
"Katakan padaku apa motif kalian mengancam Yuna !!"
Ucap Azof kepada laki-laki itu di sebuah gedung tidak berpenghuni.
Iya. Berkat bantuan para bodyguard Jian, Azof berhasil menangkap pria itu.
Flashback !!
"Kau bisa kembali lebih dulu. Aku akan lama berbelanja disini. Lagipula ada Anni yang menemaniku."
Daniah sedang bercakap-cakap dengan Aldi di sebuah Mall.
"Apa anda tidak apa-apa jika saya meninggalkan anda disini sendirian, Nyonya ?"
"Tenanglah. Kau tidak perlu cemas. Kau bisa berjalan-jalan dulu sembari menungguku."
"Baiklah, Nyonya. Saya akan berjalan-jalan di luar."
"Baiklah. Cepatlah kembali saat aku sudah menghubungimu."
Aldi terlihat meninggalkan Daniah bersama salah seorang asistennya. Dia memang akan bertemu dengan seseorang di Taman. Dia memasuki mobil dan berlalu meninggalkan majikannya di tempat perbelanjaan.
Dia memarkirkan mobil dan berlalu menuju Taman kota. Seorang wanita tengah menunggunya disana. Dengan terburu-buru dia berusaha menghampiri wanita itu, lalu duduk di sampingnya.
"Kau sangat lama. Aku sudah menunggu hampir satu jam disini."
"Apa ada seseorang yang mengenalimu ?"
"Tidak !"
"Baguslah."
"Memangnya kenapa ?"
"Beberapa hari yang lalu ada dua orang yang datang ke rumah Demy. Dia keluarga Yuna."
"Apa ?"
"Aku rasa mereka mulai curiga."
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang ?"
"Kita hanya harus berusaha menutupi semuanya sebisa mungkin."
"Jangan khawatir kalau soal itu.. Aku pandai dalam menjaga rahasia. Dan kau tahu kemampuan aktingku juga tidak kalah dari Yuna, bukan ?"
Wanita itu tersenyum. Rupanya dia adalah wanita yang mengancam Yuna. Dia aktris yang baru saja naik daun.Aurel namanya. Dia yang sudah bersekongkol dengan Aldi untuk membuat ancaman pada Yuna.
"Baiklah. Aku harus kembali syuting. Kau juga harus kembali bukan ?"
"Kau pergilah lebih dulu. Aku akan duduk disini sebentar."
"Baiklah jika sudah tidak ada lagi yang kau bicarakan, aku akan pergi."
__ADS_1
"Iya.Pergilah !!"
Aurel lebih dulu pergi meninggalkan Aldi disana sendiri. Aldi memang sengaja duduk sebentar disana. Ia ingin menyegarkan pikirannya untuk sejenak.
Tapi belum juga dia bernafas, dia dikejutkan oleh kedatangan dua orang berbadan besar yang mendadak memukulnya hingga tersungkur. Dia dipukuli tanpa ampun, dan setelah itu dia tidak ingat apapun lagi.
Aurel menoleh. Dan dia tidak mendapati pria itu di kursi taman. Dia tidak berpikir apapun. Ia mengira Aldi sudah pergi lebih dulu. Dia pun berlanjut pergi meninggalkan tempat itu.
.......
"Kau masih tidak mau mengaku ?"
Aldi sudah terlihat tidak berdaya sama sekali. Mukanya memar dan darah bercucuran diseluruh tubuhnya. Tangan dan kakinya diikat. Dia tak bisa berkutik lagi walau bagaimanapun caranya.
Azof yang sudah tidak bisa lagi memberikan kesabaran pada pria itu, tak henti-hentinya memukuli Aldi. Ia sangat kesal mendapati Aldi yang terus terdiam tanpa jawaban sedikitpun.
Lalu sebuah pesan tiba-tiba saja masuk di ponsel Aldi. Rupanya dia Daniah. Wanita itu mungkin cemas karena Aldi belum juga menunjukkan batang hidungnya sedari kemarin. Azof membaca pesan itu lalu membalasnya.
'Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak bisa pulang karena harus mengurus permasalahan teman saya.'
Begitulah kata yang dituliskan Azof pada ponsel Aldi untuk membalas pesan dari Daniah.
"Hh. Kau tidak akan pulang sebelum kau mengakui semua perbuatanmu !!"
Azof menunjukkan sebuah benda dari sakunya. Mengejutkan. Rupanya sedari tadi dia menyimpan benda tajam disana. Sebuah pisau tajam yang mengkilat. Menakutkan. Aldi melihatnya dengan raut ketakutan. Dia tidak mampu melawan. Tenaganya terlalu lemah sekarang.
Azof mulai menggesekkan benda tajam itu secara perlahan di tubuh Aldi yang hanya mengenakan kaus tipis. Mulanya ia menggesek di bagian tangan,lalu beralihlah ke perut.
"Kenapa tidak ?"
Dia menyibak kaus itu dan merobeknya. Kali ini Aldi benar-benar bertelanjang dada. Yang tersisa di tubuhnya hanyalah celana Levis hitamnya saja.
"Jangan !! Aku mohon !! Jangan lukai aku !!" ( Nadanya terdengar semakin lemah ).
"Kau hanya harus mengatakan yang sejujurnya saja jika ingin selamat dari pisauku ini."
"Baiklah. Aku akan jujur padamu."
"Katakanlah !"
Azof mulai mendengarkan semuanya dengan serius.
"Aku hanya membantu Aurel untuk lebih terkenal."
"Itu saja ?"
"Iya."
"Apa tidak ada lagi yang kau sembunyikan dariku ?"
"Tidak ! Hanya itu !"
"Jadi kau yang memotret Yuna saat dia tidak sengaja tertidur di samping Demy ?"
__ADS_1
"Iya."
"Dan kau juga yang sudah membuka sebagian baju yang dipakai Yuna supaya semuanya terlihat begitu alami ?"
"Kau benar !"
Plak !!!!
Azof menampar muka pria itu dengan keras. Benci sekali rasanya melihat muka Aldi yang sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Kau sudah menghancurkan reputasi adikku. Jadi sekarang, kau juga harus mendapatkan kehancuran yang sama. Ungkap pada media tentang semua perbuatanmu, dan kau harus mendekam di penjara."
"Jangan ! Kau tak boleh melakukan itu padaku."
"Memangnya kenapa ?"
"Jika kau membuka rahasia ini pada media, maka nyawa adikmu yang berada dalam bahaya."
"Hhh. Kau pikir bisa dengan mudah membujukku ?"
"Tidak !! Aku serius !! Jika kau membunuhku sekalipun, itu tidak ada gunanya untukmu. Kau tidak sebanding dengan lawanmu."
"Lawan mana yang kau maksud ?"
Aldi terdiam.
"Jawab aku !!"
"Kau tidak perlu tahu !"
Bukk !!!
Azof yang merasa geram itu kembali memukulnya.Apa maksud semua ini ? permainan macam apa ini ? Pria ini sungguh mengecewakan.
"Katakan padaku lawan mana yang kau maksud !!"
Drrrttt Drrrtttt
Mendadak ponsel ditangannya bergetar. Seseorang tengah berusaha menghubunginya. Dia terpaksa harus berhenti mengintrogasi Aldi. Dia beralih mengangkat telepon.
"Apa ?"
"Baiklah aku akan segera kesana."
Azof memandang sekilas wajah Aldi yang sudah berlumuran darah. Dia mengisyaratkan pada empat bodyguard Jian untuk tetap bertahan disana. Mereka berempat hanya membalasnya dengan anggukan.
Azof berlalu meninggalkan gedung tua itu. Dia memarkirkan mobilnya dan melajukannya dengan cepat. Sepertinya dia sudah mendapatkan kabar yang begitu penting hingga dia mengambil keputusannya untuk meninggalkan interogasinya pada Aldi.
Dia selalu berpikir sepanjang perjalanannya. Dia masih mempunyai keraguan dalam hatinya. Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Aldi ? Apa maksudnya lawan yang tidak sebanding ? Akh ! Hal itu sungguh membuat pikirannya semakin runyam. Apa mungkin ada seseorang yang membungkam mulutnya, hingga dia tidak berani mengakui tentang orang tersebut ? Kenapa semuanya malah menjadi serumit ini ? Ia pikir permasalahannya akan menjadi mudah setelah berhasil menangkap Aldi.. Rupanya tidak seperti itu. Masalah ini malah menjadi semakin rumit saja.
'Lawan yang tidak sebanding ? Apa yang dia maksud ? Hh. Semoga saja tidak terjadi apapun setelah ini. Aku sudah muak mendapat permasalahan yang seperti ini. Aku ingin segera mengakhirinya.'
Dia melajukan mobilnya lebih cepat lagi. Malam yang semakin larut tidak menyurutkan niatnya untuk sampai ke tempat tujuan tepat waktu. Apa mungkin dia sedang mendapat kabar buruk ? Semoga saja tidak. Dia sudah terlalu lelah menghadapi masalah dalam hidupnya. Pertama adalah kenyataan bahwa Hani adalah saudara tirinya. Dan yang kedua permasalahan Yuna yang menikah tanpa cinta. Itu sudah cukup membuat otaknya semakin beku. Semoga tidak ada lagi masalah yang lebih berat dari ini selanjutnya.
__ADS_1