
Akhirnya waktu yang begitu lama di pesawat sudah berlalu. Daniah kini sudah sampai di kota M tempat Demy tinggal dengan istrinya. Dia berjalan di bandara sambil terus menghubungi anaknya. Di belakang terlihat beberapa asisten dan pengawalnya yang terus mengikutinya.
"Hallo, Demy !! Ibu sudah sampai. Kau tidak perlu menjemput ibu.. Ibu sudah memesan beberapa taksi untuk rombongan kami. Baiklah, Ibu akan tutup sekarang !"
Sambungan dimatikan. Daniah terus saja berjalan hingga akhirnya sampailah mereka di pinggir jalan. Dia memasuki satu taksi di depan dan rombongannya yang terdiri dari beberapa orang terlihat mengikutinya dengan beberapa taksi di belakang. Kenapa orang kaya ini tidak membawa mobilnya ?
Vrooommm..
Mobil melaju kencang menuju alamat rumah Demy. Sepanjang perjalanan ia terlihat sumringah sekali. Dia merasa sangat senang. Tentu saja jika hatinya merasa lebih lega. Dia sudah berhasil kabur dari kejaran Jian Cs.
'Cari saja aku keseluruh dunia.. Sampai aku matipun kau tidak akan pernah menemukan aku !'
Senyumnya bertambah lebar. Dia pikir dia bisa lari dan bersembunyi dari Jian. Tapi coba kita lihat saja akhirnya.. Apa wanita ini akan bersenang-senang di akhir cerita, atau apa mungkin Jian akan berhasil membuatnya menetap di penjara..
Ciittt..
Mobil berhenti tepat di depan rumah besar milik Demy.. Demy dan istrinya sudah terlihat di depan rumah hanya untuk menyambutnya. Mereka tersenyum dan berpelukan untuk melepas kerinduan. Sudah hampir genap tujuh bulan lamanya mereka tidak bertemu. Memang.. Semenjak pernikahan mereka, Yuna dan Demy sengaja tidak meminta untuk dikunjungi oleh siapapun. Bahkan ibunya sendiri.
"Hallo, sayang !!" ( Memeluk Demy, lalu beralih kepada Yuna ).
Yuna tersenyum dalam pelukan itu.
Dia bahkan tak tahu wanita inilah penyebab hidupnya hancur. Tidak heran memang.. Wanita ini mempunyai bakat sandiwara yang hebat melebihi Yuna.
Daniah melepas pelukannya dan mencoba berakting bagus di depan menantunya itu.
"Kau sudah sembuh sayang ?"
"Bagaimana ibu tahu kalau Yuna sedang sakit ?" ( Setahunya dia tidak menghubungi siapapun waktu itu ).
"Tentu saja ibu tahu. Bahkan suamimu tidak mau ibu menjenguk kamu waktu lalu.. Dia tahu kalau ibu kesini hanya akan mencemaskan keadaanmu saja.. Karena itulah ibu datang setelah kau sembuh.."
Dasar wanita munafik !!
"Ibu tidak membawa mobil ?"
"Tidak. Aku akan mengabari ayah untuk membelikan ibu mobil dan rumah di sekitar sini. Jadi ibu bisa tinggal berdekatan dengan kalian.." ( Tersenyum sumringah ).
Apa Daniah benar-benar sudah melupakan semua masalahnya dengan Jian ? Sepertinya wajahnya tidak menunjukkan kecemasan sama sekali.
Yuna dan Demy bertatapan. Raut wajah mereka terlihat kebingungan dengan keputusan Daniah yang sangat mendadak ini. Sepertinya ini tidak wajar. Bahkan Daniah meminta ayah untuk membelikan rumah dan mobil disini. Apa ada masalah sebelum dia datangn? Dua orang itu bertanya-tanya dalam pikiran masing-masing. Tentu saja mereka tidak percaya semudah itu.. Lagipula perpindahan yang mendadak ini terlihat sangat mencurigakan. Tapi Yuna dan Demy tidak berani menunjukkan pikiran mereka satu sama lain. Tentu saja mereka hanya saling diam.
"Kenapa kalian terkejut ? Bukankah itu bagus.. Jadi ibu bisa terus bersama kalian disini.."
Yuna tersenyum dan beralih menggapai tangan Daniah. Mungkin saja dia mencoba berpikir positif pada mertuanya ini.
"Yuna senang ibu bisa tinggal disini. Jadi Yuna bisa punya teman ngobrol kalau Demy sedang pergi bekerja.."
Mereka semua tersenyum bahagia. Sejujurnya hal itu tidak terjadi pada Yuna. Selama perjalanan hidupnya dengan Demy, dia tidak pernah mengalami masa-masa bahagia rasanya.
"Ibu akan segera meminta ayah untuk membelikan aset disini.. Dengan begitu ibu tidak akan mengganggu waktu berdua kalian.."
Wanita ini !!
"Ibu !!! Jangan katakan hal seperti itu !!!"
Demy menyadari saat itu Yuna sudah mulai merasa tidak nyaman dengan perkataan Daniah.
"Ibu hanya bercanda.. Lagipula memang tidak enak juga jika ibu akan terus tinggal disini.. Kita sama-sama harus menjaga privasi bukan ?"
__ADS_1
"Ibu !! Sudah cukup !!"
Yuna menghentikan ucapan Demy yang sudah terlihat emosi. Dia tahu lelaki ini tidak akan bisa mengendalikan kekesalannya.
"Sudah Demy !! Tak perlu banyak bicara !! Kasihan ibu jika terus diluar seperti ini.."
Daniah tersenyum. Sepertinya wanita itu datang hanya ingin membuat pikiran Yuna semakin kacau.
"Ayo, Ibu ! Kita masuk ke dalam ! Yuna sudah menyiapkan masakan untuk ibu.."
"Baiklah !! Jangan lupakan kamar untukku juga, ya.."
Yuna membalasnya dengan anggukan kepala.
Skip..
Di ruang makan....
Daniah menyantap satu suapan makanan hasil masakan Yuna.
"Ummm... Enak sekali rasanya.. Kau memang menantu idaman ibu..."
Demy menatap Yuna dengan canggung. Dia tahu hal itu sangat membuat Yuna tidak nyaman.
"Ibu.. Makan saja dulu.. Nanti baru bicara kalau sudah selesai.."
"Kenapa? Ibu sedang memuji masakan menantu ibu yang sangat enak ini.." ( Menatap Yuna dengan senang ), "Masakan kamu ini sungguh membuat ibu kecanduan.."
Yuna tersenyum mendengar Daniah melontarkan pujian bertubi-tubi kepadanya.
"Ibu.. Nanti kau bisa tersedak! Diam dan makanlah !"
"Iya.. Demy.. Kau tak perlu marah begitu bukan?" ( Daniah menimpali dengan kesal ).
Baru satu suap mereka makan, Daniah kembali berulah.. Membuat rasa canggung itu terjadi lagi antara mereka. Ada apa dengan wanita ini?
"Oh iya.. Ibu hampir lupa ingin bertanya pada kalian.."
"Soal apa, Bu?" ( Tanya Yuna dengan ramah ).
"Kapan kalian bisa kasih ibu cucu ?"
Uhukkk !! Uhukkk !!
Sontak saja Yuna tersedak saat tengah menelan makanannya. Dia begitu terkejut mendengar pertanyaan dari ibu mertua yang satu ini.
"Yuna? Kamu kenapa ?" ( Mengambil minum ), "Minumlah !" ( Demy terlihat sangat khawatir ).
Yuna meminumnya.
"Maaf sayang.. Ibu tidak bermaksud seperti itu pada kalian.. Ibu hanya ingin punya cucu seperti teman-teman ibu yang lain.." ( Memasang wajah iba ).
"Tidak apa-apa Ibu.. Yuna paham perasaan ibu.. Tapi Yuna minta maaf.. Kalau untuk soal itu.. Yuna dan Demy masih perlu memikirkannya.."
"Ya sudah.. Tidak apa-apa.. Lagipula yang paling penting itu kalian bisa hidup bahagia.."
Demy semakin kesal melihat sikap ibunya yang dilihatnya sangat tidak wajar.
'Aku akan buat kalian punya anak.. Dengan begitu.. Jian tidak akan bisa memisahkan kalian berdua.. Hihihi..'
__ADS_1
........
"Sudah mendapat kabar ?"
Tanya Jian pada bodyguard yang baru saja datang. Dia selalu saja menatap langit malam. Memandang bintang di langit yang semakin lama semakin mirip dengan sosok Yuna. Rupanya dia sedang merindukan kekasihnya..
"Mr. Saya mendengar dari tetangga dekatnya.. Rupanya wanita itu pergi sebelum kita sampai di sana.. Dia berkata Daniah mengemas seluruh barang-barangnya bersama dengan seluruh bawahannya. Dia mengatakan padaku kalau sepertinya Daniah akan pergi ke bandara, karena dia mendengar perkataan Daniah dengan salah satu pengawalnya untuk membeli tiket pesawat menuju luar kota.."
"Luar kota? Apa dia akan keluar kota untuk menemui Yuna ?"
"Mungkin saja, Mr. Sejak mereka berdua menikah tujuh bulan lalu, mereka tidak pernah menghubungi keluarganya.. Bahkan yang saya dengar, Yuna memblok semua akun media sosialnya untuk menghindari bullyan dari netizen.."
"Jadi maksud kamu.. Daniah pergi ke kota tempat Yuna tinggal begitu ?"
"Mungkin, Mr.."
"Kalau begitu cari tahu kemana tujuan pesawat yang Daniah tumpangi empat jam yang lalu.."
"Baik, Mr."
Pria itu pergi meninggalkan Jian sendiri di kamarnya. Rasa rindu itu kembali hadir tatkala dia sudah sendirian dengan matanya yang kembali menatap langit.. Dia mencoba berkali-kali menahan perasaannya.. Perasaan yang bergejolak memenuhi seluruh tubuhnya. Yuna.. Rindu ini terlalu dalam..
Drrrttt Drrrtt
Terlihat ponselnya berdering. Tertera nama Azof di layar ponselnya dengan jelas. Jian mengangkatnya.
Percakapan lewat telepon..
"Hallo.."
'Iya.. Aku tidak ingin mengganggu waktumu.. Aku hanya ingin tahu bagaimana perkembangan kasus ini.. Apa kau sudah menemukan keberadaan Daniah ?'
"Aku ingin bertanya padamu.. Apakah kau tahu dimana Demy membawa Yuna pergi setelah mereka menikah ?"
'Aku tidak tahu! Mereka tidak mengatakan apapun saat itu.. Yuna hanya berpamitan dan memintaku untuk menjagamu selama kau koma, itu saja..'
Jian mengangguk tanda dia sudah tahu keadaan beberapa waktu lalu.
'Apa ada hal yang penting? Kau perlu tahu sesuatu mengenai mereka ?'
"Aku hanya menduga suatu hal.. Apa kau pernah berbicara dengan Yuna akhir-akhir ini ?"
'Huhh.. Bagaimana aku bisa bicara dengan dia? Sedangkan dia sudah memblokir nomorku.. Aku sudah minta nomor barunya pada Daniah waktu itu.. Tapi saat aku coba menghubunginya, rupanya nomor itu juga tidak bisa.. Aku baru sadar kalau wanita itu ternyata sedang membodohi kami..'
"Huhh! Baiklah.. Aku akan menghubungimu nanti jika sudah mendapat perkembangan."
'Teruslah menghubungiku.. Siapa tahu aku bisa membantumu memecahkan masalah ini..'
"Baiklah."
Jian menutup sambungannya.. Dia tengah merasa kacau sekarang..
Malam semakin berlalu.. Bintang di langit masih saja bertebaran dan mencoba menemani hatinya yang semakin ngilu.Antara sedih namun juga harus tetap melangkah dalam kesedihan itu..
Dia tak pernah merasa seperti ini sepanjang hidupnya.. Rupanya inilah yang disebut cinta.. Kau tidak tahu apakah Yuna disana masih mencintaimu atau tidak.. Bisa saja dia masih setia menantimu.. Tapi tidak menutup kemungkinan jika Yuna akan berpaling dan jatuh cinta pada Demy.. Kau bahkan tak tahu apa cintanya masih bertahan untukmu. Tapi kau malah bersikeras untuk memperjuangkannya. Yang sudah pasti bukan lagi hakmu. Mengingat Demy lah laki-laki yang berhasil menikahinya beberapa bulan lalu.. Dan kau? Kau bukanlah siapa-siapa lagi sekarang. Dibandingkan dengan Demy, kau sudah kalah satu tindakan dibelakangnya.
Tapi kau tidak pernah berpikir demikian. Kau tahu pernikahan Yuna dan Demy terlalu janggal untukmu, dan kau berusaha membuat semuanya terlihat jelas. Lalu apa yang akan kau lakukan jika suatu hari nanti takdir tidak memihak padamu? Bagaimana jika Yuna malah enggan terhadapmu saat kau sudah berhasil membebaskannya dari belenggu permasalahan? Sudahkah kau memikirkan itu Jian?
'Aku tidak peduli.. Bahkan jika nanti Yuna akan memilih Demy.. Aku akan merasa puas saat bisa memberitahu Yuna seluruh kebenaran ini..'
__ADS_1
Dia termenung menghadap jendela. Detak jam dinding yang menunjukkan waktu semakin larut nyatanya tidak membuatnya bergeming sama sekali. Masih saja dia menatap bintang yang berkilauan malam ini. Dia semakin merasa rindu.
Sama seperti Yuna di malam yang sama.. Pandangannya pun hanya tertuju pada langit yang terlihat indah dengan taburan bintang dimana-mana. Entahlah. Dia hanya merasa ada seseorang yang tengah memandangnya lewat langit. Rupanya wanita itu juga sedang merindu.. Dua hati yang saling merindu meskipun jarak telah memisahkan mereka begitu jauh..