
Malam menjadi semakin larut. Hawa dingin angin malam yang terus berhembus semakin kencang saja. Yuna yang sudah kembali dari Rumah Sakit masih saja merasakan badannya seperti dipatahkan dan dihancurkan perlahan-lahan. Dia hanya meringis tatkala sakit yang menusuk kepalanya semakin tidak terkendali. Entahlah. Dia sendiri belum pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya. Ia hanya berpikir positif. Mungkin saja hal itu dikarenakan kondisi kepalanya yang sempat terbentur saat kecelakaan beberapa tahun lalu.
"Ishhh !!"
Keluhnya sembari mengusap kepalanya dengan lembut.
"Yuna? Ada apa denganmu ?" ( Menyadari istrinya sedang dalam kesulitan ).
Demy mendekat dengan cemas lalu memeriksa kepala Yuna.
"Apa kau baik-baik saja ?"
"Kau tidak perlu cemas! Ini hanya sakit biasa. Aku akan mengatasinya dengan cepat !"
"Kalau begitu minum obatmu !"
Demy mengambilkan sebuah kaplet di atas meja. Dia menyambar segelas air putih lalu meminumkannya pada Yuna dengan rasa khawatir yang masih saja singgah dihatinya.
'Glukk !!'
Yuna sudah meminumnya. Dia tidak berpikir hal yang aneh tentang dirinya. Dia tahu selama ini pikirannya terlalu bekerja keras. Tentu saja untuk berusaha melupakan Jian. Dia tidak tahu bagaimana jika nanti Jian datang menjemputnya apakah mungkin dia akan memilih pulang dengan Jian atau dia akan tetap tinggal disini? Mengingat posisi dan statusnya yang kini sudah menjadi istri dari seorang pria. Itulah yang dia pikirkan setiap harinya.
"Apa sudah lebih baik?" ( Terlihat cemas ).
( Mangangguk ), "Aku sudah baik sekarang. Kau bisa beristirahat dulu! Sedari aku masuk RS kau tak pernah terlihat tidur dan terus mengawasiku. Jadi sekarang kau harus tidur!"
Demy mengangguk saja. Diambilnya sebuah selimut yang dia letakkan diatas kasur lalu beranjak tidur di sofa. Yuna masih saja menatap lelaki itu dengan rasa iba. Ingin sekali ia membahagiakan suaminya yang sah itu. Tapi apa boleh buat, hatinya tidak mampu melakukannya. Dia sudah terlanjur mengukir nama Jian sebagai prioritasnya. Itulah yang menjadi masalah.
Andai saja masih ada kesempatan untuk memilih. Ia tidak akan menjatuhkan Demy dalam kehidupan yang rumit ini. Dia akan bertahan dan sebisa mungkin tidak akan merugikan sahabatnya ini. Dia sudah terlalu jauh mengubur Demy dalam keadaan yang sulit. Apa ruginya untuk Demy? Tentu saja Demy sangat dirugikan dalam hal ini. Meskipun dia senang karena akhirnya bisa mendapatkan Yuna, tapi sampai saat ini dia belum bisa menaklukkan hati istrinya. Bahkan tubuhnya pun tidak. Dia sama sekali tidak mendapat hak batinnya sebagai seorang suami dari Yuna. Itu menyakitkan.
Yuna tidak bisa tidur. Dia terus saja menatap luar jendela dengan tatapan kosong. Rasanya ia sedang menatapi wajah Jian yang terlukis di langit malam. Ia rindu. Bahkan sangat rindu. Dia tak bisa lagi menahan rasa yang semakin hari semakin dalam saja. Seberat itu ternyata jika dirasakan. Akan butuh waktu berapa lama dia harus menghadapi masalah seperti ini?
Air matanya menetes. Mengalir dengan deras di pipi kanan dan kirinya. Dia terisak dan kemudian tak mampu membendungnya. Larutlah dia dalam tangisan yang menyayat di sepanjang malam.
'Jian.. Aku merindukanmu.. Tapi bagaimana aku bisa meninggalkan Demy disini ?'
Tangisannya semakin dalam dan terdengar begitu perih. Dia bahkan terlalu larut dalam kesedihan hingga tidak menyadari Demy yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan yang begitu menyesal.
'Andai saja aku bisa membahagiakanmu lebih dari Jian..'
Dia juga sama. Tidak bisa terlelap dalam tidurnya. Bahkan sekedar memejamkan mata pun rasanya sangat sulit. Dia hanya terus memandangi Yuna yang masih saja menangis di atas kasur.
.........
Di sisi lain, Jian yang sedang berusaha membuka satu persatu fakta di balik semua permasalahannya dengan Yuna, ternyata mulai membuahkan hasil yang baik. Tidak sia-sia ternyata seorang pengusaha dan motivator langsung terjun tangan untuk menangani permasalahan ini. Hasilnya tidak jauh berbeda dari seorang mafia kelas kakap ataupun seorang detektif. Lumayan juga.
Dia bahkan dengan cepat mengantongi beberapa barang bukti. Bahkan dia juga sudah berhasil mendapatkan beberapa orang yang diduga ikut melakukan penyebaran berita hoax beberapa bulan yang lalu. Berita palsu yang menyeret nama Yuna tersebut dan membuat nama kekasihnya hancur di mata publik.
'Tap ! Tap !'
Jian berjalan menuju ruangan yang agak redup sinar lampunya. Disana terlihat Annie yang terduduk layaknya tahanan di penjara. Bahkan di sekelilingnya pun sengaja Jian pasang kamera cctv untuk mengawasi Annie 24 jam.
Annie mendongak dari rengkuhannya tatkala mendengar langkah kaki Jian dari arah luar. Lelaki bertubuh tegap dengan tinggi 179 cm itu datang dan berhasil membuat jantung Annie berdetak hebat. Memang siapapun yang berhadapan dengan laki-laki ini akan merasakan hal yang sama. Itu adalah keunggulan yang kesekian kalinya dari Jian. Berhasil membuat orang lain tunduk tanpa melakukan apapun.
__ADS_1
"Ehemm."
Annie menatap dua mata itu. Sebenarnya laki-laki itu sangat tampan jika dilihat secara seksama. Pantas saja Yuna lebih memilih Jian daripada si Demy yang tidak lain adalah majikannya sendiri. Dilihat dari segala sisi memang Jian lebih unggul beberapa langkah dari Demy. Dan tidak heran jika semua orang berkata Yuna sangat beruntung, karena bisa mendapatkan cinta dari Tuan Muda Jian.
"Apa yang kau rasakan sekarang, Annie ?"
"Aku hanya ingin keluar !"
Wajah Annie terlihat begitu pucat. Matanya sayup dan dia terlihat kelaparan. Jian yang mengerti itu segera menyuruh bawahannya untuk membawakan makanan kepada Annie. Wanita itu hanya menunduk. Hatinya amat kesal, tapi bibir dan tangannya tak mampu berbicara. Dia begitu ingin keluar dan lari dari masalah ini. Namun dia juga bersyukur karena Jian sendiri yang menculiknya. Jika orang lain, pasti dia tidak akan mendapat makanan layak disini. Dia hanya akan ditelantarkan lalu setelah itu dibunuh dan dibuang. Bukankah penculikan pada umumnya akan seperti itu?
"Makan itu dan lanjutkanlah pembicaraanmu denganku nanti.."
Annie menggapai sepiring nasi dengan lauk pauk diaatasnya. Dia makan dengan begitu lahap dan dalam sekejap satu porsi nasi Padang pun ludes dimakannya. Jian hanya melukis senyuman di bibirnya dengan tipis. Melihat kondisi Annie yang terlihat memprihatinkan sekarang, dia hanya menyunggingkan senyuman pertanda hatinya sangat puas.
"Apa makanan ini sangat enak ?"
Annie mendongak lagi. Menatap mata Jian untuk yang kesekian kalinya. Kali ini dia terlihat cemas. Dia baru menyadari ada yang tidak beres dalam makanan yang disantapnya barusan.
"Aku sudah menambahkan racun dalam makanan itu. Apa kau sungguh menikmatinya ?"
"Apa ???" ( Raut muka terkejut ).
Jian mengangkat alisnya sebelah.
"Tuan? Apa yang sudah kau lakukan?"
"Tentu saja aku akan membunuhmu. Bukankah kau sudah lihat sendiri sahabat sekaligus rekan kerjamu yang tewas ditangan para penjagaku? Apa kau masih tidak percaya ?"
"Kau tidak bisa membunuhku, Jian !!! Kau tidak akan bisa menyingkirkan aku !!!"
Annie terlihat semakin cemas.
"Kau tak perlu cemas! Kami sudah membawa penawarnya disini." ( Menunjukkan obat cair di tangannya ).
Mata Annie terbelalak. Ternyata laki-laki ini tidak bisa dipermainkan. Ia kira sedang berhadapan dengan siapa? Bahkan membunuh raganya pun adalah hal yang paling mudah bagi Jian.
"Tapi kau tidak akan mendapatkannya dengan percuma !"
"Kau sudah mengancam ku sebelumnya.. Dan sekarang kau akan mengancam aku lagi? Hhh. Aku tidak peduli kalaupun aku harus mati. Kau tidak akan mendapat bukti apapun mengenai permasalahan itu."
"Mudah saja! Mungkin saja aku bisa menggunakan cara lain." ( Duduk dan menatap Annie ).
"Apa yang kau maksud ?"
"Aku tidak ada maksud apapun! Seharusnya kau langsung saja berkata padaku! Tidak perlu bertele-tele.Jadi kau bisa bebas dan tidak menyita banyak waktu."
Jian bangun dan membenarkan kerah kemeja putih bersihnya.Dia berbalik membelakangi Annie.
"Mungkin ibumu akan menyukai kado spesial dariku." ( Tersenyum licik ).
Annie terkejut mendengar nama ibunya disebut oleh Jian.
"Apa ??"
__ADS_1
Jian berbalik lagi menatap Annie.
"Aku tidak bisa membiarkan asetku pergi tanpa meninggalkan jejak untuk yang kedua kalinya. Jadi kau boleh saja mati. Asalkan kau sudah menjawab semua pertanyaanku.."
"Kau tidak bisa menggunakan ibuku sebagai alat untuk mengancamku !!"
"Um.. Aku sungguh tidak bermaksud memperalat ibumu.. Dia yang sungguh menyukai kado dari penggemar rahasianya.."
.....
Seorang wanita tua yang tinggal di gubuk tak layak tengah bergembira. Baru beberapa menit yang lalu dia menerima kiriman uang dan sebuah ponsel. Dia merasa senang karena dia pikir ponsel itu memang benar dari putrinya. Dia tidak berpikir terlalu jauh saat membaca sekilas pesan tertulis yang mengatakan penggemar rahasianya yang telah mengirimkan paket tersebut.
"Huhh. Dasar anak nakal !! Dia bahkan tidak menggunakan namanya untuk memberiku sebuah hadiah.. Manis sekali.."
Wanita itu terlihat begitu gembira. Dia tidak tahu bahwa ponsel itu bukanlah seperti yang dia pikirkan. Segepok uang itu memang asli. Tapi ponsel yang juga dia terima hanyalah kerangkanya saja. Dia tidak tahu di dalam ponsel tersebut berisi sebuah bahan peledak.
"Bagaimana menyalakannya, ya? Aku tidak bisa menemukan tombol apapun disini.. Apa aku sebodoh itu hingga masalah sekecil inipun aku tidak tahu ?"
Dia masih mencari tombol atau apapun yang bisa menyalakan ponsel ditangannya. Dia sungguh tidak sadar dirinya sedang ditipu dan bahkan sedang dalam keadaan yang sangat terancam.
.......
"Aku yakin dia sedang penasaran dan ingin memencet tombol di ponsel itu.."
Jian duduk di atas kursi.
"Ia bahkan tidak bisa membedakan yang mana ponsel dan yang mana bahan peledak."
"Apa ?? Bahan peledak katamu ??" ( Sekarang dia semakin terkejut ).
"Kenapa kau terkejut seperti itu ?"
"Jian !! Kau jangan macam-macam dengan ibuku !! Aku tidak akan mengampunimu jika kau berani menyentuhnya !!!"
Annie memegangi dadanya yang terasa sesak dengan tangan kanannya. Jian yang menyadari itu langsung terlihat gembira.
"Kau kenapa Annie? Apa kau sudah mulai merasa tidak enak badan ?"
"A.. Aku.. Sakit sekali.. Dadaku.."
"Itu karena pengaruh racun yang kau makan tadi.. "
"Dasar lelaki jahat !!"
"Wow !! Aku tidak jahat Nona.. Kau sendiri yang memaksaku mengotori tanganku.. Sekarang cepat katakan padaku apa yang kalian lakukan di belakangku selama ini.. Sebelum kau melihat jasad ibumu tewas dengan mengenaskan."
"Kau !!! Hhhh !! Aku akan menjawabnya setelah kau memberiku obat itu.."
"Kau mau ini? Kupikir kau bilang tidak takut mati sebelum ini. Ternyata kau sama saja !"
"Aku harus hidup !! Kau pikir aku akan membiarkan ibuku mati ?"
"Aku tidak akan memberikan obat ini secara percuma.. Aku ingin kau membayarnya dengan penjelasan.."
__ADS_1
....