
"Akh!! Nyaman sekali rasanya!!"
Yuna terdiam saja melihat tingkah laku suaminya ini.
"Kau seperti bayi."
"Apa kau bilang?"
"Kau seperti bayi."
"Berani sekali menyebut suamimu seperti bayi."
"Apa aku salah? Kau hanya menghabiskan waktu dua jam di pesawat. Tapi tingkah lakumu seperti bayi yang bosan seharian tidak bisa bermain di luar."
Demy bangun dari tidurnya. Ditataplah Yuna dari samping. Apa wanita ini sedang berusaha untuk bahagia ?
"Kau memang nakal!!"
"Apa katamu? Nakal??"
"Apalagi memangnya?"
"Apa tidak ada kata lain selain nakal?"
"Cerewet, cuek, konyol, banyak tingkah..."
"Akh!!! Cukup!! Kau terlalu mengejekku, Tuan Demy! Tidur saja sana!! Jangan mengganggu aku lagi!"
"Aku memang akan tidur."
"Maksudmu? Kau mau tidur di kasur ini, begitu?"
Demy mengangguk dan menjatuhkan tubuhnya lagi di kasur empuk itu.
"Menyebalkan sekali kau ini! Kau masih belum bisa memiliki aku meski kau sudah membawaku kemari. Kau harus tahu itu!!"
"Siapa yang berharap. Jika kau tidak mau tidur denganku, kau bisa menggunakan sofa itu."
Demy menunjuk sebuah sofa besar di sisi ranjang.
"Apa kau tidak kasihan padaku? Bisa-bisanya kau meminta aku untuk tidur di sofa. Jika kau mau, kau sendiri saja yang tidur disana!"
"Apa? Aku tidak mau!!"
Pria itu meringkuk dan mengambil bantal untuk sandarannya. Asal kau tahu saja, Yuna.Demy sengaja bertingkah laku seperti ini untuk bisa mengambil malam pertama kalian disini.
"Kurang ajar!!"
Yuna bangun dan mengambil satu bantal di atas ranjang lalu memukul suaminya dengan keras tanpa ampun.
"Aduh!! Aduh!! Jangan pukul aku!!"
"Rasakan akibatnya jika kau tidak mau turun!"
"Aduh!! Sakit!! Sudahlah, hentikan pukulannya itu, Yuna!! Kau sudah mengalahkan aku."
"Huhh!!"
Yuna membuang bantalnya setelah menyadari bahwa Demy sudah beranjak dari sana. Dia membenarkan bajunya dan beralih tidur.
"Apa kau tidak mau mengganti pakaianmu?"
__ADS_1
"Jika kau bertanya demikian, mengapa kau masih disini? Apa kau ingin melihat tubuhku tanpa busana!! Keluar!!!!!!"
Emosinya memuncak. Menjatuhkan nyali laki-laki itu. Pria itu terkejut dan hanya berekspresi ketakutan. Dia pun akhirnya memilih untuk keluar saja dari sana.
"Daripada nyawaku yang melayang, lebih baik aku pergi dari sini!!"
Pria itu keluar dan menutup pintu. Yuna yang sangat kelelahan itu beranjak pergi ke kamar mandi. Menyalakan shower air panas dan membasuh tubuhnya. Nikmat sekali rasanya.
Hampir setengah jam Yuna menghabiskan waktunya disana. Demy yang sudah lelah menunggu akhirnya berteriak juga dari luar.
"Apa kau sudah tidur? Sepertinya kau lupa membukakan pintu untukku.."
Yuna yang mendengar teriakkan dari Demy tertawa puas.
"Itu akibatnya jika kau berusaha membantahku!!"
Lima belas menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi. Dia hanya memakai handuk putihnya saja. Dia menyambar baju tidur di kopernya dan memakainya. Barang-barang mereka memang belum terkemas. Karena waktu yang sudah begitu larut saat ia kembali, membuat para asistennya tidak bisa membereskan barang-barang mereka.
"Yuna!!"
"Kenapa kau selalu berisik seperti ini??"
Yuna memukul pintu dengan keras. Membuat wajah Demy yang ditempelkan di muka pintu memerah seketika.
"Kau memukul pintu tapi dari sini wajahku juga terkena amukan tanganmu. Kau memang wanita kuat!!"
Dia menggerutu. Apa daya. Dia hanya berani seperti itu. Dia tak mungkin melawan singa yang tengah marah. Toh dia sendiri yang akan tahu akibatnya.
Yuna menyisir rambutnya, lalu mengoleskan krim di wajahnya. Selesai. Dia sudah bisa tidur sekarang. Dia mengambil selimut dan bantal. Lalu berbaring.
"Akh!! Ternyata nyaman sekali kasur ini!!"
Tertawa sendiri. Dia memang sedang berusaha menguatkan hatinya. Dia tidak ingin begitu larut dalam kesedihan. Dia hanya berpikir jika memang Jian adalah takdirnya, mungkin saja suatu hari nanti pria itu akan datang menemuinya.
"Yuna!!"
"Kukira kau akan tidur diluar."
"Kau memang jahat!!"
Demy yang terlihat kesal itu hanya melangkahkan kakinya dengan malas dan ambruklah dia di sofa. Lalu mendengkur keras.
"Apa? Apa kau sudah tidur?"
Yuna hanya berkacak pinggang melihat Demy yang tertidur secepat kilat.
"Kupikir hanya diriku saja yang mendengkur. Ternyata kau bahkan lebih keras dari aku."
Yuna pun beralih tidur di atas kasur. Sekali lagi dia menoleh pada pria itu. Demy tidak menggunakan bantal atau selimut untuk menghangatkan tubuhnya. Dia sama sekali tidak mandi. Bahkan sepatu dan jasnya masih dia pakai. Kasihan juga melihatnya.
Yuna yang masih terjaga itupun akhirnya memutuskan untuk mengambil selimut di dalam lemari. Dia menyambar satu bantal di atas tempat tidur dan membawanya kepada Demy. Tapi sebelum itu, dia berusaha melepas sepatu dan jas yang tengah dikenakan Demy. Bersusah payah dia melakukannya. Tubuh pria yang satu ini memang begitu berat. Apalagi jika melihat bagian perutnya. Memang sangat atletis. Yuna meraba perut Demy dan berusaha membuka celana yang tengah Demy pakai. Ia berpikir pasti Demy mengenakan serepnya juga disana. Entah apa yang dipikirkan Yuna pada saat itu hingga dia berani melakukannya pada Demy.
Tapi rupanya Demy belum tertidur. Ia hanya pura-pura saja. Yuna yang tidak tahu hal itu hanya berusaha melepas celana Demy saja. Dia membuka celana itu sedikit demi sedikit. Demy meliriknya sekilas. Dia hampir selesai membuka resletingnya. Tapi tangan Demy menyambarnya, membuat Yuna terkejut setengah mati.
"Kau??"
"Kenapa? Apa yang kau cari disana?"
Yuna hendak melepas tangannya dari sana. Tapi Demy malah memegangnya erat. Dia sudah terlihat begitu berharap.
"Lepas!!"
__ADS_1
"Sudah berapa kali kau meminta hal itu padaku? Dan aku selalu menuruti permintaanmu."
"Lalu?"
"Lalu apa maksudmu kali ini ? Apa yang akan kau lakukan dengan itu ? Kali ini aku minta kamu untuk menuruti kemauanku?"
"Jangan gila, Demy!! Kau sudah di luar batas!!"
"Tidak!! Aku berhak mendapatkannya, Yuna!"
"Aku tidak mau!!"
"Kau sudah menjadi istriku selama satu minggu. Tapi aku bahkan tidak pernah menyentuhmu sedikitpun."
Yuna hanya tertunduk. Apalagi yang harus dia jadikan alasan? Mengingat tidak ada persyaratan dengan Demy sebelum mereka menikah. Iya. Sudah dikatakan sebelumnya, semuanya memang terlalu terburu-buru. Dia bahkan lupa membuat kesepakatan dengan Demy. Dasar Yuna!!
"Tidurlah bersamaku malam ini!!"
Yuna menatap sepasang mata itu. Terlihat begitu dalam.
"Demy.."
"Ssstttt!!!"
Demy mengisyaratkan padanya untuk diam. Dia lebih mendekatkan wajahnya lagi. Yuna terpaku. Dia tak bisa lagi berkutik. Apa kejadian malam itu akan segera terulang kembali? Atau bahkan malam ini akan lebih panas daripada waktu lalu? Entahlah. Menolak juga rasanya tidak mungkin. Secara pernikahan mereka sudah disetujui kedua belah pihak tanpa persyaratan apapun.
"Tunggu, Demy!!"
Demy yang baru saja akan memulai permainan itupun harus terhenti.
"Aku.. Aku.."
"Apalagi?? Apa kau masih akan menyebut pria itu lagi sebagai alasanmu?"
"Tidak!! Aku tidak akan seperti itu.. Tapi.."
Keduanya terdiam. Mencoba menanti jawaban apa yang akan keluar dari mulut Yuna selanjutnya.
"Aku akan menuruti kemauan kamu.. Tapi hanya kali ini saja.. Setelah itu, tidak lagi..."
Demy mundur. Dilepasnya kedua tangan yang sedari tadi memeluk wanita itu. Kecewa lagi yang kembali dia rasakan. Dia memalingkan muka. Sakit sekali rasanya. Menikah tanpa cinta. Dan bahkan istrinya sama sekali tidak mau menuruti hasratnya. Sadiss!!
"Demy!! Maafkan aku!!"
Yuna mencoba meraih tangan suaminya. Tapi kali ini ditolak. Sikapnya mendadak berubah menjadi sedingin es. Tangis Yuna seketika pecah disana.
"Aku sadar!! Aku memang tidak ada artinya dalam hidupmu!!"
Dia hendak bangun dari sana, tapi Yuna mencegatnya.
"Aku tahu kau sudah berperan besar dalam hidupku selama ini. Tapi aku pernah berjanji untuk mencintai satu pria saja seumur hidupku."
Demy tersenyum songar. Lalu terbangun dari tempat duduknya.
"Aku ingat sebelum kita menikah, aku berkata padamu jika suatu hari nanti kau tidak menganggapku sebagai suamimu, itu sama sekali tidak masalah bagiku."
Pria itu berbalik menatap Yuna yang masih terduduk di sofa dan menangis terisak sembari menatap dirinya.
"Dan aku akan pastikan kau menyesal jika kau berusaha melakukan hal itu padaku."
Demy mendadak berubah. Tatapannya begitu sadis. Dia seperti monster yang hendak menelan siapapun yang menentangnya. Yuna pun tidak terkejut sama sekali. Dia sudah tahu sifat dan karakter suaminya yang memang selalu tidak mau kalah. Tapi kali ini, entah apa yang membuatnya menjadi begitu sedih. Dia bahkan tak tahu mengapa ada penyesalan dihatinya karena tidak mau memberikan keperawanannya pada suaminya sendiri. Akh!! Yuna..
__ADS_1
Kau semakin terjebak dalam jeratan cinta dua pria ini..