
“Hei… ada apa ini, kenapa bantal jadi pindah tempat, apa yang kalian gentian yang mau jadi pasien??” Tanya rika, yang melihat bantal buat pasien yang ada di dekat damar.
“ha.ha. ada yang lagi kesal kak” jawab damar
“wahhhh. Bakalan panjang lagi ini ceritanya, api dan kompornya sudah datang.” Batin Vano.
“kenapa mar” tanya kak rika pada damar dan sesekali melihat kearah vano untuk memastikan kondisi adiknya yang sudah membaik.
“tuh… adik kakak itu tuh. Dia lagi jatuh cinta ma suster yang merawat tante Maria kak. Siapa nama suster itu kak?”
“Namanya rara mar” jawab kak rika.
“Sudah… jangan malu-malu van, jangan kaku gitu. Kalau memang kamu suka akuin aja perasaanmu sama dia. Tembak langsung aja, jangan ngarepin dia yang nembak kamu” kata damar yang mulai bersikap serius
“Benar itu van, kalau kamu udah cocok, sekalian aja dilamar jadi istri. Umur kamu itu sudah cukup mapan untuk menikah. Kakak setuju kok kalau rara jadi adik ipar kakak. Mama juga pasti senang.” Tambah rika juga ikutan serius.
“Mama minta rara tinggal dirumah, dan minta kamu antar dan jemput dia, supaya kalian lebih mengenal satu sama lain, jadi lebih dekat. Itu salah satu trik mama. Sebenarnya mama sudah senang melihat rara sejak awal. Ditambah lagi setelah rara tinggal dirumah.” Rika coba menjelaskan ke vano
Namun vano yang sedang dapat wangsit dan sahabat dan kakaknya sok cuek dan pura-pura serius menonton acara yang ada di layar televise.
“woi.. didengerin ga kita pada ngomong ke kamu ini. Kata damar sambil menepuk bahu vano, dan mengembalikan bantal yang dilempar vano tadi.
“hmmmm.” Jawab vano.
“Aku balik kantor ya, lagi banyak kerjaan ini, jam dua ntar ada meeting yang harusnya kamu yang datang.”
“Damar duluan kak rika, mas bisma” pamit damar pada kedua suami istri itu
“ok mar, trimakasih ya. Salam buat istrimu” jawab rika. Dan dijawab dengan senyuman oleh bisma.
“Kakak dan mas bisma juga balik ya van, mas bisma masih harus kekantor soalnya.” “ oh ya, mama ga perlu datang kan dek?? Kemaren mama sempat bilang mau datang, tapi kakak bilang ga usah. Ntar jangan lupa
__ADS_1
videocall mama biar ga kepikiran”
“hmmmm. Jawab vano singkat, karena masih tersisa kekesalan akibat ledekan kakaknya dan damar tadi.
Saat hampir membuka pintu, tiba-tiba rika berbalik. “salam buat rara ya mar”, btw masih mau kan rara jagain kamu disini.” Kata rika sambil menggoda adiknya itu dengan lirikan matanya.
“yaaaaaaaa. Ntar vano sampein, udah buruan balik sana. Mas bisma buruan tuh putri salju cerewet dibawa” teriak damar dari tempat tidurnya.
“hahahahaha. Masih terdengar sayup-sayup suara tawa dari balik pintu kamar perawatan vano. Suara tawa rika dan bisma yang merasa puas ngeledekin adiknya vano.
*****
Vano dirawat dirumah sakit selama tiga hari, dan selanjutnya menurut dokter sudah boleh pulang dan rawat jalan saja. Selama dirawat hanya rika, bisma dan damar yang bergantian datang. Karena perihal kecelakaan itu tidak ada yang tau. Dan rara yang selalu setia menemani. Artinya pekerjaan rara bertambah. Biasanya rara kerja di rumah sakit, kuliah dan merawat bu Maria. Sekarang rara berkerja dirumah sakit, kuliah, tetap mengontrol keadaan bu Maria dan menemani vano di rumah sakit.
Walaupun seharusnya rara yang menjaga vano yang sedang dirawat, tapi sebaliknya malah vano yang sering terjaga dan dilihatnya rara sudah tertidur pulas di sofa. Vano tidak pernah mengganggunya saat sedang
tidur, malah dia merasa senang karena diam-diam vano sering memandangi gadis itu saat sedang tertidur.
“Mas, siang ini mas vano udah boleh, tadi dokter udah kasi tau kan??” Tanya rara pada vano yang sedang menandatangani berkas-berkas yang tadi pagi dibawa damar.
“Hmm. Tadi damar udah beresin administrasinya kan?” Vano malah balik bertanya.
“sudah mas, tadi mas damar juga sudah kasi tau ke rara. Maksudnya rara mau tanya, mas damar mau pulang jam berapa? Biar rara tau beresin barang-barang yang ada di sini.
“kok saya ga rela ya, kalau rara manggil mas ke damar?” batin vano.
“hei.. mas vano ditanya kok malah bengong” rara bingung melihat vano yang ditanya malah ngelamun.
“Ya…ya… saya dengar” jawab vano yang tersadar dari lamunannya. Ntar pulangnya bareng kamu aja. Karena Damar ga bisa jemput saya. Ada meeting penting katanya” boleh kan?
“ok. Ga apa-apa, yang penting mas vano ga bosan nunggu rara” “rara tinggal dulu ya, ntar habis aplusan ma yang jaga sore rara balik ke sini, rara mau kelarin laporan jaga pagi juga” rara mencoba menjelaskan ke vano.
__ADS_1
*****
Sore hari sampai dirumahnya vano langsung masuk ke kamarnya, masih dibantu oleh rara, karena kakinya yang masih sedikit pincang dan sedikit masih terasa sakit.
Rara membantunya merebahkan badannya disofa yang ada di kamar vano.
“Saya di sofa aja ra, saya mau nonton televise dulu, lagian saya udah bosan di kasur.” Kata vano
“hmmm” jawab rara sambil tangannya masih memegang sebelah lengan vano untuk memapahnya masuk ke kamar vano. “wahh kamarnya sangat rapi” batin rara sambil melihat sekitarnya. Sehingga rara tidak sadar apa yang
terjadi kemudian.
“brukkkkk” rara terjatuh tepat diatas vano. Saat vano meletakkan badannya diatas sofa, Rara tidak menyadari tanggannya yang tadi masih memegang lengan vano jadi ikut tertarik karena dia yang sedang mengamati
sekelilingnya.
Deghh…
Deghh…
Deghh…
Jantung vano rasanya akan copot keluar dari dalam dadanya. Debarannya sangat keras. Karena saat ini wajahnya berada sangat dekat dengan wajah rara. Sakit dekatnya dia dapat merasakan tiap hembusan nafas rara.
Deg..deg.. “ohhhh. Dia ternyata lebih cantik lagi bila dilihat sangat dekat begini” batin vano. Bagaimana ini? Haruskah aku menciumnya sekarang? Perasaan di dada vano makin bergejolak.
*****
Buat pembaca, jangan lupa like dan komen ya, jika menyukai story ini.
Sabar ya, vano yang sudah menyadari perasaannya apa ya kira-kira yang akan dilakukannya? Dan bagaimana pula reaksi rara dengan kejadian itu? Hahaha. Sepertinya vano masih takut….
__ADS_1