
" Bagaimana dokter ??"
" Dia harus segera di operasi, karena tidak mengalami pembukaan apapun sejak dua belas jam terakhir.."
" Apa ?!"
" Maaf sekali, bukan maksud saya untuk ikut campur, tapi jika boleh bertanya, apakah kalian berdua tidak pernah melakukan hubungan saat istri anda sedang hamil ??"
Pertanyaan dari dokter wanita yang usianya hampir di atas empat puluh tahun itu berhasil membuat raut wajah Jian memerah..
" Be-benar dokter.. kami.. memang tidak pernah melakukannya saat Yuna sedang hamil, karena kami takut akan mengganggu bayi kita.."
" Hhh.. ini yang harus diluruskan.. Saat hamil, jika di usia muda memang tidak dianjurkan untuk berhubungan dengan sering, tapi berbeda lagi kalau sudah usia trimester tiga, saran dokter memang harus melakukannya, karena akan lebih memudahkan pembukaan saat hendak melahirkan.."
" Jadi begitu, ya dokter.."
" Lalu bagaimana selanjutnya ?? Apa tuan bersedia kalau kami melakukan tindakan operasi pada istri anda ??"
" Lakukan yang menurut kalian terbaik, saya akan mengikuti kalian saja.."
" Baiklah, kami anggap jawaban anda iya.."
.........
Satu jam, dua jam..
Dan tiga jam !!
Operasi masih saja berjalan di ruangan khusus. Jian terus menunggu sang istri yang sedang ditindak di dalam ruangan. Kakinya tidak pernah lelah berjalan kesana kemari hanya karena mencemaskan keadaan istri dan calon bayinya..
Namun tidak lama setelah itu..
Terdengarlah gelak tangisan seorang bayi dari dalam ruangan, menandakan operasi sudah selesai..
" Ah... apa itu suara tangisan pertama anakku ??" ( haru ).
Cklek..
" Tuan, ini bayinya.. Jenis kelaminnya laki-laki, dan bobotnya mencapai empat kilo.."
" Dia sangat besar.." ( wajah senang ).
" Gendong dia sebentar, dia harus lebih dulu mengenal ayahnya..."
" Baik, suster.." ( begitu senang dan terharu ).
Si perawat itu membiarkan bayi dalam pelukannya dengan sang ayah. Wanita cantik itu kemudian pergi meninggalkan sepasang ayah dan anak itu menuju ke dalam ruangan.
" Maaf, bagaimana keadaan ibunya ??"
" Istri anda sangat sehat.. hanya perlu perawatan umum setelah melahirkan sama seperti ibu lainnya.."
" Kalau begitu, terima kasih..."
Beberapa jam kemudian..
" Bayiku sayang.." ( mengelus ), " sayangku, apa kamu mau makan sesuatu dulu ?"
" Tidak.. aku sudah makan barusan bukan, jangan memaksa aku lagi.."
" Baiklah.. ngomong-ngomong.. siapa namanya ya ?? Apa kamu punya saran nama yang bagus untuk buah hati pertama kita ??"
" Aku sudah mempersiapkan semuanya sejak dulu.." ( tersenyum ).
" Oh ya ?? Kenapa tidak memberitahu aku ??"
" Itu kan rahasia.."
" Baiklah.. lalu siapa namanya ??"
" Aku ingin menamainya Shi Yuan..."
" Shi Yuan ??" ( bingung ).
" Kenapa ?? Tidak suka ??"
" Kamu sudah memilih nama yang sangat bagus untuk pria kecil kita ini.." ( mengelus pipi si mungil lagi ).
" Hemm.. elus saja terus.. sudah punya anak, lupalah dengan istri cantiknya.." ( memalingkan muka ).
__ADS_1
Mengetahui istrinya sedang mencari masalah, dia hanya tersenyum, dan meletakkan anaknya di atas ranjang..
Cup !?
Mengecup kening Yuna...
" Kamu lebih dari segalanya buatku, apa kamu ingat kata-kata itu ??"
Yuna tersenyum manis. Melihat Jian sedang menatapi istrinya dengan begitu senang dan bahagia membuat Yuna merasa sangat berharga disini. Benar !! Semua wanita juga akan merasakan hal yang sama disaat-saat seperti ini..
" Kamu sudah membuat hidupku lebih sempurna sayang.."
Cup !?
Kali ini area bibir !!
Jangan dilanjut ya.. kan masih luka.. 😁😁
Brakk !!
" Ah ??"
Keduanya terpaksa memberhentikan acara privatnya itu..
" Mana keponakanku !!!!!!"
Itu Alishia...
Dan beberapa orang lainnya..
Mereka bahkan lebih semangat dari pada hari-hari biasa..
" Wahhh !!! Tampannya.." ( mengangkat si bayi ).
Aneh..
Bayi kecil itu menatap Alishia dengan sinis..
" Eh.. kakak ipar.. kenapa anak kalian memandangku seperti itu ?? Apa dia tahu kalau aku dulunya orang jahat ??"
Semua orang tertawa..
.........
Tiga tahun kemudian...
Ciattttt !!!
" Aku sudah berhasil menangkapmu pencuri kecil !!"
" Hahahaha.... jangan sentuh aku, geli sekali.. jangan.. berhentilah ayah !! Hahaha.."
" Sudahlah.. Jian.. jangan terus menggodanya seperti itu, kalian ini.. Hahh.." ( jatuh di sofa ).
Jian menatapi istrinya yang terlihat begitu penat setelah seharian mengurus rumahnya.. kasihan sekali..
Jian melepaskan putra kecilnya, dan beralih memperhatikan Yuna..
Memijit..
Masih tetap duduk di bawah..
" Bukan tanganku yang sakit, tapi kakiku.."
" Hehehe.. sini, serahkan padaku, aku adalah ahli pijit yang handal.."
" Kalau begitu, buat penatku hilang ya.."
" Kalau mau menghilangkan penat, lain lagi caranya.." ( menggoda ).
" Apa kau mau ??" ( berbalik menggoda ).
" Mau sekarang ??"
" Kenapa tidak ??"
Mereka mulai mendekat, dan mencoba lebih lagi, tapi..
Bukk !!
__ADS_1
" Arkh !!"
Jian merasakan sesuatu yang tiba-tiba mencium kepalanya dari belakang. Tapi ciuman itu.. terasa menyakitkan..
" Ah ?? Jian !!" ( cemas ).
Jian meringis kesakitan.. Dia mengelus kepalanya yang mendadak benjol. Dan dia menemukan sebuah mobil mainan yang digunakan anaknya untuk melempar..
" Ups !! Maaf ayah..." ( wajah imut ).
" Pria kecil ini !!!" ( beranjak ).
Mengejar !!!!
" Aaaaaaaa.. tolong aku !! Ada monster jahat mau mengejarku !!!" ( terus berlari ).
" Aku tangkap kau !!! Hiyaaaa !!!"
" Ibu.. tolonglah.. Ada monster ingin menangkapku ibu..."
Hap !!!
Lalu ditangkap..
Hihihi..
" Akhirnya, aku bisa menangkap nyamuk kecil ini !!!"
" Ibu, tolong aku... lepaskan aku !! Ibu... tolonglah.."
" Tidak ada yang bisa membantumu pria kecil.."
Mencium..
Mendekap..
Dan hampir memakan pipinya sampai habis..
" Ibu... monster itu memakanku......"
Yuna memejamkan matanya, dan membaringkan tubuhnya di sofa..
" Hadehhh...."
Apa semua ibu juga merasakan hal yang sama seperti Yuna ?? Bagaimana rasanya ?! Bahagia, atau.. bahagia yang tidak ada duanya ??
........
" Makanlah ibu, ibu sudah berhasil menggerakkan tangan ibu pagi tadi, sekarang, berlatihlah untuk makan sendiri.." ( tersenyum ).
Sementara Almira sedang berusaha menuruti kemauan menantu perempuannya itu. Dia sesekali mencoba menggerakkan tangannya sedikit demi sedikit, dan pada akhirnya..
Prang !!!
Sebuah piring terjatuh akibat tersambar tangannya..
" Yahh.." ( tersenyum kecut ), " tidak apa-apa.. kita bisa belajar lagi nanti.."
Hani terlihat memungut semua pecahan piring yang berserakan di atas lantai, yang bercampur dengan bubur halus. Dia sungguh wanita yang sangat sabar..
Iya..
Yuna dan Jian pernah menawarkan kepadanya untuk membawa ibu ke rumah Jian, tapi dengan keras Hani menolak semua permintaan Yuna. Dia beralasan kalau rumah ini adalah rumah ibunya, dan dia juga tidak merasa direpotkan oleh Almira, berbeda dengan Yuna yang harus mengurus anak juga..
" Ibu, aku ganti dulu dengan yang baru ya.."
Hani pergi membuang pecahan piring di tempat sampah, dan kemudian mengganti lagi dengan bubur yang baru..
" Ayo ibu.. makanlah.." ( menyuapi ).
Di sisi tembok, Azof sedang memperhatikan perlakuan istrinya pada sang ibu. Wanita itu baginya.. adalah wanita yang sangat baik..
' Maaf Hani.. harus merepotkan kamu..'
Azof memilih beranjak dari sana, dan pergi menuju kamarnya. Dia duduk termenung sambil menatapi figura-figura yang terpajang dengan rapi di tembok kamarnya. Wanita itu, sudah membuat hatinya semakin terisak.. menangis karena rasa bersalah, dan penuh penyesalan..
Dia membuka sebuah buku kecil yang berada di atas meja milik Hani, lalu membacanya..
Isinya...
__ADS_1