
" Hallo, Jian.."
' Hallo, kak..'
" Apa ini Yuna ?"
' Iya..'
" Ibu, ini dari Yuna.."
Almira kemudian mendekat, dan akhirnya berusaha untuk bicara dengan putrinya.
" Hallo, Yuna.."
' Hallo ibu..'
" Syukurlah ibu bisa mendengar suara kamu. Ibu sangat cemas mendengar berita itu, nak.. Apa kamu baik-baik saja ??"
' Tenanglah ibu.. Yuna tidak apa-apa disini. Hanya sedikit luka lebam saja dipipi Yuna..'
" Hehhhhh.... Laki-laki itu memang kurang ajar !! Tidak ada bedanya sama keluarganya !! Kalau saja dia ada disini, ibu pasti akan membalas pukulannya !!! Ibu ingin sekali menghabisinya !!! Hhhh."
' Sudah, ibu.. tidak perlu terlalu emosi... Lagipula Demy juga sudah menyerahkan diri kan..'
" Iya juga, si... Tapi, kenapa kok bisa Jian yang telepon ibu ?? Ponselmu mana ??"
' Ponsel Yuna tertinggal dirumah Demy, kemarin Yuna langsung saja pergi sama Jian ke Rumah Sakit, jadi tidak ada waktu memikirkan ponsel..'
" Kamu ini, buat ibu khawatir saja.. Kamu jangan terus diam setelah dia berbuat seperti itu, ya.. Lagipula ibu dengar, kalian ribut juga karena ada orang ketiga, bukan ? Tinggalkan saja Demy, sudah diperjuangkan, kok, malah mengecewakan.. Hhh.."
' Ibu...'
" Iya, sayang, kenapa ??"
' Sebenarnya, Yuna.. memang sudah bercerai..'
" Apa kamu serius ?? Kalau begitu bagus !! Kamu bisa kembali dengan Jian dan menempuh hidup baru.. Memangnya pria seperti dia pantas untuk dipertahankan ??"
Sepertinya Almira benar-benar marah dengan kelakuan menantu lelakinya itu. Dia bahkan ingin segera menjodohkan Yuna usai mereka bercerai.
' Tapi, ya, jangan terlalu menyalahkan Demy juga ibu, bagaimanapun, Demy sudah melindungi aku selama tidak ada Jian..'
" Hallah !! Lahir dari keluarga buruk, ya, selamanya juga akan seperti itu, kamu pulang saja kemari, kita mulai lagi semuanya dari awal. Kamu harus mulai membersihkan nama baik kamu di dunia hiburan. Lagipula sudah sepantasnya ibu merasa kecewa dengan Demy, dia yang minta untuk menikah, tapi dia juga yang membuat kalian bercerai !! Pulang saja setelah kamu sembuh !! Jangan disana terlalu lama !!"
Panjang lebar nasehat dari sosok ibu dilontarkan kepada putri tercintanya. Disisi lain, jujur saja Yuna dan Jian menahan tawanya saat mendengar ocehan-ocehan itu keluar dengan menyita waktu yang begitu lama.
' Baiklah, ibu.. Yuna akan pulang setelah Yuna sembuh..'
" Iya, bagus !! Pulang kesini, dan setelah itu, menikah langsung dengan Jian !! Dengan begitu, tidak ada lagi yang bisa mengganggu kamu !!"
' Iya, ibu.. Yuna akan pikirkan semuanya nanti..'
" Ya sudah, ibu akan makan dulu.. Hanya karena menunggu kabar darimu, ibu dan Hani tidak jadi makan, ya sudah, ibu tutup dulu."
Sambungan dimatikan. Almira mengatur nafasnya yang tadi sempat terdengar ngos-ngosan, karena emosi yang terlalu membara.
...........
" Bagaimana ? Sudah ??"
" Kamu, kan juga dengar.." ( Memberikan ponsel kepada Jian ).
" Kata ibumu, setelah kita kembali, kita harus segera menikah.." ( Mendekat ).
" Iya,,, kita tetap harus memikirkannya dengan baik-baik bukan.."
" Tapi itu tandanya, ibumu sudah merestui aku, iya kan.."
" Percaya dirimu terlalu tinggi, Mr Jian yang terhormat.."
__ADS_1
Jian semakin mendekat kepada Yuna yang masih sama, tengah duduk di ranjang rumah sakit. Sekarang Yuna bisa merasakan nafas Jian yang sangat memburu, dan begitu dekat. Pria ini memang selalu sukses membuatnya terpana.
" Kalau soal kamu, memang sudah seharusnya, bukan.."
Yuna memalingkan muka, dan memejamkan mata. Entahlah, bahkan jika saat ini Jian ingin memakan seluruh tubuhnya, sepertinya dia akan memberikannya dengan sukarela.
Jian semakin mendekat, dan semakin ingin bergerilya di atas tubuh mungil nan menggemaskan itu. Dia mulai merasa panas, padahal belum mulai terlalu dalam, tapi luapan asmara di tubuhnya seakan begitu membius. Bibir itu hampir beradu, dan terasa begitu dekat. Bahkan saat mereka memejamkan mata, debaran jantung mereka bisa mereka dengar sebegitu kerasnya.
' Jika untuk kamu, maka lakukan saja Jian, aku memang menjaga tubuh ini untuk kamu..'
Tapi sesaat setelah itu, Jian malah mundur. Terkekeh lah dia melihat wajah kekasihnya yang terlihat begitu bergejolak. Jujur saja, Yuna agak kecewa saat itu..
" Kenapa kamu tertawa ??"
" Lihat saja wajahmu itu, gemas sekali rasanya.."
Yuna memasang wajah malas. Padahal sedikit lagi bisa...
Arkh !!! Kenapa sekarang jadi kamu yang berotak mesum ???
Menyadari kekasihnya yang terlihat kesal, Jian memilih untuk menatap dua mata itu lekat.
" Kenapa kamu kesal ?"
" Tidak !!"
" Apa karena aku yang tidak mau ??"
" Tidak mau apa ??"
Jian memegang kedua tangan itu dan berusaha menenangkannya.
" Aku tidak mau membuat malam pertama kita menjadi malam-malam berikutnya.."
" Apa ??"
" Jian, aku sudah menyerahkan diri, tapi memang sedari dulu, kamu yang tidak pernah mau.."
" Jika aku melakukannya sekarang, apa tujuan adanya malam pertama nanti ??"
Untuk pertama kalinya, Yuna mengerti siapa yang sedang berhadapan dengannya saat ini. Pilihannya adalah yang terbaik.
Wanita itu akhirnya tersenyum senang, juga lega. Dibandingkan dengan Demy, tentu saja Jian lebih menghargai dirinya.. Lelaki ini tidak mau sembarangan menyentuh wanita, padahal kekasihnya sendiri. Sedangkan Demy, Yuna masuk dalam jebakan itu juga karena posisinya yang tidak bisa lepas dari Demy. Huhh. Kalau diingat-ingat, rasanya sakit sekali. Untung saja dia selalu berusaha menjaga dirinya saat bersama Demy, jika tidak, maka akan seperti apa kekecewaan Jian kepadanya nanti ??
" Aku sudah mendaftar untuk berkonsultasi pada Dokter Widya, aku minta pertemuan khusus, supaya tidak ada yang bisa mengganggu, dan jadwalnya jadi lebih dipercepat, mungkin setengah jam lagi, sudah bisa kita mulai.."
Yuna masih memandangi wajah itu, wajah yang selalu dia rindukan selama empat tahun terakhir, dan sekarang, wajah itu tersenyum didepannya. Dia melihat lagi, seberapa serius dan perhatian Jian kepadanya. Lelaki itu memang selalu berhasil membuat Yuna merasa lebih baik. Lelaki yang sangat sempurna dimatanya.
" Yuna ?? Yunaku ??"
Yuna tidak sadar, rupanya dia sedang melamun tadi. Dia terbangun usai mendengar Jian berkali-kali memanggilnya.
" A ? Iya ??"
" Kamu melamun ?? Sepertinya aku membuatmu tergoda, ya ??"
" Cihh, tergoda ? Karena kamu ?? Apa aku sudah tidak waras ??"
' Sebenarnya..... iya..'
" Mengaku saja, lah, lagipula malu-malu kucing itu sungguh menggemaskan, aku bisa menggigitmu kalau kamu melakukannya lagi.."
" Menggigit ? Berarti yang kucing itu kamu, bukan aku.."
Jian menyibakkan selimut yang digunakan untuk menutupi tubuh Yuna, lalu mendekat kepadanya, sekarang jarak mereka sangat dekat, bahkan dada mereka juga terasa saling bersentuhan.
" Sepertinya kamu lebih antusias sekarang, daripada dulu, apa kamu sudah ingin..." ( Ucap Jian terdengar menggoda ).
" Menikah denganmu."
__ADS_1
Jian jadi salah tingkah. Apa dia baru saja mendengar lamaran dari kekasihnya ? Apa wanita itu sedang mengajaknya menikah ??
Hahaha.. Hatinya menari-nari saat mendengarnya.
" Bebaskan aku dari belenggu ini, puaskan aku dengan luapan rindumu, Jian... Aku serahkan seluruh hidupku ditanganmu, buat aku lepas dari rasa bersalah karena sudah mengecewakan kamu.."
Jian menatap dua mata itu dalam, dan dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Semakin lama, keduanya semakin terbuai. Tatapan yang begitu lama itu kembali menghidupkan gairah dalam tubuh mereka.
Cup !!
" Umh..."
Jian melahap bibir itu sampai habis, dan terasa begitu bertenaga. Bahkan dia tidak bisa membiarkan Yuna bernafas meski hanya sekejap saja. Tapi entahlah, mungkin ini yang namanya bercinta dengan orang yang kita cintai, bahkan rasanya beribu-ribu kali lipat nikmatnya dibandingkan dengan Demy saat itu.
Jian melepas ciumannya itu beberapa saat kemudian, setelah menyadari asmara dalam diri Yuna sudah semakin bergejolak. Dia tidak ingin membuat Yuna tersiksa dengan godaannya yang penuh birahi.
Jian kembali menatap sorot mata yang sedang menahan diri itu, lalu mengusap dengan lembut bibir yang baru saja disantapnya.
" Tunggu sampai aku menikahimu, maka kita lakukan sepuasnya.."
" Umh.. Aku harap aku bisa menahannya.."
Jian tersenyum, melihat betapa tingkah laku Yuna yang sedang berusaha menahan gejolak di dalam dirinya.
Jian membenarkan selimut itu kembali, lalu membenarkan posisi Yuna menjadi lebih tegak.
" Maaf telah menggoda kamu.."
" Aku akan minta pertanggung jawaban dari kamu secepatnya.."
Jian terkekeh. Wanita didepannya dilihat semakin tidak bisa menahan diri. Sepertinya jika Jian tidak melepas jeratannya dari awal, wanita itu pasti akan memintanya lebih. Tapi maaf Yuna, selama belum ada pernikahan, sekali lagi, kamu belum menjadi hak sepenuhnya bagi Jian.
" Bagaimana aku bisa menghentikan ini Jian ?? Kamu sudah sangat jahat.. Bisa-bisanya melakukan hal seperti itu, sedangkan tanggung jawabmu masih belum ditentukan.." ( Meremas selimut ).
Jian mengambil air minum di atas meja, lalu meminumkannya pada Yuna..
" Apa aku bisa sembuh setelah minum ??" ( Wajah memerah ).
" Minum saja dulu, baru rasakan perubahannya.."
Yuna menenggak sampai habis air putih yang Jian berikan, lalu berusaha memadamkan api yang berkobar dalam jiwanya.
" Sejujurnya aku juga tidak tahu cara menahannya.."
" Sudah aku duga, kau hanya sedang membohongi aku.."
Jian terkekeh kembali, wanita didepannya ini sukses membuatnya tersenyum setelah sekian lama..
" Apa sudah lebih baik ??"
" Aku akan minta pertanggung jawaban darimu Jian.."
" Yuna..." ( Memegang tangan Yuna ).
Yuna membalas genggaman itu menjadi lebih erat.
" Kenapa ??"
Mereka saling menatap dengan serius.
" Menikahlah denganku.."
Yuna tidak terlalu terkejut. Dia tahu kedatangan Jian kemari memang untuk menyambung tali yang sempat terputus.
" Kita bangun impian yang sempat tertunda, kita wujudkan impian lima anak kita, dan hiduplah selamanya denganku.."
Yuna tersenyum menanggapi perkataan kekasihnya itu.
" Aku memang ingin mewujudkan mimpi itu, meski harus menunggumu selama empat tahun ini.."
__ADS_1