Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
Pindahan


__ADS_3

Vano pov.


Saat pulang kerja seperti biasanya aku ke kamar mama dulu sebelum masuk kekamarku. Walaupun aku sangat lelah, tapi tak pernah kulewatkan untuk menyapa dan memeluk mama tersayang. Bgitulah setiap hari sebelum dan sepulang kerja. Apalagi sejak papa meninggal, hanya aku yang menemanin mama dirumah. Aku tak mau mama sampai masuk rumah sakit lagi karena banyak fikiran dan kesepian.


“Mama, vano pulang. Mama sedang apa? Suster rara sudah pulangkah?” Tanyaku. Karena aku tak melihat lagi suster kesayangan mama itu. Aku dan suster rara tak pernah berbicara, hanya saling menyapa dengan senyum dan anggukan saat berpapasan beberapa kali sewaktu dia akan pulang dari rumahku.


Mama beberapa kali pula menawarkan agar dia diantar pulang olehku. Tapi selalu ditolak secara halus dengan alasan tidak mau merepotkan. Sehingga mama memesankan taxi langganan kami untuk mengantarnya.


Baguslah fikirku. Karena akan terasa aneh jika aku mengantarnya dan aku tak tau apa yang akan kami berdua bicarakan. Bisa-bisa kami akan sama-sama diam seperti sopir dengan majikan.


“Bagaimana hari ini nak? Apa ada masalah di kantor?”


“Ga ada ma, semua baik-baik saja. Damar cukup banyak membantu Vano, jadi semua urusan kantor bisa kami tangani berdua.”


“Van, kamu kan sudah resmi diangkat jadi CEO diperusahaan sejak papa kamu meninggal. Bagaimana kalau


Damar kamu angkat jadi Direktur Operasional. Jadi Damar bisa punya wewenang lebih untuk menangani. Karena selama ini kan Damar masih sebagai asisten CEO.”


“Bagus juga ide mama. Hari senin Vano akan memberitahu Damar dan memberitahukan kepada para pemegang


saham, walaupun sebenarnya ini masih haknya Vano untuk mengangkat direktur operasional.”


“Oh iya nak, Hari minggu rara akan pindah kerumah kita dan mulai hari itu rara akan tinggal disini van, kamu bantuin rara untuk bawa barang-barangnya kesini ya nak.” Kata mama tiba-tiba.


“Hah…”aku menatap mama bingung.


“Sudah jangan melihat mama begitu, mama udah susah-susah loh bujukin rara. Kasihan anak itu harus


mondar-mandir, kerja, kuliah dan harus datang kesini memeriksa mama setiap hari. Rara pasti kelelahan walaupun dia terlihat sangat ceria.”


Benar juga sih kata mama, memang suster itu terlihat ceria, dan sepertinya dia sudah terbiasa dengan kerasnya kehidupan dijakarta.


“Baiklah ma.”

__ADS_1


******


Hari Minggu Pindahan


“Suster rara, saya Vano, ntar ketemu dimana?”


“Dirumah sakit aja mas.”


“Ok saya udah otw ke rumah sakit ya. Nanti saya tunggu dimana baiknya?” Tanyaku pada rara lewat chat whatsapp. Sebelum berangkat dari rumah tadi mama sudah memberikanku no handphone suster itu agar aku dapat menghubunginya.


“Di Parkir depan saja mas” karena kebetulan saya juga sedang dirumah sakit ini.


“Baiklah.”


Sesampainya di rumah sakit aku memarkirkan mobilku didepan, seperti yang disarankan rara.


“Suster rara saya sudah di parkir depan ya.”


“Baik mas”


tersenyum begitu, batinku. Dan perempuan ini memang ramah tidak dibuat-buat.


Aku membuka kaca mobil agar dia tau aku yang berada di dalam.


Dia masuk sambil menarik nafas sedikit ngos-ngosan.


“Maaf membuat mas menunggu.”


“Tidak kok, saya juga baru sampai.” Kataku sambil melihat kearahanya sepintas saja.


“Sudah bisa jalan? Kita kearah mana?” Tanyaku, karena aku ga tau daerah mana tempat tinggal suster ini sebelumnya.


“Keluar rumah sakit ntar ambil arah pondok labu saja mas, lima ratus meter setelah lampu merah, ada jalan haji

__ADS_1


Maimun. Saya tinggal dekat situ ada kost-kostan khusus perempuan. Depan kost saya ada tempat parkir kok mas.”


Setelah itu kami terdiam beberapa saat, tak ada pembicaraan diantara kami, hanya seputar arah jalan untuk memastikan yang kutanyakan, dan perempuan inipun hanya mnjawab seperlunya.


Sesampainya disana, aku memarkirkan mobilku, kami turun dari mobil dan berjalan bersama. Aku mengikutinya dari belakang.


Aku membantunya mengangkat barang bawaannya, hanya ada dua kardus dan satu travel bag. Mungkin kardus ini berisi buku-buku dan travel bag itu pakaiannya. Batinku.


Tampak kamar kostnya yang sangat sederhana. Bahkan lebih kecil dari kamarku dirumah. Perempuan ini sangat


sederhana, batinku.


“Ada lagi, tanyaku?”


“Tidak ada mas, hanya itu. Sebentar mas saya pamitan dulu sama ibu kost ya.”


Kami berjalan kearah wanita yang ditunjuk rara, untuk berpamitan pada ibu kostnya yang berada di pintu rumah


utama.


“Tante, rara pamit ya. Trimakasih tante sudah sangat baik pada rara selama tinggal disini.”


Wanita itu memeluk rara dengan haru. “Jaga diri baik-baik ya nak. Jangan sungkan untuk datang kesini, pintu rumah tante selalu terbuka untukmu.“


“Nitip rara ya nak.” Pesan wanita itu sambil menyalamiku. Dan aku mengangguk sambil sedikit tersenyum.


Sepertinya rara sudah menceritakan siapa aku dan kemana dia pindah.


Kami kembali terdiam saat di mobil, kami sepertinya sama-sama bingung dengan apa yang harus kami bahas selama perjalanan.


Cukup jauh juga dari rumah sakit ke kostnya. Walaupun bisa dengan satu kali angkutan, tapi kira-kira butuh waktu


sekitar 20 menit. Dari kostnya kerumah butuh perjalanan sekitar 30 menit. Dan dari rumahku ke kampusnya butuh waktu sekitar satu jam. Seperti itulah ternyata yang dijalaninya setiap hari selama dia bolak balik ke rumahku.

__ADS_1


Perempuan ini cukup tangguh, batinku.. hah apa yang aku fikirkan..


Tbc


__ADS_2