Cinta Pertama Dan Terakhirku

Cinta Pertama Dan Terakhirku
#Meninggalkan Kota yang Kelam


__ADS_3

Jian keluar dari kamar mandi setelah selang setengah jam kemudian. Dia sedang asik mengeringkan rambutnya dengan cara manual menggunakan handuk kecilnya. Dia hendak menyambar celana dan bajunya yang berserakan di tempat tidur, dan ingin membereskan kekacauan ini sebelum pergi.


Dia masih menggunakan handuk di pinggangnya saat membereskan tempat tidurnya. Dia menyibakkan selimut putihnya dan ingin mengembalikannya seperti semula. Tapi dia memberhentikan aksinya. Dia melihat sebuah noda yang terlukis di atas kasur dengan jelas. Noda itu membuatnya bahagia sekaligus merasa sangat bersalah. Aku sudah merenggut harga dirimu, Yuna..


Jian berinisiatif untuk membersihkan bekas kelakuannya pada Yuna. Dia tidak ingin melihat hal yang sukses membuatnya merasa rendah itu. Dia mengambil satu pak kecil tissue basah, dan kemudian berusaha membersihkan noda darah itu dengan caranya.


Cklek.


Yuna baru saja keluar dari kamar mandi. Dia juga sedang berusaha mengeringkan rambutnya sama seperti yang Jian lakukan tadi. Tapi raut mukanya terlihat kebingungan saat mendapati Jian yang sedang melakukan sesuatu pada tempat tidur.


" Jian ? Apa yang sedang kamu lakukan ?"


" Membersihkan sisa-sisa cinta kita.."


" Apa ??" ( Bingung ).


" Lihat saja, milik siapa yang sudah menodai kasur ini.."


Yuna melongok sedikit, melihat seberkas noda berwarna merah dengan jelas di sana. Dia cekikikan..


" Rupanya itu, ya .."


" Kenapa kamu malah tersenyum ??"


" Bukan apa-apa, kamu hanya terlalu perhatian setelah merenggut kesucianku.."


" Tentu saja aku harus bertanggung jawab. Ini semua adalah kesalahanku.."


" Jadi sekarang kamu merasa bersalah rupanya.."


" Memangnya kamu tidak merasa bersalah ??"


" Tidak !!"


" Padahal kamu sendiri yang mencoba menjebak aku.."


" Apa ?? Tidak !! Aku tidak berusaha menjebak siapapun.."


" Aku tidak percaya, kamu bahkan sengaja mengajak aku ke kamar dengan alasan tidak bisa memilih pakaian.. Apa kamu juga lupa kalau kamu ini sedang merasa pusing tadinya ??"


" A ??"


" Sepertinya dua kali berolahraga sudah cukup untuk membius otakmu.."


Cup !!


Mencium dengan sekilas bibir yang ranum itu. Manis sekali rasanya..


" Aku bahkan tidak bisa mengontrol nafasku sendiri. Kamu terlalu membuatku terpesona.."


" Aku memang seperti itu, selalu membuat orang lain terpesona.."


" Tapi yang jelas, jangan buat orang lain terpana melihatmu. Kamu ini hanya milikku saja, jadi tidak boleh macam-macam saat di depan laki-laki lain.."


" Kenapa kamu sangat cemburu ?? Bukankah kamu tidak mau terikat dengan wanita manapun ??" ( Meledek ).


" Itu dulu. Sekarang, semua Prinsipku sudah kamu jatuhkan. Aku bisa apa ?? Kamu tidak punya pilihan selain menuruti keinginanku.."


Cup !! Mengecup tangan Yuna.


" Bucin !! Bahkan sikapmu sekarang sudah berbalik tidak sepenuhnya Jian yang dulu.."


" Jadi menurut kamu begitu, ya.. Lebih suka yang mana ? Jian yang cuek tanpa kejutan, atau Jian yang seperti ini ??"


" Seperti ini bagaimana ?? Yang mesum ini ??"


" Apa aku terlihat begitu mesum ?? Dulu kamu memanggil aku si angkuh, sekarang si mesum.. Sebenarnya aku ini apa dimatamu.."


" Si angkuh yang beradaptasi jadi si mesum.." ( cekikikan ).


Jian begitu gemas. Dia pandangi wajah itu dengan tajam pada mulanya, dan akhirnya berniat dengan mantap ingin mencubit pipi gembul itu. Tapi dia akhirnya sadar kembali. Ada luka yang masih membekas disana, memberikan noda tersendiri bagi Jian. Menyakitkan. Dia memutuskan untuk menghentikan niatnya. Semakin hari, Yuna sudah semakin terlihat baik. Bagaimana mungkin dia akan berulah lagi, setelah menanti beberapa hari untuk melihat Yuna sembuh dari sakitnya.


" Kamu ini !! Bahkan orang yang menjebakku akhirnya kalah juga termakan jebakan sendiri.."


" Apa ?? Aku tidak menjebak kamu, kamu saja yang selalu berpikiran kotor !!"


" Kalaupun Yunaku memang berniat menjebakku, kenapa aku harus marah, jika bonusnya saja melebihi apa yang aku harapkan.."


" Umm..." ( Salting ).


" Aku sangat senang, karena kamu selalu berusaha menjaga kesetiaanmu.." ( membelai mesra ).


" Kamu tahu itu, aku tidak bisa mengkhianati cinta kita. Sudah cukup dengan perbuatanku yang mengecewakan kamu, aku harus memastikan kedepannya tidak ada lagi pengkhianatan yang aku lakukan.."


" Tidak lagi, Yunaku tidak akan melakukannya lagi, biarkan aku menebus empat tahun kekosonganmu selama ini.. Maaf telah membiarkan kebahagiaanmu direnggut paksa oleh Demy.."

__ADS_1


Cup !!


Jian melahap bibir itu kembali, menunjukkan permintaan maaf dan perjanjian yang tidak bisa lagi dilanggar begitu saja oleh mereka. Mengisyaratkan kembalinya ikatan cinta yang tidak akan putus walaupun pernah ada seseorang yang hadir antara mereka berdua. Semakin lahap mereka saling memakan, menghabiskan, dan meluapkan rindu yang sudah terlanjur dalam, bahkan sepertinya sudah tidak bisa lagi terobati. Dua hati itu sedang merasakan bertapa indahnya melampiaskan rindu pada segenggam cinta yang pernah hilang..


..........


Pukul 19.04.


Bandara nasional kota K.


Ciiitttt..


Suara mobil yang di rem terdengar di depan bandara. Itu mobil rombongan Jian. Dia bahkan hampir ketinggalan pesawat usai pergulatan yang mereka lakukan tadi. Ada rasa yang tidak bisa digambarkan sendiri oleh Yuna saat dia ingin kembali ke kota asal. Bahkan matanya tidak bisa berbohong, kalau dia memang masih mengkhawatirkan Demy, sebagai sahabat saja..


Tapi entahlah.. Rasanya juga sangat senang. Jian baru saja memuaskan hasratnya di ranjang. Jujur saja, dia memang senang karena pada akhirnya, kota itu tidak hanya menyisakan kenangan pahit. Jadi tidak terlalu membuatnya tertekan juga. Dia terlihat kembali lega.


" Sayang, apa kamu tidak ingin makan sesuatu dulu ??" ( sambil terus berjalan ).


" Kita sudah sangat terlambat, bagaimana aku masih bisa memikirkan makanan.."


" Tapi kesehatanmu juga perlu dijaga. Sudah biasa makan banyak, saat melihatmu seperti ini rasanya aku sangat bersalah. Maaf saja, aku sudah menyita waktu kita sangat lama.."


" Terima kasih Jian.."


" Untuk apa ??"


" Telah memberikan kenangan yang indah di sisa waktu kita pergi meninggalkan kota ini. Selamanya kota ini akan menjadi kota yang paling buruk dalam anganku, tapi kamu sudah membuat aku ingin kembali dan merasakan indahnya malam ini lagi bersamamu.."


" Yunaku sepertinya juga sudah pandai merayu.. Kamu pasti ingin mengatakan kalau permainanku juga tidak kalah bagus, bukan ??" ( cekikikan ).


Plakk !!


Tamparan itu kembali mendarat, membuat Jian berhenti untuk sejenak.


" Salahku apa ??"


" Jangan bicara seperti itu terlalu keras disini. Bahkan semua orang bisa mendengarnya.." ( kembali berjalan ).


" Memangnya kenapa ?? Bukankah bagus jika mereka semua tahu, jadi kedepannya tidak ada lagi yang berani menyentuhmu.."


" Memangnya kamu pikir aku mau disentuh laki-laki selain kamu ?? Itu tidak akan mungkin.."


" Jadi, memang seluruh cintamu dan kesetiaanmu hanya untuk aku.."


" Tentu saja aku sadar. Tapi dalam pikiranku waktu itu, jika Demy yang menang dalam bertempur, berarti aku yang harus pergi.."


" Jadi kamu tidak mau berjuang ya pada awalnya.. Sepertinya kamu juga tidak percaya padaku saat itu.."


" Bagiamana bisa aku semudah itu percaya. Lagipula tidak dapat dipungkiri juga kalau sepasang suami istri melakukannya meskipun tidak saling mencintai.."


" Tapi kamu sudah lihat sendiri buktinya bukan ??"


" Iya, pada akhirnya aku juga yang harus minta maaf. Kamu ini memang tidak pernah salah Yuna. Sekalipun menyerahkan diri untuk diperistri orang lain, tapi hatimu masih tetap untukku. Karena memang aku tipe pria yang tidak bisa dengan mudah diduakan..."


" Cihh.. Kenapa tidak ??!"


" Karena aku terlalu tampan. Bagaimana mungkin kamu akan setega itu mengkhianati si tampan ini.."


" Bahkan sepertinya wanita manapun tidak mau berhubungan dengan pria seperti kamu selain aku.."


" Itu tidak mungkin. Sebentar, ya, aku harus membeli sesuatu untukmu.."


" Sesuatu apa ??"


" Tentu saja makanan. Aku tidak bisa membiarkan kamu kelaparan di dalam pesawat.."


" Tapi mereka juga menyediakan makanan. Kamu tidak perlu risau.."


" Satu porsi makanan tidak akan cukup untuk Yunaku.. Aku akan memesan pada bawahanku untuk membelikan sesuatu untukmu.."


" Terserah kamu saja.."


' Dia bahkan semakin baik padaku,,. aku jadi semakin merasa bersalah..'


" Hallo, antarkan satu porsi makanan cepat saji ke dalam pesawat.."


Jian terdengar menghubungi seseorang di ponselnya. Mereka bahkan tidak sadar kalau sekarang mereka sudah naik ke dalam pesawat.


Jian sedang mencari tempat duduknya yang bersebelahan dengan Yuna. Setelah beberapa waktu, dia akhirnya menemukan tempat duduk yang cocok.


" Untunglah belum ketinggalan.."


" Aku sudah minta pihak bandara untuk mengundur penerbangan menuju kota M selama satu jam.."


" Untuk apa ??"

__ADS_1


" Tentu saja supaya kita bisa melakukannya tanpa tergesa-gesa.." ( Mendekat ).


Cup !!


Jian kembali mencium bibir itu. Ugh... Bibir Yuna yang berwarna merah pudar itu memang selalu membuat Jian terbius. Dia bahkan lupa kalau mereka sudah berada di dalam pesawat. Semua orang sontak menatap mereka berdua dengan iri..


" Pasangan yang sangat serasi.. Aku juga ingin dicium seperti itu.."


" Aku menyukai pria tampan yang satu ini.. Apa boleh aku membawanya pulang ??"


Dan teriakkan histeris para ibu-ibu yang sangat heboh sehabis liburan ini benar-benar mengganggu kemesraan mereka.


" Ugh.." ( mendorong ).


Jian melepas ciumannya yang membunuh itu.


" Ingat tempat Jian !! Ini di dalam pesawat !!" ( membersihkan bibirnya yang basah ).


" Maaf.. Maaf.. aku tidak bisa menahan diri.."


Hemm..


Yuna beralih duduk, dan meninggalkan Jian yang masih saja berdiri.


" Aku berhasil membuat kamu merasa malu.."


" Tidak !! Aku tidak malu ??!"


" Benarkah ??" ( jongkok ).


" Kenapa harus malu dicium kekasih sendiri.." ( tersenyum ).


" Jadi kalau aku minta satu kali lagi, apa kamu mau ??"


Yuna melihat sekelilingnya. Dia memastikan keadaan aman dari gangguan para ibu-ibu. Sepertinya semua orang sudah lengah, mereka sudah terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Dan akhirnya, Yuna menggunakan kesempatan itu untuk....


Cup !!


Mencium dengan sekilas bibir Jian yang terlihat sangat berharap.


Jian terkekeh. Rupanya dia salah juga menilai Yuna. Wanita yang konyol itu sekarang sudah semakin berani.


" Kenapa tertawa ??"


" Hanya satu yang aku tidak bisa lihat dari kamu.."


" Apa itu ??"


" Wajah merona kamu yang terlihat sangat menggemaskan.."


Yuna tersenyum kecil, dan membenarkan posisi duduknya. Jian menyusul setelah Yuna bergeser menjadi bersebelahan dengan kaca. Mereka saling berpegangan tangan dan memastikan semuanya tidak akan pernah pergi lagi.


Mendadak suara derap langkah kaki seseorang terdengar menggaung mendekati posisi Jian dan Yuna berada.


" Hahh.. Hahhh.. Ini Tuan.. saya sudah bawakan makanannya.."


" Bagus !!" ( mengambil ).


" Kenapa kamu sampai tergesa-gesa seperti itu ??"


" Aku takut ketinggalan penerbangan, Nona.. Lagipula kenapa mendadak sekali Tuan minta satu porsi makanan cepat saji. Untung saja pesawat masih belum pergi.."


" Tenang saja. Aku sudah minta pada mereka untuk melakukan penerbangan setelah semua rombonganku masuk.. Jadi tidak akan ada yang tertinggal.."


" Untunglah Tuan ini sangat baik.."


" Ya sudah, cari tempat duduk kamu sekarang.."


" Baik, Nona.."


Kalina berjalan ke bagian belakang, dan duduk di sebuah kursi. Tapi tidak disangka juga ternyata dia malah bersebelahan dengan seseorang yang terlihat tidak asing.


" Dokter ?? Bagaimana kita bisa bertemu lagi ??"


" Hai.." ( melambaikan tangan ).


" Hallo.." ( menyalami ).


Keduanya terlihat sangat akrab meskipun hanya beberapa kali saja bertemu. Tidak lama setelah itu, crew dalam pesawat memberi pemberitahuan untuk bersiap melakukan penerbangan.


Setelah hampir sepuluh menit, akhirnya pesawat lepas dari landasan dan terbanglah menuju kota M.


.........


" Yuna, maafkan aku... Maafkan aku..."

__ADS_1


__ADS_2