Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Menguak Rahasia


__ADS_3

Waktu semakin berlalu. Terhitung sudah lebih dari enam bulan semenjak pernikahan Yuna. Semuanya masih dalam keadaan yang sama. Yuna yang masih setia dengan cintanya, dan Azof yang belum bisa juga mengungkap kejahatan aktris cantik yang menyebarkan gosip tentang adiknya.


Semuanya memang berjalan terlalu rumit. Sama sekali tidak ada kemudahan apalagi jalan keluar. Rasanya permasalahan ini menjadi semakin pelik. Mungkin sudah tidak ada lagi harapan bagi mereka untuk membebaskan Yuna dari jerat permasalahan.


Azof menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya. Dia melihat hasil pemeriksaan Jian yang masih sama. Mengecewakan. Padahal Leukimia yang menyerang tubuhnya sudah tidak ada. Tapi mengapa pria itu belum juga sadar ? Memang hal ini rasanya aneh. Meskipun wajar saja jika seseorang harus melalui masa kritisnya usai operasi, tapi setidaknya hanya dalam waktu yang singkat. Tidak terlalu lama juga.


Sebenarnya Jian, kaulah yang ditunggu semua orang untuk menyelamatkan Yuna. Hanya kau harapan satu-satunya untuk menyelesaikan permasalahan ini.


Azof mengusap dahinya. Semakin dia berpikir, rasanya kepalanya semakin sakit. Hani mendatanginya. Dia sangat mencemaskan keadaan Azof yang tak kunjung menemukan ujung permasalahan. Jujur saja, wanita itu masih setia dalam kerinduannya yang membuat dia lupa bahwa mereka sudah menjadi saudara tiri.


"Azof.."


"Hani ?"


Hani langsung saja duduk tanpa permisi.


"Apa kau baik-baik saja ? Aku lihat kau semakin buruk semenjak tahu permasalahan itu.."


"Aku hanya merasa tidak berguna."


Dia membenarkan posisi duduknya.


"Aku sangat menyesal karena saat itu aku terlalu larut dalam kesedihan. Hingga aku tidak menyadari betapa adikku membutuhkanku saat itu."


Hani semakin penasaran dengan maksud dari kesedihan yang Azof rasakan. Dia mulai menebak-nebak sebenarnya apa masalah laki-laki itu hingga dia enggan bercerita pada Hani. Tapi wanita itu mencoba menyembunyikannya dari Azof.


"Kau tak perlu menyesal. Kau hanya harus berjuang menyembuhkan Jian dan membuka rahasia itu."


"Aku rasa belum waktunya aku membuka hal itu."


"Mengapa tidak ? Kita sudah menemukan cukup banyak bukti yang mengarah pada mereka bertiga."


"Tapi aku belum terlalu yakin soal gosip itu. Aku masih ragu. Aku tidak tahu siapa yang sudah memotret Yuna dalam keadaan seperti itu. Itulah yang membuatku merasa bingung."


Mereka berdua diam. Hani mencoba berpikir keras. Dan tidak begitu lama kemudian, dia berhasil menemukan sebuah ide.


"Aku tahu Azof. Mengapa kita tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya ?"


"Apa yang kau katakan ?"


"Kenapa kita tidak mencoba mencari tahu di rumah Demy secara langsung ?"


"Apa maksud kamu ?"


"Kita hanya perlu membuktikan siapa laki-laki itu bukan ? Jika memang dia yang memotret Yuna, dia harus berada di Rumah itu. Kau paham maksudku, bukan ?"


"Kau benar. Kita hanya harus membuktikannya langsung. Mengapa aku tidak pernah berpikir sejauh itu."


Mereka terlihat sepakat mengambil keputusan. Sepertinya itu ide yang bagus.


Skip..


Rumah Demy..


'Tok! Tok! Tok!'


Azof dengan percaya dirinya mengetuk pintu rumah Demy. Dia didampingi Hani saat itu. Tentu saja untuk menjadi saksi. Tak berapa lama setelah itu, seorang wanita datang. Daniah.

__ADS_1


"Loh ! Rupanya ada tamu istimewa disini.."


"Hallo, Bibi. Apa kabarmu?" ( Azof tersenyum ramah ).


"Bibi baik, nak. Tumben sekali kamu datang kemari. Aku pikir kau sedang dalam masalah."


"Sebenarnya memang karena itulah kami datang."


"Bibi, kami membawakan kue untukmu."


Menyodorkan bingkisan kue dengan tersenyum ramah.


"Wah !! Kamu terlalu baik. Sampai mau repot membawa buah tangan untuk Bibi."


"Tidak apa-apa Bibi. Lagipula kau harus mencicipinya. Kue buatan tangannya rasanya sangat enak. Asal kau tahu saja."


Azof melirik Hani dengan tatapan tak bisa dimengerti. Hani hanya tersenyum saja.


"Kalau begitu Bibi terima kuenya. Aku juga harus tahu bagaimana rasanya."


Dia sama sekali tidak mencurigai apapun dengan kedatangan mereka berdua.


"Masuklah! Tak perlu sungkan. Kebetulan Bibi sedang sendirian di rumah. Yaa.. Suamiku selalu dinas di luar negeri sampai dia lupa pulang. Bibi jadi merasa kesepian."


"Baiklah.."


"Ayo masuk !"


.........


"Katakan padaku apa yang sedang kalian pikirkan ?"


"Begini, Bibi.. Sebenarnya tidak sopan juga bertanya pada Bibi.. Karena mengingat adik saya yang sudah resmi menjadi menantu disini."


"Lalu..??"


"Kami tidak bisa menghubungi Yuna hampir satu bulan lebih. Aku hanya khawatir sebagai kakaknya."


Dia mencoba berbasa-basi demi menunggu kebenaran yang sedang mereka incar.


"Jadi kau juga tidak bisa menghubungi mereka ?"


"Iya, Bibi.Aku tahu akan tidak sopan jika menganggu bulan madu mereka. Tapi aku rasa tidak masalah jika merindukan adikku sendiri, bukan ?"


"Aku tahu perasaanmu. Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Aku tidak bisa menghubungi mereka selama ini. Semoga mereka baik-baik saja disana."


"Jadi Bibi juga tidak bisa menghubungi Demy ?"


Azof mendadak bingung. Memang bukan alasan. Dia memang tidak bisa menghubungi adiknya selama ini. Entah karena dia semakin sibuk, atau memang karena Yuna yang tidak mau menghubunginya, dia sama sekali tidak tahu apapun.


"Sebenarnya mereka sudah memblokir semua akun dalam sosial media mereka. Kata Demy mereka melakukan itu untuk kebaikan Yuna sendiri."


"Oh. Jadi begitu."


"Dia sempat memberiku nomor ponselnya. Tapi aku tidak tahu apakah akan bisa dihubungi atau tidak."


"Apa itu benar ?"

__ADS_1


"Tunggu sebentar ! Nanti kau boleh mencoba menghubunginya lewat nomor itu. Siapa tahu mereka bisa menjawabnya."


"Oh. Kalau begitu kami akan sangat berterima kasih pada, Bibi."


"Iya. Baiklah.."


Daniah tersenyum. Kali ini dia mencoba mencari seseorang. Dan setelah dia menemukan seseorang disana, dia langsung berteriak memanggilnya untuk mendekat.


"Aldi.."


Pria disana terlihat menoleh menyadari ada seseorang yang memanggilnya. Pria itu mendekat. Azof dan Hani memandangnya dengan penuh kejutan. Rupanya pria itu. Tidak salah lagi. Pria itu memang bekerja di rumah ini.


"Iya, nyonya. Apa ada yang bisa saya bantu ?"


"Tolong ambilkan ponsel saya di atas meja kerja."


"Baik, nyonya."


Sudah kena. Teka-teki sudah terjawab. Pria ini memang tinggal di rumah Demy. Dan besar kemungkinan jika pria ini adalah pelakunya. Sudah tidak diragukan lagi.


Tidak lama setelah itu, pria yang diduga bernama Aldi itu datang dengan membawa ponsel milik Daniah. Dia menyodorkan ponsel itu pada majikannya yang juga langsung disambut oleh Daniah. Pria itu langsung permisi.


Azof mencoba menyembunyikan pikirannya sejauh mungkin. Tentu saja hal itu dia lakukan untuk menghindari kecurigaan Daniah. Hani juga.


"Kau mau mencatatnya ?"


"Iya, Bibi."


"Ini nomornya."


Daniah menunjukkan sebuah nomor di ponselnya. Azof buru-buru mencatatnya. Ia juga berharap Yuna bisa segera dihubungi. Selesai sudah semua urusan. Mereka pun berterima kasih dan berlalu pergi tanpa menimbulkan kecurigaan di hati Daniah.


"Huhh !!"


Mereka akhirnya sampai di Taman Kota dan duduklah mereka di sebuah kursi. Mereka terlihat merundingkan sesuatu. Tapi mereka sadar. Terlalu berbahaya jika membuka rahasia disini. Mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Rumah Sakit. Disana akan terasa lebih aman.


.........


"Akhirnya semuanya sudah jelas."


Ucap pertama Azof saat sudah tiba di ruangannya.


"Aku masih belum tahu apa motif pria itu. Menurutku apa mungkin dia sengaja menjebak Yuna untuk bisa membantu aktris cantik itu, untuk menggeser posisi Yuna dari dunia hiburan ?"


"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Semuanya akan lebih jelas nantinya. Aku punya sebuah rencana untuk menjebak mereka."


"Rencana ? Untuk menjebak mereka ? Apa maksud kamu ?"


"Kita tidak bisa menuduh mereka semudah itu. Kita ini bukanlah polisi yang bisa dengan bebas melakukannya."


"Lalu apa yang akan kau lakukan ?"


"Biarkan pihak Jian yang akan membereskannya."


"Tunggu ! Aku masih belum mengerti apa maksud dari ucapanmu."


"Kita akan meminta bantuan dari pihak Jian.."

__ADS_1


"Apa ?"


Sepertinya Azof mempunyai rencana yang sempurna untuk menjalankan misinya. Tentu saja dia membutuhkan campur tangan orang lain. Dia tidak akan mungkin bisa membuka semuanya sendirian dengan tangan kosong. Dia perlu sentuhan yang lebih menarik untuk membalaskan perbuatan mereka. Kita tunggu saja apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


__ADS_2