubah dengan secepat itu membuat aku merasa sedikit aneh. Sepertinya kamu juga perlu belajar banyak mencari kata-kata manis itu, bukan.."
" Haha... Yunaku memang paling tahu saja, aku memang banyak belajar kata-kata romantis sebelum bertemu denganmu setelah koma.."
" Sudah aku duga.."
" Apa itu membuat Yunaku tidak nyaman ??"
" Tidak juga, hanya saja janganlah terlalu berlebihan.."
" Iya, Yunaku sayang.."
.......
Sore harinya..
Pukul 17.05.
Jian sedang mencoba menghubungi bawahannya di kota M. Dia ingin memberitahu mereka kalau hari ini dia akan pulang. Dia minta penjemputan lebih awal. Jian tahu tidak bisa membiarkan kasihnya menunggu lama di bandara nanti setelah mereka kembali..
" Apa harus sampai seperti itu ??" ( Sambil membantu Kalina membereskan pakaian ).
" Tuan ini sangat berlebihan.. Aku sangat iri melihat kalian berdua.."
__ADS_1
" Hhh.. Tadinya aku ingin memperkenalkan kamu dengan dokter Alta, tapi aku juga khawatir dia akan menolak kamu.."
" Hhh. Nona ini, tega sekali mengejek aku.."
" Baiklah, aku sudah selesai.."
" Tapi aku belum.. Koper Tuan Jian seperti gudang penyimpanan barang. Apa dia selalu seperti ini saat berpergian??"
" Aku juga tidak menyangka kalau laki-laki akan lebih menyusahkan daripada perempuan.."
Dua perempuan itu terlihat cekikikan. Sepertinya mereka tidak menganggap adanya Jian disana.
" Tertawalah sepuas hatimu, kalau sudah puas, maka tinggalkan tempat ini dan carilah majikan yang lain.."
" Kami hanya bercanda saja, iya kan, Nona ??"
" I-iya..." ( tersenyum ).
" Lagipula yang punya hak untuk memecatku bukanlah Tuan Jian, tapi nona sendiri.."
" Hhh. Aku baru pernah melihat pelayan seperti ini.."
Jian pergi meninggalkan mereka berdua.
" Jian ??"
Jian berhenti saat suara lembut itu terdengar memanggilnya. Jian menoleh dan tersenyum..
" Kenapa sayangku ?"
" Kamu ingin aku memilihkan pakaian untukmu ??"
" Apa kamu tidak mau ??"
" Baiklah, aku akan memilihkan bajuku yang bagus untukmu, kita akan terbang dua jam lagi. Sepertinya aku akan membiarkan pelayan kamu ini membereskan semua barang-barang dengan waktu yang lumayan lama.."
" Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu merasa gusar.."
" Tapi ingatlah, Kalina, kamu baru saja sembuh dari luka tusuk itu, jadi kamu juga harus beristirahat.."
" Akan aku turuti perkataan Nona. Nona memang sangat baik.."
Yuna bangun dari duduknya, dan pergi untuk mengganti pakaian. Jian membuntutinya dari belakang. Sementara Kalina hanya melongo saja melihat mereka berdua.
" Apa yang akan mereka lakukan ??"
Yuna masuk ke dalam kamar dan membiarkan Jian mengikutinya dari belakang.
Krebb ?!
Pintu ditutup dan dikunci dengan sangat rapat.
Disana hanya tinggal mereka berdua saja. Sepertinya sekarang waktu berdua mereka masih banyak. Apa yang akan mereka lakukan selanjutnya ??
Yuna berbalik menatap dua mata sejuk milik Jian. Dia ingin sekali membuktikan keraguan di dalam hatinya. Maaf Jian, sepertinya Yuna masih meragukan kamu.
__ADS_1
" Kenapa kamu tidak kesini ?"
Jian memasang wajah curiga.
" Kemarilah.."
Jian tidak mengatakan apapun. Dia hanya menuruti permintaan Yuna untuk mendekat.
" Sepertinya masih kurang dekat ." ( Raut muka aneh ).
" Apa yang akan kamu lakukan ??"
" Bukankah aku sudah bilang, kalau aku tidak bisa memilih bajumu untuk aku kenakan."
" Tapi.."
" Tapi apa ?? Cepatlah bantu aku !! Aku juga harus bersiap lebih awal bukan ??"
" Baiklah."
Jian beralih dari sana dan membuka pintu lemari. Untung saja pakaian Jian belum semuanya dikemas. Jadi mereka masih bisa bebas untuk memilih..
" Silahkan pilih sendiri.."
Yuna melihat-lihat, namun belum juga mendapat pakaian yang pas ditubuh mungilnya. Maklum saja, postur tubuh Jian dan Yuna memang terpaut sangat jauh, Jian yang terkenal tegap dan tinggi, dan Yuna yang agak-agak pendek !! Hihihi...
Yuna melirik di bagian yang lain. Dia melihat sebuah kemeja putih bersih yang digantung disisi kirinya. Dia merasa pakaian itu akan terlihat cocok saat dia kenakan nanti, setidaknya bisa mengganti pakaian sebelum dia membuang semua kenangan pahitnya disini. Bahkan hal seperti itupun dia pikirkan dengan matang. Sepertinya dia memang ingin bebas dari tempat ini seutuhnya.
" Aku akan pakai yang ini saja.." ( Mengambil kemeja ).
" Baguslah, kamu sudah memilihnya, sekarang cepat ganti bajumu, aku akan menunggu diluar.."
" Tunggu !!"
Jian berhenti. Apa belum selesai ??
' Aku ingin melihat seperti apa reaksinya nanti saat aku menggodanya dengan baju ini."
" Kenapa ??"
" Aduh !!" ( Berpura-pura tumbang ).
" Yuna ??" ( Menangkap tubuh Yuna ).
" Kepalaku sangat pusing. Sepertinya aku sangat butuh istirahat.."
" Baiklah, kita istirahat dulu."
" Tapi, aku belum mengganti pakaianku, bagaimana jika nanti aku pergi ke bandara masih dalam keadaan pusing dan belum mengganti pakaianku ?? Sebaiknya aku ganti dulu."
" Kalau begitu aku saja yang membantumu.."
' Masuk perangkap !!'
Yuna sudah menyiapkan sebuah jebakan untuk Jian. Sebenarnya dia hanya ingin mengetahui seberapa besar kemampuan Jian dalam menahan hasrat. Apa itu terlalu jahat ??
__ADS_1