
Azof menitah Hani keluar dari mobil sampai di dalam rumahnya. Mereka pulang naik taksi dari rumah sakit dan sejujurnya sekarang mereka sedang dalam keadaan krisis. Jadi mau tidak mau harus mengandalkan Almira dulu hanya untuk sekedar membayar taksi. Uang tabungan Azof sudah habis untuk membayar biaya rumah sakit tadi. Dia sekarang benar-benar dalam keadaan yang rumit.
" Hati-hati.."
" Hallo, kakak ipar.."
Ternyata Yuna sudah lebih dulu sampai di sana sebelum mereka sampai. Dia berpakaian santai dengan rambut yang dibiarkan tergerai, dan hanya mengenakan kaus serta celana pendek saja. Disampingnya, Jian juga terlihat hadir. Dengan mengenakan kemeja abu-abu dan celana hitam membuat penampilannya lebih terlihat santai. Dia terlihat sangat tampan bahkan dalam keadaan rambut yang dibuat model urak-urakan bak anak muda.
" Kalian sudah sampai rupanya.."
" Iya, aku juga sudah membersihkan rumah.."
" Ehemm.. Bukankah kamu hanya membersihkan kamar kakak ipar ??"
" Sstt.. Diam !!" ( memberi isyarat untuk Jian ).
" Memang benar, kan.."
" Memangnya kamu pikir aku tidak tahu ?? Kamu memang Yuna yang konyol dari dulu, bagaimana aku bisa percaya kata-katamu.." ( jawab Hani ).
" Hihi.. Ya sudah, karena sudah ketahuan, ya, nikmati saja.."
" Aku mau masuk, Yuna.. Kakak iparmu ini juga harus beristirahat, tapi kamu malah menghadangnya tepat di depan pintu.."
" Oh, iya.. Aku lupa.."
" Awas, minggir.."
Azof menyuruh Yuna untuk pergi dari muka pintu dan membiarkan mereka masuk. Sementara Almira terlihat sedang sibuk mengambil barang-barang di taksi, lalu beralih membayar tumpangan mereka bertiga..
" Terima kasih.." ( menunduk ).
Si sopir itu berbalas menundukkan kepalanya dan beralih pergi dari sana. Sekarang Almira tinggal sendirian dengan beberapa tas besar di sisinya.
" Hei, kalian.. Bisakah membantu ibu disini ??"
" Ehemm.. Dia calon mertuamu, bukan ?! Coba lihat bagaimana kamu bisa mengambil hati mertuamu kali ini.." ( berbisik ).
" Yunaku sedang menantangku rupanya.."
" Tunjukkan padaku bakatmu dalam mencuri hati ibu mertua.."
Jian tersenyum. Dia memperlihatkan wajah yang tampan dengan senyuman manis yang baru saja dia tarik. Dia pergi menghampiri Almira dan berniat membantunya..
" Sini, Bibi.. Biar aku bantu.." ( mengambil dua tas paling besar ).
" Waahh.. Kamu memang menantu idaman bibi.." ( senang ).
Jian tersenyum bangga..
' Kali ini kamu harus memberiku hadiah yang lebih..'
" Kalau begitu, kapan kamu menikahi Yuna ?? Kalian kan sudah..."
" Heii..?!!! Apa kalian sedang melakukan reuni SMA ??"
" Hhh. Anak bibi itu memang pengganggu, ayo kita masuk.."
Almira jalan mendahului Jian, sementara laki-laki itu membuntuti di belakang.
" Sini, biar Yuna bantu.." ( mengambil tas di tangan Almira ).
" Tadi pura-pura.. Sekarang mau, sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan ?? Menipuku ?? Hahh ??"
" Kenapa ibu marah ?? Bukannya senang ya sudah dibantu ?? Tidak tahu terima kasih.." ( meninggalkan tas di depan pintu ).
Yuna memilih pergi ke dalam.
" Hehh.. Lalu bagiamana dengan tas ini !!? Bukankah kamu sendiri yang mau membawanya ??"
" Tadi tidak mau ??!!!" ( masih terus berjalan ).
" Dasar anak itu ??!"
" Bibi tidak perlu marah-marah, aku akan mengambilnya kembali nanti.."
" Kamu ini memang menantu idaman, terima kasih, ya.. Bibi masuk dulu.." ( Pergi ).
Skip...
__ADS_1
Di ruang makan..
" Makan yang banyak, ibu lihat saat kamu kembali waktu itu, kamu sangat kurus, tapi sekarang, sepertinya kamu lebih baik dari pada waktu itu.." ( sambil memberikan beberapa lauk di piring Yuna ).
" Ibu ini terlalu banyak.. Bagaimana aku bisa menghabiskan semuanya ?? Ini cukup untuk dua porsi.." ( wajah tidak bisa dimengerti ).
" Kalau begitu, kita makan bersama saja.." ( Mengejutkan semua orang ).
" Uhukk, uhukk.." ( Azof tersedak ).
" Kamu ini kenapa ?? Bisa-bisanya makan terlalu cepat ??" ( mengambil air minum ), " minumlah ?!"
Azof meminum setengah gelas air putih yang Hani berikan kepadanya, dan akhirnya mulai merasa lega.
" Sudah lebih baik ??"
" Sudah.. Terima kasih.."
" Kamu ini.." ( meletakkan gelas di meja ).
" Mungkin kak Azof merasa iri kali sama kita ??" ( meledek ).
" Memangnya iri kenapa ??"
" Kak Azof kan tidak bisa romantis seperti Jian, dan kak Hani juga masih malu-malu.."
" Hhh.. Kenapa harus bersikap romantis kalau menikah saja belum.."
" Cihh. Kakak ini, kalau memang iri, kenapa tidak melakukan hal yang sama, makan satu piring berdua ini rasanya lebih enak dari dugaanku.." ( menyuapi Jian ).
' Si mungil ini, bagaimana dia bisa selalu terlihat menggoda..'
( Mengunyah ).
" Umm.. Enak sekali, kan, sayangku.."
Jian hanya menatapi senyum Yuna yang bagai tidak bermasalah sedikitpun. Dia akhirnya menyadari, rasa sakitnya dulu ternyata bukanlah rasa sakit karena pengkhianatan, tapi rasa sakit itu ada karena melihat Yuna yang tidak bisa tersenyum dan bahagia dalam pernikahan itu.
" Kenapa malah diam ?? Bagaimana rasanya ??"
" Sangat enak.."
" Kita berdua tidak sama seperti kalian, pamer kemesraan di depan umum, kita hanya akan melakukannya di atas ranjang.." ( melirik Hani ).
" Hei.. Ingat juga ibu kalian yang sudah tua ini, bagaimana bisa kalian berkata seperti itu di depan ibu ?? Apa kalian lupa ibu sudah lama sendiri ??"
" Iya, ibu.. Maaf saja, kami hanya sedang bergurau.."
" Oh iya, mengenai pekerjaan, Yuna kamu setuju denganku, bukan ??" ( Hani bertanya pada Yuna ).
" Umm,, soal itu ya.." ( bingung ), " entahlah, Yuna masih bingung, kalau untuk menggantikan posisi kakak ipar, aku tidak bisa, itu bukan keahlianku.."
" Bagaimana kalau kamu turun di bagian periklanan saja ?? Aku rasa posisi itu cukup bagus untuk kamu.."
" Um ?? Benarkah ??"
" Iya, kamu punya wawasan luas yang bisa kamu tuangkan dalam pembuatan iklan, kebetulan, aku punya lowongan kerja disana yang membutuhkan orang seperti kamu.."
" Memangnya Yuna tidak mau kembali ke dunia hiburan lagi ??"
" Entahlah, kak Azof, aku bahkan tidak mau lagi melihat wartawan yang ingin melakukan wawancara.."
" Apa kamu ini mengalami trauma ??"
" Tidak juga, aku hanya mengira kalau dunia bisnis lebih menarik.."
" Sebenarnya belum tentu juga, " ( masih makan dengan satu piring berdua ), " kamu belum terlalu paham soal bisnis, kamu bahkan baru mencicipi satu suapan saja.."
" Iya, Jian memang benar, berbisnis itu tidak semudah yang kita kira, sekali dapat proyek langsung terima uang, tidak seperti itu, adakalanya bisa mendapat bonus besar, tapi masa-masa sulit juga tidak bisa dihindari.. Mungkin kamu masih perlu waktu untuk belajar.."
" Aku jadi ragu untuk turun kesana.."
" Sebenarnya aku ada ide yang menurutku, ya, tidak terlalu buruk juga.." ( Azof menawarkan pemikiran ).
" Apa maksud kakak ??"
" Kamu ini bisa saja menghindari media, tapi bagaimanapun kamu bersembunyi, mereka pasti akan menemukan kamu juga.."
" Lalu ??" ( menyuapi Jian lagi ).
__ADS_1
" Menikah saja dengan Jian, semua masalah selesai.."
" Tidak semudah itu juga, aku tahu mereka sudah pasti akan menuduhku hanya memanfaatkan Jian saja, aku tidak mau mendapat julukan wanita matre."
" Hehh.. Semua wanita di dunia ini memang matre. Lagipula kenapa harus mendengar perkataan mereka ?? Hidup kamu, ya, urusan kamu.." ( Almira memberi saran ).
" Bukankah kamu juga mau segera menikah dengan Yuna ??"
" Umm ??" ( bingung ).
" Kenapa mendadak bingung ?? Bukankah dari dulu kemauan kamu hanya ingin menikahi Yuna ?! Lalu untuk apa semua perjuangan yang kamu lakukan selama ini ??"
" Azof, bukankah kamu sendiri sudah tahu, kalau aku ini pernah melamar adikmu untuk menjadi istri, jadi sudah pasti aku serius dengan adikmu.."
" Lalu kenapa masih saja ditunda ??"
" Bukan aku yang minta, tapi sepertinya laki-laki manapun akan melakukan hal yang sama, menunggu wanitanya siap.."
" Jadi maksud kamu, Yuna tidak mau menikah begitu ??"
" Ibu, bukan begitu, Yuna hanya merasa tidak pantas saja memikirkan pernikahan untuk saat ini, lagipula baru beberapa hari yang lalu Yuna dan Demy bercerai, jadi menurut Yuna, hal seperti itu masih perlu menunggu waktu.."
" Kenapa tidak menikah secara diam-diam??"
" Apa ??" ( terkejut ).
" Tidak perlu sampai seperti itu, kan.."
" Ibu, ini bukan soalan mudah, Yuna sudah pernah mempermainkan pernikahan, dan sekarang, apa Yuna harus kembali melakukannya ??"
" Kalau itu yang terbaik, kenapa tidak ??"
" Ibu ini.."
" Ehemm.. Sebaiknya kita makan saja dulu, baru membahas pernikahan, tidak sopan juga jika terus bicara di depan makanan.."
" Sepertinya Jianan mulai tidak enak, ya.."
" Sudah pasti dia tidak nafsu makan, sedari tadi ibu hanya mencincang dan memotongnya menjadi beberapa bagian saja, bagaimana dia bisa makan dengan tenang ??"
" Sudah, sudah, kita lanjutkan makannya.."
......
" Nyonya, ada kabar buruk.."
" Memangnya ada apa ??"
" Tuan Jianan belum bisa mengurus kerja sama ini, dia dikabarkan sedang mengalami pemerosotan keuangan saat ini, dan minta pada Nyonya untuk sabar menunggu kabar darinya.."
" Iya, saya mengerti, lagipula menunggu juga tidak terlalu membosankan, asalkan semuanya adalah tentang uang.."
" Baiklah, kalau begitu, saya harus pergi.."
" Pergilah.."
Pria itu segera pergi dari ruang kerja Tiansha, dan tidak sengaja berpapasan dengan seseorang. Dia menunduk pada orang tersebut, dan akhirnya pergi juga dari sana..
" Hallo, ibu.. "
" Putriku.." ( bangun dan memeluk Alishia ), " kenapa datang tidak memberitahu ibu ??"
" Aku hanya ingin memberi ibu kejutan.."
" Hanya itu saja ??"
" Memangnya apa yang ibu mau ??"
" Ibu punya kejutan yang lebih besar dari kamu.."
" Apa itu ??"
Tiansha mengambil sesuatu di dalam laci mejanya, dan menunjukkannya pada Alishia..
" Ha ?? Tiket pesawat ??"
" Iya, " ( memberikan ), " kamu akan terbang nanti sore untuk tugas barumu.."
" Tugas baru ??" ( bingung ).
__ADS_1
" Buat Jian jatuh cinta dengan kamu, dan setelah itu, kita bisa mendapatkan keuntungan masing-masing.."
" A ??"