Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Keluar Kota


__ADS_3

Sudah satu minggu sejak pernikahan mereka berdua. Tak ada yang berubah. Yuna masih dengan sikap yang sama. Dingin. Hari itu adalah hari terakhirnya berada di kota. Mereka memang memutuskan untuk pindah dari sana untuk bersembunyi dari anggapan orang. Iya. Memang tidak aneh. Omongan-omongan tetangga dan komentar pedas dari netizen membuat pikirannya semakin runyam. Dia memilih untuk menghapus seluruh akunnya di media sosial dan beralih ke suatu tempat yang lebih aman.


"Apa kau sudah siap?"


Demy bertanya sekali lagi untuk memastikan apa pilihan istrinya itu sudah pasti atau belum. Sementara Yuna masih saja terdiam di atas kasur. Jendela yang masih rapat tertutup kelambu itu membuat suasana lebih haru dan menyedihkan. Matanya menatap kosong. Dia sama sekali tidak menjawab satu katapun.


Demy bersimpuh dihadapannya. Dia tahu siapa yang memberatkan hatinya. Dia mengerti betapa wanita itu sungguh merindukan sosok Jian. Dia pun berbalik hati menawarkan sebuah bantuan.


"Apa kau mau pergi ke Rumah Sakit terlebih dahulu?"


Yuna masih diam. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Dia menitihkan air matanya. Memang berat dirasa. Dia akan meninggalkan kota penuh kenangan ini dan harus menyisihkan dirinya di tempat yang jauh. Tentu saja dia akan sangat merindukan cintanya disini.


"Apa kau masih ragu? Jika kau belum mau pergi, kita bisa menunggu waktu yang tepat."


"Tidak! Aku harus pergi sekarang. Bawa aku untuk berpamitan pada keluargamu dan keluargaku. Lalu setelah itu kita segera pergi dari sini."


"Kau mau aku mengantarmu ke Rumah Sakit?"


Yuna berpikir dulu sebelum menjawab. Ia memikirkan dua konsekuensinya bila pergi kesana atau jika langsung pergi tanpa berpamitan. Dia hanya menggeleng perlahan saat keputusan di otaknya sudah diambil.


"Aku tidak mau! Kita langsung ke bandara saja."


Demy mengangguk. Agak lega juga rasanya mendengar jawaban dari Yuna. Dia pun berusaha membangkitkan Yuna dari posisi duduknya. Sementara dua asisten Demy sudah bersiap-siap mengemasi barang-barang mereka.


Sejak menikah, mereka memang tinggal di sebuah bangunan mewah milik Demy. Orang tuanya yang membelikannya sebelum mereka resmi menikah. Tentu saja mereka sangat senang karena putranya bisa menikah dengan wanita idamannya dari dulu.

__ADS_1


"Kemarilah!"


Demy menarik tangan wanita itu setelah mereka berdiri. Dia mengarahkan Yuna untuk memeluknya. Yuna menurut saja. Dia memang butuh sandaran yang nyaman saat ini. Meski sebenarnya sandaran ternyaman itu hanya pada Jian. Demy mengelus rambut indahnya. Dibenamkanlah wajah mungil itu dalam dada.


"Jangan menangis! Kau akan bahagia disana."


Mereka memang akan pindah ketempat yang lebih terpencil. Dia akan tinggal di sebuah kota dengan penduduk yang lebih minim. Demy sudah mengemban tugasnya sebagai pewaris dari harta kekayaan keluarganya. Ayahnya telah memberikan aset mewah untuk dia kelola disana. Salah satunya adalah hotel bintang lima di tempatnya nanti.


Mereka tentu sudah terjamin hidupnya meski harus beralih ke tempat tinggal yang baru. Seharusnya semua wanita akan senang jika bisa seperti Yuna. Hidupnya sudah dijamin oleh keluarga sang suami. Ia hanya harus melupakan masa lalunya yang kelam. Itu saja.


Tapi apa akan menjadi semudah itu? Tidak! Ia lebih senang tinggal dalam terowongan sempit. Asalkan ada Jian di sampingnya. Tidak perlu ada gosip atau ancaman dari siapapun. Itu saja rasanya sudah cukup. Tapi itu hanya masa lalu. Dia sudah memilih jalan hidupnya. Ini adalah keputusannya. Dia tahu betapa bodohnya saat dia melakukan kesalahan itu. Kesalahan yang membuat dirinya jatuh ke dalam jurang kehancuran.


Semuanya sudah siap. Beberapa koper sudah diangkat oleh asistennya menuju mobil. Setelah semuanya terangkut, mobil pun melaju meninggalkan mereka berdua. Itu sengaja. Mereka akan menyusulnya sebentar lagi. Mereka akan mampir dan berpamitan pada keluarga mereka dahulu. Pertama adalah keluarga Demy. Tentu saja semuanya tersenyum gembira melepas kepergian mereka berdua. Tapi suasana yang berbeda tampak saat mereka berpamitan dengan keluarga besarnya. Hani dan Sammy juga berada disana.


"Jaga dirimu baik-baik. Kau harus tersenyum dan bahagia disana. Jangan telat makan seperti akhir-akhir ini. Demy kau harus sering membelikan bakmi untuknya saat disana. Kau mengerti itu!"


"Iya Bibi! Kau tak perlu khawatir."


Azof memeluknya erat. Sejujurnya laki-laki ini tidak mengetahui dengan pasti permasalahan adiknya. Dia juga tengah mengalami masa-masa sulit dalam cerita cintanya juga akhir-akhir ini. Sudah beberapa hari dia mengurung diri di dalam kamarnya, berusaha mendapat jawaban atas pertanyaan di benaknya. Karena itulah dia tidak terlalu memperhatikan Yuna. Dia pikir Yuna memang menikahi Demy karena sudah lelah menanti Jian bangun dari koma.


"Kau tidak boleh menangis lagi!"


"Jaga Jian untukku!"


Bisik Yuna lirih di telinga Azof. Saat itulah pikirannya menjadi terbuka. Dia merasa curiga pada pernikahan adiknya ini. Maklum saja, kesibukannya sebagai seorang dokter juga menjadi alasan dia kurang informasi. Dia hanya keluar saat harus bertugas, lalu kembali kerumah dan mengurung dirinya lagi. Itulah yang selalu dia lakukan beberapa minggu terakhir. Andai dia tahu, perbuatannya itu sudah membuat beberapa orang menderita.

__ADS_1


" Apa ??"


Yuna melepas pelukan kakaknya. Dia menatap mata Hani yang juga terlihat begitu sedih. Dia lantas memeluk Hani tanpa berpikir panjang.


"Kau sudah menemukan orang yang akan menjagamu, Yuna! Selamat!!"


Mereka larut dalam tangis. Kali ini perasaan mereka sungguh hancur. Kesedihan yang tidak bisa disembunyikan ini memang benar-benar terasa dalam. Namun keputusan sudah dia ambil. Yuna melepas pelukan Hani. Beralihlah dia kepada Ayah Sam dan ibu tirinya, Syiana. Mereka juga sedih. Terlihat dari wajah mereka yang juga nampak sembab karena air mata. Walau Yuna merasa bahagia karena akhirnya keluarga mereka bisa kembali berkumpul seperti ini. Tapi dia lebih merasa bahagia andai hidupnya juga bisa sebahagia mereka.


"Aku harap kalian semua bisa tetap berdamai seperti ini."


Semuanya mengangguk melihat Yuna mengucapkan pesan terakhirnya. Dia mundur menghampiri Demy di samping mobilnya. Demy merangkul pundaknya berusaha menenangkan pikiran istrinya. Sebelum mereka berpamitan, Yuna lebih dulu mengulur bibirnya untuk tersenyum. Setidaknya hal itu bisa menguatkan dirinya dan keluarganya untuk melepas kepergian ini.


"Kalian jaga diri baik-baik. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Kami permisi."


Mereka menunduk dan berlalu pergi. Demy membukakan pintu belakang mobilnya. Setelah itu ia berlari untuk membuka pintu yang sebelahnya. Mereka duduk bersama di jok belakang. Sementara di depan ada supir dan salah satu asisten perempuannya yang tengah menunggu mereka sedari tadi.


"Kita langsung berangkat, Tuan?"


"Kita langsung ke Bandara saja."


Mobil segera melaju. Meninggalkan ribuan kenangan di tempat itu. Tempat yang selalu menyimpan berjuta senyum dan tawa. Yuna harus meninggalkan itu. Melupakan segala macam kenangan yang dia lalui disini. Dan Jian.. Semoga masih ada waktu untukmu merubah segalanya. Kaulah harapan Yuna satu-satunya. Dan dia sangat berharap kau bisa menjadi malaikat penolongnya dalam kehidupan nanti.


Selamat tinggal kenangan. Tiada lagi yang tersisa disini selain tangis dan kesedihan. Sudah cukup penderitaan ini. Akhiri semuanya dengan melangkah pergi. Semoga ada harapan baru di tempat yang baru. Semoga ada cahaya yang menyinarinya dan membawa Yuna berlalu dari kesedihan.


Apa kalian tahu kemana Azof saat adiknya terkena masalah ??? Rupanya laki-laki itu sedang terpuruk memikirkan masalahnya sendiri. Dia terus berpikir apa dia bisa menikahi Hani saat status mereka sudah berubah menjadi saudara tiri. Dasar pria bucin !!!!

__ADS_1


__ADS_2