
Yuna memutuskan pergi, meninggalkan Hani dan Azof di dalam sana. Dia tidak bisa mengganggu waktu mereka. Bagaimanapun juga, mereka masih punya privasi. Bukankah tidak baik kalau mengganggu waktu mereka berdua.
Jian membuntuti wanitanya dari belakang. Dia terus melangkah mengikuti kemanapun Yuna pergi. Sampai akhirnya, wanita itu terduduk di atas kursi. Mereka sudah sampai di depan rumah sakit. Suasana disana masih terlihat ramai.
Yuna tidak berbicara satu patah katapun sesaat setelah dia memutuskan untuk duduk di luar rumah sakit. Keningnya diurut perlahan dengan satu tangannya, sementara tangan satunya lagi terlihat lemah tak berdaya. Sebenarnya dia sedang merasa kacau. Antara sedih, senang, dan yang lebih besar dari itu, adalah rasa bersalah yang tak kunjung usai.
Jian menatapi wanita itu. Dia memang melihat ada kekacauan di hati Yuna. Meskipun wanita itu berusaha diam, dan tidak mau bicara apapun padanya, tapi Jian tidak dengan mudahnya bisa dibodohi. Dia bahkan mengetahui apa yang sedang Yuna pikirkan tanpa harus mendengar penjelasan langsung dari Yuna.
" Ehemm.."
Jian mendudukkan dirinya menjadi posisi bertekuk lutut di hadapan Yuna..
" Jangan ganggu aku dulu, Jian.."
" Kenapa ??"
" Jangan salah paham, aku hanya tidak mau diganggu untuk sementara waktu.."
" Sementara waktunya sampai kapan ? Sampai kamu benar-benar lupa akan rasa bersalah itu ??"
" Bagaimana kamu tahu ??"
" Perasaan Yunaku sangat mudah aku tebak.. Apalagi yang berusaha kamu sembunyikan dariku, Yuna.."
" Apa aku harus mengatakan semuanya padamu ??"
" Jika tidak mau bicara, sebenarnya tidak masalah juga. Aku akan tetap tahu meskipun kamu selalu diam.."
" Kalau kamu sudah tahu, maka pergilah.. Aku tidak mau diganggu sekarang.."
" Tidak.."
" Jian, ayolah.. Aku mohon.. Kali ini saja, aku ingin punya waktu sendiri.."
" Terakhir kali, kamu melakukan kesalahan besar yang melibatkan banyak orang merasa dirugikan, apa kali ini kamu juga akan melakukan hal yang sama ?"
" Jian.."
" Aku pikir tidak ada salahnya aku terus disini, masalah kamu terganggu atau tidak, aku sama sekali tidak peduli.."
" Kalau begitu maka terserah saja.."
Keduanya saling diam, dan membuat suasana berubah menjadi begitu sepi. Lamunan yang membawa Yuna berlarut semakin jauh membuat Jian merasa wanita ini sedang memberinya tantangan berat.
" Bicara padaku, siapa tahu dengan begitu perasaan kamu bisa lebih baik.."
" Entahlah.."
Jian memegang kedua tangan Yuna yang terlihat putih bersih, namun tak lagi terasa selembut sutra.
" Jangan pendam semuanya sendiri. Meskipun kamu wanita yang kuat, tapi aku yakin tidak selamanya wanita yang kuat mampu menahan kepedihan hatinya seorang diri. Katakan semuanya, aku akan mendengar semuanya sampai selesai.. Bagaimana ??"
" Seperti yang kamu katakan, rasa bersalah itu sudah pasti.." ( dia menghentikan ucapannya ).
" Kenapa ??"
__ADS_1
" Masih ada, bahkan lebih besar dari sebelumnya.."
Jian menatap wajah yang masih tertunduk lesu.
" Jika selama ini, aku hanya merasa bersalah terhadap dirimu, maka lain lagi sekarang.. Aku bahkan tidak tahu rupanya masalahku ini sudah melibatkan terlalu banyak orang.."
" Lalu kamu pikir semua ini salahmu ??"
Yuna mengangguk saja. Dia berusaha menghapus air mata yang hampir membanjiri pipi gembulnya.
" Jika kamu merasa begitu, maka kedepannya, lakukan yang terbaik untuk kami.."
Yuna beralih menatap Jian dengan seksama..
" Kamu menyesal bukan ??"
Sekarang Yuna mengangguk menjawab pertanyaan dari Jian..
" Jika kamu menyesalinya, bukan dengan cara seperti ini menyelesaikannya.. Tapi kamu harus bertanggung jawab untuk kesalahanmu.."
" Apa seperti itu ?"
" Kami tidak pernah menyalahkan kamu atas semua masalah yang terjadi, tapi kamu sendiri malah menyadarinya, dan merasa bertanggung jawab untuk semuanya, maka jalannya, hanya selesai dengan satu cara, buat kami merasa kalau kamu memang seorang wanita yang pantas kami bela.."
Yuna terdiam. Dia menanggapi semua nasehat yang Jian berikan kepadanya dengan sangat serius.
" Yunaku.. Mau kamu beranggapan seperti apapun, Kami tidak pernah menganggap semua ini salahmu.."
" Jian, aku minta maaf.."
Jian menggeleng saja. Dia tahu pasti kesalahan Yuna itu hanya satu, dia tidak percaya pada dirinya sendiri ataupun orang lain. Baginya perjuangan Yuna untuk menyelamatkannya sudah lebih dari apapun. Tapi wanita itu bahkan selalu merasa dia tidak ada harganya bagi orang lain..
" Tapi aku sudah mengecewakan kalian.."
" Silahkan benci dirimu sendiri.. Anggaplah dirimu tidak berguna bagi orang lain, tapi mau sampai kapan kamu terus begini ? Andai kamu seekor burung, maukah kamu selamanya terjebak dalam sangkar dan tidak bisa terbang bebas seperti lainnya.. Sudah cukup kamu pernah terbelenggu dengan masa-masa kelam yang kamu lalui, sekarang, bebaskan dirimu dari penjara yang mengurung kamu dan tidak membiarkan kamu bisa lari dari sana.."
Yuna masih terdiam membisu.. Perkataan motivator ini memang selalu terdengar mengesankan.
" Buatlah kami bangga di depan semua orang telah menjadi pembela wanita seperti kamu.."
" Apa aku bisa ??"
" Kamu memang seorang wanita yang sangat kami banggakan. Apa kamu lupa sebelum akhirnya namamu meredup, kamu adalah wanita tersohor yang dipuja-puja oleh siapapun yang melihatmu, bisakah kamu melakukannya lagi seperti dulu ?? Bisa membuat orang lain bangga mengenal dan mengidolakan dirimu.."
Yuna hanya terlihat memperhatikannya saja..
" Sepertinya kamu patut mencobanya.. Kamu yang harus belajar mengetahui dirimu sendiri, memahami apa maumu dan apa yang kamu perlukan.. Buatlah dirimu bahagia dengan caramu sendiri dan setelah itu, kamu bisa tahu apakah orang lain merasa bangga dengan apa yang sudah kamu lakukan, atau sebaliknya.."
Yuna mengangguk. Jujur saja, meski tidak seluruh perkataan Jian dia mengerti, tapi dia bisa mengambil kesimpulan kecil dari sana. Bahwa hidup tidak perlu mengandalkan orang lain untuk melihatnya dari sisi yang baik atau yang buruk, tapi bagaimana dia bisa melihat dan mengenal dirinya sendiri untuk membuat orang lain merasa kalau dia patut dibanggakan.
......
Seorang wanita sedang asik menghisap asap rokok yang dia selipkan di dalam dua jarinya. Dengan memainkan kursi goyang kesukaannya di dalam ruang kerjanya, dia terlihat begitu mahir memainkan dua benda itu dalam satu waktu. Sepertinya dia sedang bersantai menikmati waktu luang.
" Nyonya.."
__ADS_1
Fiuhh..
" Kenapa ??"
Wanita itu mengeluarkan asap rokoknya.
" Saya sudah melaksanakan tugas yang nyonya berikan.."
" Lalu bagaimana hasilnya ?"
" Hasilnya sangat memuaskan.. Semua petinggi dari beberapa perusahaan yang kita pilih untuk bekerja sama, semuanya langsung menyetujui kerja sama ini.. Dan diperkirakan, dengan adanya peran dari tuan Jianan, maka perusahaan kita semua bisa berkembang lebih besar nantinya.."
" Aku rasa kita bisa menaruh modal yang besar untuk memulai kerja sama ini, bilang pada seluruh perusahaan yang bergerak bersama kita, kalau perusahaan kita yang akan menanggung semua modal untuk biaya awal.."
" Baik, Nyonya.. Sesuai yang anda perintahkan.."
Pria itu pergi dan meninggalkan Tiansha yang masih sama seperti sebelumnya, bermain dengan rokok dan kursi goyangnya..
" Pemuda itu sangat berguna untukku, sejak dia mengajakku bekerja sama, aku tidak pernah mengalami kerugian dan sebaliknya, aku bisa mendapat keuntungan yang sangat besar. Tidak apa jika sekarang aku bertaruh beberapa M untuk memulai kerja sama ini, karena pada akhirnya, uang itu dengan cepat bisa kembali ke tangan saya.."
Dia melepaskan kembali asap rokok itu dengan wajah yang sangat puas.
Beberapa detik kemudian, dia mematikan rokoknya yang hanya tinggal seujung kuku. Dia lalu beralih mengambil ponselnya, dan berusaha menghubungi seseorang..
" Hallo.."
Di seberang sana, terdengar menyahut lirih..
" Saya ingin berhutang pada perusahaan anda sebesar tujuh ratus milyar.."
' Apa ?? Apa uang itu tidak terlalu besar ??'
" Saya akan mengembalikannya satu bulan lagi, dan saya juga akan pastikan kalau saya tidak akan mengecewakan anda.."
' Hemm..'
" Ambil perusahaan saya yang manapun sebagai jaminan jika saya tidak sanggup mengembalikan uang itu.."
' Benar, ya..'
" Pegang ucapan saya.."
Lelaki di sambungan itu terlihat menyetujui keputusan mereka. Dan pada beberapa saat kemudian, perbincangan pun akhirnya ditutup.
Hhhh..
Tiansha kembali bersandar di kursi goyangnya, dan mencoba untuk terlelap di atas sana..
....
" Mr, saya sudah melakukan yang anda perintahkan.."
Dia terlihat sedang menghubungi seseorang dari balik telepon. Pria berkacamata itu secara sembunyi-sembunyi mengabarkan sebuah berita gembira atas keberhasilan kerja kerasnya di Amerika.
' Bagus, kembalilah kemari, dan katakan sepenuhnya setelah kamu kembali..'
__ADS_1
" Baik, Mr.."
Dia menutup pembicaraannya dan kemudian melangkah menuju mobil yang sudah terlihat menunggunya sedari tadi..