Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
Rumah Bu Maria


__ADS_3

“Syalom..” Sapa ku saat memasuki rumah bu Maria, akhirnya mulai hari ini aku akan tinggal disini.


“Hi.. rara, sudah sampai nak” sapa bu Maria, yang terlihat lebih sehat dan bahkan sudah menunggu kami di ruang


tamu. Beliau berdiri menghampiriku dan memelukku.


“Bu saya angkat barang-barang saya dulu ya bu” pamitku pada bu Maria, karena takut nyusahin mas Vano lagi.


“Sudah biar saja, ntar pak Yanto yang akan masukin tas dan kardus itu ke kamar kamu”. Kata mas Vano, saat aku


akan mengangkat barangku dari mobil ke kamarku yang baru


“Trimakasih mas”


Terlihat mas Vano memanggil pak Yanto dan memintanya mengambil barang-barangku dari bagasi mobilnya.


“Kita makan siang dulu ya ra. Kamu pasti sudah lapar dan lelah, nanti habis makan kamu bisa istrahat.”


“Baik bu.” Jawabku.


Sebelum beranjak ke meja makan, kami dikejutkan dengan suara seeorang.


“Hi… mama. Rika datang.” Tampak kak Rika berlari kerarah bu Maria sambil memeluknya.


“Wah… wah.. ada apa ini?” Anak perempuan mama tampak sangat ceria hari ini."


“Ntar dech Rika certain, ada kejutan buat mama..” kata kak Rika sambil menggandeng bu Maria kearah ruang makan, dan mengedikkan pandangannya kearah mas bisma suaminya yang tadi datang bersamanya.


“Oh iya mas, kenalin ini suster rara, yang merawat mama sejak keluar dari rumah sakit.”


“Bisma..” katanya sambil mengulurkan tangannya berjabatan tangan denganku.

__ADS_1


“Rara.” Jawabku


“Vano, kemari makan nak.” Panggil bu Maria yang melihat mas Vano turun dari lantai atas


Sebelum makan, bu Maria yang membawakan doa makan. Sudah menjadi kebiasaan di keluarga bu Maria, yang


membawakan doa makan dilakukan bergantian.


“Mama..” sambil senyum senyum kak Rika memulai pembicaraan.


“Ada apa nak? Kamu dari tadi membuat mama penasaran terus, surprise apa buat mama? mama kan ga lagi ulang tahun.”


“Rika sudah hamil, sekarang sudah delapan minggu, tadi Rika dan Mas Bima baru periksa dari dokter kandungan.”


“Wahh…. Ini hadiah terindah nak. Jaga baik-baik kandungan kamu, jangan terlalu lelah, makanlah makanan yang


bergizi. Kalau ada apa-apa kamu cerita sama mama.” Bla… bla.. bla.. dan lainnya, banyak nasehat yang diberikan bu Maria. Secara ini cucu pertama di keluarga ini.


“Mas Bima sekarang jadi suami siaga dong…” kata mas Vano tiba-tiba.


“Sok tau kamu.. pacar aja ga punya..” tambah kak Rika.


“Ha..ha..ha.. ha.” Bu Maria dan kak Rika tertawa meledek mas Vano.


Wajahnya memerah dan mungkin karena ditambah aku yang ikut berada bersama mereka.


“Sudah Rika, nanti Vano ga bisa nelan makanannya kamu buat.” Kata bu Maria.


“Ayo rara, makanannya dihabiskan, jangan sungkan” tambah beliau padaku.


Aku memang sudah beberapa kali makan dirumah ini, tapi hanya berdua dengan bu Maria, tidak dengan keluarga bu Maria keseluruhan.

__ADS_1


Suasana Rumah yag hangat. Walaupun keluarga ini sangat kaya, tampak kesederhanaan dari setiap perilaku mereka.


Setelah selesai makan, aku membantu mba tun merapikan meja.


“Sudah non rara biar mba tun saja yang merapikan,” kata mba tun.


“Ga apa-apa mba. Mba tun cuci piring saja biar rara yang rapiin meja. Ntar rara ga enak, kalau ga ngerjain apa-apa


disini.” Jawabku.


“Kamu istrahat saja dulu ya ra” kata bu Maria sambil beliau berjalan keruang keluarga, mungkin masih banyak hal yang harus dibicarakan oleh beliau dengan anak-anaknya.


“Saya permisi istrahat ya bu.”


“Mimpi indah ya ra, mimpi ketemu pangeran ganteng.” kata kak Rika menggodaku.


“Hush kamu ini” bu Maria menepuk pundak kak Rika pelan.


Aku berjalan kearah kamarku sambil tersenyum dan pipiku sepertinya merona merah.


Kamar yang sangat luas dan nyaman, batinku. Aku merapikan pakaianku kedalam lemari dan, merapikan buku-buku di rak buku yang ada di dekat meja belajar, kemudian melatakkan Laptopku di atas meja.


Aku membaringkan tubuhku diatas ranjang dan melepaskan segala penat hari ini. Aku merindukan ayah, bunda dan


Dito adikku. Sudah hampir dua tahun kami tidak bertemu. Aku memang punya target berkunjung ke Medan setelah lulus kuliah. Itu sebagai penyemangatku agar berusaha untuk cepat lulus, disamping karena keterbatasan keuanganku.


Sejak kuliah aku sudah tidak pernah meminta lagi dari orang tuaku, baik untuk biaya kuliah ataupun untuk biaya


hidupku sehari-hari. Bahkan sejak aku merawat bu Maria, aku bisa mengirimkan buat keperluan sekolah adikku Dito. Dan sudah bisa menabung.


Tak terasa akupun terlelap dalam mimpi tidur siangku hari ini.

__ADS_1


Tbc.


Kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan oleh author. Kritik dan saran akan diterima sebagai masukan untuk memperbaiki kesalah-kesalan dalam pembuatan novel ini.


__ADS_2