
" Semuanya sudah saya urus, janjimu akan saya tunggu. Ingat !! Satu bulan, tidak boleh lebih.."
Pria di depan Tiansha memberikan satu koper besar berisi uang sesuai dengan nilai yang dia inginkan.
" Tidak perlu khawatir, saya akan langsung mendapat hasilnya dalam dua hari ke depan.. Jadi tanpa harus menunggu waktu satu bulan, saya pasti bisa melunasinya.." ( Sangat percaya diri ).
" Aku harap, kamu tidak sedang ditipu. Bisa jadi ini akal-akalan rekan bisnismu saja.."
" Tenang saja, aku yang menawarkan biaya awal ini sebagai tanda tangan kontrak. Jadi mereka tidak mengetahui apapun.. Mana mungkin mereka akan menipuku.."
" Terlalu percaya diri juga tidak baik, um.. aku hanya memberi sedikit saran saja, jika kamu tidak mau dengar juga tidak masalah, ingat.. Kuambil satu perusahaan manapun milikmu, jika kamu tidak bisa melunasinya..."
" Bagus kalau kamu sudah lebih dulu mengetahuinya.."
" Kalau begitu saya permisi.."
Tiansha meninggalkan pria berusia sekitar lima puluh tahunan lebih itu sambil menenteng koper berisi uang yang tadi sempat dia terima. Dia tidak tahu kalau semua ini adalah jebakan. Pria itu terlihat menyeruput kopi di atas meja, lalu meminta bill pada pelayan kafe..
....
" Heh. Wanita itu juga melakukan seperti yang tuan katakan.. Bodoh sekali."
Pria itu memutuskan untuk pulang setelah semua urusannya selesai. Meskipun tuannya sudah memintanya untuk pulang, tapi dia tidak bersedia, dia ingin melihat drama yang baginya sangat menghibur ini sampai akhir.
....
Tiansha membuka pintu mobilnya, dan mendapati seorang wanita yang sedang cemberut. Wajah tirus itu ditekuk dan terus menerus memanyunkan bibirnya. Sepertinya dia punya masalah yang begitu besar.
" Apa putri kecil ibu sedang menginginkan es krim ??"
" Ibu, aku ini bukan putri kecil lagi, kenapa ibu selalu mengatakan hal itu padaku .."
" Lalu apa yang membuatmu seperti ini ??"
Krebb.
Tiansha menutup pintu mobil usai dia memasukinya. Dia lihat lagi betapa muramnya wajah Alishia yang sudah terjadi sedari kemarin.
" Kenapa ibu tidak membiarkan Alishia menangani masalah bisnis itu ?? Alishia juga mau terlibat dalam proyek besar ini.."
" Kamu ini belum cukup pintar, kalau nantinya kamu mendapat masalah besar, apa yang bisa kamu lakukan selain menangis dan meracau seperti ini ??"
" Ibu, Alishia juga mau berpengalaman dalam proyek sebesar itu. Tapi bagaimana bisa ibu tidak memberiku peran apapun.."
" Ibu akan memberimu peran langsung ke lapangan, untuk soal mengurus surat-surat, biar ibu dulu yang mengurusnya. Ibu akan mengirim beberapa orang untuk membantumu. Bagaimanapun juga, proyek pembangunan hotel ini bukanlah proyek yang sederhana. Ibu bahkan rela meminjam uang untuk memberi modal awal pembangunan ini. Dan nantinya, ibu akan merekrut beberapa pegawai yang berada dalam naungan kamu untuk berperan besar dalam kemajuan hotel ini. Tapi tentunya masih butuh banyak kesabaran juga.."
" Akh.. Terlalu lama.. Alishia mungkin akan mendapat peran di lapangan, tapi selama itu, berapa lama Alishia bisa menunggu sampai proyek selesai, baru mendapat peran ??"
" Anak ibu ini memang sangat pandai, kamu tidak tahu, ya.. kalau ibu sudah mengantongi Jianan juga dalam proyek kali ini. Dia sudah berkata akan memberikan keuntungan besar pada kita nantinya, dan.. Satu lagi.. Dia itu menantu idaman ibu.." ( tersenyum ).
Alishia membulatkan matanya. Wajah yang pada mulanya terlihat begitu suram dan menahan gejolak amarah yang besar itu, perlahan mulai memerah karena tersipu, dan akhirnya luluh juga. Dia mulai tersenyum dan melupakan kemarahannya pada sang ibu. Dia terlihat aneh. Perubahan sifat yang sangat signifikan membuatnya terlalu sulit ditebak. Tadi marah, dan sekarang mendadak senang. Apa dia sedang jatuh cinta pada Jian ?? Memangnya kapan mereka pernah bertemu ??
" Waahh.. Benarkah ?! Apa ibu sedang berusaha menjodohkan kami ??"
Tiansha melihat tingkah putri kecilnya yang sangat menggemaskan ini. Dia bahkan tidak terlalu menyadari kalau Alishia sekarang sudah besar dan bisa saja dia jatuh cinta kapanpun saatnya.
" Apakah kamu setuju ??"
" Kalau soal Tuan Jianan yang tampan dan kaya raya itu, bagaimana aku bisa menolak.."
Alishia memeluk ibunya sebagai tanda terima kasih.
__ADS_1
" Terima kasih, ibu..."
" Bukan masalah.." ( menepuk-nepuk pundak Alishia ).
' Cihh. Anak polos !? Kamu ini hanya alat saja, kalau bukan kamu yang aku jadikan umpan, lalu siapa lagi ?? Mengandalkan Zumi juga sudah tidak bisa, namanya sudah terlanjur buruk di mata Jian. Huhh..'
....
Pagi itu, Yuna bergegas memasukkan seluruh barang-barangnya ke dalam koper besar. Dia berniat untuk pergi dari Villa mulai hari itu. Dia juga akan mengembalikan semua uang yang sudah Jian berikan kepadanya selama ini. Pikirannya hanya satu, dia tidak ingin merepotkan Jian untuk semua permasalahannya. Justru sebaliknya, dia ingin membalas budi pada laki-laki yang selalu menolongnya ini..
Cklek..
Jian membuka pintu kamar mandi. Dia keluar dari sana sambil mengelap rambutnya yang agak basah. Kakinya melangkah dengan cepat, tapi kemudian mendadak terhenti saat dia harus melihat Yuna sedang berkemas.
" Yunaku.."
" Umm.." ( sambil berkemas ).
" Apa kamu akan pergi hari ini ??"
" Terlalu lama menginap di tempatmu membuat aku merasa tidak nyaman, aku juga ingin hidup bebas dan mandiri.."
Mendadak wajah Jian menjadi begitu sedih dan sepertinya agak kesal juga.
" Jangan salah paham, aku hanya tidak mau terlalu bergantung padamu saja, meskipun kita saling mencintai, tapi bukan berarti semua kehidupan aku menjadi tanggung jawabmu.." ( dia masih terus melakukan aktivitasnya ).
" Tapi kenapa secepat ini ?? Apa kamu sudah mendapat pekerjaan ??" ( memeluk dari belakang ).
Jian bergelayut dengan manjanya di pundak Yuna, membuat wanita itu akhirnya memutuskan untuk melayani pria ini terlebih dahulu.
" Huhh.." ( berbalik ).
Kali ini posisi mereka saling berhadapan dalam dekapan. Sepertinya posisi ini terlihat lebih romantis..
" Bisakah aku membantumu ??"
" Tidak perlu, aku sudah mengatakannya berkali-kali, apa kamu tidak mengerti ??"
" Aku memang sengaja tidak mengerti.."
" Dasar kamu ini.."
" Bagaimana kamu akan mencari uang ?"
Yuna melepas pelukan mereka dan beralih membuka handuk Jian sedikit demi sedikit. Sekarang tangannya mulai bergerak nakal.
" Aku akan menyebar formulir ke beberapa perusahaan, dan sambil menunggu hasilnya, aku bisa bekerja di Bar."
Jian menghentikan tangan Yuna secara tiba-tiba.
" Bar ??" ( terkejut ).
" Hh. Aku juga masih bingung dengan keputusan itu.."
" Tentu saja tidak boleh. Disana banyak laki-laki yang tidak tahu diri, mengganggu wanita pelayan yang bekerja disana, dan seringkali berperilaku kotor terhadap mereka, apa kamu mau bekerja di tempat seperti itu ?"
" Entahlah.. Sepertinya tidak ada pekerjaan yang lebih mudah selain di tempat itu.." ( dia juga bingung ).
" Daripada kamu harus bekerja disana, kenapa tidak bekerja di tempatku dulu untuk sementara ?? Aku tidak mau membiarkan kamu berada di tempat seperti itu.."
Cup ?!
__ADS_1
Mulai mencium tangan Yuna..
" Hhh.. Entahlah, kamu juga tahu aku sedang merasa bingung.."
" Kalau begitu, izinkan aku membiayai hidupmu dulu sementara waktu, sampai kamu mendapat pekerjaan..."
" Jian, aku sudah mengatakan padamu, aku tidak mau merepotkan kamu lagi, aku sudah terlalu sering menyusahkan kamu.."
" Lalu jika aku tidak mempermasalahkan semua itu bagaimana ??"
" Tetap saja aku masih merasa bersalah.."
" Sudahlah, sebenarnya ini masalah yang sangat mudah, tapi kamu berpikir terlalu rumit menghadapinya.."
" Bagaimana menurut kamu ??"
" Bekerjalah di tempatku dulu, sampai kamu mendapat pekerjaan dari perusahaan lain, dengan begitu, aku masih bisa memberikan yang terbaik untuk kamu, dan kamu juga tidak mendapat itu secara percuma.."
" Dunia ini sungguh sempit.. Bagaimana bisa setelah berpikir cukup lama lalu akhirnya kembali lagi pada pemikiran awal ?? Kamu pikir aku mau ??"
" Memangnya kenapa kalau aku berperan dalam proses ini ? Aku juga bisa mengajari kamu dan membimbing kamu untuk mulai berbisnis.."
" Dan itu artinya aku merepotkan kamu lagi.. Aku ini hanya mau bekerja atas kemampuanku, bukan karena bantuan kamu.."
" Baiklah, baiklah.. Aku mengerti, bagaimana kalau begini saja, kamu bekerja di tempatku, tapi aku pura-pura saja tidak peduli, kamu akan mendapat bimbingan dari bawahanku, yang sudah pasti akan menjadi atasan kamu.."
Yuna terlihat sedang berpikir. Sebenarnya memang pikirannya saja yang terlalu rumit. Kalau memilih bekerja di tempat Jian, dia hanya merasa khawatir dia mendapat poin besar bukan karena kinerja yang bagus, melainkan karena adanya ikut campur tangan Jian juga disana. Sebenarnya dia tidak mau bekerja seperti itu..
" Apa kamu janji tidak akan berbuat curang ??"
" Aku hanya akan menilai dari kinerja kamu saja, jika kamu buruk, maka aku akan minta seseorang untuk membantu kamu lebih baik lagi, tapi jika kamu punya kinerja yang bagus, maka tidak ada salahnya memberikan bonus besar untuk kamu.."
" Janji, ya.. Jangan ikut campur.."
" Bagaimana aku bisa menolak ??"
Mereka menautkan jari kelingking mereka satu sama lain, sebagai tanda perjanjian..
( Melepas ).
" Kalau begitu, aku minta tanda jadinya dulu, bagaimana ??" ( mulai nakal ).
Yuna terlihat menatap lelaki itu dengan licik..
" Hemm.." ( mulai mendekat ), " aku sudah memulainya sekitar lima belas menit yang lalu, tapi entah kenapa, kamu malah menepis tanganku.."
" Kalau begitu, maukah kamu melakukannya lagi ??"
Yuna mendorong laki-laki itu sampai akhirnya tersungkur ke atas kasur. Dia mulai menaiki kasur, dan memperlihatkan keinginannya untuk menjadi pemimpin untuk kali ini.
" Seperti ini lagi ?? Bukankah, kamu sudah terlalu lelah ??"
" Hehh.." ( tersenyum smirk ).
" Hemm.." ( mulai tergoda ).
Yuna menarik selimut dan membaut seluruh tubuh Jian dengan selimut yang begitu tebal tersebut. Dia akhirnya selesai dan berhasil memenangkan pertempuran..
" Bagaimana ?? Apa posisi ini lumayan nyaman ??"
Jian tetap diam. Sambil terus tersenyum dan memandangi wanita itu, dia terlihat punya rencana yang lebih baik..
__ADS_1
" Kenapa masih bisa tersenyum ?? Sepertinya hukuman dariku masih belum cukup mengesankan, ya..??"