Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
Kejutan di Pagi Hari.


__ADS_3

Aku terbangun di pagi hari, kulihat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Aku langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku, kemudian berpakaian dan mengikat rambutku yang panjang.. Tampak di cermin aku sudah rapi.


Aku berjalan menghampiri mba tun di dapur berniat membantunya sambil mengambil minum. Dan ternyata mba tun sudah selesai menyiapkan sarapan pagi.


“Pagi mba tun. Sudah rapi ya? Padahal tadi rara mau bantuin mba siapin sarapan.” Aku menghampiri mba tun


“Sudah non rara. Tidak usah repot-repot, saya udah biasa sendiri, non rara rawat nyonya saja supaya beliau


makin sehat seperti dulu.” Jawab mba tun padaku sambil tersenyum


“Bu Maria sudah bangun mba tun?”


“Biasanya sih sudah. Coba dilihat non.”


Aku mengetuk pintu kamar bu Maria.


Tok…tokk.


“Bu saya rara, apakah ibu sudah bangun?”


“Sudah nak, masuklah.”


Aku masuk membawa pengukur tekanan darah, dan alat cek gula darah ditanganku, dan berjalan kearah bu Maria yang masih duduk di pinggir tempat tidurnya.


“Saya ukur dulu tekanan darah dan gula darah ibu ya.”


“Wah. Saya seperti berada di rumah sakit ra. Pagi-pagi sudah ada suster cantik yang datang ke kamar saya.”


“Ibu bisa saja” jawabku yang tersipu malu


Saat aku sedang melakukan pekerjaanku, karena mendengar ada langkah seseorang yang masuk aku melihat

__ADS_1


kearah pintu yang tadi kubiarkan terbuka.


“Aaaaaaaaa.” Teriakku. Bersamaan dengan mas Vano. Aku langsung menutup mataku dan mas Vano langsung berbalik pergi


Mas Vano tadi masuk hanya dengan melilitkan handuk dipinggangnya dengan membawa sebuah kemeja dan dasi ditangannya. Aku sempat melihat badannya yang kekar dan putih, tampaknya disela-sela waktu sibuknya dia masih menyempatkan untuk berolah raga.


Aku sih sudah biasa melihat hal-hal seperti ini di rumah sakit, namanya juga suster yang juga mempunyai kewajiban membersihkan badan pasien sampai kedalam-dalam, baik laki-laki atau perempuan. Tapi kejadian ini mengejutkan karena tempatnya bukan dirumah sakit, ditambah lagi orang yang kulihat yang biasanya diam-diam


gimana gitu.


Kurasakan wajahku masih terasa panas dan mungkin masih memerah. Dan aku kembali melanjutkan memeriksa bu Maria.


“Rara. Kamu dapat kejutan di hari pertama disini ya nak. Ha.ha.ha. maaf ya nak”


“Sudah jadi kebiasaan anak satu itu begitu, setiap pagi dia minta pendapat ibu dengan pakaian dan dasinya yang


sesuai. Dia ga pede dengan pilihannya sendiri, dan ga ada malunya tuh, sudah seumur itu masih pakai-pakai handuk ke kamar mamanya. Apalagi mba tun itu sudah merawat Vano dari kecil, jadi dia ga malu juga sama mba tun.” Bu Maria menjelaskan sambil tersenyum-senyum membayangkan anak laki-laki nya itu.


“Hahahaha” bu Maria tertawa. Dan aku menanggapi bu Maria dengan tersenyum masih dan masih dengan wajahku yang


memerah.


“Tensi Ibu hari ini bagus, gula


darahnya masih agak tinggi, pagi ini saya suntuik insulin dulu ya bu, setengah


jam lagi ibu bisa sarapan pagi.” Lanjutku yang tadi sempat terhenti karena


kelakuan kocak mas Vano


“Baik nak.”

__ADS_1


“Nanti jam stengah delapan rara berangkat kerja ya bu. Hari ini rara masuk pagi. Sepulang kerja saya ke kampus


dulu ada bimbingan laporan dengan dosen saya. Jadi nanti mungkin setelah magrib baru saya sampai dirumah bu.”


Aku menjelaskan kepada bu Maria, aku merasa perlu melakukan itu karena aku statusnya sudah tinggal didalam rumah ini, jadi baiknya bu Maria tau apa yang aku lakukan.


“Ya ra. Kamu hati-hati di jalan nanti ya nak.”


Vano pov.


Tadi malam terasa menyenangkan mendengar kabar dari kak Rika. Sebentar lagi aku akan punya ponakan, dan


dipanggil om… hmmm gimana rasanya ya.


Walau kak Rika sering menggodaku, tapi aku sangat menyayangi saudara perempuanku satu-satunya itu. Ditambah mas Bima yang juga sangat menyayanginya. Walaupun mas Bima saudara ipar, tapi dia seperti abang bagiku, dan mamapun memperlakukannya sama seperti denganku.


Tapi aku cukup malu waktu kak Rika menggodaku tadi malam. Bagaimana tidak, dia menyebutkan kalau aku tidak punya pacar didepan suster rara, hah sangat memalukan, pasti perempuan itu berfikir kalau ga ada yang mau jadi pacarku. Padahal banyak perempuan yang antri dan sering menggodaku. Tapi entah kenapa aku merasa tidak ada yang dapat menarik perhatianku. Belum ada yang bisa membuat jantungku bergetar.. hahaha. Puitis juga


Bahkan mama pernah mengenalkan anak-anak temannya padaku, yah bisa dibilang secara halus mencomblangiku, tapi tidak ada yang cocok dihatiku. Ada yang terlalu centil, ada yang terlalu pendiam, ada yang sombong, sok kaya dan macam-macam perangainya.


“Aaaaaaaaa.” Teriakku bersamaan dengan suster itu saat aku memasuki kamar mama yang terbuka. Aku langsung


membalikkan badanku kembali ke kamarku.


Hhhhh.. kenapa aku lupa kalau ada penghuni baru dirumah ini. Perempuan itu melihatku hanya mengenakan handuk yang kulilitkan dipinggangku. Aku malu setengah mati, setengah hidup.


Kebiasaan sih.. batinku. Apa gerangan yang akan dipikirkan perempuan itu. Pasti dia berfikir aku anak mami dan kekanakan..


Hhhhehh. Aku menghembuskan nafas yang terasa sesak karena kejadian barusan.


Tbc. 

__ADS_1


Masih banyak kejadian-kejadian lucu yang menurut vano memalukan, tapi buat rara adalah hal yang biasa.


__ADS_2