
Satu jam kemudian..
" Maaf Nyonya telah mengganggu waktu anda.."
" Tidak perlu sungkan, kau bisa menghubungiku kapanpun jika kau mau, saya sangat senang bisa bekerja sama dan berinvestasi di perusahaan anda.. Jadi kau tak perlu merasa sungkan padaku.."
" Iya, terima kasih telah menyetujui kerja sama kita, selanjutnya, saya ingin menaruh saham di perusahaan anda supaya bisa berkembang lebih besar.."
" Saya sangat setuju, kalau begitu, kami permisi dulu.."
" Iya, silahkan Nyonya.." ( Menunduk ).
Tiansha dan para bawahannya terlihat pergi dengan perasaan senang. Dia bahkan tidak tahu kalau pria yang ditemuinya barusan adalah anak kandungnya.
Ditengah perjalanan..
' Kenapa aku merasa aneh dengan nama itu ? Apa mungkin hanya kebetulan saja ??'
......
" Mr, anda sudah menyembunyikan sesuatu dariku.."
Jian menoleh, mendengar seseorang berbicara dari samping.
" Sanni.."
" Katakan padaku, Mr.. Apa yang sedang kau sembunyikan tentang Nyonya Tiansha.."
' Hhh.. Rupanya dia juga merasa curiga..'
" Aku akan membahasnya lain kali. Sekarang aku hanya ingin pulang. Jika kau sudah tidak berkepentingan, maka kau boleh pergi.."
Sanni menunduk lalu pergi dari situ. Perasaannya masih sama. Penasaran, dan ingin sekali mendengar beberapa pernyataan yang Jian sembunyikan. Semenjak kejadian perpisahan dengan Yuna saat itu, dia merasa kalau Jian selalu memendam masalahnya sendiri. Dia bahkan sangat sulit ditemui jika tidak mengadakan janji khusus. Sanni merasa sangat cemas karena itu.
.......
Keesokan harinya..
Bandara Internasional kota M..
Pukul 08.30.
'Tap! Tap! Tap!'
Langkah kaki Yuna terdengar mulai menapaki pesawat. Dibuntuti oleh pelayan setianya, dia sama sekali tidak terganggu. Dia mencari tempat duduk miliknya. Dan setelah dia menemukannya, dia langsung memberitahu pelayannya untuk duduk bersama.
Dia membuka bungkus makanan yang dibawa pelayan untuknya sebagai sarapan. Dia ingat betul betapa mata ibunya yang menatapnya penuh kerinduan saat dia melepasnya untuk pulang kepada suaminya. Mata itu sangat dalam, sedalam rasa kecemasan dihatinya. Huhh. Bagaimanapun juga, Almira pasti curiga ada yang tidak beres mengenai suaminya.
' Suamimu bahkan tidak datang untuk menjenguk mertuanya.. Apa dia juga memperlakukanmu dengan baik..'
Perkataan itu selalu terngiang ditelinga dan otaknya. Perasaan seorang ibu memang tidak pernah salah.
' Ibu, andai kau tahu apa yang sedang aku alami sekarang.. kau pasti akan sangat sedih..'
__ADS_1
Meski hidupnya begitu berat, tapi dalam situasi seperti ini, mana mungkin dia akan menceritakan permasalahannya pada Almira.. Dibebani masalah Azof pun, dia jatuh begitu dalam. Apalagi jika ditambah dengan pengakuan tentang Yuna..
Yuna menutup kotak makan itu. Dia memilih untuk memejamkan matanya, menikmati perjalanan dalam pesawat yang mengasikkan. Perutnya tidak lapar. Bahkan akhir-akhir ini dia tidak nafsu makan. Beban pikirannya semakin besar, mencoba melatihnya untuk menjadi lebih dewasa. Dan hal itu sungguh membuatnya terpuruk.
Diluar, banyak orang melihatnya seperti acuh, dan bahkan tidak memiliki permasalahan khusus. Tapi yang sebenarnya dia rasakan, dia hampir mati menghadapi semua ini.. Apalah daya, sekuat apapun dia mencoba bertahan, dia tetaplah manusia biasa, yang tidak pernah lepas dari kata mengeluh..
Tenang saja Yuna.. Kau akan mendapat hal baik setelah perjalanan kelam yang kau lewati ini..
" Nona, kenapa tidak dimakan ?"
" Aku akan makan nanti saja setelah kita sampai.."
" Nona, ibu Nona itu sangat baik.. Sepertinya dia sangat berat melepas kepulangan Nona pagi ini.. Dia bahkan tidak mengizinkan aku untuk memasak sarapan Nona tadi.."
" Dia memang sangat menyayangiku.. Terlebih lagi, setelah ayahku menikah lagi dengan perempuan lain, sejak saat itu aku dan kakakku yang menjadi pegangan hidupnya.. Karena itulah saat kak Azof berada dalam penjara, aku sangat mencemaskan ibuku.."
Yuna membuka mata, " tapi sekarang aku merasa lega, sudah ada Hani yang bisa menghiburnya selama aku pulang.."
Sang pelayan hanya tersenyum saja. Dia sangat mengerti betapa terpuruknya kondisi keluarga Yuna. Tapi Yuna adalah wanita paling tegar dimatanya. Meski dia baru bekerja dengan Yuna sejak mereka menikah, tapi dia paham betul siapa atasannya itu. Dia tidak pernah menemukan wanita sehebat dirinya. Berusaha berjuang membuat orang lain bahagia, padahal dia sendiri sangat membutuhkan dukungan. Huhh.
" Sebenarnya, Nona.."
" Mohon perhatian, pesawat akan lepas landas dalam lima menit. Mohon untuk memakai sabuk pengaman.."
" Sudah mau lepas landas.. "
" Iya, Nona.."
Woshh !!!
Pesawat dengan cepat melesat, terbang di antara awan-awan putih laksana samudera. Bahkan sinar matahari dihari itu agak redup. Apa mungkin alam juga tahu suasana hatinya ??
.........
" Sayang, apa kau merasakan hal yang sama seperti ibu.."
" Tentang Yuna ??" ( Hani meminum susunya, lalu duduk mendampingi Almira ).
" Iya.. ibu rasa ada yang dia sembunyikan dariku.."
" Aku juga merasa begitu, aku pernah mendengar pembicaraannya lewat ponsel dengan seseorang.. "
Almira menoleh, mencoba menatapi menantunya dengan serius.
" Apa yang kau dengar ?"
" Entahlah.. aku juga tidak yakin, ibu.."
" Katakanlah !! Bagaimanapun, dia anakku.. Aku juga harus tahu apa yang ingin disembunyikannya dariku.."
Huhh. Hani menyandarkan badannya ke sofa..
" Dia berkata pada seseorang disana.. Dia bilang, cari dan pastikan dia baik-baik saja.. hanya itu.."
__ADS_1
" Itu saja ?"
" Aku tidak yakin apa yang dikatakan Yuna waktu itu adalah tentang Demy.. Lagipula saat orang itu menghubunginya, dia langsung membawa ponselnya jauh dariku.. Jadi aku tidak bisa mendengar perkataan orang itu padanya.."
" Aku sudah menduga, pernikahan mereka memang tidak beres. Entahlah.. Yuna bahkan bersikeras ingin mempertahankan pernikahan mereka walaupun sudah mendengar kabar buruk tentang keluarga Demy itu. Apa yang dia pikirkan sebenarnya.."
" Aku paham siapa Yuna. Dia tidak akan mungkin melupakan seseorang begitu saja. Aku tahu dia masih mencintai Jian, bagaimanapun keadaannya. Aku rasa, dia bertahan karena melihat Demy sangat terpuruk karena permasalahan keluarganya waktu itu.."
" Anak itu memang keras kepala !! Dia selalu mengorbankan perasaannya untuk membahagiakan orang lain.. Dia bahkan tidak tahu sedang hidup dalam keluarga seperti apa.."
" Tenanglah, ibu.. Yuna pasti sudah memikirkannya dengan matang atas keputusannya kali ini.."
........
Di dalam pesawat.
' Hehh. Wanita itu ada di pesawat ini.. Aku bisa dengan mudah membunuhnya..'
Wanita itu menyembunyikan pisaunya di balik baju. Dia mulai mendekat, dan akhirnya berhasil mendekati Yuna. Yuna tidak mengenal wanita itu sama sekali, jadi dia berpikir orang itu butuh bantuannya..
" Maaf, Nona.."
" Iya.." ( Membuka mata ).
" Boleh saya duduk disini ?"
Yuna melihat sekelilingnya. Apa wanita itu tidak punya tempat duduk ??
" Boleh, silahkan saja.." ( Tersenyum ).
Dari kejauhan, dua pria berpakaian rapi terlihat mengawasi setiap gerak-gerik wanita itu..
" Sial !!! Dia juga menyusul Nona Yuna sampai kesini !!"
Mereka bergerak mendekati Yuna dan pelayannya.
Rumi perlahan mulai mengambil pisau di balik bajunya secara diam-diam. Sang pelayan menyadari sesuatu yang aneh saat mereka berdua berbincang.
Pelayan itu melihat sesuatu yang disembunyikan Rumi ditangannya.
" Awas Nona !!!!"
" Aaaaaaa !!!"
Rumi mengangkat tangannya, hendak menusukkan pisau ke tubuh Yuna, tapi naas...
Jleb !!!!!
Buggg !!!!
Dua pria tadi datang, namun terlambat..
" ?????"
__ADS_1