
"Ayolah Yuna, jangan begini, aku ini suami kamu, aku suami sah kamu, dan pria bernama Demy itu, dia berusaha menculik kamu dan menjauhkan kamu dariku, Yuna.."
"Aku tidak tahu, aku tidak ingat apapun.."
"Tidak masalah, aku akan membuat kamu mengingat secara pelan-pelan, kasihan anak kita berdua, dia sudah sangat merindukan kamu.."
"A-anak??" ( wajah terkejut ).
'Apa pria ini baru saja mengatakan soal anak?? Apa mungkin luka jahit di perutku, benar karena melahirkan?? Kenapa dia bisa tahu??'
"Apa yang kamu katakan? Anak? Anak siapa?"
"Anak kita berdua, kita sudah menikah dan bahagia selama hampir lima tahun bersama, dan kita sudah punya seorang anak, namanya Shi Yuan, kamu sendiri yang memberikan nama itu untuknya, nama yang di ambil dari nama kita berdua, Yuan, Yuna dan Jian.."
"Apa??" ( agak terkejut ).
"Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh meraba bagian perut kamu, aku yakin, bekas operasi Caesar itu masih terlihat jelas.."
'Iya, memang masih ada, dan semua pernyataan pria ini, rasanya memang sesuai dengan apa yang aku lihat, juga entah kenapa, aku merasa begitu dekat..'
Jian mendekat dengan cepat, lalu berhenti tepat di depan Yuna yang tengah terpaku.
"Yuna..." ( wajah yang sangat sedih ), " aku ini suami kamu.."
Yuna mendongak, dan mencoba mengingat wajah yang selalu terlukis separuh di otaknya, dan memang jika di ingat lagi, wajah pria itu agak mirip dengan pria yang ada di depannya saat ini.
"Apa boleh aku memeluk kamu??"
'Aku hanya ingin memastikan apakah rasanya lebih baik dari pada pelukan Demy itu..'
"Tentu saja boleh, Yunaku.. aku sungguh merindukan kamu.."
Tes!?
Air mata yang perlahan menetes dari kedua matanya..
Dengan ragu-ragu, Yuna mencoba mendekatkan tubuhnya pada pria yang mengaku dirinya sebagai suami itu.
Jian merentangkan kedua tangan, seolah menyambut pelukan istrinya itu dengan sangat bahagia.
"Peluk aku, aku sangat merindukan kamu.."
Dan akhirnya..
Grep!!?
"Hahhh..." ( memejamkan mata ).
Yuna terdiam merasakan dekapan yang hangat dan begitu nyaman ini. Dekapan yang entah kapan dia pernah merasakannya. Dan pria ini.. mungkinkah benar semua yang di katakan oleh pria ini?? Mungkinkah mereka memang sepasang suami istri.
"Aku merindukan kamu istriku..."
Cup!?
Mengecup lembut rambut Yuna..
__ADS_1
Dan entah kenapa, rasanya sangat berbeda dengan sentuhan nakal Demy padanya. Kali ini, bukan hanya nyaman, tapi juga, mulai membuat dirinya merasa ada sesuatu yang terobati dalam dirinya. Apa itu rindu?? Entah.. tidak ada yang tahu..
"Kamu sudah percaya kalau aku suami kamu??"
Yuna hanua terdiam menikmati setiap inci dari tubuh Jian yang sangat menghangatkan itu..
"Kita tidak punya banyak waktu, mereka akan segera menjemput kamu untuk pergi dari sini.."
Jian melepas pelukan pada tubuh Yuna itu, meskipun sejujurnya Yuna masih ingin lagi.
"Kita harus segera pergi dari sini.."
Tapi baru saja Jian akan melangkahkan kakinya menuju jendela, mendadak suara pintu terdengar dan sudah bisa di pastikan kalau mereka akan segera ketahuan.
"Jian??"
Dor!!
"Aaa..." ( berlindung di dalam pelukan Jian ).
Jian mendekap erat tubuh Yuna dan mencoba mengamankan posisi mereka.
Dia mengambil alat komunikasi dan mencoba bicara pada para anggota tim khususnya di luar. Mereka semua memang sudah bersiap.
"Aku dan nyonya terjebak di dalam kamar, mereka menembaki kami berdua, kami tidak bisa keluar dari sini.."
Dor!?
Dor!?
Suasana sangat menegangkan saat itu. Yuna dan Jian berlindung di balik tembok kamar mandi, yang letaknya memang berada di kamar Yuna.
'Wajah kamu memang begitu familiar di otakku, apa kamu memang suamiku..'
Tatapan Yuna tidak pernah lepas dari wajah Jian, dengan senyuman yang akhirnya mengembang dengan yakin. Dia mulai percaya kalau pria ini, adalah suaminya..
Tapi siapa namanya..
"Siapa nama kamu?? Nama lengkap??"
Jian terdiam, dan membisu.. Di saat situasi seperti ini, wanita ini masih sempat bertanya soal nama, dasar si konyol yang tidak pernah berubah.
"Apa kamu ingin tahu sekarang?? Aku sudah memberitahu kamu beberapa saat yang lalu.."
Dor!?
Melepas tembakan..
Dor!? Dor!?
Berkali-kali..
"Apa nama kamu Mr. J A ??"
Jian menoleh, menatap balik dua mata sipit milik Yuna yang sangat dia rindukan.
__ADS_1
"Ya. Aku J A, Jianan.. Arkana.. suami kamu.."
Yuna terdiam tak mampu berkata-kata lagi.
Apalagi saat pria itu mendekat, dan kemudian, dengan segera mengecup bibirnya dengan lembut. Rasanya begitu dekat. Bahkan sangat dekat.
Hingga seluruh tubuhnya bergetar, dan seluruh bulu romanya meremang. Pria ini.. sudah membuat Yuna begitu yakin..
'Aku tahu rasanya sungguh berbeda..'
"Ugh.." ( menikmati ).
Tapi situasi yang sangat menegangkan saat itu, membuat mereka akhirnya kembali was-was. Dua orang itu memutuskan untuk mengakhiri acara mesra mereka, dan mulai berpikir untuk segera lolos dari sana.
"Aku rindu kamu, sudahkah kamu percaya aku ini suami kamu, Yunaku sayang.."
Yuna hanya melukis senyuman tipis di bibirnya.
Dor!?
Mereka sampai lupa kalau mereka sedang dalam situasi gawat darurat layaknya film action yang biasa di perankan oleh artis Hollywood.
...****************...
"Tuan!! Ada seseorang yang berhasil mengamankan nyonya Yuna di dalam kamar.."
Demy bangun dari duduknya dan bergerak secepat mungkin menghampiri situasi itu.
Dia memberi kode untuk menghentikan acara tembak menembak yang tidak ada gunanya itu.
"Hemm.. apa kamu sudah datang Jian??"
'Demy??'
Pria itu menyimak perkataan demi perkataan Demy dari balik dinding yang cukup untuk membuatnya aman.
"Aku tahu itu kamu, apa kamu tidak ingin melihat wajahku sebelum membawa istrimu pergi dari tempat ini??"
'Demy bilang istrinya.. berarti aku benar istri dari pria ini..'
Matanya terus menatap wajah Jian yang sangat tulus dalam menyelamatkannya.
"Keluarlah, kamu sudah terkepung, lagi pula aku tidak yakin apakah ada yang bisa menyelamatkan kamu sekarang.. apa kamu tidak takut mati di sini ??"
Jian melihat sekeliling dan mencoba menemukan jalan keluar yang lebih aman.
...****************...
Sementara di luar, anggota Jian mulai menyerang. Meskipun serangan kali ini terasa agak berat, karena sebagian anggota mereka adalah anggota baru yang baru pertama kali masuk dan terjun secara langsung ke dalam arena.
Tapi dengan gagah dan beraninya, mereka mencoba melawan, dan menerobos masuk ke dalam benteng pertahanan musuh, demi menyelamatkan nyonya mereka dan juga menghabisi otak di balik semua kejadian ini.
Aksi tembak menembak ini berlangsung lama, dan mungkin memakan waktu hampir setengah jam lamanya.
sementara di dalam kamar, Jian akhirnya menemukan jalan yang sangat aman untuk meloloskan Yuna dari tempat ini.
__ADS_1
"Sayang.. aku tahu ini sulit, tapi kamu pasti bisa melakukannya.." ( bicara dengan pelan ).
"Apa maksud kamu??" ( mulai tegang ).